
Aku hidup bersama orang tua kandung, tetapi rasanya aku seperti anak tiri. Sikap Ibu dan Bapak selalu saja menyakiti hatiku. Perdebatanku dan Ibu pun tadi berlangsung alot, dan berakhir aku tetap mengeluarkan tabunganku untuk Ibu.
Sungguh, jika boleh memilih aku tidak ingin hidup dengan keluarga yang semacam ini. Mereka lebih mementingkan materi dari pada perasaan anak sendiri. Jika teman-temanku di luar sana sedang bersenang-senang, berbeda denganku yang justru harus berjuang mati-matian.
Suntuk berada di rumah, akhirnya membuatku memutuskan untuk pergi bekerja. Setidaknya di tempat itu aku tidak merasa tertekan.
Jika biasanya dengan bekerja bisa mengurangi rasa jenuh dan kesedihan di hatiku, tidak untuk saat ini. Suasana hatiku yang sedang kacau ternyata berdampak buruk pada pekerjaanku.
Ada salah seorang pelanggan yang marah-marah akibat aku lalai dalam melayaninya. Hal itu tentu membuat bosku juga memarahiku.
"Gimana bisa gitu, sih, Sya! Kamu kerja di sini udah lama, loh!"
"Maaf, Bos. Aku benar-benar sedang tidak fokus," ucapku meminta maaf pada atasanku.
"Jangan di ulangi lagi, ya, saya enggak mau ada pelanggan komplain lagi gara-gara ada rambut di makanannya."
"Iya, Bos. Saya akan lebih teliti lagi," balasku penuh sesal.
Sejak saat itu, aku mulai fokus untuk bekerja. Aku tidak lagi mau memikirkan hal-hal yang membuatku jadi kacau.
*****
Malam ini Kak Risqi datang ke rumah tanpa pemberitahuan. Dia berkata ingin mengajakku untuk menonton konser band ternama di alun-alun kota.
Sejujurnya aku sangat ingin ikut, tetapi Bapak pasti tidak akan mengizinkan. Sejak tahu bahwa hubunganku dan Farid sudah berakhir, Bapak lebih sering melarangku dengan alasan-alasan tidak masuk akal.
"Aku enggak bisa keluar, Kak. Bapak tadi udah bilang kalau aku enggak boleh keluar rumah," kataku dengan nada kecewa.
"Bapak di mana?" tanya Kak Risqi yang kini turun dari motornya. "Biar kakak yang minta izin ke Bapak," ucapnya tanpa ragu.
"Gak usah, Kak. Nanti Bapak malah marahin kakak." Aku melarang Kak Risqi menemui Bapak karena tidak ingin Kak Risqi dimaki oleh Bapakku.
__ADS_1
"Enggak apa-apa, dong! Kakak harus berani minta izin. Masa minta izin nonton konser aja enggak berani. Gimana nanti minta izin buat nikahin kamu," ucapnya yang lagi-lagi kuanggap sebagai gurauan semata.
Kak Risqi turun dari motor, lalu berjalan menuju rumahku tanpa menunggu persetujuan dariku. Tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya, aku pun mengikuti Kak Risqi di belakang.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam." Ibu yang menjawab, wanita tua itu keluar dari dalam rumah.
"Ibu, apa kabar?" sapa Kak Risqi tanpa canggung. Dia bahkan mencium punggung tangan Ibu.
"Kabar ibu baik. Kamu ini …."
"Saya Risqi, Bu. Calon menantu Ibu." Kak Risqi benar-benar memperkenalkan dirinya sebagai calonku.
"Loh, Nak Risqi ini, toh! Ibu baru lihat kamu, Nak. Padahal, kamu udah sering kasih oleh-oleh," balas Ibu dengan ramah.
"He-he, iya, Bu. Tasya ga pernah ngebolehin kalau aku mau temuin calon mertua." Dia mengadu kepada Ibuku seolah-olah dia sudah sangat dekat dengan Ibu.
"Oh, iya, Bu. Bapak mana?" tanya Kak Risqi.
"Bapak ada di kamar, kenapa, Nak?"
"Risqi mau minta izin ajak Tasya, Bu."
"Kemana?" tanya Ibu penasaran.
"Nonton konser di alun-alun Kajen, Bu."
"Oh. Ya udah berangkat aja!" Ibu justru menyuruh kami untuk pergi tanpa izin pada Bapak.
"Enggak, Bu. Risqi pengen ketemu Bapak dulu," tolak Kak Risqi dengan sopan.
__ADS_1
"Ya udah. Ibu panggilkan Bapak dulu, ya," ucap Ibu, kemudian melenggang masuk ke rumah.
"Kakak ngapain bilang kalau kakak calon menantu Ibu?" tanyaku memperotes kata-kata Kak Risqi tadi.
"Kan emang kenyataannya gitu, Dek," jawabnya santai.
Ketika aku hendak mengajukan protes lagi, Ibu dan Bapak sudah keburu keluar. Terpaksa aku mengunci mulutku rapat-rapat.
Tatapan Bapak pada Kak Risqi menunjukkan aura ketidaksukaan. Aku sangat paham dengan tingkah laku laki-laki yang kepalanya dipenuhi oleh uban itu. Namun, saat aku melirik Kak Risqi, dia terlihat tidak gentar dengan tatapan Bapak padanya.
"Ada apa?" tanya Bapak dengan nada datar.
"Pak, saya ingin mengajak Tasya untuk nonton konser. Apa boleh?" tanya Kak Risqi tanpa basa-basi. Sepertinya Kak Risqi juga paham dengan karakter Bapakku yang tidak suka basa-basi.
"Buat apa nonton konser? Cari keributan?" Bapak bertanya dengan nada sarkas.
"Nggak, Pak. Kita cuma mau nonton di pinggir aja, kok!"
"Kamu yakin bisa jaga anak saya?"
"Yakin, Pak," jawab Kak Risqi tanpa rasa ragu.
"Kak Risqi bisa jaga aku seribu kali lebih baik dari Bapak ngejaga aku, Pak," sahutku tanpa menatap laki-laki tua itu. Bapak pasti jengkel atas ucapanku barusan.
"Tasya!" tegur Kak Risqi berbisik di telingaku.
Aku hanya merotasikan kedua bola mataku jengah. Dari ekspresi Bapak, aku tahu kami tidak mungkin diberikan izin olehnya.
"Bu, bawa Tasya masuk ke dalam!" Bapak memerintahkan Ibu untuk membawaku pergi.
"Pak!" seruku kesal.
__ADS_1
"Masuk!" bentak Bapak dengan mata melotot.