Bayang Cinta Semu

Bayang Cinta Semu
Meminta Restu


__ADS_3

Kepalang tanggung, Putra juga sudah melihat foto Kam Risqi, aku pun menceritakan hubunganku dan Kak Risqi pada Putra. Usai semau kujelaskan, tidak ada reaksi kekecewaan di raut wajah Putra. 


"Kalau kamu merindukan dia, ayo kita temui dia, Sya!" 


Terkejut, tentu saja aku terkejut. Bagaimana bisa tiba-tiba putra mengajakku untuk menemui Kak Risqi. Padahal, lelaki itu sudah tahu bahwa Kak Risqi sudah tidak ada. 


"Kita ke makamnya, Sya. Itu saja kamu tidak tahu," ucap Putra setelah lama melihatku terdiam dengan ekspresi terkejut. 


"Ah, kamu mau ke makamnya?" tanyaku canggung. 


"Ya, aku mau menemuinya dan meminta kamu sebagai pendampingku," jawab Putra yang seketika membuat pipiku merona. 


"Kalau kamu mau meminta restunya, berarti kamu juga harus menemui ibunya, Put," ucapku menantang. 


"Ibunya Risqi? Ayo, siapa takut." 


Selepas ashar kami segera pergi ke makam Kak Risqi. Di sana kami membersihkan makan Kak Risqi dari dedaunan yang gugur ke tanah pusara itu. Usai menabur bunga yang kami bawa, kami pun mengaji untuk almarhum Kak Risqi yang selama ini selalu melindungiku sebelum dia tiada. 


Diam-diam aku memperhatikan Putra yang mengaji dengan khusyuk. Sepertinya niat Putra untuk meminangku benar-benar dari hati, terbukti dengan lelaki itu mau menerima masa laluku yang hingga saat ini belum benar-benar lepas dari ingatanku. 


Beberapa saat kemudian kami telah selesai mengaji. Aku merapat pada papan nisan bertuliskan nama Risqi Adinata. Kuusap papan tersebut dengan lelehan air mata. 


"Sya, jangan menangis. Mas Risqi pasti akan kecewa jika melihat kamu meneteskan air mata diatas pusaranya," ucap Putra menegurku. 


Aku mengangguk, kemudian buru-buru mengusap air mataku agar tidak ada yang jatuh ke makam Kak Risqi. "Maafin aku, ya, Kak," ucapku lirih. 


"Mas, salam kenal. Aku Putra Hendrawan, calon suami Tasya. Lelaki yang akan menggantikan tugas kamu menjaganya," ucap Putra memperkenalkan diri. 


Aku tersenyum, ternyata Putra serius ingin berkenalan dengan sosok pelindungku beberapa tahun silam. Lelaki itu sama sekali tidak memasang ekspresi jengkel karena Kak Risqilah yang menjadi satu-satunya penghalang Putra untuk mendekatiku. 


"Aku sudah mendengar semua cerita tentang kalian dari Tasya. Aku tahu, Mas. Kamu terpaksa menyakiti Tasya agar dia tidak lagi berharap pada kamu. Tapi, jika waktu bisa diputar, mungkin Tasya akan lebih memilih untuk menemani kamu di saat-saat terakhir kamu, Mas. Jujur, aku menyesalkan keputusan mas yang satu itu," lanjut Putra panjang lebar. 

__ADS_1


"Putra." Aku menegur Putra agar tidak lagi membahas perkara itu. 


Untuk sesaat, Putra menatapku sebelum akhirnya kembali memandang papan nisan Kak Risqi. Lelaki itu mengusap papan nisan bertuliskan nama seorang pria yang menjadi penghalangnya. 


"Untuk sekarang, izinkan aku untuk mengambil alih tugasmu, Mas. Aku yang akan menjaga Tasya dengan nyawaku. Aku akan mencintainya dengan seluruh jiwaku," ujarnya meminta izin.


Tanpa terasa, air mataku menetes begitu saja. Aku tidak menyangka bahwa Putra benar-benar meminta izin pada Kak Risqi. Sejak saat itulah aku mulai sadar bahwa ada seseorang yang mencintaiku sebesar Cinta Kak Risqi padaku. 


*****


Beberapa hari kemudian, Putra memintaku untuk mengantarnya ke rumah Ibunya Kak Risqi. Dengan senang hati aku menuruti permintaan Putra kali ini. 


Sebelum kami sampai di rumah ibunya Kak Risqi, Putra membeli sesuatu untuk dijadikan buah tangan. Satu keranjang buah serta satu kantong berisi gula dan beras menjadi pilihan. 


