Bayang Cinta Semu

Bayang Cinta Semu
Ketidaksukaan Ibu Farid


__ADS_3

Aku sempat gelagapan saat Mbak Risty menanyakan hal itu. Beruntung Kak Risqi cepat datang dan mengajakku pulang. 


Meski begitu ternyata Kak Risqi belum juga memaafkan kesalahanku kali ini. Dia masih mendiamkanku saat mengantarku pulang ke rumah. 


Aku pun tidak berani mengeluarkan suara. Setelah mengenalnya selama berbulan-bulan, akhirnya aku paham dengan karakternya. Dia adalah seorang pria yang jarang sekali marah, tetapi tidak mudah memafkan saat seseorang berbuat salah padanya. 


"Udah kapok belum, Sya?" tanyanya masih dengan nada dingin. 


"Aku enggak akan ngelakuin hal itu lagi, Kak." 


"Pergi sama Fandy kan tadi?" 


"Iya," jawabku singkat. 


"Terus Fandy tanggung jawab sama apa yang terjadi pada kamu tadi?" 


Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban. Memang nyatanya Fandy justru meninggalkanku di tengah kerumunan meski dia yang membawaku ke tempat itu. 


"Padahal dia itu panitia, loh, Sya. Tapi dia malah bikin keributan di acara sendiri. Malu-maluin," ucapnya dengan nada menekan. 


Aku masih diam dan tidak berani membantah apa yang dikatakan oleh Kak Risqi. Semua yang dikatakan olehnya memang benar. Aku pun menyimpan rasa dendam pada Fandy yang sudah meninggalkan aku di tengah-tengah keributan tadi. 


"Panitia yang lain bakal kasih sanksi tegas buat mereka. Apa gunanya jadi panitia kalau enggak becus urus acara?" Kak Risqi masih menggerutu kesal. 


Aku membiarkan dia mengeluarkan segala unek-unek di hatinya agar dia lega. Aku tahu, semua terjadi karena kesalahanku yang tidak mau mendengarkan peringatan dari Kak Risqi. 


"Ini alasan kenapa aku enggak bisa ajak kamu ke acara, Sya. Aku enggak mungkin bisa menghandle semua dalam satu waktu." 


"Iya, Kak. Maaf," ucapku dengan rasa bersalah. 


"Jangan cuma maaf aja. Harus kamu ingat baik-baik, Sya. Aku ngelakuin itu semua demi kebaikan kamu." 


"Iya, aku tahu, Kak." 


"Gak usah jawab kalau kakak lagi kesal," ucapnya kembali pada masa dingin lagi. 


Sepanjang perjalanan dia terus saja mengoceh, mengomel seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya. Namun, semua yang keluar dari mulutnya benar-benar aku catat dalam memori otakku. 


"Sudah, turun." Aku turun ketika motor Kak Risqi berhenti di halaman rumah. 


"Makasih, Kak. Mau mampir dulu enggak?" 


"Enggak. Kakak buru-buru mau urus acara lagi," tolaknya tegas. 


"Oh, oke," jawabku lirih. 

__ADS_1


"Ingat ucapanku baik-baik, Sya. Jangan asal percaya pada orang lain. Mereka belum tentu bisa memegang kepercayaan yang kamu berikan. Kakak pulang dulu," katanya datar, lalu kembali memacu kuda besinya menjauh dariku. 


*****


Sudah lebih dari satu Minggu Kak Risqi meluapkan kekesalannya padaku. Selama itu, dia sama sekali tidak menghubungiku. Tidak mengantarku ke sekolah, ataupun mengirimkan pesan apapun. Jika aku mengirimkan pesan pun tidak pernah dibalas olehnya. 


Hal itu membuat aku uring-uringan. Rasa kesepian dan kehilangan begitu terasa. Padahal, selama ini aku tidak pernah memusingkan jika ada pria yang merajuk padaku. 


Saat ini aku sedang duduk termenung di dalam kelas. Sudah lima menit yang lalu teman-teman yang lain keluar dari kelas, karena memang sudah waktunya pulang sekolah. 


"Sya!" seru Sita dan Dewi memanggilku, mereka berdiri di ambang pintu kelas. 


Aku menatap mereka dengan bingung. Mereka belum pulang, padahal tadi sudah berpamitan untuk pulang lebih dulu. 


"Ada yang nungguin Lo, tuh!" 


"Siapa?" tanyaku acuh. 


"Cowok," jawab mereka kompak. 


Kedua sudut bibirku terangkat saat mengetahui ada seorang pria yang menungguku. Dalam pikiranku, pria itu adalah Kak Risqi yang menjemputku karena sudah bisa memaafkan kesalahanku. 


