
"Memangnya tidak boleh kalau kakak ngikutin kamu?" tanyanya dengan suara sedikit berteriak. "Kakak tadi mau jemput kamu, tapi pas lihat kamu bonceng cowok lain. Makanya kakak ikutin karena kakak khawatir," sambungnya, kata-kata itu berhasil menghangatkan hatiku.
"Makasih, Kak," ucapku tulus.
Kak Risqi menambah kecepatan laju motornya agar kami cepat sampai di rumah. Kulihat dia beberapa kali melirikku lewat spion kirinya.
Beberapa menit kemudian kami sampai di rumahku. Begitu sampai di sana, ekspresi wajahku yang tadi sedih langsung berganti datar saat melihat seseorang yang duduk di atas jok motornya di halaman rumahku.
Saat melihatku datang bersama Kak Risqi, dia langsung menatap sinis pada kami. Kak Risqi mematikan mesin kendaraannya saat sudah berhenti di samping motor seseorang yang sebentar lagi akan menjadi mantan pacarku.
"Oh, kabur dari rumah gara-gara cowok lain?" tanyanya dengan nada sarkas.
Aku turun dari motor, begitu juga Kak Risqi. Kami berdiri sejajar dengan tatapan mengarah pada satu orang, yaitu Farid.
"Aku enggak kabur. Aku udah pamit sama ibu kamu," jawabku mencoba untuk tetap tenang.
"Yang bawa kamu ke sana aku, Sya. Kenapa enggak nunggu aku yang anter kamu?" tanyanya lagi dengan nada emosi. Dia bahkan turun dari motor dan mendekati kami.
"Aku tahu. Tapi aku enggak mau ganggu kenyamanan ibu kamu kalau aku terlalu lama di sana," kataku mengungkapkan permasalahannya.
"Alasan!" serunya sambil menatap tajam Kak Risqi.
Aku yang melihat Farid bersikap kurang baik pada Kak Risqi tentu saja tidak terima. Kak Risqi adalah satu-satunya orang yang mendekatiku dengan tulus dan keluarganya pun menerimaku dengan tangan terbuka.
"Jangan pernah menatap Kak Risqi seperti itu, Rid!" seruku menekan kata-kata itu.
Farid bertepuk tangan pelan. Dia juga tersenyum sinis sambil menatap kesal padaku. "Ternyata ucapan ibu benar. Kamu tidak pantas aku perjuangkan, Sya!" bentaknya kasar.
Aku masih bisa bersikap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa antara kami. Namun, sepertinya Kak Risqi yang justru terbakar emosi. Laki-laki yang selalu ada untukku ini hendak maju dengan tangan terkepal.
Paham dengan apa yang hendak dilakukan oleh Kak Risqi pada Farid, aku pun mencegahnya dengan cara menahan tangan kanannya, kemudian kugenggam dengan erat. Dia menatapku dengan ekspresi datar, aku tahu dia memintaku untuk melepaskan tangannya. Namun, aku justru semakin mengeratkan genggaman tanganku. Aku juga menggeleng kecil.
Samar-samar aku mendengar Kak Risqi membuang napas berat. Aku tahu laki-laki yang sedang dalam genggamanku ini sangat-sangat marah.
Aku beralih menatap Farid dengan senyum getir. Sebenarnya berat juga untukku mengakhiri hubungan yang sudah berjalan lebih dari satu tahun. Akan tetapi, dalam sebuah hubungan juga membutuhkan restu dari orang tua, 'kan? Lalu, apakah aku bisa menjalani hubungan tanpa restu orang tua Farid?
__ADS_1
"Hebat, ya, Sya. Kamu berani bermesraan dengan orang lain di depanku," kata Farid dengan tatapan mengarah pada tanganku dan Kak Risqi yang saling bertaut.
"Dengan melihat ini seharusnya kamu sadar, Rid." Aku sengaja melingkarkan tanganku yang lain di lengan Kak Risqi. "Untuk apa kamu mempertahankan wanita sepertiku?" tanyaku sengaja ingin Farid mengakhiri hubungan kami.
"Oh, jadi kamu mau menegaskan bahwa dia adalah selingkuhan kamu, iya?"
"Terserah kamu mau bilang apa, Rid. Toh rasaku terhadap kamu juga sudah tidak ada lagi. Semua sudah hilang terbawa oleh angin malam."
"Baik, baik jika memang kamu lebih memilih dia, Sya. Semoga kamu tidak menyesal!" bentaknya yang langsung menaiki motornya dan pergi dari rumahku.
Begitu Farid telah pergi dari rumahku, aku pun langsung melepaskan genggaman tanganku pada tangan Kak Farid. Aku juga sedikit menundukkan kepala.
