
Malam harinya aku sudah siap untuk berangkat ke pulau seberang. Tempat di mana aku bisa merasakan aman dan damai. Jika beberapa tahun silam aku bertandang ke sana dengan membawa luka, saat ini aku harus mengemas puing-puing hati yang retak akibat kepergian Kak Risqi ke Rahmatullah.
Aku sudah rapi dengan pakaian serba panjang berwarna hitam. Sebuah topi berwarna putih melengkapi penampilan sederhanaku saat ini. Segera kulangkahkan kaki keluar dari kamar, dengan tangan kiri menyeret koper berisi barang-barang pribadiku.
Tidak ada sedikitpun keraguan dalam hati untuk meninggalkan tempat kelahiranku ini. Bagiku tempat ini sudah seperti neraka dunia yang begitu menyiksa. Mungkin, orang akan menganggapku sebagai seorang anak durhaka, tetapi aku sungguh sudah sangat muak dengan segala kerumitan hidup yang diciptakan oleh orang tuaku sendiri.
Kulihat Bapak sedang menyantap makan malam di meja makan. Sengaja kulalui begitu saja tanpa berniat untuk menyapa laki-laki berambut putih itu. Namun, sepertinya aku akan banyak membuang waktu di sini saat Ibu tiba-tiba memanggilku dari arah dapur.
"Tasya, mau ke mana?" tanya Ibu seraya berjalan tergopoh-gopoh menghampiriku.
Terpaksa aku menghentikan langkah demi wanita yang sudah melahirkan serta membesarkanku itu. Ibu langsung memegang tangan kiriku yang sedang memegang koper.
"Aku mau berangkat lagi, Bu."
"Berangkat ke Jambi?" tanyanya dengan mimik wajah terkejut.
__ADS_1
Aku menjawab dengan anggukan kecil. Sekilas kulihat Ibu langsung memegang dadanya.
"Mau apa ke sana lagi?" tanya Ibu menuntut.
"Kerja, Bu," jawabku singkat.
"Sya, kamu udah janji ke Ibu kalau kamu enggak akan berangkat lagi, loh!" Ibu berucap dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf," timpalku seraya menundukkan sedikit wajah. Aku sungguh tidak tega melihat wajah sedih Ibuku.
Seburuk apapun masa kecilku, aku tidak mungkin membenci wanita yang pernah mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan aku ke dunia, 'kan? Meski rasa kecewa pada Ibu benar adanya, tetapi aku masih sangat-sangat menyayanginya.
Ibu merebut koper dari tanganku, lalu melemparkannya jauh. Aku menatap bergantian Ibu serta koperku yang sempat menabrak dinding sebelum akhirnya jatuh ke lantai.
"Jangan pergi!" bentak Ibu dengan suara menggelegar.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Tapi, Tasya benar-benar harus pergi," ucapku dengan sesak di dada.
"Ibu tidak akan pernah mengizinkan kamu pergi, Tasya! Sudah cukup, Ibu tidak mau kehilangan anak lagi," ucap Ibu dengan suara bergetar hebat.
Aku tahu perasaan ibu saat ini. Wanita tua di hadapanku ini pasti takut jika aku akan seperti kakak-kakakku yang lain. Mereka pergi dengan alasan akan bekerja. Namun, pada akhirnya mereka justru menikah dengan orang jauh yang membuat mereka tidak bisa selalu pulang ke tanah kelahiran.
"Maaf, Bu." Hanya itu yang dapat aku ucapkan. Meski sesak di hati semakin mendominasi, tetapi tekadku sudah bulat.
Ketika aku berusaha melepaskan diri dari pegangan erat Ibu, wanita tua di hadapanku ini dengan cepat kembali mencekal pergelangan tanganku dengan sangat kuat. Aku bahkan meringis saat cengkeraman tangannya membuat pergelangan tanganku merasakan nyeri.
"Kalau kamu nekat pergi, Ibu akan berdoa agar kapal yang kamu tumpangi tenggelam di tengah laut." Kalimat mengejutkan meluncur begitu saja dari bibir wanita yang begitu kusayangi.
"Bu," ucapku lirih, kepalaku menggeleng beberapa kali. Sungguh, aku tidak menyangka Ibu akan mengucapkan kutukan seperti itu.
"Pokoknya Ibu tidak mengizinkan kamu pergi, Sya. Kalau kamu nekat, Ibu tidak akan anggap kamu anak Ibu lagi," ucap Ibu seraya memalingkan wajahnya, lalu melepaskan genggaman tangannya serta pergi meninggalkan aku yang hanya bisa mematung di tempat.
__ADS_1