Bayang Cinta Semu

Bayang Cinta Semu
Hancurnya Harapan


__ADS_3

Awalnya tidak ada yang berbeda dari hubungan kami. Aku dan Kak Risqi tetap bersikap seperti biasa, meskipun ada sedikit rasa canggung di antara kami. Aku paham, apa yang kita jalani saat ini tidaklah mudah. Tapi, aku memang benar-benar belum siap untuk memulai hubungan baru. 


Hingga dua bulan setelah ungkapan perasaan itu, tiba-tiba sikap Kak Risqi sedikit berbeda padaku. Dia tidak lagi posesif seperti dulu, dia juga jarang menghabiskan waktu bersamaku, ketika aku mengajaknya keluar pun dia selalu ada alasan untuk menolak. 


Hal itu tentu saja membuatku kalang kabut. Rasa takut jika dia meninggalkanku kini memenuhi pikiran dan hatiku. Setiap pulang kerja, aku selalu merenung sendirian di kamar. Sepi, itulah yang aku rasakan saat ini. Kak Risqi sudah jarang sekali membalas pesan singkat yang aku kirimkan. 


"Kak, apa secepat ini rasa kakak hilang? Kakak sudah janji tidak akan meninggalkan aku, 'kan?" Tanganku bergetar saat menuliskan pesan itu. Ketika menekan tombol kirim pun, setetes cairan bening lolos begitu saja. 


Aku menunggu dengan perasaan tidak karuan. Berharap Kak Risqi Sudi untuk membalas pesanku saat ini. Namun, hingga satu jam tidak ada satupun balasan darinya. 


Tidak mendapatkan hasil apa pun, kini aku mencoba untuk melihat akun sosial medianya. Hatiku mencelos saat melihat dia sedang online. Segera aku mengirimkan pesan lewat media sosialnya agar dia mau membalas. 


Pesan yang sama seperti tadi yang aku kirimkan padanya. Namun, beberapa saat setelah aku mengirimkan pesan tersebut, Kak Risqi justru langsung offline. 


Perasaanku semakin tidak tenang ketika Kak Risqi sudah benar-benar mengacuhkanku. Tanpa sadar, tetes demi tetes air mata yang merembes di pipi, kini mulai deras bersamaan dengan hancurnya segala harapan. 


Tidak mau menyerah begitu saja, aku mencoba untuk menghubunginya lewat sambungan telepon. Tetapi, hasilnya sama saja. Tidak ada respon apapun dari Kak Risqi. 


"Aku harus ke rumah Kak Risqi untuk memastikan. Apakah dia memang berniat meninggalkanku?" 


Kesedihan yang aku rasakan membuatku tanpa sadar memejamkan mata. Masih dengan posisi tengkurap di kasur, aku mulai terlelap. Padahal, jejak air mata pun belum hilang dari kedua pipi tirusku. 


*****


Keesokan harinya, aku benar-benar nekat menyambangi rumah Kak Risqi setelah pulang dari sekolah. Ketika sampai di rumah itu, seperti biasa Ibu dan Mbak Risty selalu menyambutku dengan pelukan. 


Sebelum mengutarakan maksudku datang ke rumah ini, aku memutuskan untuk berbasa-basi dulu dengan Ibu dan Mbak Risty. Tidak mungkin aku langsung menanyakan tentang Kak Risqi pada mereka, 'kan?


Sekian lama kami mengobrol, ada sesuatu yang kurasa aneh dari kedua wanita ini. Biasanya jika aku datang, mereka pasti akan membahas tentang Kak Risqi. Namun, tidak untuk sekarang. 


"Bu, Kak Risqi mana?" tanyaku mencoba memberanikan diri. 

__ADS_1


Kulihat ekspresi wajah mereka langsung berganti cemas saat aku menanyakan keberadaan Kak Risqi. Sepertinya mereka sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dariku. 


"Bu," panggilku lirih. 


Wanita tua itu langsung merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Meski kini aku tidak bisa melihat wajahnya, tetapi aku bisa merasakan Ibu menangis. Terbukti dengan adanya setetes air yang jatuh ke pundakku. 


"Maaf, ya, Sya. Maafin Risqi," kata Ibu dengan suara bergetar. 


Aku semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dengan Kak Risqi. Jika tidak, mana mungkin Ibu meminta maaf atas nama Kak Risqi. 


Beberapa saat memelukku dengan erat, kini Ibu melepaskan dekapan hangatnya. Aku masih sibuk menerka-nerka apakah yang sedang terjadi saat ini? Kenapa Ibu menangis? Dan kenapa Ibu meminta maaf atas nama Kak Risqi? Banyak sekali pertanyaan yang hinggap di kepalaku. 


"Kenapa Ibu minta maaf?" 


