
Melanjutkan kehidupan dengan bayang-bayang masa lalu itu tidaklah mudah. Itulah yang saat ini sedang kurasakan. Aku berusaha kuat dan tabah untuk hidup mengikuti takdir.
Nasihat Ibu yang mengatakan bahwa Kak Risqi pasti akan kecewa jika aku menyerah, membuatku ingin berusaha bangkit dari keterpurukan. Yang dikatakan oleh mereka memang benar. Aku seharusnya bisa lebih ikhlas dalam menerima garis takdir dari yang Sang Ilahi.
Hari-hari kujalani dengan kesendirian. Kekecewaanku terhadap diri sendiri membuat aku membangun tembok tinggi untuk laki-laki yang hendak mendekatiku. Beberapa kali ada yang berusaha meluluhkan hati yang sudah terlanjur beku ini. Namun, tidak ada satupun yang berhasil. Aku masih saja sekeras batu es di kutub Utara.
Pada akhirnya, hari yang membuatku semakin membenci orang tuaku sendiri pun terjadi. Aku yang sedang bersantai di teras rumah, tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran tamu yang diundang oleh Bapak.
Satu unit mobil Toyota Agya berwarna putih berhenti tepat di depan rumahku. Beberapa orang keluar dari sana. Salah satunya adalah seorang pria yang mungkin usianya sebaya denganku. Mereka berjalan menuju pintu rumah. Sebelum itu, mereka sempat menyapaku yang bersikap acuh.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam," jawabku singkat.
Kutatap orang-orang itu bergantian. Saat netraku tidak sengaja menatap si pria, dia tersenyum hangat. Namun, aku enggan menanggapinya.
"Maaf, Dek. Bapak ada?" tanya seorang wanita yang menjadi anggota tamu tak dikenal itu.
"Ada. Sebentar, saya panggilkan dulu." Aku berusaha untuk bersikap sesopan mungkin.
"Boleh, Dek."
Aku pun melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam rumah. Berniat memanggil Bapak yang ternyata kini sedang berjalan keluar.
"Pak, ada tamu," ucapku singkat, Bapak pun menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak disuruh masuk?" tanya Bapak dengan nada sedikit meninggi.
"Suruh masuk Bapak aja. Aku mau ke kamar!"
Bapak melanjutkan langkah untuk menemui tamunya. Sedangkan aku terus berjalan menuju kamar usai mengedikkan bahu. Tidak ingin tahu urusan apa yang membuat Bapak memiliki tamu dari kalangan elit tadi.
Usai masuk ke kamar, aku merebahkan diri di kasur. Kuraih headset yang tergeletak di meja, lalu memakainya. Dengan posisi berbaring di kasur, kepala bersandar pada bantal yang kuapit dengan dinding.
Aku lebih sering menghabiskan waktu dengan menyendiri di kamar sambil mendengarkan lagu-lagu favorit yang merupakan kenangan bersama Kak Risqi. Mataku terpejam saat meresapi setiap makna yang terkandung di lagu-lagu tersebut.
Hampir satu jam lebih aku menikmati kesendirian dan kesepianku di kamar. Hingga tiba-tiba lenganku digoyangkan oleh seseorang. Reflek, mataku pun terbuka lebar. Kulihat Ibu sedang berdiri di sampingku dengan tatapan seperti orang linglung.
"Kenapa, Bu?" tanyaku padanya.
Ibu menggerakkan mulutnya, tetapi aku sama sekali tidak mendengarkan suaranya. Telingaku masih berisi nyanyian merdu dari penyanyi terkenal yang menjadi favoritku.
"Pantes dari tadi dipanggil enggak denger!" omel Ibu dengan gayanya.
Aku tertawa lirih. "Kenapa, Bu?" Aku mengulang pertanyaan yang sama.
"Bapak mau bicara," ucap Ibu singkat.
"Tentang apa?" tanyaku heran. Pasalnya, Bapak jarang sekali mengajakku bicara.
"Temui aja dulu, Sya!"
__ADS_1
"Iya-iya."
Aku bangkit dari posisi paling nyamanku, lalu keluar dari kamar untuk menemui Bapak. Meskipun malas, nyatanya aku belum memiliki keberanian untuk menolak perintah Ibu.
Terlihat Bapak tengah duduk di ruang tamu. Di meja masih ada beberapa cangkir minuman yang isinya sudah tidak utuh lagi.
"Duduk!" perintah Bapak ketika melihatku berdiri di samping lemari kayu.
"Ada apa, Pak?" tanyaku malas. Namun, kakiku tetap melangkah mendekatinya, lalu duduk di kursi di depannya.
"Pria tadi, kamu udah lihat, 'kan?" tanya Bapak balik.
"Lihat." Aku menjawab seadanya.
"Gimana?" tanya Bapak lagi.
Mendapat pertanyaan itu, mataku menyipit. "Gimana apanya?"
"Ganteng enggak?"
"Biasa aja," balasku acuh tak acuh.
Bapak menatapku tajam. Sepertinya dia tidak suka dengan jawaban dariku.
"Dia calon suami kamu, Sya!"
__ADS_1
"Apa? Calon suami? Bapak jangan aneh-aneh, deh! Kalau mau bercanda, jangan gini caranya."
"Bapak serius, Sya. Pria tadi calon suami kamu. Bapak sudah jodohkan kamu dengan dia, dari pada terus-terusan mengenang orang yang sudah mati."