
Hubunganku dengan Kak Risqi mulai menghangat. Meski sibuk bekerja, tetapi dia selalu menyempatkan diri mengantarku berangkat sekolah. Tidak jarang pula dia menjemputku saat pulang. Ketika hari libur pun kami sering menghabiskan waktu bersama.
Dia tidak pernah membiarkan aku sendirian. Terlebih lagi saat aku sedang sedih. Kak Risqi selalu berusaha menghiburku agar aku tidak larut dalam kesedihan.
Tanpa kusadari, aku yang biasanya mandiri kini mulai ketergantungan padanya. Apapun yang akan aku lakukan, tidak pernah sekalipun tanpa izin darinya. Namun, hari ini mungkin akan menjadi pertama kalinya aku mengecewakan sosok yang selalu melindungiku itu.
Sebenarnya aku tidak ingin membohonginya. Tetapi, aku terpaksa melakukan itu karena kali ini dia menolak permintaanku.
"Ayolah, Kak. Aku pengen nonton juga. Lagian acaranya di desa kakak juga, 'kan?" Aku berusaha merayu agar dia mengizinkan aku menonton konser musik reggae di lapangan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.
"Karena ini di desa kakak makanya kamu enggak boleh nonton," jawabnya tegas.
"Kenapa?" tanyaku dengan nada kecewa.
Aku berpikir mungkin dia memiliki seseorang yang mesti dia jaga hatinya, sebab itulah dia menolak permintaanku kali ini. Entah kenapa, rasanya tidak terima saat memikirkan dia memiliki wanita lain. Padahal, aku bukan kekasihnya.
"Kakak kan jadi panitia acara, Dek. Kalau nanti di sana ada keributan, kakak ragu apa masih bisa jagain kamu." Dia menjelaskan alasannya, tetapi aku mengacuhkan alasan yang dia berikan.
"Pokoknya aku tetap mau nonton," batinku tetap kekeh dengan pendirianku.
"Kok, kamu diem?" tanyanya saat mulutku terkunci rapat-rapat.
Kutatap wajahnya yang memang terlihat jujur. Namun, aku pun juga ingin hadir di sana untuk mengawasinya. Katakanlah aku egois, tetapi aku hanya bermaksud menjaga apa yang memang membuatku nyaman.
"Kakak bukan enggak mau ajak kamu, Dek. Kakak cuma takut enggak bisa jaga kamu di sana," katanya dengan lembut. Aku tahu dia berusaha membuatku mengerti keadaannya.
Aku masih saja bungkam. Tidak menjawab dengan iya ataupun tidak. Hal itu tentu saja membuat dia frustasi.
"Dek, plis. Untuk kali ini saja," ucapnya memohon.
"Iya," jawabku singkat.
"Makasih, ya," katanya dengan senyum lega.
Begitu dia pergi. Aku benar-benar melanggar perintah darinya untuk tidak datang ke acara itu. Seperti biasa, Eva dan kekasihnya yang mengajakku ke festival musik tersebut.
Belum sempat aku masuk ke dalam rumah, Eva, kekasihnya, dan Fandy benar-benar datang menjemputku. Aku pun langsung menghampiri mereka begitu Eva memanggilku.
"Gimana?" tanya Eva, dia memang tahu tentang kedekatanku dengan Kak Risqi.
"Enggak dibolehin. Dia kan jadi panitia," jawabku seadanya.
"Alasan aja itu, Sya. Lha kita kan juga jadi panitia tapi masih bisa ajak kalian, kok!" Kekasih Eva menyahut dan membandingkan mereka dengan Kak Risqi.
"Gue rasa itu bukan alasan, sih. Tapi emang Kak Risqi ngerasa punya tanggung jawab besar di sana. Gue maklumin itu, kok!" Aku membantah ucapan kekasih Eva yang menjelekkan Kak Risqi di hadapanku.
"Lo sama gue aja, Sya!" Fandy menyahut dengan nada dingin.
Aku tahu, ada rasa tidak suka dalam diri Fandy atas kedekatanku dengan Kak Risqi. Namun, itu tidak penting bagiku. Dia dan Kak Risqi tentu tidak dapat disejajarkan dalam kehidupanku.