"Kamu sedih, Dek?" tanya Kak Risqi.
"Enggak, kok, Kak. Hubungan kami memang sudah lama dingin. Lagi pula, keluarganya pun tidak menerima kehadiranku," jawabku jujur.
"Sabar, ya, Dek," ucap Kak Risqi sambil menepuk pelan pundakku.
"Kakak pulang dulu aja, ya, aku masih pengen sendirian."
"Kakak enggak perlu khawatir. Aku baik-baik saja, kok!"
"Ya udah kalau gitu. Tapi kalau ada apa-apa langsung kabari kakak, ya," ucapnya dengan lembut.
Kak Risqi pun menuruti permintaanku. Dia pergi meski dengan hati yang terlihat gamang.
Usai kepergian Kak Risqi, aku pun masuk ke rumah dan langsung mengurung diri di kamar. Di sana aku menangis sejadi-jadinya. Meski hanya air mata yang keluar, tanpa suara sedikitpun.
Hampir sepuluh menit aku menangis. Aku duduk di lantai dingin dengan kepala yang kubenamkan di antara dua lutut, kedua tanganku pun memeluk kaki. Meski rasaku memang sudah tidak ada untuk Farid, tetapi kenangan kami pun tidak mudah begitu saja dilupakan. Selain itu, aku juga masih sakit hati atas ucapan ibu Farid setiap bertemu denganku.
Kegiatanku ini terpaksa terhenti saat ada suara ketukan pintu, disusul oleh suara Ibu yang memanggil namaku. Buru-buru kuusap jejak air mata di wajah agar ibu tidak melihat tangisanku.
Setelah memastikan tidak ada lagi air mata di pipi, aku pun membuka pintu kamar. Kulihat Ibu berdiri di depan pintu kamar dengan membawa piring berisi makanan.
"Kenapa, Bu?" tanyaku dengan suara serak.
__ADS_1
"Suara kamu kok beda, Sya. Kamu sakit?" tanya balik Ibu padaku.
"Enggak, Bu. Tasya ketiduran tadi," jawabku terpaksa berbohong.
"Oh. Kamu hari ini enggak kerja?"
"Kerja, Bu. Bentar lagi berangkat."
"Ya udah. Makan dulu, terus ganti baju dan berangkat." Ibu menyodorkan piring berisi makanan padaku.
"Makasih, Bu," kataku tulus, lalu menerima pemberian Ibu.
Aku keluar dari kamar, kemudian menyantap makanan yang disiapkan oleh Ibu di ruang tamu. Sebenarnya aku sama sekali tidak berselera untuk makan, tetapi aku pun tidak mungkin menolak perintah Ibu.
Tidak berselang lama, Ibu kembali menghampiriku. Kali ini wanita tua yang sudah melahirkanku itu membawa segelas teh yang diletakkan di depanku.
Hati kecilku sebenarnya merasa heran. Tidak biasanya Ibu memperlakukanku seperti ini. Biasanya, jika Ibu sudah bersikap sangat perhatian, itu artinya dia sedang menginginkan sesuatu. Tapi, aku tidak mungkin berburuk sangka kepada Ibuku sendiri.
"Sya," panggil Ibu dengan ragu-ragu.
Aku menoleh ke arah Ibu duduk di samping kiriku. Dari ekspresinya saat ini, pikiranku pun semakin yakin bahwa Ibu benar-benar sedang membutuhkan sesuatu.
"Kenapa, Bu?" tanyaku lembut.
"Kamu punya uang?"
Benar, 'kan? Apa lagi yang diinginkan oleh Ibu selain uang. Dugaanku memang jarang sekali meleset.
"Ada, sih, tapi itu mau Tasya tabung untuk biaya Tasya masuk kuliah nanti, Bu," jawabku jujur.
"Ibu pinjam dulu, ya, Sya. Enggak banyak, kok, cuma seratus lima puluh ribu aja," ucapnya berusaha merayuku dengan mimik wajah memelas.
"Memangnya Ibu butuh buat apa?" tanyaku yang perlu memastikan kebutuhan Ibu kali ini untuk apa.
"Angkot Bapak kamu rusak, Sya. Butuh ke bengkel," kata Ibu yang lagi-lagi lebih memikirkan Bapak. Padahal, Bapak pun jarang sekali memberikan nafkah pada kami.
__ADS_1
"Tasya enggak mau kalau itu buat kebutuhan Bapak, Bu. Suruh Aja Bapak minta ke Mas Dandi," ucapku yang kali ini berani membantah permintaan Ibu.