Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta

Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta
Bab 22. Bertemu gadis kecil imut


__ADS_3

Maaf ada kesalahan pengetikan di bab sebelumnya, Dylan itu adik Axelia. Bukan kakaknya ya...❀️❀️ happy reading


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Dylan dan Axelia, anak kembar yang memiliki nama belakang Foster mengikuti nama belakang Amy dan Albert. Ya, itu karena Natasha bahkan tidak ingat dengan namanya sendiri. Dylan sendiri memiliki paras yang mirip dengan Aiden, sikapnya yang cuek dan dingin. Sedangkan Axelia, gadis kecil itu memiliki sifat ceria seperti ibunya waktu kecil, akan tetapi, keras kepalanya seperti Aiden.


Pagi itu Axelia, Dylan, Amy, Albert dan Natasha sarapan bersama. Sebelum Albert dan Natasha akan berangkat bekerja. Ya, ini hari pertama Albert bekerja dan Natasha akan mengantarkan pria yang ia anggap adik itu ke tempat pertamanya bekerja. Albert diterima bekerja di salah satu perusahaan cabang Dacosta Grup yang berada di pulau itu. Selama ini Natasha dan kedua anak kembarnya tinggal di kepulauan Channel. Lebih tepatnya selat Dover dan kepulauan Channel, berada di selat ini juga lebih dekat dengan Prancis. Île d'Ouessant menandakan ujung barat Selat Inggris.


Padahal jarak diantara Aiden dan Natasha tidak terlalu jauh. Namun Aiden kesulitan menemukannya, atau jangan-jangan pria itu sudah mempercayai Natasha dan anak mereka sudah meninggal dunia?


"Axe dan Dy, kalian patuhlah dengan Oma Amy. Mommy dan uncle Albert akan pergi bekerja dulu." ucap Natasha kepada kedua anaknya, seraya mengusap kepala si kembar. Axe dan Dy adalah nama kecil, alias nama panggilan Natasha untuk kedua anaknya itu.


Sebenarnya Natasha tidak mau meninggalkan anak-anaknya di rumah, dia lebih menyukai menjadi ibu rumah tangga yang fokus mengurus anak-anak. Tapi kalau tidak bekerja, darimana dia bisa menghidupi kedua anaknya? Amy dan Albert bersedia menanggung biaya Natasha dan kedua anaknya tanpa pamrih, namun Natasha tidak mau jadi orang yang tidak tahu diri. Dia sudah diselamatkan, menumpang disana. Mana mungkin merepotkan Amy dan Albert lebih banyak lagi. Mereka sudah terlalu baik padanya dan ini saatnya Natasha membalas kebaikan mereka. Apalagi nyonya Amy sudah tidak lagi bekerja di rumah sakit sekarang dia berada di rumah, ia hanya melayani pasien yang datang ke rumahnya saja. Ya, semenjak ia sakit-sakitan. Amy diistirahatkan oleh atasannya.


"Kau tenang saja Kim. Ibu akan menjaga dua cucu ibu." sahut Amy dengan senyuman dibibirnya. Amy baik sekali kepada Dylan dan Axelia, walaupun kedua anak itu bukanlah darah dagingnya sendiri. Albert juga menganggap Natasha dan si kembar adalah keluarganya.


"Terimakasih Bu. Kalau ada apa-apa telpon saja aku ya?" Natasha berpamitan pada Amy.


"Iya nak." Amy menganggukkan kepalanya.


"Bu, Albert juga berangkat dulu ya." kali ini giliran Albert yang pamit pergi pada ibunya.


"Iya nak, kalian hati-hati di jalan ya." Amy selalu mengingatkan kepada kedua anaknya untuk selalu berhati-hati di setiap langkah mereka.


"Princess dan princenya uncle, uncle berangkat dulu ya! Nanti sore kita main lagi!" Albert mengacak-acak rambut kedua anak kembar itu sambil tersenyum lebar.


Jika Axelia tersenyum ramah, beda halnya dengan Dylan yang terlihat datar. Albert merasa Dylan tidak mirip dengan Natasha yang banyak bicara. Pasti Dylan mirip dengan daddynya, yang entah siapa. Natasha juga tidak mengingatnya. Namun bagaimana bila mereka bertemu? Apa ia akan ingat? Pikir Albert dalam hatinya.


