
Saat mendengar perintah darinya, aku langsung melompat turun dari kasur, kemudian berlari keluar. Namun, ketika sampai di teras depan rumah, aku tidak menemukan apapun selain kehampaan yang kian terasa. Aku sempat berpikir bahwa dia akan memberi kejutan dengan kepulangannya. Sayang, hal itu tidak terjadi.
Dengan ponsel yang masih menempel di telingaku, kupejamkan mata saat rasa perih itu merasuk ke jiwa. Suaranya yang memanggil namaku berkali-kali berhasil mengembalikan kesadaranku.
"Tasya!" serunya saat aku tidak menyahut panggilan sayang darinya.
"Ya," jawabku singkat. Rasa kecewa itu membuatku marah, kesal, dan rasanya ingin sekali mengakhiri segalanya.
"Kamu udah keluar belum?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
"Sudah." Aku memang hanya menjawab pertanyaannya dengan singkat agar dia paham bahwa perbuatannya ini membuatku sakit hati.
"Coba, deh, kamu lihat langit!" perintahnya padaku.
Dengan bodohnya aku ikut menatap ke arah langit. Netraku hanya dapat menangkap kegelapan malam tanpa bintang. Hanya ada rembulan yang hampir tertutup oleh awan hitam.
"Malam ini lagi cerah banget, ya, Yang?" Pertanyaan itu hanya menimbulkan senyum getir di bibirku. "Aku juga lagi lihat langit, nih! Makanya aku suruh kamu keluar, biar kita bisa menikmati keindahan ini bersama."
"Kamu yakin kalau suasana malam ini cerah?" tanyaku dengan suara berat.
"Iya, Yang. Di sini cerah, kok!" serunya lantang. "Memangnya di sana enggak?" tanyanya lagi saat beberapa saat aku hanya diam.
"Di sini hanya ada rembulan yang tertutup oleh awan hitam. Aku yakin, sebentar lagi akan turun hujan lebat," jawabku dengan suara yang sengaja kubuat menekan agar dia tahu bahwa aku sedang kecewa padanya.
"Em, maaf, Yang. Aku enggak tahu," katanya dengan suara yang semakin lirih.
"Apa yang kamu tahu dariku, Rid? Kamu enggak tahu apapun tentangku sekarang, 'kan?"
Dia terdiam, mungkin saja mulai merasa bersalah. Namun, hingga hampir lima menit kami sama-sama bungkam. Dia sama sekali tidak menanggapi pertanyaanku tadi.
"Hubungan kita ini semakin lama semakin dingin, Rid. Sejak awal kita berpacaran, baru berapa kali kita bertemu? Apa setiap hari kamu pernah menyempatkan diri untuk menghubungiku untuk bertanya kabarku?"
"Aku sibuk bekerja, Sya!" serunya dengan nada sedikit meninggi. "Apa kamu tidak paham bahwa ini semua aku lakukan untuk kamu?"
__ADS_1
"Sibuk? Kamu sibuk bekerja, Rid. Memang di dunia ini hanya ada kamu saja yang sibuk? Kamu pikir aku tidak sibuk? Aku juga sibuk sekolah, dan kerja. Tapi apa pernah aku sehari saja tidak mengirimkan pesan padamu?" Aku memberondong dia dengan banyak pertanyaan agar dia sadar bahwa alasannya itu sangat tidak logis.
Lagi-lagi dia terdiam. Mungkin saat ini sedang berpikir jawaban atas semua pertanyaanku padanya.
"Kamu tidak bisa jawab, 'kan?"
"Sya, dulu kamu pernah bilang akan ngerti kan? Tapi kenapa sekarang kamu menuntutku lebih?" Dia balik melontarkan pertanyaan.
"Kamu bilang aku menuntut lebih, Rid? Pernahkah selama satu tahun ini aku meminta sesuatu dari kamu selain waktu dan perhatian? Apa pernah sekali saja kamu mengeluarkan uang saat kita pergi bersama? Aku kurang mengerti kamu tentang apa, Rid?" tanyaku penuh emosi.