"Gue ga masalah sama lo, asal lo enggak baper." Aku memperingati dia karena pernah kejadian dia mengakui aku sebagai kekasih di depan banyak orang.
__ADS_1
Dia mengunci mulutnya rapat-rapat, tetapi melalui lirikannya aku tahu dia pasti kesal. Tidak ingin terjadi keributan seperti biasa, Eva pun melerai.
"Udah ah, kalau kebanyakan debat nanti dapat tempat paling belakang. Gue kan mau nonton jarak deket mumpung jadi tuan rumah," katanya yang hanya kutanggapi dengan merotasikan kedua bola mata.
Terpaksa aku berangkat bersama dengan mereka. Padahal, sebenarnya aku sangat ingin pergi bersama Kak Risqi.
Lokasi acaranya yang memang dekat dengan desaku membuat perjalanan kami begitu singkat. Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit, kami sudah sampai di tempat diselenggarakannya acara.
Tanpa membuang waktu kami langsung terjun ke lapangan yang sudah sedikit ramai. Dari kejauhan aku bisa melihat Kak Risqi juga berada di tempat itu. Beruntung dia tidak melihatku karena tengah fokus pada ponselnya.
"Dia lagi main hape, tapi enggak ngabarin aku." Aku menggerutu dalam hati saat memperhatikan Kak Risqi.
"Sya, ngapain lihatin dia terus, sih?" tanya Fandy yang ternyata memperhatikan gerak-gerikku.
"Dia apa?" tanyaku pura-pura tidak paham.
"Lu ngelihatin Risqi terus. Udahlah, dia enggak peduli sama lo juga, kok!" Sepertinya Fandy berusaha mempengaruhi pikiran dan hatiku agar marah pada Kak Risqi.
"Dia bukan enggak peduli, dia cuma enggak lihat gue aja!" seruku tidak terima.
"Terus aja bela dia, Sya. Lu lebih dulu kenal gue, tapi malah lebih deket sama Risqi. Harusnya Lo lebih deket sama gue," katanya dengan lirih, tetapi aku masih dapat mendengarnya.
Acara belum dimulai, di atas panggung ada beberapa orang yang sedang check sound, memastikan tidak ada apapun yang bermasalah dari alat-alat musiknya.
Dari pada menanggapi ucapan Fandy yang mulai ke mana-mana, aku memilih untuk mengambil ponselku di saku celana. Saat aku menyalakan layar, banyak sekali pemberitahuan panggilan tidak terjawab di sana.
"Dari tadi Kak Risqi telepon aku ternyata," gumamku lirih.
"Kenapa, Kak?" Aku mengirimkan pesan singkat padanya. Tidak lama, ponselku berdering, ada panggilan masuk darinya.
"Teleponnya nanti aja, Kak!" Kirimkan lagi pesan singkat padanya.
"Kenapa?" Dia membalas pesan dariku. Mungkin, dia sedang bingung karena tidak biasanya aku melarang dia saat menghubungiku.
"Enggak apa-apa. Gimana acaranya, udah mulai?"
"Belum, paling sebentar lagi."
"Oh, ya sudah. Kakak yang fokus jadi panitia keamanan, ya."
"Oke."
Kegiatan berkirim pesan kami berakhir saat acara dimulai. Kulihat dia juga mulai beranjak untuk melakukan tugasnya sebagai panitia penyelenggara.
Band-band genre musik tersebut mulai menunjukkan aksinya. Tempat yang tadi masih lengang pun sekarang semakin padat. Hal itu tentu saja membuat kami terpaksa meringsek ke tengah-tengah.
Terlihat pengunjung begitu asik bernyanyi dan berjoget mengikuti irama. Namun, aku justru tidak menikmati acara. Rasa was-was jika ketahuan oleh Kak Risqi lebih mendominasi. Sekilas kutatap Eva yang sepertinya sangat gembira bersama kekasihnya, Fandy pun juga berjoget bersama kawan-kawannya.
"Awas, Va!" seruku saat dari belakang ada seseorang yang hendak menyentuh bagian sensitif Eva. Namun, seruanku kalah cepat dengan gerakan orang itu.
Kekasih Eva tentu saja terbakar emosi saat ada pria lain yang menyentuh tubuh pacarnya. Mereka terlibat cekcok. Eva yang saat itu terlihat syok, pun langsung kurengkuh ke dalam pelukan.
