
Aku pulang dengan diantar oleh Putra. Motorku terpaksa ditinggal di rumah lelaki itu. Mereka bilang akan ada seseorang yang mengantarnya ke rumah. Sebelum pulang, Putra sempat mengajakku ke pusat perbelanjaan.
"Mau apa kita ke sini?" tanyaku, setelah keluar dari mobil yang saat ini terparkir di basemen.
"Belanja keperluan kamu, Sya. Minggu depan mama bilang akan mengenalkan kamu ke keluarga besar kami," jawab putra sejenak menoleh ke arahku.
"Aku enggak perlu apa-apa, Put. Kita pulang saja, ya." Aku berusaha membujuknya, tanpa sadar aku melingkarkan tanganku di lengan kekarnya.
"Enggak bisa, Sya. Ini perintah mama," ucap Putra tegas.
Akhirnya aku terpaksa mengikuti langkah putra, calon suamiku. Lelaki itu memilihkan beberapa setelan baju serta dress, lalu memberikannya padaku.
"Coba dulu sana!" perintah Putra usai memberikan semua pakaian yang dia pilih.
"Sebanyak ini?" tanyaku lemas.
Sebenarnya aku paling malas jika harus mencoba dulu sesuatu yang belum dibeli. Namun, tidak ingin terjadi keributan, aku pun menuruti perintah Putra.
Beberapa kali aku mencoba setelan pakaian yang dipilih oleh Putra. Lelaki itu selalu tersenyum senang dan berkata aku cantik dengan pakaian itu. Kini hanya tersisa tiga dress dengan bahan, model, serta warna yang berbeda.
Aku memilih untuk mencoba dress berwarna hitam lebih dulu. Gaun dengan model lengan seperempat dan dibagian leher sedikit terbuka. Usai memakai gaun tersebut, aku keluar dari ruang ganti.
Kuhampiri Putra yang sedang membaca majalah, lalu kupanggil namanya, "Putra!"
Dia menoleh, lalu bergeming. Tidak ada respon yang keluar dari bibirnya. Lelaki ini seperti sedang terhipnotis oleh sesuatu yang begitu menawan.
Aku menoleh ke samping, memeriksa keadaan tempat itu yang mulai sedikit ramai. Jujur, aku sangat tidak nyaman menggunakan dress dengan model ini.
'Aih! Dia malah melamun.'
Terpaksa Kukibaskan tanganku tepat di hadapan mukanya, hingga dia terperanjat. "Tasya!"
__ADS_1
"Kamu malah ngelamun, sih! Aku udah enggak nyaman ini," keluhku padanya.
"Ganti, kamu enggak cocok pakai pakaian begini," ucapnya memerintah.
Perintahnya kali ini membuatku bernapas lega. Untuk pertama kalinya dia sepemikiran denganku. Padahal, biasanya Putra selalu saja berbeda pendapat denganku.
Aku pun kembali masuk ke ruang ganti. Kini kulepaskan gaun terbuka yang melekat di tubuhku, kemudian kuganti dengan gaun model lainnya.
"Ini lebih parah!" Aku menggerutu saat melihat di cermin bagaimana penampilanku saat ini.
Bagaimana tidak, gaun yang kupakai saat ini memiliki belahan dada yang membuat area pribadiku sedikit terekspos. Sungguh, aku sangat tidak ingin memperlihatkan ini kepada Putra. Bagaimana jika nanti laki-laki itu justru meminta aku untuk memakai gaun ini ketika acara Minggu depan?
Kugelengkan kepalaku saat membayangkan hal itu terjadi. Sungguh, aku benar-benar tidak ingin memakai baju model seperti ini. Bukan tipe dan kegemaranku sama sekali.
"Tasya!"
Kudengar Putra memanggilku. Mungkin, dia mulai kesal karena aku terlalu lama berada di dalam sini.
"Sudah belum?" tanyanya dari luar.
"Put, aku rasa jangan baju yang ini, deh! Asli aku malu pakai pakaian seperti ini," ucapku masih berusaha bertahan di dalam ruang ganti.
