
Pada akhirnya, aku yang memang sudah sangat lelah dan jenuh menunggu angkutan umum yang tak kunjung datang terpaksa menerima tawaran laki-laki itu. Mungkin hari ini adalah hari keberuntungannya sehingga angkutan umum yang biasanya tidak bisa dihitung dengan jari, tiba-tiba lenyap tanpa sisa.
Aku terpaksa naik ke boncengannya, tetapi aku tidak berpegang pada laki-laki itu. Aku justru berpegangan pada besi belakang motor.
"Pegangan, nanti kamu jatuh!" Dia menegurku saat tidak merasakan tanganku berpegangan pada tubuhnya.
"Kalau lo enggak ngebut, gue enggak bakal jatuh," jawabku dingin.
Dia tidak menjawab, hanya langsung mengendarai motornya menuju rumahku. Aku yang memang tahu dia sudah sangat paham di mana alamatku, memutuskan untuk diam saja.
Sekilas aku melihat dia sesekali melirikku lewat spion. Mungkin dia ingin mengajakku bicara. Namun, aku masih saja membuat jarak atas dirinya.
Menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit kami pun sampai di rumahku. Benar, dia berhenti tepat di depan tempat tinggalku. Begitu dia mematikan mesin motornya, aku pun segera turun.
"Makasih," ucapku datar.
"Sama-sama," jawabnya seraya menatap ke arah rumahku.
"Gue enggak bakal nawarin lo buat mampir. Jadi, mendingan lo langsung pulang, deh!" Aku menyuruhnya untuk segera pergi dari tempat tinggalku.
"Mas," sapanya dengan nada sopan.
Mendengar dia menyapa seseorang di belakangku, otomatis aku membalik tubuhku. Di sana, Kakak laki-lakiku sedang berdiri dengan pandangan sulit di artikan.
"Dari mana aja, lo?" tanya Kakakku padaku.
Aku mendengus kesal sebelum terpaksa menjawab, "Mas enggak lihat aku pakai seragam?" tanyaku kesal.
"Sekolah apa main?" tanyanya dengan nada menuduh.
__ADS_1
"Jangan nuduh sembarangan, Mas. Aku baru dari sekolah!" seruku makin kesal.
"Alasan," ucapnya tidak percaya dengan jawaban dariku.
"Maaf, Mas. Tapi Tasya memang dari sekolah, kok!" Dia menyahut saat Kakak laki-lakiku terus menuduh bahwa aku baru saja main.
"Gak usah ikut campur! Gue enggak kenal sama lo!" bentak Mas Ryan pada laki-laki itu.
"Apa, sih, Mas? Enggak perlu nyolot sama temenku gitu."
"Temen, mana ada cewek sama cowok temenan. Omong kosong! Enggak mungkin ada hubungan seperti itu. Gue bakal aduin lo ke pacar lo!" Mas Ryan mengancamku.
"Aduin aja sana. Aku enggak peduli!" tantangku dengan berani.
Melihat suasana yang semakin panas antara aku dan Mas Ryan, laki-laki itu pun berpamitan. Mungkin dia kapok karena menyaksikan pertengkaranku dengan Mas Ryan.
"Sya, aku pamit dulu, ya. Kamu kalau ada apa-apa, kabarin aku," ucapnya sebelum pergi.
Setelah kepergian laki-laki yang belum kuketahui namanya itu, aku memutuskan untuk masuk ke rumah sederhana orang tuaku. Mas Ryan masih saja mengekor dengan mulut mengomel.
"Udah, sih, Mas, ngomelnya. Aku capek tahu!"
"Lo bener-bener, ya, Sya! Gue baru pulang dari Jakarta, tapi sikap lo ke gue kaya gini."
"Mas, plis, deh! Enggak usah drama. Hubungan kita itu enggak selayaknya adek kakak pada umumnya. Mas Ryan selalu menjadikanku objek nap*u sejak dulu. Memang Mas Ryan mau aku bersikap seperti apa?" tanyaku dengan nada emosi.
"Lo nuduh gue tukang ca*ul, Sya!" bentaknya tidak terima.
"Aku enggak pernah bilang kaya gitu. Tapi, kalau Mas Ryan sadar, ya bagus," sahutku sebelum masuk ke kamar.