"Di mana?" tanyaku bersemangat. Langsung kurapikan semua buku ke dalam tas, kemudian menggendong ransel itu di punggung dan berjalan menghampiri kedua sahabatku. 


"Oke. Makasih," kataku, sambil menepuk pundak kedua sahabatku itu, kemudian berlari keluar. 


Aku berlari secepat kilat keluar dari area sekolah. Perasaanku tiba-tiba saja bahagia saat membayangkan Kak Risqi kembali menjemputku seperti biasa. Namun, ketika aku sampai di depan sekolahku, bukan Kak Risqi yang aku lihat. 


"Farid," ucapku dengan perasaan berkecamuk. Entah harus senang atau tidak saat melihat kekasihku datang menjemput. Yang jelas, rasa bahagiaku tadi kini lenyap tanpa jejak. 


"Yang!" seru Farid yang langsung turun dari motornya. 


Dia menghampiriku yang masih mematung di tempat. Dia juga menggapai tanganku, kemudia membelainya dengan lembut. Jika dulu hal itu membuatku nyaman, tidak untuk kali ini. Perasaanku justru terasa aneh saat Farid menyentuhku. 


"Maaf," ucapku sambil melepaskan tangannya yang tadi memegang tanganku. 


"Kenapa, Yang?" tanyanya bingung. 


"Enggak enak kalau ada guru yang lihat," jawabku beralasan. 


"Oh. Ya sudah, aku antar pulang, ya, nanti aku ajak ke rumah." 


"Ke rumah kamu?" tanyaku kaget. 


"Iya, ke rumah. Mama mau ketemu kamu," ucapnya dengan jelas. 

__ADS_1


Aku terdiam, bayangan sikap dingin calon mertuaku itu menari-nari di otakku. Sedang hatiku justru kembali teringat dengan perlakuan hangat keluarga Kak Risqi padaku. 


"Kok, kamu diem, Sya." 


"Aku lagi enggak enak badan, Rid," jawabku berbohong. 


"Terus gimana? Kamu enggak bisa ketemu mama?" tanyanya dengan nada sedikit naik. 


"Aku enggak enak badan, tapi kalau kamu tetap maksa ya udah. Ayok ke sana langsung aja!"


"Ya udah, ayok!" 


Ternyata dia benar-benar egois. Padahal, aku sudah bilang tidak enak badan. Tapi, dia tetap memaksaku untuk menemui keluarganya. 


Dia menyerahkan helm padaku yang langsung kupakai. Begitu dia sudah menyalakan mesin motor, aku pun naik ke boncengan. Motor pun melaju ke arah rumah Farid. 


Dua puluh menit kemudian kami sampai di rumah Farid. Aku langsung turun dan melepaskan helm setelah motor berhenti di pekarangan rumah. Farid pun melakukan hal yang sama. Dia menggandeng tanganku untuk masuk ke rumah. 


"Kamu duluan aja, aku mau lepas sepatu dulu," ucapku sambil melepas gandengan tangannya. 


"Assalamualaikum," ucapnya dengan lantang, kemudian langsung masuk ke dalam. 


Aku menyusul setelah melepas sepatu. Ketika aku masuk ke dalam rumah, bertepatan dengan ibu Farid berjalan dari arah dalam. 


"Waalaikum salam," jawab ibu Farid. 


Aku berjalan mendekati calon mertuaku itu meski aku tahu tatapannya menunjukkan aura ketidaksukaannya padaku. Namun, aku masih berusaha mengontrol diri agar tidak bersikap kurang baik. 


"Bu, apa kabar?" tanyaku ramah. 


"Baik. Kamu tumben ke sini," ucapnya sarkas. 


"Bu, aku yang ajak Tasya ke sini," sahut Farid yang menimbulkan senyum getir di bibirku. 


"Sudah aku duga, ini bukan permintaan Ibu kamu. Ini hanya akal-akalan kamu agar aku mau ikut ke sini," batinku dengan rasa sesak di hati. 


"Oh, ya sudah. Buatkan Tasya minum dulu sana!" perintah ibu Farid. 


"Ya, Bu. Ibu sekalian mau minum apa?" tanya Farid pada ibunya. 


"Enggak usah, nanti ibu bikin sendiri," tolaknya dengan cepat. 


Farid pun berjalan masuk untuk membuatkan aku minuman. Meskipun aku paham bahwa itu hanyalah akal bulus calon mertuaku ini. 


"Sya, saya kan sudah pernah bilang. Farid itu masih kecil, kamu udah mau aja pacaran sama Farid." Calon mertuaku itu melirikku dengan sinis. "Dia kerja aja belum cukup buat jajan dirinya sendiri, kalau nanti tiba-tiba minta ngelamar kamu memangnya kamu enggak mikir kalau itu bakal memberatkan keluarga kami?" 

__ADS_1


__ADS_2