Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta

Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta
Bab 31. Beraninya kau


__ADS_3

Warning ❌ Ada sedikit adegan kekerasan disini!


...🍀🍀🍀...


Kegelisahan terus melanda hatinya, dia sangat mencemaskan keadaan Natasha. Apalagi saat ia tau dari Albert, bahwa Natasha belum pulang juga. Di kantornya juga tidak ada, dia dan bosnya yang bernama Wendy itu tidak ada. Aiden jadi negatif thinking pada Wendy, takut pria itu berbuat macam-macam. Namun Emily mengatakan pada Aiden bahwa Wendy itu adalah kaum pelangi, dia tidak suka pada wanita dan sudah memiliki kekasih seorang pria dari salah satu negara di Asia tenggara.


Baiklah, Aiden sedikit lebih tenang. Wendy tidak akan melakukan sesuatu pada Natasha, tapi dimana mereka saat ini? Apakah Natasha baik-baik saja? Perasaan Aiden semakin tidak nyaman. Ia meminta orang-orang suruhannya untuk mencari keberadaan. Dan bodohnya dua orang di yang diperintahkan oleh Aiden untuk mengawal Natasha, juga ditemukan di sekap di salah satu gudang. Jelas, ini semua disengaja. Siapa yang merencanakannya? Aiden sendiri tidak tahu.


"Maafkan kami bos, kami tidak tahu akan jadi seperti ini..."


"Bos, ampuni nyawa kami!"


Kedua pria bertubuh besar dan berpakaian serba hitam itu memohon ampun, berlutut didepan Aiden. Wajah mereka babak belur, bahkan sudut bibir mereka robek karena Aiden yang menghajar mereka habis-habisan. Ia marah pada dua orang pengawal yang tidak becus itu.


Aiden menendang kedua orang itu dengan keras, sampai tubuhnya kembali ambruk ke lantai. Dia benar-benar murka, apalagi jika sampai terjadi sesuatu pada Natasha. Branz dapat melihat ketakutan, kematian dan kekhawatiran dari bosnya itu. Dia tidak mampu menghentikannya saat ini.


Aiden menarik baju salah satu orang suruhannya itu. Dia menatap murka padanya. "Bodoh! Untuk apa aku memperkerjakan kalian? Katanya kalian profesional? Menjaga satu orang saja tidak becus, bodoh! BRENGSEK!"


BUGH!


Entah untuk ke berapa kalinya Aiden memukul pria itu. Sampai punggung tangannya memerah karena saking kerasnya pukulan itu. Tapi Aiden tidak peduli, amarahnya harus tumpah!


Jika pak presdir terus memukuli mereka, mereka bisa mati. Tidak, aku tidak bisa membiarkan pak presdir menjadi seorang kriminal. Kali ini Branz mulai khawatir sebab Aiden mulai hilang kendali dan memukuli kedua orang itu dengan membabi buta.


Branz memberanikan diri menahan tangan Aiden, mengehentikan serangan pria itu pada kedua anak buahnya yang sudah berdarah-darah. "Pak! Saya mohon hentikan! Mereka bisa mati pak!"


"Lepaskan aku Branz! Apa kau yang mau mati?!" sentak Aiden seraya menatap tajam pada Branz yang telah lancangnya menyentuh bahkan menahan tangan Aiden.


"Pak, saya tidak mau bapak menjadi seorang kriminal. Jadi saya mohon, jangan lakukan ini! Kita harus cari nyonya tuan, bukankah kita harus segera menemukannya?" Aiden tidak berontak lagi setelah mendengarkan ucapan Branz, pria itu lantas menatap Branz.


"Apa kau sudah dapat info di hotel mana si brengsek Everton itu berada?" tanya Aiden.


"Be-belum pak." Branz terlihat gugup.


"Sialan!" Aiden menyugar rambutnya dengan kasar. Kemudian dia menatap kedua anak buahnya dengan sengit.


"B-bos..."


"Kalau kalian mau hidup! Bantu aku mencari calon istriku dan berdoa saja tidak terjadi apa-apa padanya. PAHAM?!" teriak Aiden yang akhirnya memberikan kesempatan pada kedua bodyguard itu untuk hidup.