"Kamu mengungkit itu semua, Sya? Kamu tidak iklas?" Bukannya sadar, dia justru ikut terbawa emosi.
"Sudahlah, Rid. Memang kita sudah tidak bisa lagi saling mengerti. Aku lelah," kataku dengan jujur, lalu mengakhiri sambungan telepon.
Ponsel di tanganku kembali berdering. Farid berusaha menghubungiku lagi. Namun, aku tidak berniat untuk menjawab panggilan darinya. Sesak di hati dan jiwa masih begitu dalam kurasakan.
Tidak berhasil menghubungiku lewat panggilan telepon, dia pun mengirimkan pesan singkat. Akan tetapi, jangankan untuk membaca, membuka pesan darinya pun aku tidak berminat.
Kulangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah, kemudian bergegas masuk kamar. Benar saja ucapanku tadi, baru saja aku merebahkan diri di kasur. Hujan turun dengan lebatnya.
Seakan memiliki ikatan batin, saat kesedihan mendominasi perasaanku, tiba-tiba dia menghubungiku. Seseorang yang tadi sempat merajuk hanya karena aku memanggilnya dengan sebutan kakak.
"Ini orang kaya punya mata batin aja. Tahu aja kalau aku lagi sedih," ucapku sebelum menerima panggilan darinya.
"Hallo," sapaku saat panggilan sudah tersambung.
"Belum tidur, Sya?"
"Kalau udah tidur, nggak bisa angkat telepon kakak, dong!" seruku sedikit cekikikan. Pertanyaan yang dia lontarkan benar-benar membuatku tertawa.
"Oh, iya, deng. Terus sekarang lagi apa?"
"Mau tidur, tapi keburu kakak telepon," jawabku lugas.
__ADS_1
"Kakak ganggu istirahat kamu, dong?"
"Enggak. Kata siapa ganggu? Eh, bentar, deh! Kakak udah setuju, nih?"
"Setuju apa?" tanyanya pura-pura lupa atau memang dia tidak sadar menyebut dirinya kakak tadi.
"Setuju kalau aku panggil kamu kakak, lah!" Aku menjelaskan agar dia tidak pura-pura lagi.
"Em … boleh, lah! Sekarang kakak, siapa tahu beberapa bulan lagi ganti jadi sayang," ucapnya, kemudian terdengar suara tawa ringan darinya.
Aku menggelengkan kepala saat mendengar suara tawanya. Berkat dia, rasa sedih yang diberikan oleh Farid kini tidak lagi kurasa.
"Ngarep banget, sih! Aku kan udah bilang, jadi kakak boleh, kalau jadi pacar ya jangan."
"Elah, Dek! Kamu ini hobi banget ngancurin kesenangan orang, sih!" Dia menggerutu kesal, tiba-tiba saja aku membayangkan wajahnya dengan bibir mencebik dan lirikan mata sinis. Ekspresi yang begitu lucu untuk ukuran laki-laki dewasa.
"Ha-ha-ha, iya-iya, Kak. Terserah kakak, deh! Tapi, jangan ngambek lagi, dong!" seruku yang tiba-tiba takut jika dia merajuk seperti tadi.
"Nah, gitu, dong!"
"Kakak lagi apa?" tanyaku basa-basi.
"Abis pulang kerja, bentar lagi mau mandi," jawabnya singkat, tetapi berhasil membangkitkan keusilanku.
"Loh, kakak kerja, toh? Aku kira pengangguran."
"Sembarangan. Kerja, lah! Kalau enggak, nanti keluar sama kamu mau kasih jajan pakai apa? Daun kelor? Terus nanti ngelamar kamu pakai apa? Mau dilamar pakai kucing?" Dia memberondong pertanyaan yang membuatku terkekeh.
"Dih, masa pakai kucing. Minimal sapi lima, dong!" seruku bersemangat.
"Mau bikin peternakan minta sapi lima?"
"Iyalah, biar enggak sia-sia nikah sama cowok jelek kaya kakak. Seenggaknya kan nanti bisa jadi juragan sapi," kelakarku yang akhirnya membuat kami sama-sama tertawa.
__ADS_1
"Sya, udah malam. Jangan begadang!"