Bayang Cinta Semu

Bayang Cinta Semu
Tong Sampah


__ADS_3

Aku mendengus kesal saat dia mengataiku dengan sebutan idola tidak waras. Melihat itu, dia justru tertawa. Aku sampai dibuat geleng-geleng kepala akan tingkahnya yang menyebalkan itu. 


Dia menghentikan tawanya, lalu berkata, "Ayok teriak! Ngapain malah ngelihatin mukaku? Wajahku ini kalau diperhatikan lama, memang semakin tampan, kok!" ujarnya dengan percaya diri. 


Aku tertawa geli saat mendengar dia memuji diri sendiri. "Kemarin bilang aku cuek gara-gara kamu jelek, sekarang tiba-tiba muji diri sendiri jadi tampan. Ish, enggak konsisten," sahutku yang seketika membuat dia nyengir. 


"Aku seneng kalau kamu ketawa, Sya. Jangan nangis lagi, yah," ucapnya dengan sorot mata teduh yang berhasul menghangatkan jiwaku. 


"In Sya Allah. Mungkin aku bakal sering ketawa mulai sekarang," ucapku sambil menatap ke arahnya. 


"Bagus, dong! Tapi kenapa baru sekarang?" tanyanya penasaran. 


"Karena mulai sekarang, aku memiliki tong sampah yang siap siaga," jawabku disertai tawa ringan.


"Enggak apa-apa, deh, dianggap tong sampah juga. Asal bisa sering-sering nemenin kamu," jawabnya yang seketika membuat kami tertawa bersama. 


"Aku teriak, ya?" tanyaku meminta persetujuan darinya. 


"Okey, tapi bentar … aku mau … tutup telinga dulu," gurau laki-laki itu yang membuat aku mendelik, rasanya ingin sekali menendang betisnya. "Iya-iya, teriak sekarang!" serunya, tetapi dia tidak menutup kedua telinganya. 


Aku melakukan hal yang sama seperti dia tadi. Kedua mata terpejam, tangan direntangkan, serta berteriak sekencang-kencangnya. 


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" teriakku masih dengan suara tertahan. 


"Kurang lepas, Sya! Coba sekali lagi." 


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" Aku berusaha menambah volume suaraku agar semua keluar dengan hati yang lega. Namun, sepertinya dia belum juga puas. 


"Sekali lagi, Sya! Mana powernya?" tanyanya memancing amarahku agar semua keluar saat ini juga. 


Aku menghela napas panjang sebelum terberiak, "Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!" Kali ini suaraku sudah sangat lantang, pada saat itu juga, hatiku rasanya kosong, seperti tidak memiliki beban sama sekali. 


"Lega, 'kan, sekarang?" tanyanya setelah mendengar napasku yang memburu. 


Lagi-lagi aku menghela napas lega, kemudian mengangguk setuju dengan pernyataannya tadi. "Meskipun masalahku tetap ada, tapi hatiku lebih plong sekarang," ucapku jujur. 


Dia mundur tiga langkah ke belakang, kemudian mendaratkan bokongnya di pasir kering. Kakinya menopang kedua tangan dengan pandangan mengarah ke hamparan laut luas. 


"Selama manusia masih bernapas, masalah itu akan selalu ada, Sya. Tergantung kita, bisa bijak dalam menyikapinya atau justru tenggelam dalam masalah tanpa berjuang mencari jalan keluarnya. Jadi, intinya jangan berputus asa, sih," tuturnya menasehatiku. 

__ADS_1


Aku langsung melangkah mundur agar sejajar dengannya, kemudian ikut duduk persis seperti laki-laki itu. "Ish, bijak sekali anda, berasa lagi sama motivator, deh!" cibirku yang langsung menjulurkan lidah saat dia menatapku. 


"Ternyata benar apa kata mereka, yah! Kamu ini kelihatannya aja judes, padahal … cerewet banget," ucapnya yang seketika membuatku memicingkan mata. 


"Mereka siapa?" tanyaku penasaran. 


Sadar jika ucapannya tadi memancing rasa penasaranku, dia pun terlihat gugup. Aku sangat paham dengan gerak-geriknya yang seperti sedang mencari alasan. 


"Jangan membohongiku!" Aku berkata dengan nada menekan. 


"Tapi kamu … jangan marah," pintanya terdengar serius. 


"Aku enggak akan marah kalau kamu berkata jujur," balasku tegas. 


Untuk beberapa saat, dia terdiam. Mungkin sedang merangkai kata untuk menjelaskan padaku agar tidak timbul kesalahpahaman. Aku masih sabar menunggu penjelasan darinya. 


