
Kulihat raut wajahnya mendadak murung setelah aku memangilnya dengan sebutan Kakak. Ada raut kekecewaan di wajah tampan itu. Meski dia tidak mengatakannya, tetapi aku dapat merasakannya.
Beberapa pertanyaan muncul di benakku. Apakah dia memang seserius itu dalam ucapannya. Apakah dia benar-benar memiliki rasa sedalam itu padaku, seseorang yang baru saja dia kenal? Tetapi, aku terlalu pengecut untuk menanyakan hal itu padanya.
Tidak berselang lama, seorang wanita datang membawa nampan berisi dua mangkuk mie ayam serta minuman pesanan kami. Kedatangan si penjual berhasil mencairkan ketegangan yang sempat terjadi antara aku dan dia.
"Terima kasih, Mbak," ucapku pada si penjual.
"Sama-sama, Mbak. Silahkan dinikmati," katanya dengan ramah.
Si penjual itu kembali melanjutkan pekerjaannya melayani pembeli lain. Dia masih diam saja meski tangannya mulai menuangkan saos sambal ke dalam mangkuk mie ayam miliknya.
"Sekalian, dong, Kak!" seruku sambil mendorong mangkuk ke hadapannya.
Raut wajahnya semakin kesal saat aku kembali memanggilnya dengan sebutan itu. Aku tahu, mungkin dia berharap lebih dari hubungan sebagai Kakak dan Adik. Namun, aku tidak mungkin menjanjikan sesuatu yang belum pasti. Perasaanku sudah terikat dengan seseorang yang sudah satu tahun kebelakang menjadi penyemangatku. Walau akhir-akhir ini hubungan kami terasa semakin dingin.
Kekesalannya tidak membuat dia mengabaikan permintaanku. Dia tetap menuangkan saos ke mangkuk milikku. Hanya saja mulutnya masih bungkam.
"Lagi, Kak," pintaku saat dia menghentikan kegiatannya.
"Enggak usah banyak-banyak saos. Nanti perut kamu sakit," ucapnya dengan nada datar.
Sebelah sudut bibirku terangkat membentuk lengkungan tipis. Ternyata meski dia sedang merajuk, dia tetap peduli dan perhatian padaku. Hal yang jarang sekali aku dapatkan dari orang-orang di sekitarku.
"Dikit gitu, mana cukup?" tanyaku mengajukan protes.
"Cukup. Kalau kebanyakan enggak baik buat kesehatan." Dia mendorong mangkuk mie ayam milikku ke hadapanku.
"Ya udah, deh. Makasih," ucapku yang tidak ingin banyak berdebat.
Kami mulai menikmati makanan yang dijual di pinggir jalan itu dengan diam. Aku sedikit merasa aneh saat dia tidak banyak bicara. Namun, aku pun enggan untuk memulai pembicaraan.
__ADS_1
Setelah selesai menyantap mie ayam itu. Kami memutuskan untuk pulang. Malam sudah kian larut. Sudah cukup lama kami menghabiskan waktu bersama.
Dia mengantarku pulang hingga sampai di halaman rumah. Dia masih tetap diam seperti tadi. Entah apa yang membuatnya begitu kecewa saat aku memanggilnya dengan sebutan itu. Padahal, menurutku panggilanku untuknya adalah panggilan spesial. Selama ini, aku tidak pernah memanggil laki-laki lain dengan sebutan Kakak.
"Kak, makasih, ya," ucapku tulus.
Dia mengangguk kecil, kemudian langsung menyalakan mesin motornya. Sedikit rasa aneh menjalar di hatiku. Rasanya didiamkan seperti ini, sangatlah tidak enak.
"Kak," panggilku dengan hati-hati.
Dia menatapku, tetapi tangannya hendak memutar gas motornya. Tidak ingin dia pergi dengan keadaan kesal, aku pun memegang lengannya pelan.
"Kakak tidak akan meninggalkan aku, 'kan?" Pertanyaan itu lolos begitu saja tanpa aku sadari.
"Enggak," jawabnya singkat, nadanya pun masih terdengar datar.
"Panggilan itu, tidak pernah aku berikan pada orang lain, loh, Kak." Sayang, kata-kata ini hanya mampu kuungkap dalam hati saja.
Hanya anggukan kepala yang dia berikan. Aku tahu, mungkin rasa kesal serta kecewa yang dia rasakan belum reda. Aku pun tidak mungkin memaksanya untuk mengerti, 'kan?
