
Aku benar-benar terkejut saat membuka pintu rumah dan mendapati laki-laki itu ada di hadapanku. Laki-laki yang hingga saat ini belum aku ketahui nama, usia, serta alamatnya. Aku sempat melongo untuk beberapa saat sebelum akhirnya tersadar saat dia beberapa kali mengibaskan tangannya di depan wajahku.
"Sya," panggilnya dengan lembut.
Aku mengerjap, lalu mengulas senyum padanya. Ya tanpa sadar, bibir ini seakan mengkhianati hatiku sendiri.
"Kamu kenapa, kok, nangis?" tanyanya padaku.
"Enggak apa-apa, kok!" Aku berusaha menyembunyikan perasaanku saat ini.
"Wajah kamu sembab, loh, mata kamu juga merah," ucapnya yang seketika membuat aku gugup. Seperhatian itu laki-laki di hadapanku ini.
"Ah, mas, sih? Mungkin kelilipan." Aku semakin gugup saat dia menatapku dengan lekat.
"Jangan bohong, Sya!" serunya dengan suara lirih.
Aku menoleh ke belakang untuk memastikan Mas Ryan tidak keluar. Kuusap dadaku saat tidak mendengar tanda-tanda akan ada orang yang keluar dari arah dalam rumah.
"Kamu tunggu di motor aja. Aku mau cuci muka sebentar," pintaku padanya, ya, tanpa sadar aku yang biasa menggunakan bahasa Lo-gue ke dia, sekarang berubah aku-kamu.
"Oke," jawabnya singkat, lalu kembali berjalan menuju tempat di mana dia memarkirkan sepeda motornya.
Segera aku berlari menuju kamar mandi untuk membasuh wajah sembabku. Setelah selesai, aku kembali ke kamar dan mengganti pakaian lebih dulu. Aku harus segera membawanya pergi dari rumah sebelum ketemu dengan Mas Ryan.
Usai rapi dengan celana jeans panjang, kaos lengan pendek berwarna merah, serta topi yang bertengger di kepalaku, segera kulangkahkan kaki keluar dari rumah.
Dia tersenyum saat melihatku dengan penampilanku yang tomboi ini. Aku semakin mempercepat langkah untuk menghampirinya. Ketika sudah berhadapan, aku pun mengibaskan tanganku di depan wajahnya.
"Malah ngelamun!" hardikku padanya, dia justru tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Kok, udah rapi. Mau ngajak jalan-jalan ke mana?" tanyanya dengan nada menyindir.
__ADS_1
"Yang penting enggak di rumah, deh!" Aku menjawabnya asal, dan langsung naik ke atas jok motornya.
"Ya udah, deh! Kamu lagi sedih, 'kan?" tanyanya yang hanya kujawab dengan deheman. "Aku tahu tempat yang cocok buat suasana hati kamu sekarang," sambungnya lagi seraya menyalakan mesin motor.
"Terserah, deh! Aku ikut aja."
Dia mulai memacu kuda besinya tanpa mengatakan tujuan yang akan kami singgahi. Namun, aku memutuskan untuk diam tanpa berkomentar. Pikiran serta hatiku juga sedang meratapi nasib yang tidak kunjung membaik ini.
Hampir tiga puluh menit mengendarai motor, kami mulai memasuki jalan setapak yang dikelilingi tambak di sisi kanan dan kirinya. Sepanjang jalan juga berjejer rapi tanaman bakau yang menandakan bahwa kami mulai masuk area pantai.
"Kita ngapain sore-sore gini ke pantai?" tanyaku dengan nada lantang, tetapi suaraku ikut terbawa angin yang mulai berhembus kencang.
"Buang sampah," jawabnya singkat, aku langsung melayangkan cubitan di pinggangnya.
"Jangan macam-macam! Buang sampah di pantai." Aku menggerutu kesal. "Kamu mau bumi semakin rusak gara-gara banyak manusia tidak bertanggung jawab seperti itu?" tanyaku menyambung ucapanku tadi.
"Sampah yang ini enggak bakalan ngerusak bumi, kok! Justru kalau enggak dibuang, nanti ngerusak mental," jawabnya ambigu. Aku sama sekali tidak paham dengan perkataannya.
"Nanti kamu ngerasain sendiri, kok! Sekarang nikmati aja suasana adem ini."
