Bayang Cinta Semu

Bayang Cinta Semu
Nasihat darinya


__ADS_3

"Dengan kamu melanjutkan hidup, bukan berarti kamu mengkhianatinya, Sya. Dia juga pasti ingin kamu hidup dengan normal," ucapnya menasehati. 


"Aku tahu, tapi aku belum siap." 


Dia tiba-tiba menggapai tanganku, lalu menepuk pelan punggung tanganku yang dipegang olehnya. "Jika menuruti hati, kamu tidak akan pernah siap," katanya lembut, aku langsung terdiam. 


'Benarkah apa yang dikatakan oleh pria ini?' 


"Setelah mengetahui alasan kamu, aku justru tidak ingin membatalkan perjodohan kita," ucapnya tiba-tiba. Seketika aku menatapnya dengan perasaan aneh. 


"Kamu rela menikahi seorang perempuan yang belum selesai dengan masa lalunya?" tanyaku heran. 


"Kamu dengannya sudah selesai, Sya. Yang belum selesai adalah kamu dengan hati kamu sendiri. Kamu belum bisa berdamai dengan diri kamu sendiri," balasnya dengan kata-kata bijak. 


'Benar, akulah yang belum selesai dengan perasaan ini. Tapi, haruskah aku membuka hati untuk pria lain, secepat ini?' 


Sekelumit rasa mengganggu pikiran dan hatiku. Mungkin memang benar adanya apa yang dikatakan oleh pria itu. Namun, sanggupkah aku untuk memulai hubungan baru dengan orang lain?


"Aku akan berusaha masuk ke dalam hati kamu, Sya. Tapi, tolong bantu aku dengan tidak membentengi diri dariku," pintanya dengan suara lembut. 

__ADS_1


Kali ini aku benar-benar bimbang. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Tapi, apa yang dikatakan oleh pria di sampingku ini tidak salah. Kak Risqi pun pasti sedih jika tahu aku menyiksa diri dengan terus bergelut dengan batang cinta semu bersamanya. 


"Tapi, aku belum siap," kataku jujur. 


"Jika kamu tidak mau memulai, sampai kapanpun kamu tidak akan pernah siap, Sya. Marilah mulai bersamaku!" 


Aku terdiam cukup lama saat mendengar ajakan pria itu. Jauh dalam lubuk hatiku benar-benar belum ingin memulai hubungan baru. Namun, otak sehatku tidak menyangkal penilaian dari pria yang tetap berniat menikahiku. 


"Tidak perlu menjadikan ini sebagai beban, Sya. Aku akan memberikan kamu waktu untuk berpikir," ucapnya, lalu melepaskan tangannya yang semula menggenggam tanganku. 


Aku menatap pria itu hendak bangkit. Dia sempat menatap dan melemparkan senyum padaku sebelum akhirnya berlalu pergi. 


Sejak hari itu, dia tidak pernah datang ke rumah. Akan tetapi, Bapak selalu menyuruhku untuk menghubunginya. Padahal, antara aku dan dia belum ada hubungan apapun. Namanya pun aku belum tahu. 


Bapak tidak segan memaksa aku untuk mendekati pria itu. Namun, aku benar-benar belum siap. Hatiku masih terikat pada Kak Risqi. 


Tiba-tiba saja Ibu datang dengan satu set rantang. Wanita paruh baya itu menghampiriku yang sedang duduk di teras rumah. Aku mengerutkan dahi ketika Ibu menaruh rantang tersebut di atas meja di hadapanku. 


"Sya, kamu anterin makanan ini ke rumah Putra, ya!" perintah Ibu yang semakin membuat aku bingung. 

__ADS_1


"Putra siapa, Bu?" tanyaku heran. 


"Calon suami kamu, Sya," jawab Ibu seraya menepuk bahuku dua kali. 


'Jadi namanya Putra?' 


"Sya!" 


Aku tersentak saat Ibu sedikit mengguncang lenganku. Mungkin Ibu kesal karena aku tidak kunjung mengiyakan perintah darinya. 


"Tasya kan enggak tahu rumahnya, Bu," kataku beralasan. 


"Nanti Bapak yang anterin kamu," balas Ibu yang seketika membuat aku lemas. 


Aku terdiam, sebenarnya aku belum siap untuk bertemu dengan pria itu lagi. Aku takut, jika pria itu meminta jawaban dariku. Sedangkan aku sama sekali belum bisa memutuskan akan menerima ajakannya atau tetap menolak demi rasaku kepada Kak Risqi. 


"Nah, itu Bapak, Sya. Sana bilang Bapak kalau kamu mau ke rumah Putra!" perintah Ibu ketika melihat Bapak yang baru datang menggunakan motor matic milikku. 


"Bu, aku benar-benar belum siap ketemu Putra, Bu. Tasya belum bisa menerima perjodohan ini." Rasanya ingin sekali aku mengatakan ini, tetapi bibirku rasanya kelu dan tidak mampu berucap. 

__ADS_1


"Kenapa? Apa alasan yang membuat kamu belum bisa menerima Putra?" Bapak tiba-tiba menyela pembicaraan aku dan Ibu. 


__ADS_2