Albert dan Amy kadang merasa kasihan pada Natasha yang mencoba mengingat masa lalunya, wanita itu selalu terlihat bingung dan linglung. Kadang tatapan matanya kosong, atau kadang banyak pikiran. Sebenarnya keinginan Natasha kuat untuk mengingat masa lalu, terutama tentang identitas ayah si kembar. Sudah 6 tahun Natasha kehilangan ingatannya, Amy jadi merasa bahwa Natasha mengalami hilang ingatan permanen akibat kecelakaan yang menimpanya.


Dulu saat Albert menemukan Natasha, kondisi gadis itu sangat memprihatikan. Natasha berada dalam posisi tengkurap dengan rambut acak-acakan ditepi pantai, dia tidak sadarkan diri dengan beberapa luka di tubuhnya. Tapi sekarang keadaannya sudah jauh lebih baik, Natasha bisa kembali tersenyum dan kuat karena kedua anaknya juga.


Setelah kepergian ibu dan pamannya, Axelia bermain sambil menonton televisi. Kebetulan hari itu hari libur untuknya dan sang adik Dylan di sekolah TK. Dylan menghampiri Amy yang sedang menonton tv bersama Axelia. Wajah anak itu terlihat serius, kadang Dylan terlihat dewasa dibanding anak seumurannya. Walau sebenarnya Axelia jauh lebih tua 15 menit dari Dylan.


"Dylan? Ada apa nak? Kau tidak membaca buku?" tanya Amy yang terheran-heran melihat Dylan berdiri didepannya. Tatapan anak itu menghunus tajam kepadanya. Biasanya Dylan akan membaca buku walau pada hari libur, tapi kenapa sekarang anak ini ada didepannya?


"Dylan...Oma sedang bertanya padamu. Ada apa?" tanya Amy lagi karena Dylan tak kunjung menjawab, hanya menatapnya saja. Tapi Amy bisa melihat ada kegelisahan di wajahnya.


"Oma...ada yang ingin aku katakan pada Oma." akhirnya si irit bicara, si bicara seperlunya itu mengatakan sesuatu. Axelia juga tertarik dengan apa yang akan dikatakan oleh saudara kembarnya pada Amy.


"Kau mau bicala apa dengan Oma, wahai adikku?" Axelia bertanya dengan aksen yang masih belum lancar berbicara, beda dengan Dylan yang sudah jauh lebih didepannya.


"Lebih baik perbaiki ucapanmu dulu, baru bertanya padaku."


Pedas dan menusuk, Dylan selalu saja bisa membuat kakaknya kehilangan kata-kata. Axelia mencebik sebal pada Dylan. "Yang sopan padaku! Aku ini kakakmu."


"Kau hanya lahir 15 menit lebih awal dariku, pada dasarnya kita sama saja." pungkas Dylan datar.


"Dy, menyebalkan!" ketus Axelia kesal.


"Ya sudah, mending kau pergi saja menggambar. Aku mau bicara pada Oma." Dylan mengusir adiknya secara terang-terangan.


"Aku juga mau dengal!" seru Axelia dengan wajah kesalnya yang menggemaskan itu pada sang kakak.


"Anak kecil tak boleh mendengarnya. Sudah sana, pergilah!"


"Memangnya kau olang dewasa apa? Huh! Dy sangat menyebalkan! Ya sudah, aku mau main di taman belakang saja," ujar Axelia dengan langkah besarnya, pergi ke arah halaman belakang. Tak lupa ia membawa kanvas dan alat lukisnya juga, Axelia suka melukis.


Setelah memastikan Axelia sudah pergi ke taman belakang. Dylan mengambil tablet PCnya dan mengambil tempat duduk disamping neneknya. Amy menatap Dylan yang serius sekali. "Ada apa Dy?" tanya Amy.


Dylan tidak bicara, namun ia menunjukkan sesuatu di tabletnya. Sebuah gambar seorang pria yang tak lain adalah seorang pengusaha besar ada disana. Amy memakai kacamatanya untuk melihat dengan jelas wajah pria di dalam gambar itu.

__ADS_1


Amy tercengang saat melihat wajahnya, matang melebar dan menatap Dylan seakan mengerti apa maksud cucunya itu. "Nak, pria ini mirip sekali denganmu! Astaga! Dia adalah pemimpin grup besar Dacosta." teriak Amy terkejut. Melihat gambar Aiden disana, bisa dibilang mirip dengan Dylan versi dewasa.