Entah kenapa, apa yang dikatakan olehnya tidak kubantah sedikitpun. Aku menurut, diam meresapi suasana tenang yang diberikan oleh angin sore dengan kedua tangan yang sengaja aku rentangkan. Ketenangan itu semakin terasa saat kedua mata ini terpejam, ku hirup udara yang terasa sangat menyejukkan jiwa.
Beberapa saat kemudian, aku membuka mata saat motor yang dikendarai oleh laki-laki didepanku ini telah berhenti. Tanganku yang tadi terentang pun sudah turun. Ternyata kami sudah sampai di area pantai. Aku segera turun saat melihat pemandangan indah sore ini. Langit senja yang berwarna oranye berhasil membuat diriku terpana.
"Indah, 'kan?" tanya laki-laki itu saat aku mulai melangkah menuju bibir pantai.
"Indah sekali," jawabku tanpa menghentikan langkah.
Aku terus berjalan hingga sampai di bibir pantai. Menikmati semilir angin yang terasa menyejukkan jiwa, melihat langit yang mulai sedikit gelap, serta menghitung ombak yang bergulung dari laut hingga pecah menjadi busa setelah menabrak bibir pantai.
Kakiku yang kini sudah tidak memakai alas pun basah oleh deburan ombak itu. Meski suasana semakin terasa dingin, tetapi hatiku justru menghangat.
__ADS_1
"Sya!" Suara itu menyadarkanku, bahwa di tempat ini aku tidak sendirian.
Aku menoleh ke belakang. Kulihat dia berdiri tegak dengan jaket jeans yang digantung di lengan kirinya. Dia tersenyum lembut, begitu teduh kurasakan. Orang asing yang saat ini menemaniku, justru membuat aku merasa lebih tenang.
"Gimana? Masih sedih?" tanyanya seraya berjalan menghampiriku.
Aku menggelengkan kepala pelan, meski bebanku tidak menghilang. Namun, perasaanku sedikit membaik. Aku tersentak saat tiba-tiba dia memakaikan jaket jeans miliknya ke pundakku.
"Dingin, Sya. Aku cuma enggak mau kamu masuk angin," ucapnya saat melihat ekspresi wajahku yang mendadak berubah.
"Terima kasih," balasku tulus.
"Sama-sama, Sya."
Dia ikut menatap hamparan laut di depan sana dengan senyum yang menghiasi wajah manisnya. Samar-samar aku mendengar dia menghela napas panjang serta memejamkan kedua matanya. Tangannya juga merentang ke sisi kanan dan kiri. Kini aku mulai heran dan penasaran, apakah yang sedang dilakukan olehnya. Namun, sedetik kemudian, aku terkejut saat tiba-tiba dia berteriak dengan lantang.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" teriaknya dengan suara yang lantang, tetapi langsung hilang terbawa oleh angin laut.
"Kamu ngapain?" tanyaku dengan kedua alis bertaut.
Dia membuka matanya serta menurunkan kedua tangan yang dia rentangkan tadi, kemudian menoleh ke arahku. Sedetikpun senyumannya tidak pernah luntur. Aku mulai nyaman dengan senyuman teduh dari bibirnya yang sedikit tebal itu.
"Aku lagi buang sampah, Sya,* jawabnya ambigu, aku pun mengerutkan kening. "Bukankah beban di hati itu juga bisa di kategorikan sebagai sampah, Sya?" tanyanya yang bermuatan penjelasan atas rasa heranku.
Kini aku mengangguk paham. Akhirnya rasa penasaran itu terjawab sudah. Ternyata yang dikatakan oleh laki-laki di sampingku tentang membuang sampah ialah melepaskan segala beban di hati dengan cara berteriak di alam terbuka seperti ini.
"Kamu, kok, malah diam. Ayo buang sampah kamu, Sya!" perintahnya yang masih belum juga aku lakukan. Ragu, tentu saja. Bagaimana jika ada seseorang yang terganggu dengan teriakanku.
Tidak mendapat respon apapun dariku, dia pun berdecak. "Enggak ada orang, kok, Sya! Teriak aja. Aku enggak mau, ya, punya idola orang enggak waras gara-gara kebanyakan numpuk sampah di otak dan hatinya."
__ADS_1