Bayang Cinta Semu

Bayang Cinta Semu
Berkunjung Ke Makam


__ADS_3

Seperti rencana kemarin, pagi-pagi sekali aku menjemput Ibu untuk mengunjungi makam Kak Risqi. Sebelum itu, aku sempat membeli bunga mawar dan melati untuk nyekar ke makam seseorang yang membawa kasih sayangnya padaku hingga ke liang lahat. 


Ketika sampai di sana, ternyata Ibu sudah menungguku di teras depan rumahnya. Wanita tua itu langsung bangkit saat melihatku berhenti di pekarangan rumah. 


"Sya, kita langsung aja, ya," ucapnya seraya berjalan ke arahku. 


"Iya, Bu." Aku kembali akan menyalakan mesin motor. Namun, Ibu menghentikannya. 


"Kita jalan kaki aja. Lewat jalan setapak lebih cepat," kata Ibu, aku pun menyetujuinya. 


Aku segera turun dari motor. Tidak lupa membawa bunga yang tadi sudah kubeli di pasar. Kami pun mulai melangkahkan kaki menuju makam. 


"Bu, maaf, ya." 


"Maaf kenapa, Sya?" tanya Ibu heran. 


"Gara-gara aku, Ibu jadi enggak jualan." 


"Oh. Enggak apa-apa, Sya. Ibu juga memang ingin istirahat, kok. Lagian Ibu juga kangen sama Risqi, udah lama enggak ke sana." 


"Aku juga kangen sama Kak Risqi. Tapi, semalam dia datang ke mimpiku, Bu." Aku mengadukan mimpiku tadi pada wanita baya ini. 


"Ah, senangnya. Risqi malah tidak pernah datang ke mimpi ibu," kata Ibu dengan nada lemah. 


"Sabar, ya, Bu. Kak Risqi bilang dia tidak pernah meninggalkan kita, kok! Dia selalu ada di sini," ucapku seraya memegang dada bagian kananku. 

__ADS_1


Ibu langsung mengulas senyum, kemudian mengangguk paham. "Risqi tidak akan pernah tergantikan, Sya. Dia selalu ada di hati kita," ucap Ibu penuh haru. 


Usai melewati jalan setapak sekitar sepuluh menit, kami pun sampai di depan makam. Kamu sempat menghentikan langkah, sebelum masuk ke dalam tempat yang merupakan rumah masa depan setiap manusia.


Ibu menggapai tanganku yang terjuntai ke bawah, lalu menggenggamnya lembut. "Kuatkan hati kita, Sya!" 


"Iya, Bu." Aku mengangguk. 


Kami memaksa langkah untuk maju, memasuki tempat yang menjadi rumah terakhir Kak Risqi. Baru masuk saja, netraku sudah mengembun. Kenangan-kenangan bersama Kak Risqi kembali berputar di pikiran. 


Meskipun berat, aku berusaha untuk tetap berjalan bersama Ibu. Wanita tua inilah yang menuntun langkahku menuju pusara yang berada di bagian paling tengah. 


Langkah kami terhenti ketika melihat papan nisan bertuliskan nama Risqi Adinata bin Abdul Razak. Dadaku langsung sesak saat pertama kali melihat rumah Kak Risqi sekarang. 


Ibu lebih dulu berlutut di samping makam Kak Risqi. Tangannya menyentuh papan nisan, lalu mengusapnya beberapa kali. 


"Waalaikum salam," jawabku dalam hati.


"Ris, maaf, ya. Ibu sudah lama tidak datang ke sini," kata Ibu sambil terus mengusap nisan. 


Aku yang kini berhasil menguasai diri, akhirnya ikut berlutut di samping Ibu. Air mata sudah merembes. Tidak mau air mataku memberatkan Kak Risqi, buru-buru kuusap air mata itu sebelum jatuh ke atas pusara Kak Risqi. 


"Hai, Kak. Aku datang ke rumah kakak. Maaf karena baru sekarang aku tahu tentang ini," kataku sambil memaksa senyum, meski rasanya berat sekali. 


Tanganku mulai menabur bunga yang tadi kubeli untuk Kak Risqi di atas makam. Dengan hati yang teramat sakit, aku tetap melakukan kegiatan itu hingga selesai. 

__ADS_1


Ibu menyentuh bahuku bermaksud untuk menenangkan hatiku. Aku pun menoleh, lalu tersenyum kecil. "Tasya kuat, kok, Bu," ucapku yakin. 


"Ibu tahu, kamu kuat. Sekarang kita ngaji dulu!" 


Kami berdua pun mulai melantunkan surah Yasin dan tahlil di atas kubur Kak Risqi. Sepanjang membaca ayat-ayat suci itu, beberapa kali aku menyeka air mata yang luruh dari kedua sudut mata ini. 


Setelah selesai, kami juga menyuarakan hati kamu di atas kubur Kak Risqi. Berharap Kak Risqi bisa mendengar perasaan kamu untuknya. Berkali-kali aku mengucapkan rasa sayangku padanya. 


"Jika waktu bisa diulang, aku pasti akan menerima lamaran kakak dulu, Kak. Aku menyesal," ucapku dengan nada sendu. Suaraku sudah serak akibat terlalu lama menangis. 


"Tasya, jangan sesali apa yang sudah terjadi. Ibu baru sadar bahwa pilihan Risqi saat itu memang pilihan terbaik," kata Ibu yang seketika membuatku tertegun. 


"Bayangkan saya. Jika dulu kamu dan Risqi sempat menikah, mungkin sekarang kamu sudah menyandang status janda, 'kan?" 


"Tasya tidak keberatan jika harus menyandang gelar itu, Bu. Asal aku bisa menemani Kak Risqi hingga akhir hidupnya." 


"Tapi jika itu terjadi, Risqi pasti merasa menjadi manusia paling egois di muka bumi ini, Sya." 


"Tapi dengan begini pun, aku susah untuk berdamai dengan diriku sendiri, Bu. Setiap malam aku selalu dihantui oleh rasa penyesalan," ujarku bersamaan dengan luruhnya air mata ini. 


"Ibu tahu, Sya. Ini memang tidak mudah. Tapi Risqi juga ingin kamu melanjutkan kehidupan kamu." 


"Entahlah, Bu. Apakah aku masih bisa membuka hati untuk laki-laki lain. Nyatanya seluruh hatiku telah dibawa mati oleh Kak Risqi," kataku sambil menatap lekat papan nisan. 


"Jangan begitu, Sya. Risqi pasti sedih jika kamu terpaku di tempat yang sama. Dulu Risqi pernah bilang, dia akan bahagia jika kamu mendapatkan seseorang yang bisa menjaga kamu lebih baik dari dirinya," kata Ibu memaparkan ucapan Kak Risqi sebelum dia tiada. 

__ADS_1


"Aku tidak yakin akan ada orang yang lebih tulus dari pada Kak Risqi padaku, Bu. Selama ini, hidupku hanya dikelilingi oleh orang-orang egois yang hanya memikirkan diri mereka sendiri. Jika boleh memilih, aku ingin ikut Kak Risqi saja." 


__ADS_2