"Assalamu'alaikum!"


"Waalaikum Salam," jawab Ibu, aku, dan Mbak Risty kompak. 


Dia datang bersama seorang wanita berhijab. Dari wajahnya, mungkin usia wanita itu sebaya dengan Kak Risqi. Nyaliku langsung menciut saat melihat betapa cantik dan anggunnya wanita yang datang bersama Kak Risqi. 


"Kak!" Aku memanggil Kak Risqi dengan lirih. 


"Kamu datang, Sya?" tanyanya dengan nada datar. 


Aku memaksa bibir ini untuk tersenyum saat wanita yang duduk di sebelah Mbak Risty menatapku. Mataku terpana dengan kecantikan wanita itu. Kini, aku mulai sadar diri, mungkin wanita inilah yang membuat Kak Risqi mengabaikan aku. 


"Dia siapa, Kak?" Aku tidak menjawab, melainkan melempar pertanyaan padanya. 


"Teman," jawabnya singkat. 


"Jangan bohong, Kak!" 

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin melukai kamu dengan kejujuran, Sya," katanya lirih. 


"Lebih baik sakit karena kejujuran dari pada dijaga dengan kebohongan, Kak!" 


Ibu, Mbak Risty, dan wanita itu hanya menjadi pendengar pembicaraan kami kali ini. Tidak ada satupun dari mereka yang ikut mengeluarkan suara. 


Kak Risqi masih diam saja. Sikap Kak Risqi kali ini membuatku semakin sadar. Mungkin dugaanku memang benar. Wanita itu adalah pasangan Kak Risqi sekarang. 


"Tidak perlu dijawab jika memang Kak Risqi tidak ingin menjawab. Aku sudah lebih dari paham sekarang," kataku dengan senyum getir. 


Kini aku beralih pada Ibu yang duduk di sampingku. Kuraih tangan keriput itu, lalu kuusap beberapa kali. Aku memejamkan mata sejenak seraya menghela napas berat. 


"Ibu tidak perlu minta maaf, Bu. Di sini tidak ada yang salah, kok!" Aku mencium punggung tangan keriput itu dengan penuh kasih. "Tasya pulang dulu, ya, Bu. Lain kali Tasya pasti datang untuk menjenguk ibu, kok." 


Ibu tidak menjawab dengan kata-kata. Wanita tua itu hanya mengangguk dengan air mata mengucur dari kedua sudut matanya. Kini aku berniat untuk bangkit, tetapi Ibu masih memegangi tanganku dengan erat. 


"Bu, Tasya janji. Apapun keadaannya, Tasya juga masih menganggap ibu sebagai ibu Tasya, kok. Terima kasih sudah sangat sayang pada Tasya," kataku mencoba untuk menguatkan hati. 


Ibu belum melepaskan aku. Wanita tua itu justru kembali memelukku dengan sangat erat. Mungkin Ibu juga kecewa dengan apa yang terjadi saat ini. Namun, semua pilihan ada di tangan Kak Risqi.


Aku pun tidak bisa menuntut apa-apa sebab tidak ada hubungan apapun antara aku dan Kak Risqi. Dia bebas untuk melakukan apa saja sesuai dengan keinginan hatinya. 


Ketika Ibu sudah melepaskan aku, segera kuberlari keluar dari rumah sederhana yang dulu terasa hangat itu. Kini, aku sudah kehilangan segalanya. Perhatian dan cinta kasih dari Kak Risqi sekarang milik orang lain.


Di sepanjang jalan menuju rumah, air mata ini tidak mau berhenti. Terus saja luruh bersamaan dengan kesakitan yang aku rasakan.  Aku merasa terkhianati oleh Kak Risqi, laki-laki yang pernah berjanji tidak akan pernah pergi meninggalkanku. 


"Kamu bohong, Kak. Kamu bilang tidak akan meninggalkan aku. Tapi sekarang apa buktinya? Kamu dengan cepat memberikan posisiku pada wanita lain." Hatiku benar-benar hancur kali ini. 


Sejak pengkhianatan yang dilakukan oleh Kak Risqi, aku tidak mau lagi dekat dengan pria manapun. Kini aku fokus pada sekolahku hingga aku lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas. Setelah lulus, Aku ikut Kakakku merantau ke Pulau Sumatera. Meninggalkan semua kenangan di kota kelahirannku untuk membangun hidup baru di kota orang. 


"Mulai hari ini, aku terlahir sebagai Tasya Kamila yang baru, Kak. Aku sudah mengubur semua tentang kita. Perasaanku, biar aku berusaha untuk menghapus jejakmu dari kehidupanku. Semoga kamu bahagia." Sebelum berangkat, aku menyempatkan diri untuk mengirimkan pesan itu pada Kak Risqi. 

__ADS_1


__ADS_2