Bayang Cinta Semu

Bayang Cinta Semu
Perlakuan Hangat


__ADS_3

Kukira dia hanya menggertak saat mengatakan akan menyerahkanku pada calon mertua. Tapi, rupanya dia tidak main-main. Kak Risqi benar-benar membawaku ke rumahnya untuk bertemu ibu serta kakak perempuan yang dia miliki. 


Saat kami datang, kedua wanita itu menatap bingung padaku. Aku mengira mereka bingung karena tiba-tiba Kak Risqi membawa perempuan ke rumah. Namun, ternyata aku salah besar. 


"Tasya kenapa, Qi?" tanya keduanya yang tentu membuat mataku membulat. 


Mereka tahu namaku? Padahal, ini pertama kalinya aku datang ke rumah Kak Risqi. Tetapi, mereka seperti sudah sangat mengenalku. 


Kak Risqi menurunkan aku di kursi kayu panjang, kemudian berlutut di depanku. Dia membantuku melepaskan sepatu yang aku kenakan. 


"Tasya bandel, Bu. Udah aku bilang enggak usah nonton, dia tetap nekat nonton dan berakhir jatuh di tengah kerumunan. Kakinya terinjak-injak penonton lain," kata Kak Risqi menjelaskan. 


"Kak," ucapku lirih. Aku merasa tidak enak karena Kak Risqi memperlakukan aku secara berlebihan di depan keluarganya. 


"Udah, enggak usah cerewet," sahutnya, kemudian bangun dan menaruh sepatuku di depan pintu rumah. 


Wanita tua dengan tubuh sedikit gemuk itu langsung ikut duduk di sampingku. Dia menatap lekat kakiku yang sedikit memar, kemudian menggapai kakiku itu dan berakhir menaruhnya di pangkuan. 


Terkejut, tentu saja. Perlakuan wanita yang merupakan ibu Kak Risqi itu sangat baik padaku. Rasa tidak enak membuatku ingin menolak perlakuan wanita tua itu. Namun, dia mengatakan sesuatu yang langsung membuat hatiku terharu. 


"Jangan gerak dulu, Sya. Biar ibu obatin," katanya dengan sangat lembut. 


"Tasya enggak apa-apa, kok, Tante," ucapku dengan rasa tidak enak hati. 


"Panggil ibu saja, Sya. Ini kaki kamu bengkak nanti," ucap wanita tua itu. 


"Em, iya, Bu." Pada akhirnya aku memutuskan untuk menurut. 


"Ris, ambilkan salep di kotak obat, Nak." 

__ADS_1


"Iya, Bu." 


Wanita muda yang usianya mungkin dua puluh lima tahun itu berjalan ke dalam, lalu tidak berselang lama kembali dengan kotak obat di tangannya. 


"Ini, Bu," ucapnya seraya memberikan kotak obatnya pada Ibunya. 


"Tahan sedikit, ya, Sya. Ibu bakal hati-hati, kok!" 


"Iya, Bu," jawabku tanpa banyak membantah. 


Wanita tua itu mengambil salep, lalu mengobati luka memar di kakiku. Rasa perih membuat aku sedikit meringis untuk menahannya. 


"Mbak Ris buatkan teh, ya, Sya. Mau hangat atau dingin?" Wanita dewasa itu menawarkan aku minuman. 


"Hangat aja, Kak," sahut Kak Risqi yang baru masuk setelah tadi keluar dari rumah. 


"Idih, kamu ini sok ngatur banget, Qi!" protes wanita dewasa itu. 


"Qi, udah! Kamu kalau cuma mau marahin Tasya mending balik aja ke tempat acara sana!" tegur si ibu membelaku. 


"Ya udah. Aku titip Tasya, Bu. Jagain calon mantu ibu, ya," pintanya dengan nada yang terdengar serius. 


"Iya, sana pergi." Ibu mengusir Kak Risqi dari rumahnya karena laki-laki itu terlalu cerewet. 


Jujur, hatiku gamang saat berada di tempat ini. Mendapatkan perlakuan hangat dari orang-orang yang belum aku kenal. Padahal, di keluargaku saja tidak pernah mendapatkan perlakuan spesial seperti ini. 


Ada rasa aneh saat Kak Risqi benar-benar menyebutku sebagai calon istri di depan keluarganya. Terlebih lagi keluarganya pun menerimaku dengan baik. 


Kini otakku mulai membanding-bandingkan perlakuan yang aku dapatkan dari keluargaku, keluarga Farid, dan keluarga Kak Risqi yang benar-benar berbanding terbalik. Farid saja tidak pernah mengenalkan aku sebagai calon istri pada keluarganya, dan sikap ibunya pun padaku negitu dingin. 

__ADS_1


"Sya, maafin Risqi, ya. Dia memang cerewet gitu," ucap Ibu saat melihatku diam dalam waktu yang cukup lama. 


"Tidak apa-apa, Bu. Kak Risqi kan memang seperti itu," balasku disertai senyum hangat. Aku menurunkan kakiku dari pangkuan wanita tua itu setelah selesai diobati.


"Ibu senang sekali saat tahu Risqi sudah punya pacar seperti kamu, Sya. Dulu, dia sering murung tapi setelah ada kamu, dia terlihat lebih bersemangat menjalani hidup," ucapnya sendu. 


"Kak Risqi bilang kalau aku pacarnya, Bu?" tanyaku memastikan. 


"Iya. Dia bilang dia jatuh cinta pada seorang wanita tegar. Makanya Ibu selalu senang saat dia bercerita banyak tentang kamu," jawabnya dengan sorot mata penuh kasih. 


Rasanya ingin sekali aku meluruskan kesalahpahaman ini. Namun, aku juga tidak bisa menghancurkan harapan seorang ibu yang begitu tulus padaku. 


"Ibu tidak keberatan jika Kak Risqi bersama anak bau kencur seperti aku, Bu? Aku enggak bisa masak, enggak bisa dandan, ngurus diri sendiri aja enggak becus, Bu." Aku sengaja mengungkap kekuranganku untuk melihat reaksi ibu Kak Risqi. 


"Tidak apa-apa, Sya. Asal kamu juga bisa menerima kekurangan Risqi, ibu tentu tidak keberatan." 


"Ibu serius?" 


"Tentu, Sayang. Kalau masak, nanti Ibu bisa ajarin kamu masak. Dandan, biar nanti Risty yang ajarin kamu, Nak." 


Beberapa saat kemudian seorang wanita dewasa keluar dengan membawa tiga gelas teh hangat di atas nampan. Wajahnya begitu adem dan cantik sekali. Dia tersenyum saat tidak sengaja bersitatap denganku. 


Dia menaruh gelas berisi teh hangat di atas meja, lalu ikut duduk bersama kami. Dari wajahnya yang cantik, muncul rasa tidak percaya diri dalam jiwaku. 


"Tasya, kamu kan cantik, kenapa malah mau sama adikku yang jelek itu? Selain jelek, dia juga malas mandi lagi. Kamu pasti kena pelet dia, Sya," ucapnya bergurau. 


"Ris, Tasya bukan lele, masa kena pelet." Ibu pun ikut menunjukkan bakat melawaknya. 


Kami pun tertawa bersama. Sungguh, meski ini pertemuan pertama kali, tetapi tidak ada rasa canggung sama sekali. Mereka memperlakukan aku seperti seorang yang sudah lama mereka kenal. 

__ADS_1


"Sya, tadi Risqi bilang dia enggak kasih izin kamu nonton. Terus kamu nekat nonton sama siapa?" 


__ADS_2