"Terimakasih bos...kami akan mencari nyonya." kedua pria itu menundukkan kepala mereka dengan takut. Namun hati mereka lega sebab Aiden memberikannya kesempatan kedua.


Kemudian mereka semua melanjutkan perjalanan menuju ke hotel selanjutnya. Sudah 3 hotel di kota itu, Aiden datangi untuk mencari Natasha. Tidak ada nama pemesan kamar atas nama Natasha, Everton ataupun Wendy, jadi agak sulit untuk menemukannya.


Hingga ketika mereka akan sampai ke hotel keempat, salah satu dari bodyguard yang tadi di pukuli itu mendapatkan salah satu informasi bahwa ada salah satu penginapan yang tidak terkenal dan ada nama pemesan Everton disana.


"Kita kesana sekarang! Ngebut Branz!" seru Aiden pada Branz yang sedang menyetir mobil. Branz menyetir mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi, namun Aiden merasa Branz menyetir seperti siput.


"Kau menyetir seperti siput! Turun dan biarkan aku yang menyetir mobilnya!" sentak Aiden marah.


"Tapi pak--"


"Branz, aku tidak akan mengatakannya dua kali. Kau tau kan aku tidak suka mengulangi ucapan ku!" ancam pria itu dengan tatapan tajam yang mengarah kepada sekretarisnya. Branz tidak berkutik melawan tatapan bosnya itu.


Branz segera menepikan mobilnya di pinggir jalan, kemudian dia berganti posisi tempat duduk dengan Presdirnya. Kini Aiden sudah berada di jok kemudi, sedangkan Branz berada di sampingnya. Baru beberapa detik berganti posisi, Aiden langsung tancap gas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sampai Branz dibuat terkejut dengan skill mengemudinya.


Ya Tuhan, ASTAGA! Apa pak Presdir berubah menjadi orang sinting? Dia mengemudikan mobil dengan kecepatan seperti ini... apa dia ingin langsung pergi ke akhirat? Oh tuhan... aku masih ingin hidup. Batin Branz sambil berpegangan pada bagian jok belakang mobil itu. Aiden mengemudikan mobilnya dengan begitu kencang, tanpa mempedulikan rambu-rambu lalu lintas ataupun petugas kepolisian yang mungkin saja bisa ada di sana.

__ADS_1


Gila! Apa mereka mau mati? Pikir orang-orang yang saat ini berlalu-lalang di jalanan tersebut. Jalanan yang dilalui si pengemudi yang dibilang sinting oleh Branz.


"Pak, kau bisa jadi pembalap kalau cara mengemudi Anda seperti ini."


"Branz, tutup mulutmu itu!" Serka Aiden dengan pandangan yang masih tertuju ke depan. Dia meremasa setir kemudi dengan perasaan gelisah, kakinya menginjak pedal gas dengan kuat.


Jika sampai terjadi sesuatu padamu, aku bersumpah akan menghancurkan si Everton itu.


****


Pukul 8 malam, di sebuah apartemen yang dibeli oleh Aiden.


Ivana, Theo dan juga Starla berada di sana. Mereka diminta pindah oleh Aiden dari hotel ke apartemen agar lebih nyaman. Apartemen tersebut tidak jauh dari pantai, hingga dari jendela saja pemandangannya terlihat indah walaupun di malam hari.


"Kenapa kau masih ada disini? Apa kau tidak punya kerjaan lain selain mengikutiku dan Starla?" tanya Ivana pada Theo yang sedang duduk di sofa sambil menggendongnya Starla yang masih terjaga.


"Mengikutimu dan princess kita bukanlah pekerjaan melainkan sebuah kewajiban!" seru Theo menjawab dengan suara lantangnya.


"Cih! Apa-apaan?" Ivana berdecih mendengar ucapan suaminya.


"Princess Starla, kesayangannya Daddy... lihat tuh mommy kamu masih marah. Bantulah Daddy untuk membujuknya ya sayang?" Theo bicara kepada putrinya dan menceritakan tentang kisahnya kepada Starla, bayi yang baru menginjak usia 2 tahun.


