Bayang Cinta Semu

Bayang Cinta Semu
Penjelasan


__ADS_3

"Kamu salah paham. Aku bukan tipe orang yang suka menilai orang hanya dengan fisik saja," balasku pada pria itu. 


Sekilas aku melihat bibir pria itu tersenyum tipis. Sepertinya dia meremehkan ucapanku barusan. Apakah dia tidak percaya bahwa aku tidak pernah memandang orang hanya berdasarkan fisik?


"Baguslah kalau seperti itu. Tapi, kenapa kamu menolakku?" tanya pria itu. 


Aku terdiam untuk waktu yang cukup lama. Hatiku bimbang, haruskah aku menceritakan kisahku yang sebenarnya? Tapi, dia bukan siapa-siapa. Dia juga tidak berhak tahu apapun tentang masa laluku. 


"Aku perlu alasan yang tepat untuk menerima penolakan darimu," ucapnya lagi.


Seketika aku menoleh padanya. Kutatap lekat wajah pria yang sekarang sedang menatapku ini. "Kau benar-benar ingin tahu alasannya?" tanyaku. 


"Ya. Aku ingin tahu apa alasan yang membuat kamu kekeh ingin menolakku. Padahal, di luar sana banyak sekali wanita yang mengejarku. Aku seorang guru dan aku mapan," balasnya memaparkan kelebihannya. 


Aku masih menatap wajah itu. Tidak ada sedikitpun gurat candaan. Pria itu serius ingin tahu alasan aku menolaknya. Namun, aku masih ragu. 


"Katakan atau aku tidak peduli dengan penolakan kamu?" Dia mengancamku. 

__ADS_1


"Jika aku mengatakan, apakah kamu akan menerima penolakan dariku?" tanyaku datar. Aku ingin tahu jawaban darinya, agar aku bisa memutuskan untuk menutupi atau membuka luka di masa laluku. 


"Tergantung dari alasan kamu. Jika memang masuk logika, aku akan menerimanya," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan. 


Aku mengalihkan pandangan ke depan. Tidak lagi menatap wajah pria yang dijodohkan Bapak padaku. Untuk sejenak aku menarik napas dalam dengan mata terpejam. Menikmati bayang cinta semu yang terjadi di hidupku. Kubuka kembali kedua netraku. 


"Aku mencintai pria lain," kataku, lalu kembali menatap pria yang merupakan calon suami pilihan Bapak. 


"Apakah pria itu juga mencintai kamu?" Pria itu justru kembali melempar pertanyaan. 


Aku memaksa bibir ini untuk tersenyum saat mengingat tentang Kak Risqi. "Dia mencintaiku dengan caranya sendiri," ujarku, sambil memalingkan muka. 


"Kamu pikir kami bisa melawan takdir?" 


"Maksudnya?" 


"Tuhan telah mengambil dia dariku," jelasku dengan kata-kata singkat. Namun, mudah untuk dimengerti. 

__ADS_1


"Dia meninggal?" 


"Iya. Dia meninggal dua tahun silam, dan tragisnya aku sama sekali tidak ada ketika dia menghembuskan napas terakhir." Air mataku tidak sanggup kutahan. Meluncur begitu saja saat kembali meratapi kepergiannya. 


Suasana menjadi senyap. Aku dan pria itu sama-sama diam. Namun, tatapannya masih tertuju padaku. Sepertinya dia pun kasihan saat mengetahui kisahku ini. 


"Maaf," ucapnya tiba-tiba. 


"Untuk apa meminta maaf?" 


"Karena aku telah membuka luka lamamu," balasnya dengan raut wajah sedih. 


Segera kuseka jejak air mata di pipi. Kupaksa bibir ini untuk tersenyum, meski hati ini merasakan sakit bukan main. 


"Kami hanya manusia yang harus menerima takdir. Manusia memang memiliki rencana, tetapi Allah lah yang menentukan. Meski dia tidak berjodoh denganku, tetapi aku masih berusaha menjaga cintaku untuknya," kataku, sambil menahan air mata agar tidak kembali jatuh. 


"Tapi kamu berhak untuk melanjutkan hidup kamu, Sya. Kamu tidak bisa terus seperti ini. Dia pun akan sedih jika tahu kamu menyiksa diri seperti ini," balas pria itu. 

__ADS_1


"Lalu menurut kamu, aku harus mengkhianati cinta tulusnya. Begitu?" 


__ADS_2