Bayang Cinta Semu

Bayang Cinta Semu
Lamaran tiba-tiba


__ADS_3

Sudah cukup lama kami duduk di atas pasir di bibir pantai. Kami menikmati suasana langit yang semakin gelap. Langit senja sore tadi, kini berganti dengan langit malam bertabur bintang. 


Semilir angin yang semakin bertiup kencang tidak berhasil membuat kami beranjak dari tempat ini. Suasana yang semakin senyap, hanya ada suara deburan ombak justru semakin membuat kami nyaman. 


"Kamu udah enggak sedih lagi, 'kan?" tanyanya tiba-tiba. 


Kutatap wajahnya yang mulus tanpa noda. Benar katanya, jika diperhatikan lebih lama, dia memang terlihat lebih tampan. Jika dibandingkan dengan kekasihku pun, dia kalah jauh dari laki-laki di sampingku ini. 


"Makasih, yah, udah mau nemenin aku di sini," ucapku tulus. 


"Sama-sama, Sya. Kapanpun kamu butuh, telpon saja," balasnya dengan lembut. 


"Kirain sebut nama tiga kali," celetukku menggodanya. 


"Kamu kira aku jin apa?" tanyanya dengan ekspresi kesal. 


"Ish, di tempat gini malah bahas demit lagi. Kalau tiba-tiba Dateng beneran gimana?" tanyaku, sambil mengusap tengkukku yang tiba-tiba merinding. 


Aku memang tipe penakut. Saking penakutnya, aku bahkan bisa membayangkan mereka hanya dengan mendengar namanya saja. 


"Kalau datang, nanti aku suruh dia buat hibur kamu. Biar kamu enggak sedih lagi," kelakarnya semakin bersemangat untuk menggodaku. 


"Kita pulang aja, deh!" seruku kesal. Aku memang paling tidak suka bercanda tentang hal mistis seperti itu. 


"Jangan, Sya. Kamu udah janji mau cerita, loh!" Dia menahan tanganku saat aku hendak beranjak. 


"Makanya jangan ngomong sembarangan!" sungutku yang justru ditanggapi dengan senyuman lebar olehnya. 


Melihat ekspresinya, aku semakin kesal. "Aku pulang sendiri aja, deh!" aku menyentak tangannya hingga terlepas. 


"Iya-iya. Aku enggak ngomong sembarangan lagi. Tapi sini, dong! Kamu udah janji, loh!" 


Kubuang napas kasar sebagai kode bahwa aku benar-benar kesal padanya. Namun, wajahnya yang tiba-tiba tersenyum hangat, sedikit meluluhkan hatiku. 


Aku pun kembali duduk bersila di atas pasir pantai. Netraku tidak sengaja melihat ada ranting kayu kecil yang berada tidak jauh dariku. Kuraih ranting itu, kemudian memainkannya dengan menggambar di atas pasir. 


"Kamu punya saudara perempuan?" tanyaku memulai pembicaraan. 

__ADS_1


"Ada. Kakakku perempuan, dia sudah besar, tapi manja sekali." Dia terlihat tersenyum saat menceritakan tentang kakaknya.


"Kamu memperlakukan dia bagaimana?" tanyaku lagi, dia menoleh ke arahku. 


"Ya sewajarnya Kakak dan Adik aja, sih," jawabnya singkat. 


"Baguslah kalau gitu," balasku dengan nada datar. 


"Kenapa tanya gitu?" tanyanya, sepertinya dia mulai penasaran. 


"Menurut kamu, kalau saudara kandung tiba-tiba menindih saudaranya yang berlawanan jenis itu gimana?" tanyaku balik. 


"Maksud kamu?" tanyanya heran. Aku tahu, dia pasti bingung dengan ucapanku. 


"Ah, lupakan!" pungkasku yang tiba-tiba tidak ingin membahas permasalahan itu lagi. 


"Ah, aku paham maksud kamu tadi!" pekiknya dengan suara cukup keras. "Kamu ngalamin hal itu?" Dia sepertinya memang sudah paham dengan maksudku tadi. 


"Iya," jawabku singkat. 


"Hah! Yang bener, Sya!" teriaknya tidak percaya. 