Saat ini kami berdiri di depan pintu rumah Ibunya Kak Risqi. Aku sempat menatap Putra yang memegang oleh-oleh untuk seseorang yang sudah aku anggap keluarga.


"Ketika pintunya, Sya!" perintah Putra saat aku belum juga mengetuk pintu rumah. 


Tidak lama berselang, pintu rumah terbuka. Ibu muncul dengan wajah terkejut saat melihatku. Wajar, terakhir aku datang, aku berpamitan akan pergi ke Sumatra saat itu. 


"Tasya!" pekik Ibu, lalu memelukku dengan erat. 


Aku membalas pelukan itu tidak kalah erat. Kuletakkan kepalaku pada bahu wanita sedikit gemuk ini, merasakan kenyamanan yang diberikan olehnya. 


Beberapa saat kamu berpelukan, Ibu melepaskan pelukannya saat melihat keberadaan seorang pria asing. Aku tersenyum ketika Ibu bertanya siapa laki-laki itu. 


"Perkenalkan, Bu. Saya Putra Hendrawan, calon suami Tasya," ucap Putra memperkenalkan diri. 


Ibu beralih menatapku, ada sorot kekecewaan yang terpancar dari netra Ibu. Aku tahu, mungkin Ibu belum bisa menerima bahwa seseorang yang dulu sangat diinginkan menjadi menantunya tiba-tiba datang bersama lelaki yang dikenalkan sebagai calon suami. 


"Maaf, Bu," ucapku lirih. 

__ADS_1


Jujur, aku merasa bersalah. Namun, mau bagaimana lagi. Aku pun tidak memiliki pilihan lain. Ini semua demi orang tuaku. Terlebih lagi Kak Risqi juga sudah memberikan izin padaku untuk membuka hati. 


Samar-samar aku melihat mata Ibu berkaca-kaca. Ketika aku menatapnya lekat, Ibu buru-buru menghapus bulir bening yang hinggap di ekor matanya. 


"Mari silahkan masuk!" 


Ibu lebih dulu memimpin jalan, aku dan Putra mengikuti di belakang. Kami duduk di ruang tamu minimalis yang terasa sangat sepi. 


"Tasya, kamu enggak jadi ke Sumatra?" tanya Ibu setelah kami duduk berhadapan. 


Aku menggeleng pelan. "Tidak jadi, Bu. Bapak dan Ibu melarangku untuk pergi. Mereka memintaku untuk menikah dengan Putra," jawabku tanpa menutupi apapun. 


"Kamu mencintainya?" tanya Ibu, sambil menatapku lekat. 


"Entah, tetapi beberapa hari yang lalu Kak Risqi yang memintaku untuk membuka hati," jawabku lirih, diluar dugaan, ibu tersenyum saat mendengar jawabanku. 


"Kalau begitu, bukalah hati kamu untuk lelaki lain, Sya. Ibu merestui," ucap Ibu yang seketika membuatku menatapnya dengan perasaan bersalah. 


Ibu beralih pada putra, lalu berkata, "Nak, tolong jaga baik-baik Tasya, ya. Dia perempuan yang kuat di luar, tetapi rapuh di dalam. Semoga kamu bisa menjadi imam yang tepat untuk kehidupan Tasya selanjutnya," ujar Ibu menasehati Putra.


*****


Beberapa bulan kemudian, aku dan Putra menikah. Acara itu berlangsung di rumahku dengan pesta meriah. Ibunya Kak Risqi pun hadir di sana. Bukan maksudku untuk melukai hati wanita tua itu, tetapi Ibulah yang meminta agar melihatku di acara kebahagiaan itu. Meski sebenarnya aku belum benar-benar bahagia.


Walaupun aku menerima putra sebagai suami, tetapi hatiku juga belum benar-benar bisa melupakan Sosok Kak Risqi. Lelaki yang dulu selalu melindungi dan mencintaiku dengan caranya sendiri.


"Kak, semoga pilihanku tidak salah," batinku penuh harap.


Mulai hari ini, aku telah menyandang status Baru sebagai istri dari Putra Hendrawan, lelaki yang dijodohkan Bapak kepadaku. Meski aku belum benar-benar mencintainya, tetapi aku telah bertekad untuk belajar menjadi istri yang baik untuknya.


"Putra, ajarkan aku untuk mencintai kamu, tanpa bayang-bayang cinta semuku pada Kak Risqi," pintaku pada suami yang baru saja mengucap ijab atas diriku.

__ADS_1


#Tamat.


__ADS_2