"Sebenarnya, aku tahu semua tentang kamu dari teman-teman Fandy, Sya," ungkapnya kepadaku. Namun, aku tidak langsung percaya begitu saja. 


Aku masih memperhatikan ekspresi wajahnya. Menyelam ke dalam bola mata berwarna cokelat itu guna mencari sedikit kebohongan dari sana. Sayangnya, aku tidak berhasil menemukan kebohongan dari sorot mata teduh itu. 


"Kamu dapat nomorku juga dari mereka?" tanyaku memastikan. 


"Iya," jawabnya singkat. 


Persis dengan dugaanku sudah pasti jawabannya memang tidak. Fandy tidak mungkin terima jika ada orang lain yang mendekatiku. Aku dan Fandy kenal karena tidak sengaja saat kami sama-sama berniat menonton konser.


Saat itu, aku hendak pergi bersama Eva, teman masa kecilku, tetapi ternyata Eva juga janjian dengan kekasihnya yang saat itu datang menjemput bersama Fandy. Mereka memaksaku untuk berboncengan dengan Fandy untuk berangkat menuju tempat konser musik Reggae.


Aku yang saat itu memang penggemar musik genre tersebut, terpaksa menurut. Sejak saat itu, Fandy gencar mendekatiku. Namun, aku hanya menganggapnya sebagai teman saja. 


"Kamu punya perasaan spesial sama Fandy?" tanyanya tiba-tiba. 


"Enggak, lah! Aku kan udah bilang, aku punya pacar di Jakarta," jawabku tegas. 


"Bagus, deh, kalau gitu. Jadi, aku enggak perlu bersaing sama temen sekampung," ujarnya disertai senyum lega. 


"Aku kan juga enggak ada perasaan sama kamu," jawabku, lalu mendengus kesal. 


"Bukan enggak ada, tapi belum ada," sahutnya dengan cepat. 

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala saat melihat kepercayaan dirinya yang begitu tinggi, setinggi gunung Himalaya. 


"Kenapa geleng-geleng? Enggak percaya kalau aku bakal bisa ngeluluhin hati kamu?" tanyanya yang langsung membuat aku menatap tajam ke arahnya. 


"Kalau sampai saat ini saja aku sama sekali tidak penasaran dengan nama kamu, apa kamu yakin bakal bisa rebut hatiku?" tanyaku balik yang seketika membuat dia bungkam. Namun, detik berikutnya, aku justru dikejutkan saat dia tiba-tiba mengeluarkan dompet dari saku celananya. 


"Mau ngapain?" tanyaku heran. 


"Diem dulu," ucapnya tegas. 


Tidak disangka dia mengeluarkan kartu dari dalam dompetnya, kemudian memberikannya padaku. "Buat apa ngasih KTP?" tanyaku yang makin heran dengan tingkah anehnya. 


"Biar kamu tahu namaku, biar kamu enggak penasaran lagi," jawabnya enteng. 


"Dih! Siapa yang penasaran? Aku enggak bilang penasaran, yah!" seruku sambil mengembalikan dompet kartu tanda penduduk miliknya.  


"Aku enggak akan ambil balik KTP itu kalau kamu belum baca nama panjangku," ancamnya terdengar sangat aneh. 


Meski kesal, akhirnya aku menurut. Aku membaca rangkaian huruf yang membentuk nama indah itu dalam hati. "Risqi Adinata," batinku mengeja huruf tersebut. 


"Baca, Sya!" serunya yang mulai kesal. 


"Udah baca tadi," jawabku sambil menyodorkan KTP miliknya. 


"Mana ada? Aku belum denger kamu sebutin namaku, loh!" 


Aku tertawa melihat raut wajah kesalnya ini. "Beneran, loh! Aku udah baca dalam hati," ungkapku jujur. 


"Tasya," rengeknya manja. 


Tawaku semakin kencang saat melihat dia merengek seperti anak kecil. Baru kali ini aku melihat seseorang merengek padaku begini.


"Aku tinggal pulang, nih!" Dia mengancamku karena aku tidak kunjung menurut. 


"Tinggal aja, nanti aku minta jemput sama Fandy," tantangku padanya yang membuat dia semakin kelabakan. 


 "Tasya, jahat banget, sih!" gerutunya sambil menjejakkan kedua kakinya di pasir persis anak kecil yang sedang merajuk. 


"Pemikiran dewasa, tapi tingkah kaya bocah," cibirku padanya. 

__ADS_1


Raut wajahnya langsung berubah saat aku mencibirnya seperti itu. Mungkin dia tidak terima dengan cibiran yang aku lontarkan barusan. 


"Iya-iya, Kak Risqi Adinata," kataku yang akhirnya menuruti permintaannya. 


__ADS_2