Usai aku melepaskan dirinya, dia pun kembali memacu kuda besinya pergi dari hadapanku. Kutatap lama tubuh tegap itu hingga menjauh, kemudian hanya terlihat seperti titik hitam saja karena telah benar-benar jauh.
Aku pun melangkahkan kakiku untuk masuk ke rumah dengan tangan yang menenteng kantong plastik hitam, berisi mie ayam yang dibeli olehnya untuk keluargaku. Saat baru saja masuk, Ibu langsung mencecarku dengan banyak pertanyaan. Terlihat gurat kekhawatiran dalam wajah keriput itu.
"Kamu dari mana, Sya? Ibu cari di rumah teman-teman kamu, kok, enggak ada. Tadi ada yang lihat kamu pergi sama laki-laki, apa Farid sudah pulang?"
"Tasya pergi sama Kak Risqi, Bu. Bukan sama Farid," jawabku singkat, tetapi berhasil membuat Ibu mengerutkan dahi.
"Kak Risqi, siapa dia, Sya?"
"Teman Tasya, Bu," jawabku lagi.
__ADS_1
"Farid tahu kamu pergi sama laki-laki lain?" tanya Ibu yang hanya kujawab dengan gelengan kepala.
"Anakmu kan wanita gampangan, Yu. Makanya gampang dibawa pergi sama laki-laki tanpa meminta izin sama orang tua," sahut Bapak yang baru saja keluar dari arah dalam rumah.
Mendengar ucapan kasar Bapak, aku hanya diam. Bibirku berkedut, rasanya ingin sekali aku melawan laki-laki pengecut itu. Sayangnya, dia adalah orang yang membawaku hadir ke dunia.
"Jangan sembarang omong, Pak! Dia anak kita," ucap Ibu menegur Bapak.
"Memangnya kenapa kalau dia anak kita? Tingkahnya semakin hari sudah semakin kelewatan saja. Dia itu punya orang tua, tapi pergi main kluyar-kluyur saja seperti anak tidak punya orang tua."
Pedih, itulah yang aku rasakan saat ini. Orang tuaku sendiri tega berkata sarkas seperti itu. Tetapi, apa yang dikatakan olehnya memang benar. Bukankah selama ini aku memang merasa hidup sebatang kara meski orang tuaku masih lengkap? Rasanya ingin sekali aku mengutarakan perasaanku itu. Namun, sekali lagi, aku tidak ingin menjadi anak durhaka yang berani melawan orang tua.
Mereka sama sekali tidak bertanya kenapa aku pergi dari rumah. Masalah apa yang sedang aku hadapi. Mereka hanya memikirkan urusan mereka sendiri tanpa memperdulikan anaknya yang sedang dihancurkan oleh keadaan.
"Bu, ini ada mie ayam dari Kak Risqi. Tasya mau masuk, belum mandi dan sholat," ucapku pada Ibu.
Begitu kantong hitam ditanganku sudah berpindah ke tangan ibu, aku langsung melenggang masuk ke kamar. Kuambil baju ganti, lalu bergegas ke kamar mandi.
"Lihat itu anakmu, Yu! Selain hidup tanpa aturan, dia juga tidak memiliki sopan santun. Ini semua karena kamu gagal dalam mendidik anak-anak."
Aku sempat mendengar Bapak kembali menyalahkan Ibu. Laki-laki tua itu tidak pernah introspeksi diri atas sikapnya pada anak-anak. Seharusnya dia bisa berpikir, kenapa anak-anaknya bisa bersikap seperti ini. Namun, dia tidak pernah sadar diri tas kesalahannya.
Aku memutuskan untuk mengabaikan keributan yang terjadi malam ini. Buru-buru aku membersihkan diri, kemudian melaksanakan sholat yang sudah sedikit terlambat dari waktu sebenarnya. Begitu selesai, aku merebahkan diri di kasur lapuk yang menjadi tempat istirahatku dari rasa lelah dan kantuk.
Kutatap ponsel yang tergeletak di atas meja. Tiba-tiba saja terlintas raut wajah seseorang yang tadi berhasil menghiburku itu. Aku pun segera mengambil ponsel tersebut.
"Aku telepon saja kali, ya?" monologku sebelum menghubunginya.
Belum sempat aku menghubunginya, ponselku sudah lebih dulu berdering. Sayangnya, nomor Farid lah yang tertera di layar ponsel.
Dengan berat hati, aku menerima panggilan darinya. Begitu panggilan tersambung, dia mengatakan hal yang membuatku terkejut.
__ADS_1
"Yang, keluar sekarang!"