
Aku mondar-mandir di dalam kamar dengan perasaan tidak tenang. Pikiranku masih saja tentang Kak Risqi. Aku takut jika Bapak memarahi Kak Risqi dengan kata-kata kasar.
Kulirik ponsel yang tergeletak di atas kasur. Tidak ada tanda-tanda pesan masuk ataupun panggilan. Itu artinya, Kak Risqi belum menghubungiku.
Perasaanku semakin tidak tenang. Jujur saja, aku merasa tidak siap jika harus dipisahkan dengan Kak Risqi yang begitu tulus menyayangiku. Tanpa sadar mulutku menggerutu.
"Kalau aja Kak Risqi enggak maksa buat ketemu Bapak, kita pasti udah berangkat. Ah, Bapak juga, ngapain, sih, pake ngelarang segala. Kaya biasanya peduli aja."
Saat aku sedang menggerutu, Ibu tiba-tiba masuk ke kamar. Ibu menatapku bingung karena melihatku mondar-mandir di kamar.
"Kamu kenapa?" tanya Ibu heran.
"Kak Risqi udah pulang?" Bukannya menjawab, aku justru melempar balik pertanyaan.
"Masih di depan, ngobrol sama Bapak," jawab Ibu yang seketika membuat aku berlari keluar.
"Bapak!" seruku saat sampai di ruang tamu.
Kedua laki-laki berbeda generasi itu kompak menatapku yang memasang ekspresi cemas. Kulihat Kak Risqi sampai menautkan kedua alisnya.
"Apa?" tanya Bapak dengan nada datarnya.
"Jangan ngomong aneh-aneh ke Kak Risqi, Pak!"
"Aneh-aneh apa? Orang Bapak cuma titip pesan sama Risqi, kok!" Bapak beranjak, berjalan masuk melewati aku yang masih berdiri di samping lemari kayu.
Begitu Bapak sudah tidak ada di sana, aku segera mendekati Kak Risqi. Kujatuhkan bokongku di kursi samping laki-laki yang kupanggil dengan sebutan Kakak itu.
"Bapak ngomong apa?" tanyaku menuntut.
"Ngomong apa? Enggak ngomong apa-apa, kok!" Dia menjawab dengan tegas. "Yuk, berangkat sekarang!"
"Berangkat ke mana?" tanyaku yang tiba-tiba Lola.
"Nonton konser, lah! Mau ke mana lagi? Masa ke pelaminan."
"Emang Bapak kasih izin?" tanyaku ragu.
__ADS_1
"Boleh. Yuk, sekarang sebelum Bapak berubah pikiran."
Kami berdua pun akhirnya berangkat ke alun-alun Kajen, tempat diselenggarakannya acara. Sepanjang perjalanan aku banyak menanyakan apa pembicaraan Kak Risqi dan Bapak. Namun, Kak Risqi tidak menjawabnya.
"Kakak nyebelin banget, sih! Aku kan pengen tahu kalian ngomongin apa." Aku menggerutu kesal pada laki-laki yang sedang mengendarai motor ini.
"Nanti kalau sudah saatnya, kamu juga akan tahu."
"Kakak tetap mau rahasiakan obrolan kalian? Kakak enggak takut kalau aku mati penasaran?"
"Hust! Kalau ngomong jangan asal, Dek!"
Aku memutuskan untuk diam. Percuma juga memaksa Kak Risqi. Dia tipe laki-laki yang tidak gampang dipaksa oleh siapapun. Ibunya bahkan sudah membocorkan sifat-sifat Kak Risqi yang belum kuketahui.
Tiga puluh menit kemudian kami sampai di tempat acara. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kami berhenti di tempat parkir untuk mengamankan kendaraan yang kami bawa.
Kak Risqi menggandengku menuju lapangan. Tempat itu sudah dipadati oleh para penonton yang sudah memenuhi area depan panggung.
"Kita beli minum dulu, yuk!" Kak Risqi menggandengku untuk mencari stand penjual minuman.
Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Selama beberapa bulan kenal dan pergi bersama Kak Risqi, aku jarang sekali melihat Kak Risqi minum air putih. Dia selalu minum es, jika tidak selalu minuman teh dalam kemasan.
"Mau keliling dulu atau langsung ke depan panggung, Dek?" tanya Kak Risqi meminta pendapatku.
"Bebas, Kak. Mau keliling sebentar juga boleh," jawabku singkat.