__ADS_1
Adu mulut antara kekasih Eva dan Pria kurang ajar itu kini mulai memanas akibat kedua kubu ikut berlagak untuk menunjukkan kekuatan mereka. Kubu Fandy yang merupakan tuan rumah bukannya melerai, mereka justru merasa hebat dan ingin dianggap sebagai raja.
Mereka mulai adu jotos. Suasana semakin gaduh saat kedua kubu itu saling serang. Aku mulai bingung dan ketakutan. Pada saat itu, ada yang menarik Eva hingga terlepas dari dekapanku, saking kuatnya tarikan itu sampai membuat aku terjatuh.
Sekuat tenaga, aku berusaha untuk bangkit. Namun, kakiku terinjak oleh pengunjung lain. Aku mendesis saat kakiku terinjak beberapa kali. Kini, pikiranku sudah mulai kacau. Tidak berhasil bangun, akhirnya aku berusaha menutup kepalaku dengan tangan agar tidak cidera.
Saat aku mulai putus asa dan pasrah jika harus menjadi korban dari peristiwa ini, tiba-tiba ada seseorang yang merengkuhku. Melindungi tubuhku dari keributan yang terjadi.
Meski aku tidak melihat wajahnya, tetapi aku sangat mengenali harum parfum yang digunakan oleh seseorang yang kini merengkuhku. Kupejamkan mata serta membenamkan wajahku di dadanya.
"Kakak, maafin aku, Kak. Aku takut," kataku dengan nada ketakutan.
"Sudah, ayo berdiri dulu. Kalau tidak, kita bisa tiada bersama di sini," ucapnya, lalu membantuku untuk bangkit.
Ketika aku dan Kak Risqi sudah bangkit, aku mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Eva, kekasihnya, serta Fandy. Namun, mereka sudah tidak terlihat di sana.
"Kamu cari siapa?" tanya Kak Risqi padaku.
"Fandy," jawabku jujur.
Kulihat wajahnya memerah, rahangnya pun mengeras saat aku menyebut nama Fandy di depannya. Mungkin, Kak Risqi marah karena aku tidak menuruti ucapan Kak Risqi yang melarangku untuk datang.
"Maaf, Kak."
Kak Risqi tidak menjawab. Dia justru menarikku ke arah tepi untuk menghindari kerumunan.
"Ris, Lo mau ke mana?" tanya salah satu panitia kepada Kak Risqi.
"Gue pulang bentar, nanti gue ke sini lagi!" Kak Risqi berteriak untuk menjawab pertanyaan temannya.
Dia terus saja menarik pelan tanganku hingga keluar dari lapangan. Ketika sudah keluar dari kerumunan itu, Kak Risqi baru sadar kalau langkahku terseok-seok.
"Kenapa?" tanyanya dengan nada datar.
"Kakiku sakit, Kak," jawabku sambil meringis.
Tanpa basa-basi dia berjongkok di depanku, kemudian berkata, "Ayo naik! Kakak gendong kamu."
"Gausah, Kak. Aku berat," tolakku dengan cepat.
"Gak usah banyak bantah, Dek! Cepet!" Kali ini dia berkata dengan nada sedikit tinggi, aku tahu dia semakin kesal padaku.
Meski ragu-ragu, akhirnya aku naik ke gendongannya. Dia terus berjalan keluar dari tempat diselenggarakannya acara. Menyebrang jalan, lalu membawaku masuk ke gang kecil.
"Kak, mau ke mana?" tanyaku heran.
"Pulang ke rumah."
"Kakak mau gendong aku sampai rumahku?" tanyaku kaget.
"Kakak mau serahin kamu ke calon mertua kamu dulu. Biar kamu dinasehati untuk enggak banyak bantah sama calon suami," ucapnya dengan nada dingin.
__ADS_1
Aku mengunci mulutku rapat-rapat. Tidak berani membantah ucapan Kak Risqi kali ini. Jika biasanya aku selalu protes saat dia menyebutku sebagai calon istri, sekarang aku membiarkan Kak Risqi menyebutku sesuka hatinya.
"Aku tahu kakak marah, tapi terima kasih karena selalu ada untukku, Kak." Aku membatin penuh syukur karena memiliki sosok pelindung sepertinya.