"Tunjukkan dulu padaku. Nanti aku yang tentukan," jawabnya tegas.
Dengan perasaan ragu, aku memaksa kakiku untuk berjalan keluar. Kubuka pintu ruang ganti, yang langsung membuat Putra bisa melihatku saat itu juga. Dia memang berdiri tepat di depan pintu ruang ganti.
Netra hazel itu melolot dengan sempurna saat melihat penampilanku saat ini. Tanpa berkata apapun, dia membalik tubuhku dan mendorongku lagi ke ruang ganti. "Jangan pakai gaun itu. Aku tidak mau mengambil resiko buruk yang akan terjadi," ucapnya menginterupsi.
Lagi, kubuka kembali gaun yang menempel di tubuhku ini, kemudian menggantinya dengan pilihan terakhir Putra. Kini gaun itu modelnya tertutup. Meski panjangnya hanya sampai di bawah lutut saja, tetapi menurutku gaun ini jauh lebih baik dari dua gaun yang tadi kucoba.
"Ini baru nyaman," ucapku lega.
__ADS_1
Segera aku keluar dari kamar ganti. Ternyata, Putra sudah kembali duduk di sofa dengan tangan memegang majalah. Ketika mendengar suara langkah kaki, Putra mengalihkan pandangan ke arahku.
Kulihat dia tersenyum lega. Sepertinya gaun ini memang lebih disukai oleh lelaki itu. Makanya dia langsung bereaksi manis seperti itu.
"Gimana?" tanyaku ketika kami sudah berhadap-hadapan.
"Kamu semakin cantik, Sya," pujian itu lolos dari bibir tebal Putra.
Untuk pertama kalinya, aku tersipu saat mendengar pujian dari seorang lelaki. Apakah hatiku mulai luluh oleh pesona dan bijaksananya Putra? Entahlah, hanya hatiku yang tahu jawabannya.
"Sya, pipi kamu, kok, merah."
Aku langsung menundukkan wajah saat mendengar ucapan Putra barusan. Sungguh, aku malu karena Putra melihat pipiku yang merona akibat pujian darinya.
Kuusap-usap kasar wajahku, tetapi tiba-tiba saja tangan putra mencegahku melakukan hal tersebut. Lelaki itu memegang daguku dengan ibu jari serta jari telunjuknya, lalu sedikit menariknya agar aku mendongak.
"Jangan diusap, nanti makin merah, Sya," tegur Putra yang semakin membuatku tersipu malu.
___
Usai berbelanja keperluan Yangs sebenarnya sama sekali tidak kuperlukan, kami pulang ke rumahku. Ketika mobil Putra baru saja berhenti di halaman rumah, aku dapat melihat motorku juga sudah terparkir di teras depan rumah.
Aku menatap Putra yang ternyata juga sedang menatapku. "Biar kalau kamu mau keluar tidak susah, Sya. Itu kan motor satu-satunya di rumah kamu, 'kan?"
Aku mengangguk, dia benar-benar pengertian. Sangat peka dengan keadaan dan lingkungan sekitar. Padahal, usianya juga belum terlalu matang, tetapi sikapnya sudah cukup dewasa. Apa karena dia berprofesi sebagai guru, makanya memiliki sikap yang sangat bijaksana? Sungguh beruntungnya aku karena dijodohkan dengan lelaki seperti Putra ini.
Aku menggeleng keras ketika sadar dengan apa yang sedang menguasai pikiranku. Tidak, aku tidak mungkin secepat ini membuka hati. Aku menolak secercah rasa yang hinggap di hatiku saat ini.
"Sya, kamu, kok, aneh, sih?"
Seketika aku menjadi canggung saat Putra berkata seperti itu. "Aneh bagaimana?" tanyaku heran.
__ADS_1
"Iya, kamu tiba-tiba ngangguk-ngangguk, terus detik berikutnya geleng-geleng. Kaya lagunya projek pop aja," ucapnya menggoda