Tanpa mereka sadari, Axelia menguping pembicaraan mereka dibalik tembok. Gadis kecil itu mengangguk-anggukan kepalanya. '**Jadi Daddyku adalah Presdir Dacosta grup! Aku halus cari d**addy!' batin Axelia.


"Berarti ini bukan perasaanku saja kan? kalau aku memang mirip dengannya. Oma, apakah orang ini adalah Daddyku dan Axelia?" tanya Dylan gelisah.


"Dylan, kau tau sendiri kan kalau mommymu mengalami hilang ingatan. Jadi Oma juga tidak tahu tentang ayah kandung kalian berdua. Mommymu saja tidak tahu, nak." jelas Amy dan tidak ada kebohongan disana. Ia mengatakan pada Dylan semua yang diketahuinya tentang Natasha.


"Iya Oma, aku tau itu. Tapi aku ingin tau pendapat Oma tentang pria ini." kata Dylan dengan tetap tenang.


"Oma tidak mau asal berasumsi, tapi melihat kemiripan kalian. Mungkin apa yang kau pikirkan itu benar, nak." Amy mengatakan apa yang ada didalam pikirannya. Dia mengakui kemiripan Aiden dengan Dylan.


Ketika saudara kembarnya masih mengobrol dengan neneknya. Axelia sedang bersiap-siap pergi dari rumahnya secara diam-diam. Ia tidak sabar ingin bertemu dengan papanya, ia harus bertemu lebih dulu dengan papanya dan memamerkan keimutannya.


"Dy, tidak boleh beltemu dengan papa telebih dahulu. Atau nanti Papa akan memuji-muji Dy kalena dia pintar. Kali ini, aku yang halus beltemu dengan Papa untuk peltama kalinya." gumam gadis kecil itu, lalu membawa tas ransel dan boneka kesayangannya yaitu boneka Pororo. Diam-diam gadis itu keluar dari rumahnya, membawa uang 10 dollar yang ia pecahkan dari celengan untuk ongkos ke Dacosta grup.


"Dacosta grup! Papa, Axe datang!" kata gadis itu seraya mengulum senyum lebar dan penuh semangat. Gadis itu pergi dari rumah tanpa sepengetahuan adik dan neneknya. Di dalam perjalanan mencari kendaraan, Axelia terus mengingat-ingat nama Aiden, takutnya ia lupa.


****


"Perusahaanmu besar juga ya Albert, semoga kau nyaman bekerja disini." Natasha melihat gedung mewah didepannya itu. Dari sekian banyak orang, Albert bisa diterima bekerja disana setelah melalui wawancara dan tes yang sulit. Albert terpilih dengan posisi sebagai anggota tim pemasaran.


Albert tersenyum lebar, ya ini memang impiannya untuk bekerja di Dacosta grup."Iya kak, aku pasti akan betah."


"Baguslah, kalau begitu kakak pergi dulu ya. Semangat kerjanya!" Natasha menyemangati adiknya itu. Albert menganggukan kepalanya, dia semangat bekerja. Apalagi hari ini ia akan bertemu dengan pimpinan Dacosta grup. Kebetulan pimpinan perusahaan besar itu akan berkunjung ke perusahaan cabangnya hari ini.


"Iya kakak juga ya!" seru Albert yang menyemangati Natasha juga. Natasha sendiri, dia bekerja sebagai penulis dan editor di sebuah perusahaan penerbit bernama perusahaan Eisha. Sebelum hilang ingatan, dari dulu Natasha ingin menjadi seorang penulis buku.


Natasha hendak masuk ke dalam mobilnya setelah ia mengantar Albert. Namun langkahnya terhenti dan atensinya tertuju pada papan nama gedung perusahaan itu. DACOSTA GRUP, tulisan yang besar.


"Kenapa rasanya aku tidak asing dengan nama perusahaan itu? Ah--sudahlah, mana mungkin kan dimasa lalu aku pernah bekerja di perusahaan sebesar ini. Aku bahkan tidak tahu aku kuliah lulusan apa." gumam Natasha yang masih menatap sendu pada papan nama gedung itu.


Seorang pria berpakaian rapi membukakan pintu mobil untuk seseorang yang duduk dibelakang kursi kemudi. Terlihat seorang pria bertubuh tinggi, tegap, berwajah tampan namun sorot mata yang dingin itu keluar dari mobil.


"Selamat pagi pak Presdir!" sapa semua orang pada seseorang yang dipanggil Presdir itu.


