
Usai mengantarku pulang ke rumah, Putra langsung berpamitan. Lelaki itu beralasan masih memiliki urusan lain, jadi tidak bisa mampir lama-lama untuk berbincang dengan keluargaku.
Saat ini aku sudah berada di kamar. Berkali-kali kulirik beberapa goodie bag berisi belanjaan yang dibelikan oleh Putra. Sekelumit rasa tiba-tiba saja mengganggu hati dan pikiranku.
"Kamu baik, perhatian, lembut dan bijaksana. Orang tua kamu juga menerimaku dengan hati yang lapang. Apakah kamu seseorang yang Allah takdirkan untukku, Put?"
Ketika aku sedang memikirkan Putra dan keluarganya, tiba-tiba saja pintu kamarku terbuka, Ibu muncul dari sana. Aku melempar senyum pada wanita yang sudah melahirkanku itu.
Ibu duduk di sampingku. Wanita tua itu menarikku ke dalam dekapannya. Tangan keriputnya juga membelai puncak kepalaku penuh kasih.
"Terima kasih, Tasya," ucap Ibu tiba-tiba.
Reflek kulepaskan pelukanku pada Ibu, lalu mendongak demi melihat wajah wanita yang sudah membesarkanku ini. Terlihat netra teduh itu berkaca-kaca, seperti habis menangis saja.
"Ibu nangis?" tanyaku pada Ibu.
Ibu menggeleng, kemudian kembali menarikku ke dalam dekapan hangatnya. "Ibu tidak menangis," ucap Ibu. Namun, dengan suara yang sedikit bergetar.
Aku tahu, Ibu pasti menahan tangis. Tapi, apa yang membuat Ibu menangis? Apa Bapak kembali memarahi Ibu gara-gara aku?
"Ibu jangan berbohong, Bu. Tasya tahu, Ibu pasti sedang memiliki masalah, iya, 'kan?" tanyaku dibalik pelukan hangat ini.
Ibu sedikit mendorong tubuhku pelan, hingga wajah kami saling memandang satu sama lain. Jelas bisa aku lihat bahwa bibir tua itu bergetar. Netra teduhnya juga menunjukkan kesedihan.
"Ibu tidak menangis, ibu hanya sedang berharap agar kamu bisa bahagia, Sayang."
"Tasya bahagia jika Ibu tidak menangis," ucapku berusaha untuk tersenyum semanis mungkin.
"Terima kasih karena sudah menjadi anak baik, Sya. Ibu bersyukur memiliki kamu," ucap Ibu.
Kami berpelukan cukup lama. Berusaha untuk menguatkan satu sama lain. Aku tahu, Ibu pasti merasa bersalah atas perjodohanku dengan Putra. Namun, aku tidak pernah menyalahkan wanita yang kini sedang memelukku atas segala takdir yang terjadi.
*****
Sudah larut malam, aku pun terlelap dalam tidurku. Rasa lelah dan banyak pikiran membuat tubuhku hanyut ke dalam mimpi. Tiba-tiba saja aku merasakan ada seseorang yang membangunkanku dari mimpi.
__ADS_1
"Tasya." Suara itu mengalun merdu di pendengaranku.
Tidak lama berselang, tubuhku terasa terguncang dengan pelan. Pelan-pelan kubuka kedua kelopak mataku ini. Samar-samar bisa aku lihat ada seseorang yang duduk di sampingku dengan pandangan mengarah padaku.
'Siapa dia?'
"Tasya, hei, bangun!"
Kuusap perlahan kedua kelopak mataku. Pandangan yang semula masih samar, kini mulai jelas. Aku langsung terperanjat saat melihat siapa yang duduk dengan manis di ranjangku ini. Aku terduduk dengan sorot mata penuh keheranan.
"Kakak!" pekikku dengan mata melotot.
"Kenapa? Kaget, ya?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
"Kakak, kok, di sini?" tanyaku heran.
Kulihat ke arah pintu, masih tertutup, bahkan kuncinya pun masih berada di sana dengan posisi mengunci. Kini kualihkan pandangan ke arah Kak Risqi. Lelaki yang selama ini masih bertakhta di hatiku.
"Kakak kangen," ucapnya lembut.
"Kakak masuk lewat mana?" tanyaku masih heran.
Aku semakin kebingungan. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja ada sosok yang begitu aku rindukan di kamarku. Ingin rasanya aku memeluk tubuh tegap itu dengan penuh cinta. Namun, pikiranku ternyata mengingat bahwa lelaki di hadapanku ini sudah berbeda dunia denganku.
