
Devano keluar dari rumah sang ayah dengan perasaan yang kacau. entah dia tak mengerti dengan jalan pikiran ayahnya. dia langsung pergi mengendarai mobilnya tanpa arah tujuan hatinya sedikit nyeri. dan saat itu suara ponselnya berdering.
"Hormat pak. disini kapten devano prawira". dia mengangkat telpon yang tak lain dari komandan tertinggi.
"Baik pak".
"Siap saya sekarang segera ke sana. hormat". lalu dia menutup telpon dan memutar arah kendaraannya.
Hampir dua jam devano menyetir untuk sampai di markas besar. dia langsung berjalan menuju ruangan komandan tertinggi yang tak lain adalah ayah alice.
Tookktookkkk...
Pintu di ketuk oleh devano. dan saat asa yang mempersilahknnya masuk dia langsung membukanya dan masuk kedalam.
"Selamat sore pak". devano menyapa sambil tangannya memberi hormat.
"Duduk lah". ayah alice hanya mengangguk lalu dia duduk di sofa yang ada di ruangan itu bukan di kursi kebesarannya dan menyuruh devano duduk.
"Siap pak".
"Bagaimana keadaan sersan gio".
"Siap pak dia sudah mulai membaik. tinggal 2 kali atau 3 kali terapi lagi mungkin dia sudah bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat".
"Syukurlah. kalau begitu setelah masa cutimu habis kau dan tim mu harus pergi keperbatasan. sepertinya negara tetangga ada yang sudah mulai mengajak kita untuk berperang. tapi ingat sebisa mungkin kita hindari peperangan". saat komandan tertinggi menjelaskan devano tidak fokus pikirannya masih tertuju pada ucapan ayahnya.
__ADS_1
"vano vanooo. Devanooooo". dan akhirnya ayah alice pun berteriak. karena tak ada tanggapan sedikitpun dari devano. dan hal itu membuat devano terkejut.
"Siap pak. maaf saya kurang konsentrasi". ayah alice mengerutkan keningnya. baru pertama kali ini devano tampak tak konsentrasi. itu membuat ayah alice penasaran.
"Ada apa. kau kenapa. mungkin aku bisa bantu".
"Aahhh tidak ada pak".
"Ok jika kau tidak mau cerita. lebih baik kau selesaikan masalahmu sebelum bertugas kembali. karena jika masalahmu belum selesai sepertinya kau akan di berangkatkan namun akan di tahan dan jabatanmu akan di copot untuk sementara waktu. karena aku tak mau akibat kau kurang konsentrasi negara menanggungnya". penuh penekanan
Devano terdiam. dia merenung tanpa menjawab ucapan dari komandan tertingginya itu. lalu dia memberanikan diri untuk menatap wajah sang komandan tertinggi.
"Pak bisakah aku bertanya namun bukan sebagai seorang komandan tertinggi. aku ingin bertanya kepada anda sebagai ayahnya alice".
"Dulu apa alasan anda tidak menyetujui hubungan alice dengan sersan gio pak. dan kenapa anda bisa merestuinya".
"Sepertinya kau sedang mengalaminya sekarang". ayah alice tersenyum licik.
"Begitulah pak. pantas saja dulu alice seperti frustrasi sekali. jadi beginilah rasanya".
"Kau harus percaya satu hal vano. setiap orang tua pasti punya keinginan untuk melihat anaknya hidup bahagia. dan ingin yang terbaik untuk anaknya. bersabarlah. dengan berjalannya waktu kau akan tau apa alasan ayahmu. dan semoga dia bisa menerima wanita pilihanmu".
"Apakah iya dengan berjalannya waktu ayah akan bisa menerima. sepertinya mustahil pak. aku belum memintanya untuk menemaniku melamar saja. ayah sudah bicara takan datang jika aku memaksa menikah".
"Apa kau benar-benar serius dengan kayren. kenapa kau tak mencoba menerima perjodohanmu dengan kimberly dia dari keluarga baik-baik juga". tanya ayah alice mencoba menyelidik dia ingin tau seberapa seriusnya devano.
__ADS_1
"Kimberly memang dari keluarga baik-baik pak. tapi entah kenapa hatiku tak pernah tergerak olehnya. dan dia tak pernah merubah sikapnya selalu pulang pagi. menghamburkan uang hanya untuk kesenangannya dan ke glamuorannya saja. apa pantas istri seorang pasukan militer pulang pagi dari club malam pak. aaahhhh aku membayangkannya saja sudah tak bisa pak". devano menghela nafas panjang.
"Lalu kayren".
"Entahlah pak. tanpa alasan aku tertarik padanya. bahkan sebelum aku tau dia anak orang berada bahkan mungkin gaji ku cuma seperempat dari gaji nya. atau bahkan tidak ada apa-apanya dari uang yang bisa papihnya berikan. namun dia tak pernah menunjukannya. dia selalu sederhana tak pernah glamour memakai barang brnaded meski dia bisa membelinya".
"Ok karena aku adalah komandanmu aku bertanggung jawab atas dirimu. dan aku bisa jadi walimu untuk melamar kayren". ayah alice berdiri dan menepuk pundak devano. devano melirik dan menatap ayah alice.
"Apakah itu bisa pak".
"Tentu bisa. kita bilang saja ayahmu sedang tidak bisa menemanimu dan aku lah yang menjadi penggantinya. bagaimana". ayah alice tersenyum dan terlihat senyum kebahagiaan di wajah devano.
"Siap pak terimakasih saya akan mengabarkannya kepada kayren".
"Pergilah kabarkan kepada kayren".
"Permisi pak". devano berpamitan dan tak lupa dia memberi hormat kepada komandan tertingginya.
Kau sangat keras kepala kusuma. kau mengesampingkan kebahagiaan anakmu hanya karena masalalu. haaaahhhh. gumam ayah alice dia menarik nafas panjang mengingat ayah devano.
πππππππππππππππ
**HAPPY READINGππ
AKU USAHAIN UP LEBIH DARI SATU EPISODE YA KAKA JANGAN LUPA LIKE RATE COMENT DAN VOTE AKU TERUSππππ**
__ADS_1