
Wanita paruh baya dengan daster rumahan berwarna cokelat tua itu langsung merengkuh tubuhku dengan sangat erat. Aku pun membalas pelukan hangatnya dengan senang hati. Meski hatiku pun sedang terbebani oleh kenyataan itu, tetapi aku berusaha untuk bersikap setenang mungkin.
Setelah beberapa saat memelukku, Ibu melerai pelukannya. Dia menatapku dengan sorot mata berkaca-kaca. Aku tahu, Ibu pasti teringat dengan Kak Risqi yang sudah lebih dulu pergi mendahului kami.
"Ibu apa kabar?" tanyaku padanya.
Ibu langsung melingkarkan tangannya di lenganku, kemudian berkata, "Masuk dulu, Sya. Kita ngobrol di dalam, yah!"
Aku mengangguk kecil, bibirku juga mengukir senyum agar Ibu tidak langsung membicarakan tentang kepergian Kak Risqi. Kakiku melangkah masuk ke dalam rumah, mengikuti Ibu hingga wanita itu menuntunku untuk duduk di kursi.
"Tasya mau minum apa, Sayang?" tanyanya dengan suaranya yang lembut. Perlakuan Ibu padaku masih sama seperti dulu.
"Apa aja boleh, Bu."
"Ya sudah. Ibu buatkan teh hangat, ya," ucapnya dengan suara sedikit tercekat. Mungkin Ibu ingat dengan ucapan Kak Risqi yang melarangku minum es.
"Iya, Bu," jawabku ramah.
Wanita yang sebenarnya tidak memiliki hubungan apapun denganku tetapi selalu memperlakukan aku dengan sangat baik itu berlalu masuk ke arah dalam rumah. Kini aku di ruangan itu hanya sendirian. Menatap ruang tamu ini masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Hanya saja, netraku tertuju pada sebuah bingkai foto yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Penasaran, aku pun beranjak dari tempat dudukku, kemudian mengayunkan langkah menuju sudut ruangan, tempat di mana terdapat lemari kaca di sana.
Netraku mengembun seketika saat menatap foto di dalam bingkai tersebut. Foto itu menampakkan dua anak manusia yang sedang berdiri berdampingan di samping air terjun. Di dalam foto itu, terlihat kegembiraan yang terpancar dari raut wajah kedua anak muda itu.
"Ternyata kakak menyimpan foto ini," ucapku dengan suara tertahan, bibirku ikut bergetar.
"Tasya." Suara dari belakang membuatku menoleh. Ibu berdiri di sana dengan wajah sendu, netranya pun sedikit memerah.
__ADS_1
"Ibu kenapa?" tanyaku khawatir. Segera kulangkahkan kakiku mendekat padanya.
Ibu langsung mengerjapkan matanya berulang kali sambil berkata, "Kelilipan tadi, Sya."
Aku tahu Ibu berbohong, dia berusaha menyembunyikan perasaannya yang pasti tengah teringat dengan anak bungsunya yang telah tiada. Aku juga sangat mengerti bahwa Ibu sedang pura-pura tegar di depanku.
"Ibu nangis, ya," ucapku seraya menggapai tangan keriput itu.
"Ibu cuma rindu, Sya," balas Ibu masih beralasan.
"Iya, Ibu pasti rindu pada Kak Risqi, 'kan?"
"Kamu sudah tahu?" tanya Ibu, kini air mata tidak mampu lagi dibendung olehnya.
"Sahabat Kak Risqi sudah menemui Tasya, Bu. Dia memberikan titipan Kak Risqi untukku," jawabku lugas.
"Ibu tidak salah apa-apa. Buat apa minta maaf?"
"Ibu merasa bersalah karena mengikuti permintaan Risqi untuk menyembunyikan penyakitnya dari kamu." Ibu menatapku dengan sorot mata penuh sesal.
"Kak Risqi pasti memaksa Ibu, ya," ucapku sambil tersenyum. "Dia memang dari dulu tidak pernah berubah … selalu saja semaunya sendiri," sambungku yang kembali mengingat bagaimana gigihnya Kak Risqi mendekatiku.
"Sya," panggil Ibu dengan hati-hati. Wanita itu pasti tahu bagaimana perasaanku saat ini.
"Tasya minta maaf, ya, Bu."
"Kamu enggak salah, Sya!"
__ADS_1
"Tasya salah, Bu. Tasya sama sekali tidak peka terhadap Kak Risqi. Seharusnya Tasya mengerti dengan kondisi Kak Risqi saat itu. Tasya tidak becus menjaga Kak Risqi," ucapku yang kini mulai menyalahkan diri. Kebencian yang dulu tertanam di hati untuk Kak Risqi, kini berbalik membenci diriku sendiri.
Ibu kembali menarikku ke dalam dekapannya. Mengusap-usap kepalaku dengan penuh sayang. Dari tangan keriput ini aku bisa merasakan ketulusan yang diberikan oleh Ibu padaku.
"Jangan salahkan diri kamu, Sya. Ini semua keputusan Risqi. Dia yang tidak mau kamu tahu tentang sakitnya. Dia memaksa Ibu untuk merahasiakan keadaannya saat itu," kata Ibu yang berusaha menenangkan aku. Namun, aku justru menggeleng keras.
Aku melepaskan diri dari dekapan erat Ibu. "Tidak, Bu. Seharusnya aku lebih peka meski Kak Risqi tidak memberitahu aku tentang sakitnya. Setengah tahun kami bersama, tapi aku sama sekali tidak curiga dengan kondisi Kak Risqi." Aku membantah perkataan Ibu.
"Apa kamu membenci Risqi, Sya?" tanya Ibu tiba-tiba.
"Tidak, Bu. Kak Risqi adalah laki-laki terbaik dalam hidupku," balasku jujur tentang perasaanku saat ini. Namun, menyembunyikan perasaanku yang dulu pernah benar-benar membenci Kak Risqi.
"Kamu mau mengunjungi rumah baru Risqi?" Ibu menawarkan aku untuk berkunjung ke makam.
"Apa boleh, Bu?" tanyaku sambil menatap wajah keriput itu.
"Boleh, Sya. Tapi sekarang sudah sore. Gimana kalau besok saja kamu datang ke sini lagi?" Ibu memberi saran karena hari memang sudah hampir magrib.
"Baik, Bu. Besok Tasya ke sini lagi," ucapku setuju dengan saran yang diberikan oleh Ibu.
Ketika aku hendak berpamitan, Ibu menahanku. Ibu bilang masih ingin banyak bercerita denganku. Tidak ingin membuatnya kecewa, aku pun menurut. Aku tetap bertahan di sana hingga hampir pukul delapan malam.
Selama berada di sana banyak sekali yang kami bahas. Ibu juga menceritakan tentang Mbak Risty yang ternyata sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di ibukota.
"Jadi sekarang ibu hanya tinggal sendirian?" tanyaku saat ibu menceritakan tentang kehidupannya saat ini.
"Iya, Sya. Mau bagaimana lagi. Risty kan seorang istri. Dia harus menurut pada suaminya dan ikut ke mana pun suaminya pergi." Ibu bercerita dengan nada sedih. "Andaikan saja dulu Risqi sempat menikah dengan kamu, Sya. Ibu pasti tidak akan kesepian karena ada kamu yang menemani ibu di sini," lanjut Ibu yang seketika membuatku tertegun.
__ADS_1