"Tampaknya kakak sudah bukan satu-satunya lagi yang ada di hati kamu, ya," ucapnya tiba-tiba.
Seketika aku memandang Kak Risqi dengan sorot mata sedih. Ya, aku menyadari bahwa saat ini hatiku mulai luluh oleh sosok Putra, lelaki yang akan menemaniku menjalani kehidupan.
"Kakak marah?" tanyaku padanya.
Dia menggeleng, bibirnya pun tersenyum begitu manis. "Kakak malah senang, karena akhirnya kamu tidak akan lagi terpaku dengan masa lalu. Ingat, Dek. Kakak sudah tidak ada, kamu berhak untuk melanjutkan kehidupan kamu," ucap Kak Risqi.
"Kakak ikhlas jika ada seseorang yang menjadi pemilik jiwa dan ragaku?" tanyaku penuh selidik.
"Tentu saja. Kakak tahu dia seorang pria yang baik. Kamu tidak perlu cemas dengan apa yang terjadi. Ikuti saja takdir yang sudah Allah berikan pada kita," jawabnya dengan bijak.
__ADS_1
"Tapi, apakah keputusanku untuk menerima dia sudah tepat, Kak?" tanyaku masih dengan keragu-raguan.
Kaka Risqi tersenyum lebar. "Kamu bisa tanyakan pada hati kamu sendiri, Dek. Kamu juga bisa melihat dari keseriusan dia mendekati kamu," jawab Kak Risqi tanpa beban.
Aku masih terdiam, memikirkan apa yang dikatakan oleh Kak Risqi memang benar. Mungkin, sudah waktunya untukku membuka hati. Lagi pula Putra adalah seorang pria yang lembut. Keluarganya juga bisa menerimaku dengan lapang dada.
"Dek, dunia kita sudah berbeda. Jangan lagi berharap pada sesuatu yang mustahil. Kakak tetap akan menunggu kamu di surga, tapi kamu juga berhak untuk melanjutkan hidup kamu di dunia. Tetaplah menjadi wanita baik yang tidak mudah tumbang. Kamu adalah satu-satunya bidadari dalam hidup kakak, Dek," ujar Kak Risqi panjang lebar.
"Kak!"
"Kakak pamit, ya," ucapnya seraya beranjak dari kasurku.
"Kakak, mau ke mana?" tanyaku menjerit saat Kak Risqi terus berjalan menuju pintu, lalu menghilang begitu saja.
Aku tersentak, lalu membuka mataku dengan cepat. Napasku memburu seperti baru saja dikejar hantu. Dadaku naik turun, seluruh tubuhku juga dipenuhi oleh keringat dingin.
Netraku langsung menatap ke arah pintu. Di sanalah Kak Risqi tiba-tiba menghilang usai menasehatiku. "Ternyata hanya mimpi," ucapku seraya memegang dadaku yang masih naik turun.
Kualihkan pandangan ke arah jam dinding. Ternyata masih dini hari. Aku pun beranjak, lalu keluar dari kamar dan berjalan ke arah kamar mandi, berniat untuk mengambil wudhu dan melaksanakan tahajud.
Aku melaksanakan sholat sunah itu, kemudian memanjatkan doa untuk seseorang yang baru saja menemuiku dalam mimpi. Aku berterimakasih kepadanya karena telah mengizinkan aku untuk melanjutkan masa depanku bersama sosok lelaki yang akan menggantikannya.
*****
Esok harinya, aku menghubungi Putra. Lelaki itu ternyata sedang mengajar di salah satu sekolah dasar. Dengan terpaksa aku mengurungkan niatku untuk memintanya mengantarku ke suatu tempat. Namun, siang harinya tiba-tiba saja Putra datang ke rumah.
Kini kami sedang duduk berhadap-hadapan di teras rumah. Aku pura-pura memainkan ponsel, sedangkan dia masih menatapku dengan bibir mengulas senyum.
"Kamu marah?" tanyanya padaku.
"Enggak," jawabku singkat.
"Kalau tidak marah, kenapa malah main hape terus?" tanyanya lagi.
"Lagi kangen seseorang," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Putra merebut ponselku, lalu menggulir layar ponsel. Bibirnya berkedut, entah apa artinya aku pun tidak tahu.
"Jadi ini lelaki yang membuat kamu susah move on, Sya?" tanyanya dengan seringai di bibir.