
Dugaanku ternyata benar terjadi. Lagi-lagi aku mendapatkan sikap kurang baik dari ibu kekasihku. Semakin hari, sepertinya wanita tua itu sudah tidak lagi merasa segan untuk berkata sesuatu yang menyakitkan kepada kekasih anaknya sendiri.
Meski hatiku rasanya sesak dan pedih, aku masih berusaha untuk menguatkan diri. Kali ini aku semakin yakin untuk melepaskan Farid. Mungkin, kami memang tidak berjodoh.
"Ibu tenang saja, Bu. Tasya masih SMA dan Tasya anak terakhir. Masih ada Mas dan Mbakku yang belum menikah. Jadi, aku tidak mungkin melangkahi mereka," jawabku tanpa gentar sedikitpun.
"Baguslah kalau memang begitu. Ibu bukannya tidak setuju, tapi untuk menikah kalian ini masih terlalu muda," katanya meralat ucapannya tadi. Mungkin dia mulai sadar bahwa yang dia katakan itu menyakiti hati anak orang.
"Tasya kesini juga cuma mampir aja, kok! Sekarang mau pulang karena harus kerja juga," ucapku sambil berusaha mengulas senyum, meskipun hatiku benar-benar sakit.
"Enggak nunggu Farid dulu?" tanyanya, kini sikapnya berubah segan.
"Enggak, Bu. Tasya udah minta jemput sama Mas," jawabku berbohong.
__ADS_1
"Oh, ya sudah. Terus sampai di mana masmu?" tanyanya lagi.
"Masku udah nunggu di sana, Bu. Tasya pamit dulu," pungkasku memutuskan untuk pergi dari sana tanpa menunggu Farid.
Usai berpamitan aku segera keluar, lalu buru-buru memakai sepatu agar cepat meninggalkan rumah ini tanpa ketahuan oleh Farid. Wanita tua tadi masih menatapku dengan ekspresi sulit ditebak. Tapi aku yakin, tidak ada sedikitpun rasa penyesalan dalam dirinya karena telah bersikap buruk padaku.
Aku bergegas pergi dari sana. Tidak ingin Farid bisa mengejarku, aku memutuskan untuk lewat jalan yang berlawanan dengan jalan yang kami lalui tadi. Aku berlari melewati deretan rumah di desa itu. Hingga saat sampai di area persawahan, aku terjatuh karena kakiku sudah sangat lelah.
Saat aku menangis sejadi-jadinya, tiba-tiba ada tangan yang mengulur di depan mataku. Aku pun mendongak untuk melihat siapa pemilik tangan tersebut.
"Kakak!" seruku saat melihat tubuh tegap Kak Risqi berdiri di hadapanku.
Dikarenakan aku tak kunjung menerima uluran tangannya, Kak Risqi akhirnya ikut berlutut. Memegang kedua lenganku, kemudian membantuku untuk berdiri.
__ADS_1
Kini, kami saling bersitatap. Tanpa basa-basi dia merengkuh tubuh rampingku dengan begitu erat. Dia bahkan mengusap-usap punggungku untuk menenangkan aku dari tangisan.
"Dek, kakak tahu kamu sedih. Tapi bisa tahan dulu nangisnya?" tanya Kak Risqi yang kukira hanya berniat menggodaku, tetapi saat aku melepaskan pelukan dan menatap wajahnya, tidak ada gurat candaan darinya. "Enggak enak kalau nangis di tengah sawah gini. Nanti di kira kakak ngapa-ngapain kamu, apa lagi kita di kampung orang," sambungnya yang kini membuatku tersadar.
Aku yang memang belum ingin mengeluarkan suara lebih memilih menjawab dengan anggukan. Kak Risqi langsung menggandengku menuju motornya. Dia naik, kemudian menyalakan mesin motornya. Setelah itu aku pun ikut naik ke boncengan.
"Pegangan, Dek. Kakak takut kamu pingsan di jalan," katanya yang memang terlihat mengkhawatirkan aku.
Sedikitpun mulutku tidak terbuka. Namun, aku tetap menuruti perintahnya. Kupeluk pinggangnya dengan erat, lalu motor melaju setelah Kak Risqi memastikan aku aman duduk di belakangnya.
Selama di perjalanan aku masih diam. Sebenarnya aku sangat ingin mengeluarkan semua rasa di hatiku. Namun, aku tahu, jika aku menceritakan hal itu, aku akan menangis. Sedangkan posisi kami masih ada di jalan.
"Kakak ngikutin aku, ya?" tanyaku setelah berhasil menguasai diri dari rasa sedih.
__ADS_1