__ADS_1
Ya, nasibku sejak kecil begitu malang. Beberapa kali aku hampir menjadi korban dari naf*u gila Mas Ryan, dan Mas Herman–Kakak iparku. Beruntung aku selalu bisa berontak dan melepaskan diri dari ancaman mereka.
Dadi dalam aku bisa mendengar, Mas Ryan sedang memaki dengan kasar. Semua kaki hewan berkaki empat dia keluarkan demi melampiaskan kekesalannya padaku. Tidak mau pusing dengan perlakuan Mas Ryan saat ini, aku memilih untuk merebahkan diri di kasur lapuk milikku.
Tidak terasa aku larut dalam mimpi indah. Tubuhku yang memang terlalu lelah dan hampir g*la oleh kenyataan-kenyataan pahit itu pun akhirnya tumbang di atas kasur.
Rasanya belum lama aku berkelana di alam mimpi yang lebih indah dari kenyataan pahit ini. Tidurku terganggu oleh sesuatu yang menindih tubuhku. Buru-buru aku membuka mata, dan yang kulihat seketika membuat aku bergegas bangun.
"Mas Ryan ngapain?" tanyaku dengan suara serak, kupeluk tubuhku sendiri demi menyembunyikan sesuatu yang tadi sempat terlihat karena pakaianku yang sedikit tersingkap.
"Apa? Memangnya ada larangan buat peluk adek sendiri?" tanya Mas Ryan balik tanpa rasa bersalah, padahal posisinya tadi hampir seperti akan meruda paksa adiknya sendiri.
"Kalau mau peluk, ngapain saat aku tidur? Kenapa harus buka sebagian bajuku?" tanyaku dengan nada menekan, aku yang sudah dewasa tentu saja tahu apa yang akan dilakukan oleh Mas Ryan.
"Lo salah paham, Sya. Baju lo tersingkap saat Lo tidur tadi. Gue malah mau benerin biar Lo enggak masuk angin," elaknya mencoba membohongiku.
"Aku enggak salah paham, Mas. Mas Ryan emang enggak berubah! Dari dulu Mas udah niat ... buat ngerusak aku, 'kan?"
"Lo apaan, sih, Sya? Ngomong, tuh, dijaga. Kalau Ibu denger dikira gue bener mau ngerusak elo!" bentak Mas Ryan tidak terima dengan tuduhanku, meski itu memang kenyataannya.
"Keluar dari kamarku, Mas. Kalau Mas tetap di sini, aku bakal aduin Mas Ryan ke Ibu. Kalau perlu, aku bakal laporin Mas Ryan ke polisi," ancamku agar dia segera pergi dari kamarku.
Kulihat Mas Ryan sempat mengepalkan tangannya sebelum terpaksa keluar dari kamarku. Pasti dia sangat marah karena gagal untuk melakukan aksinya untuk yang kesekian kalinya.
Setelah kepergian Mas Ryan, aku menangis terisak, kemudian menggapai ponsel untuk menghubungi kekasihku. Tetapi, seperti biasa, dia selalu sibuk saat aku membutuhkan dirinya.
Merasa butuh seseorang untuk berkeluh kesah, aku pun tanpa sadar menghubungi seseorang yang selalu kutolak mentah-mentah kehadirannya. Namun, alam bawah sadarku justru terdoktrin dengan ucapannya yang menyuruhku untuk mengabarinya saat ada sesuatu padaku.
Baru dering pertama, tetapi panggilan itu langsung tersambung. "Hallo," sapanya dengan suara lemah lembut. Namun, ketika mendengar suara tangisanku, dia mulai panik. Dia bertanya padaku, "Kamu kenapa? Ada masalah? Kamu masih di rumah, 'kan? Kalau begitu aku kesana sekarang!"
__ADS_1
Belum sempat aku menjawab, panggilan tiba-tiba terputus. Padahal, aku hendak mengatakan bahwa dia tidak perlu datang. Aku hanya ingin didengarkan lewat sambungan telepon.
Aku berusaha menghubunginya kembali, tetapi nomornya sekarang justru tidak aktif. Entah ponselnya mati, atau memang sengaja dimatikan. Aku pun tidak tahu jawabannya. Hanya saja, aku mulai khawatir jika dia benar-benar datang ke sini dan bertemu lagi dengan Mas Ryan.