Bayang Cinta Semu

Bayang Cinta Semu
Berkunjung ke Rumah Putra


__ADS_3

Terjadi perdebatan antara aku dan Bapak. Aku mengungkapkan apa alasanku belum bisa menerima laki-laki lain dalam kehidupanku. Namun, alasan itu justru dianggap aneh oleh Bapak. 


"Kamu menolak Putra hanya karena orang yang sudah meninggal, Sya? Kamu pikir kamu bisa terus mencintai seseorang yang dunianya sudah berbeda dengan kita?" 


"Aku bisa, Pak. Aku ingin menjaga cintaku untuknya," jawabku tegas. 


Bapak mengacak rambutnya sendiri. Mungkin lelaki tua itu frustasi menghadapi anaknya yang pembangkang sepertiku. 


"G*ila. Ternyata aku membesarkan seorang anak yang tidak waras. Seharusnya kamu berpikir, Sya. Kamu ini masih hidup, sedangkan dia sudah tidak ada. Tidak sepantasnya kamu masih terpaku pada masa lalu." 


"Tapi, Pak. Aku … mencintainya," ucapku mengungkapkan perasaanku apa adanya. 


Bapak menatapku dengan sorot mata tajam. Aku tahu Bapak kesal padaku. Akan tetapi, aku benar-benar belum siap membuka hati. 


"Bapak tidak mau tahu. Kamu harus bisa melepaskan masa lalu kamu itu, Sya," ucap Bapak tegas. 


*****


Keributanku dengan Bapak yang akhirnya berimbas pada Ibu, membuat aku terpaksa melakukan perintah lelaki tua egois itu. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk pergi ke rumah putra sendirian. Bapak sudah memberi tahu alamat lelaki yang akan menjadi masa depanku itu. 


Di sinilah aku sekarang, di rumah yang lumayan besar. Halamannya pun luas dan asri. Banyak pohon besar yang tumbuh dengan subur di sana. 


Aku memarkirkan motor di samping mobil berwarna merah. Sebelum masuk dan menemui putra, aku sempat berdiam diri di atas motorku ini. 


Otak dan hatiku benar-benar menolak apa yang akan aku lakukan ini. Namun, aku tidak bisa terus-terusan melihat Ibu disalahkan oleh Bapak. 


Cukup lama aku berpikir, hingga seseorang yang hendak aku temui tiba-tiba keluar dari dalam rumah. Aku menatapnya sekilas, dia tersenyum, lalu berjalan menuju ke arahku. 


"Tasya, kamu sendirian ke sini?" tanyanya dengan suara lembut yang mengalun. Mungkin jika hatiku tidak terikat dengan Kak Risqi, aku akan dengan mudah jatuh cinta pada lelaki di hadapanku ini. 


"Em, iya sendirian," jawabku singkat. 

__ADS_1


"Oh, ya sudah, ayo masuk!" 


Terpaksa kuikuti langkah Putra yang berjalan ke dalam rumah. Tangan kananku memegang rantang berisi makanan yang disiapkan Ibu untuk Putra. 


"Duduk, Sya!" 


"Iya," jawabku lirih, kudaratkan bok*ngku di sofa empuk ruang tamu. 


Putra juga duduk di hadapanku. Lelaki tampan itu sepertinya paham bahwa aku belum bisa didekati dengan mudah. Itu sebabnya dia mengambil tempat duduk yang berlawanan denganku. Mungkin rasa tidak nyamanku bisa dibaca olehnya. 


"Ini ada titipan dari Ibu," ucapku, sambil menaruh rantang di meja. 


Putra menatap rantang yang sudah berada di atas meja, lalu tersenyum ramah padaku. Senyumnya memang manis. Namun, senyuman itu belum dapat menggantikan senyuman Kak Risqi yang sampai detik ini masih kuingat. 


"Kenapa senyum-senyum?" tanyaku heran. 


"Kamu jujur sekali, ya. Padahal, Bapak tadi menghubungiku dan bilang kalau kamu mau ke sini, buat antar masakan yang kamu buat sendiri." 


"Ini masakan Ibu. Aku mana bisa masak," balasku jujur. 


Tidak ada raut keterkejutan di wajah tampan Putra. Sepertinya lelaki itu memang sudah banyak tahu tentangku. 


"Kamu enggak bisa masak?" tanyanya, sambil tersenyum tipis. 


"Iya," jawabku seadanya. 


"Kenapa?" tanya putra lagi. 


"Sejak kecil aku tidak pernah diajari untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Ibu lebih memilih aku belajar cari uang sendiri untuk membantu keuangan keluarga," jawabku tanpa menutup-nutupi apapun. 


Dia manggut-manggut. "Jadi calon istriku ini seorang pekerja keras, ya. Tapi, tidak apa-apa kamu tidak bisa masak. Nanti setelah menikah kamu bisa belajar pelan-pelan. Aku bisa mengajari kamu," ujarnya tanpa beban. 

__ADS_1


Aku meliriknya, ekspresi lelaki itu benar-benar tenang. Tidak ada sedikitpun beban yang tersirat di wajah tampannya. Mungkin karena dia adalah seorang guru, jadi pembawaannya begitu tenang. 


"Kalau setelah belajar aku tetap tidak bisa masak, bagaimana?" tanyaku penuh selidik. 


"Ya tidak apa-apa. Aku mengajak kamu untuk membangun rumah tangga, bukan rumah makan. Jadi, tidak bisa masak tidak masalah. Kita masih bisa mempekerjakan asisten rumah tangga," jawabnya dengan bijaksana. Kata-kata itu berhasil membuat hatiku berdesir. 


'Dia benar-benar baik atau sedang pura-pura baik?' 


Aku terdiam usai mendengar jawaban dari putra. Meski hatiku sedikit luluh oleh kata-katanya, tetapi otakku masih saja menolak. 


Ketika suasana hening, tiba-tiba seseorang datang dari arah dalam. Seorang wanita paruh baya yang masih cantik dengan rambut disanggul. 


"Eh, ada tamu," ucapnya, sambil tersenyum. 


Aku langsung bangkit saat wanita itu mendekat dengan tangan kanan terulur, segera kuterima uluran tangan wanita itu, lalu kucium punggung tangan wangi ini dengan takzim. 


"Tante," sapaku ramah. 


"Tasya kapan datang, Sayang?" tanya wanita itu usai mengelus puncak rambutku. Wanita itu memilih duduk tepat di sampingku. 


"Barusan, Tante," jawabku sopan. 


Wanita itu menatap meja yang terdapat rantang, lalu menatap Putra sejenak sebelum kembali mengalihkan pandangan padaku. "Kamu bawa apa, Sya?" tanya wanita itu. 


"Di suruh Ibu buat kasih itu ke Putra, Tante," jawabku jujur. 


"Loh, repot-repot. Kamu kalau mau datang, datang aja, Sya. Tidak perlu bawa apa-apa," ucap wanita itu, aku hanya merespon dengan senyum tipis. 


"Putra, ini kenapa belum ada minuman di meja? Kamu enggak suruh bibi buatkan minum untuk calon menantu mama, loh!" 


"Eh, iya, putra lupa, Mah." Putra langsung bangkit dan berlalu ke dalam. 

__ADS_1


Wanita cantik yang menyematkan sebutan calon menantu padaku itu menggeleng pelan. "Kamu lihat, Sya. Putra itu jarang banget ngelupain sesuatu. Tapi, berhadapan dengan kamu langsung lupa segalanya," ucapnya disertai guyonan. 


__ADS_2