Dia memperhatikan wajahku dengan lekat. Biasanya, aku akan marah saat ada pria yang menatapku seperti ini. Namun, dengannya aku sama sekali tidak keberatan. 


"Kakakmu yang tadi pelakunya?" tanyanya dengan mata memicing. 


"Selain dia, masih ada lagi Kakak iparku," jawabku menjelaskan. 


"Gila! Jaman udah bener-bener gila, Sya!" Dia menggelengkan kepalanya. Apa yang dikatakan olehnya memang benar. Jaman sudah gila. Terbukti aku mendapat ancaman tidak main-main dari keluargaku sendiri. 


"Terus kamu enggak laporin mereka ke keluarga kamu?" tanyanya lagi. 


"Buat apa? Toh mereka juga tidak peduli," jawabku jujur. 


"Kamu serius mereka enggak peduli?" 


"Aku udah pernah ngadu ke Kakakku, tapi nyatanya dia malah bela suaminya. Dia bilang itu tanda sayang," terangku padanya. 

__ADS_1


"Tanda sayang enggak gitu caranya, Sya. Gila aja main tindih gitu. Enggak sekalian aja ajakin gulat?" Dia terlihat menggerutu kesal. 


Aku memukul pelan lengannya saat dia berkata seperti itu. "Kamu gila, ya? Aku enggak mungkin mau diajak gulat sama mereka," ucapku tegas. 


"Ya bagus kalau gitu. Itu tandanya kamu masih waras," ucapnya berapi-api. 


"Kalau aku enggak waras, mungkin udah mengakhiri hidup," sahutku yang seketika membuat dia kembali menatapku. 


"Kita ke kantor polisi aja, Sya!" ajaknya dengan ekspresi wajah serius. 


"Ngapain?" tanyaku bingung. 


"Laporin mereka, lah!" 


Aku membulatkan mata saat dia dengan tegas mengajakku untuk melaporkan mereka pada pihak berwajib. Tidak, jelas saja aku menolak. Aku tidak mungkin mencoreng keluargaku dengan kasus seperti ini. 


"Kenapa menggeleng gitu, Sya? Jangan bilang kamu masih mau melindungi mereka." 


"Aku enggak mungkin laporin mereka ke polisi. Ibu pasti akan drop kalau tahu kelakuan anak kesayangannya. Kakak perempuanku juga pasti akan membenciku jika aku melaporkan suaminya," terangku panjang lebar. 


Dia menggeleng beberapa kali. "Aku enggak nyangka kamu sebodoh ini, Sya. Kamu dalam bahaya, loh! Ngapain masih mikirin mereka yang jelas-jelas enggak mikirin kamu sama sekali?" Dia terlihat mulai emosi, aku bisa melihat dia mengepalkan kedua tangannya. 


"Aku enggak bisa egois. Meski mereka jahat padaku, mereka tetap keluargaku." 


"Kamu mau nunggu kebobolan dulu baru mau laporin mereka, Sya?" tanyanya dengan nada datar. 


"Enggak, lah! Aku masih bisa jaga diri," jawabku tegas. 


Dia tertawa kencang. Entah apa yang lucu dari ucapanku. Aku hanya bisa menatap bingung padanya. 


"Kamu yakin bisa jaga diri? Kamu perempuan, Sya. Mereka laki-laki. Mau sekuat apapun kamu menjaga diri. Mereka tetap lebih kuat dari kamu." 


Aku terdiam memikirkan ucapannya yang memang ada benarnya. Kini, aku mulai bimbang dengan jalan yang aku tempuh. Aku tidak ingin kejadian yang lebih parah terjadi padaku, tapi aku juga tidak bisa menyakiti keluargaku dengan melaporkan orang-orang yang mereka sayang ke pihak yang berwajib. 


"Kamu masih mau jadi perempuan bodoh, Sya? Kalau iya, aku benar-benar akan melamar kamu saat ini juga." 


"Jangan ngaco, deh! Kita enggak ada hubungan apa-apa," sahutku dengan cepat.

__ADS_1


"Ya makanya aku lamar kamu biar kamu jadi istriku!"


__ADS_2