Kak Risqi kembali menggandengku menuju tempat yang sedikit sepi. Kami berdua berhenti tepat dibawah pohon besar. Ketika sudah berada di sana, Kak Risqi melepaskan gandengan tangannya.
Dia duduk lesehan di bawah pohon rindang. Aku pun ikut duduk di sampingnya. Menikmati momen berdua seperti ini adalah kegemaran kami. Meski kami tidak memiliki hubungan apapun.
"Dek!" Kak Risqi memanggilku dengan suara lirih.
"Iya," jawabku seraya menatapnya. Entah kenapa aku menangkap ekspresi lain di wajah Kak Risqi kali ini.
"Udah berapa lama kita kenal, Dek?" tanyanya ragu-ragu. Terlihat dari tangannya yang mencabuti rumput-rumput di depannya.
"Hampir setengah tahun, Kak." Aku menjawab setelah sekian lama mencoba mengingat waktu pertama kali bertemu dengannya. "Memang kenapa?" tanyaku heran.
__ADS_1
"Gimana perasaan kamu ke kakak?" tanyanya yang kini memberanikan diri menatap wajahku.
"Perasaan apa, Kak?" tanyaku pura-pura tidak paham arah pembicaraannya.
Dia memalingkan wajahnya, kedua tangannya masih saja memainkan rumput-rumput di depannya. Tiba-tiba saja perasaan aneh itu datang lagi.
Aku bingung harus menjawab apa? Jika kujawab perasaanku masih sama seperti dulu, aku takut nanti dia akan meninggalkanku. Tapi, jika aku mengungkapkan perasaanku, pun aku takut jika suatu saat nanti hubungan kita berakhir dia juga akan pergi dariku.
"Kamu sama sekali enggak ada perasaan sama kakak?" Dia kembali menatap wajahku, kali ini aku yang memalingkan wajah.
"Dek!" Sepertinya Kak Risqi benar-benar ingin kepastian dariku malam ini. Tapi, aku belum siap.
"Kak, bisa enggak jangan bahas perasaan. Kakak tahu kan kalau aku dan Farid baru putus beberapa Minggu yang lalu." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan kami.
"Kakak tahu. Tapi kamu tahu kan kalau kakak mencintai kamu. Kalau kamu begitu, terus gimana sama perasaan kakak selama ini, Dek?"
"Kita jalani saja dulu, Kak. Tidak perlu menegaskan hubungan kita sebagai apa? Yang jelas kita memiliki komitmen untuk saling menjaga satu sama lain," jawabku sejelas mungkin agar Kak Risqi mau mengerti.
"Jadi, kamu enggak mau punya status yang jelas sama kakak, Dek?"
"Kak, tolong jangan tekan aku sekarang, Kak. Aku nyaman dengan hubungan kita saat ini. Aku enggak mau jika kita pacaran dan suatu saat kita putus, kita akan saling meninggalkan," kataku dengan tegas.
"Kakak janji enggak akan ninggalin kamu, Dek. Tapi kakak juga butuh kepastian," katanya dengan suara sendu.
Aku tahu Kak Risqi kecewa dengan keputusanku. Tapi, aku juga tidak mau hubungan kita rusak jika dibarengi dengan status pacaran.
"Apa yang mau kakak pastikan? Apa dengan aku selalu bersama kakak tidak cukup untuk menegaskan bahwa kakak lebih berharga dari apapun untukku?"
"Kakak butuh jawaban pasti tentang perasaan kamu, Dek!" Kini Kak Risqi sedikit meninggikan suaranya.
"Kalau kakak tetap bersikeras menekanku seperti ini, aku mau pulang aja, Kak." Aku benar-benar bangkit dari duduk, kemudian hendak melangkah pergi. Namun, Kak Risqi menahan pergelangan tanganku.
"Jangan pergi! Kakak janji tidak akan membahas tentang perasaan lagi," katanya dengan kedua mata berkaca-kaca.
Jika ditanya bagaimana perasaanku, aku juga tidak ingin melihat Kak Risqi kecewa padaku. Tetapi aku benar-benar belum siap untuk memulai hubungan lagi bersama orang lain.
"Jujur aku mulai ragu dengan ketulusan kakak. Jika memang kakak tulus, kakak tidak akan memaksaku untuk membalas perasaan kakak. Apa lagi, kakak pernah bilang bahwa kakak tidak akan mengajakku untuk berpacaran."
__ADS_1