Pria itu berwajah dingin dan tidak menjawab sapaan mereka. Sejak wanita yang ia cintai menghilang 6 tahun lalu darinya, pria itu banyak berubah. Aiden Addison Dacosta, si pria dingin dan tidak berperasaan, terutama pada wanita-wanita yang mencoba merangkak naik dengan menggodanya. Pria itu menjadi workaholic, menggila sejak separuh hidupnya mati.


"Dimana para karyawan baru itu? Aku harus melihat mereka." Aiden berkata pada sekretarisnya yang bernama Branz yang baru saja membukakan pintu mobil untuknya. Pria yang sudah bekerja untuk Aiden selama 6 tahun.


"Mereka ada disini pak." jawab Branz seraya menunjukkan beberapa karyawan baru yang berjejer disini. Aiden hanya menatapnya dengan dingin tanpa menunjukkan minat.


"Hanya segini?" tanyanya dingin pada Branz.


"Mungkin sebagian dari mereka ada di kantor timnya, pak." jelas Branz.


"Apa harus aku sendiri yang kesana untuk menemui karyawan baru?" ucap pria itu sarkas dengan tatapan membunuh pada mereka semua yang ada disana.


Pak presdir marah. Celaka! Hari ini moodnya lebih buruk dari biasanya karena dia mendapatkan kabar lagi bahwa nona Satigo sudah tiada. Batin Branz yang sudah tau tentang kemarahan dan kesedihan bosnya itu.


"Saya akan memanggil mereka, pak." Branz mengatakannya sambil menundukkan kepalanya.


"Tidak perlu! Aku sendiri yang akan kesana." kata Aiden dengan suara datar namun menusuk dan dingin.


Branz dan semua orang disana terlihat tegang, bahkan hanya dengan melihat tatapan matanya saja mereka bisa saja mati. Aiden berjalan diikuti oleh Branz dan beberapa bawahannya, kemudian dia berkeliling ke setiap departemen di kantor cabang perusahaannya. Aiden tidak akan melepaskan orang yang bermalas-malasan bila ia menemukan orang seperti itu.


****


Di dalam taksi, Axelia bersama dengan seorang wanita tua. Axelia menggunakan rayuan memelas dan wajah imutnya untuk meminta si wanita tua mengantarkannya ke Perusahaan Dacosta. Jujur saja, ini pertama kalinya Axelia pergi keluar rumah tanpa Itang dewasa. Jika itu Dylan, pasti akan berbeda dengannya yang penakut. Axelia tidak seberani itu untuk pergi seorang diri.


"Maafkan nenek ya nona imut, nenek tidak bisa mengantarmu masuk ke dalam. Nenek sudah terlambat untuk berobat ke rumah sakit." cetus si nenek itu merasa bersalah karena hanya bisa mengantar Axelia sampai ke depan gedung kantornya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa nenek. Sebagai lasa telimakasih ku, aku akan membelikan nenek semua uang yang ku punya...hehe." kekeh gadis kecil itu sambil menyodorkan yang 10 dollar yang ia punya dari celengan, uangnya juga recehan.


Wanita tua itu tersenyum lalu mengusap pelan kepala Axelia. "Tidak perlu, nenek ikhlas membantumu."


"Ta-tapi..."


"Masuklah ke dalam! Bukankah kau mau bertemu dengan papamu?" kata wanita tua itu ramah. Dia gemas dengan Axelia.


"Nenek adalah wanita tua yang baik. Baiklah, kalau nenek tidak mau uang. Aku akan membelikan ini! Ini permen kesukaanku, aku hanya membelikan pelmen ini kepada orang yang aku sayang. Dan aku juga cayang nenek!" Axelia tersenyum seraya memberikan 4 bungkus permen yang meledak di mulut dan 1 permen lollipop yang akan berwarna biru lidah bila diemut.


"Kau sangat menggemaskan! Semoga kau bertemu dengan papamu, nak." Wanita tua itu menerima semua permen dari Axelia.


"Iya nek!" Axelia mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu ia pun berlari sambil menggendong tasnya ke dalam gedung.Tentu saja perjuangan Axelia tidak mudah, ia ditahan oleh orang lain di bagian informasi dan petugas keamanan yang ada disana.


"Maaf nona, kau tidak bisa masuk dan bertemu Presdir."


"Tapi kenapa? Aku cuma ingin melihat wajahnya saja untuk memastikan cecuatu. Tidak bolehkah aku melihat wajahnya cebentar, kakak cantik?" Bukan Axelia namanya kalau tidak bisa merayu. Tatapan memelas dan keimutan Axelia, membuat kedua wanita dari bagian informasi itu tak tahan lagi.


"Bagaimana ini, dia sangat imut." bisik wanita berambut pendek pada temannya.


"Dia bilang hanya ingin melihat wajahnya saja kan? Ya sudah kita izinkan saja dia melihat wajah pak presdir sebentar. Kita juga akan mengawasinya." saran temannya itu setuju.


"Baiklah." wanita rambut pendek itu mengalihkan pandangan dari temannya kepada Axelia. "Baiklah nona kecil, kau boleh melihat--ah kemana dia?" kedua wanita itu terkejut manakala mereka tidak melihat Axelia berada disana lagi.


Rupanya Axelia berada di bawah troli tukang bersih-bersih yang mana troli tersebut sedang berada didalam lift menuju ke ruangan Presdir.


"Axelia, kau memang pintal! Kali ini Dy pasti akan memujiku kalena aku celdas." Axelia tertawa cekikikan dibawah troli roda tanpa ada yang menyadarinya.


Gadis kecil itu akhirnya sampai ditempat tujuan tanpa bersusah payah berjalan kaki. Saat office boy itu sedang bersih-bersih di lantai atas Presdir, Axelia keluar diam-diam dari bawah troli itu.


"Dimana ya ruangan Presdilnya? Pasti papaku ada disana." gumam gadis kecil itu sambil berlari-lari kecil mencari ruangan Presdir di lorong itu. "Ahah! Itu dia!" Axelia tersenyum lebar, kemudian dia berlari menuju ke ruangan Presdir yang kebetulan pintunya terbuka. Ruangan itu sepi, ya itu karena Aiden dan Branz masih ada di lantai bawah untuk inspeksi.


Axelia melihat meja ruangan itu,tampak rapi dan bersih. Tapi sepertinya jarang ditinggali oleh pemiliknya. Ya, Aiden memang jarang kesana karena dia sibuk di kantor pusat yang ada di London.


Cekret!


Axelia mendengar suara pintu terbuka, buru-buru ia bersembunyi di bawah meja presdir. Aiden baru saja masuk ke ruangan itu seorang diri. Ia langsung duduk di kursi, tepat ada Axelia dibawah mejanya.


"Dimana kau sebenarnya? Apa kau sengaja bersembunyi dariku?" gumam Aiden sambil mengambil sesuatu dari sakunya. Ia mengambil permen kesukaan Natasha. Ia selalu memakannya ketika suntuk dan selalu mengingatkan ia akan Natasha.


Saat membuka permen itu, tak sengaja permennya malah jatuh ke bawah. Aiden pun membungkukkan badannya untuk mengambil permen tersebut. Alangkah kagetnya Aiden saat melihat seorang anak kecil ada di bawah mejanya.


"Ini pelmennya paman!" Axelia tersenyum santai, ia mengambilkan permen itu dan di serahkan pada Aiden.


Aiden tertegun melihat wajah gadis kecil didepannya ini yang familiar baginya. Tanpa diminta air matanya luruh saat melihat gadis kecil itu.


Kenapa anak kecil ini mirip dengan Natasha?


Kenapa paman ini mirip dengan Dy? Axelia sendiri sibuk memperhatikan wajah Aiden.


****


Di kantor tempat Natasha bekerja, ia baru sana menerima telpon dari Amy kalau Axelia menghilang entah kemana. Amy dan Dylan sedang mencarinya, mereka pikir Axelia bermain di taman belakang atau ke lantai. Namun Axelia tidak ada disana.


"Maafkan saya pak, saya izin pulang lebih dulu untuk mencari putri saya." kata Natasha meminta izin pada bosnya.


Wendy bosnya berkata. "Baiklah, tidak apa. Kau harus menemukan putrimu. Kalau penyakitnya kambuh, akan berakibat buruk. Semoga putrimu baik-baik saja."


"Terimakasih nona Wendy!" tak lupa wanita itu berterima kasih pada bosnya sebelum pergi mencari Axelia. Natasha sangat takut terjadi sesuatu pada putrinya, takut diculik, takut penyakitnya akan kambuh.


...****...

__ADS_1


__ADS_2