Starla yang cerdas mampu menangkap situasi dan ucapan dari orang dewasa. Gadis kecil yang imut itu, memanggil-manggil mamanya dengan pelafalan yang kurang jelas. Namun dapat dimengerti oleh kedua orang tuanya.


"Mom...cini...mommy..."


"Ada apa sayang?" sambut Ivana dengan senyuman lembut pada putrinya itu. Dia duduk disamping Starla dan otomatis berdekatan juga dengan Theo, suaminya.


"Mommy, tidul...Daddy...mau tidul..." celoteh bayi 2 tahun itu pada mommynya.


"Mau tidur? Ya udah sini sama mommy," Ivana merentangkan kedua tangannya untuk menggendong Starla ke kamar. Bayi imut itu menggelengkan kepalanya, dia menolak ajakan Mommynya.


"Daddy...tidul...Daddy...and mommy." celetoh gadis kecil itu yang intinya meminta mommy dan Daddynya tidur bersama. Ivana sontak melotot pada suaminya.


"Apa salahku?" tanya Theo santai. "Ayo kita pergi ke kamar, anak kita ingin kita tidur bersama! Ayo!" ajak Theo dengan tangan yang menggendong princess kecilnya itu.


Ivana tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginan Starla, atau gadis itu akan merengek dan sulit untuk tidur nantinya. Theo dan keluarga kecilnya, merebahkan tubuh diatas ranjang empuk salah satu kamar apartemen itu. Starla berada ditengah-tengah mereka, sebelum tidur. Ivana dan Theo mengelus-elus putri mereka dengan penuh kasih sayang.


15 menit kemudian Starla pun sudah memejamkan katanya, barulah Theo bangkit dari tempat tidurnya. Dia berjalan ke sisi ranjang yang lain, yang mana ada istrinya disana. Ivana belum tidur dan baru saja akan memejamkan mata.


"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Ivana masih dengan tatapan sinisnya.


"Duduklah dulu sayang, kita bicara sebentar ya? Kita tidak bisa begini terus," pinta Theo seraya mengelus rambut panjang istrinya dan menggesernya ke belakang.


"Bukankah kakak yang membuat semuanya jadi begini?" tanya Ivana sinis. Sungguh, Theo tidak bisa seperti ini terus dengan istrinya. Theo pun menggendong istrinya ala bridal, tanpa aba-aba terlebih dahulu.


"Kak Theo! Apa yang kau--"


Theo meletakkan jari telunjuknya di bibir Ivana. "Ssttt...jangan berisik sweetheart. Atau kau akan membangunkan princess kecil kita. Mari kita bicara diluar." Ivana pun bungkam, membiarkan Theo menggendongnya keluar dari kamar itu.


Mereka pun duduk di dekat dapur apartemen itu, Theo meminta Ivana untuk menunggunya. Theo akan memasak spaghetti untuk Ivana, ia tau bahwa istrinya sedang ingin makan spaghetti. Ivana awalnya menolak, namun Theo tetap bersikeras membuatkan spaghetti untuknya.


Ivana juga tidak bisa keras hati terus menerus, ia akan menerima niat baik Theo untuk meminta maaf. Hingga 10 menit kemudian, Theo sudah datang membawakan spaghetti lada hitam untuk istrinya.


"Tara! Spaghetti lada hitam untuk my sweetheart sudah jadi!"


Mata Ivana berbinar-binar melihat spaghetti itu. Dari tadi pagi ia ingin sekali spaghetti kesukaannya. Theo senang melihat raut wajah istrinya.

__ADS_1


"Silahkan dimakan sayang!"


"Ba-baiklah, aku akan memakannya karena sudah membuatkannya," ucap Ivana sambil mengambil sendok dan garpu. Ia tidak sabar menyantap spaghetti itu.


Theo melihat istrinya yang makan spaghetti dengan lahapnya.Hal itu dimanfaatkan oleh Theo untuk membicarakan masalah mereka. Ia mengatakan pada Ivana, bahwa ia sudah memecat Bella.


"Aku tidak meminta kakak untuk memecatnya," ungkap Ivana sebal.


"Aku tau, tapi dialah sumber masalah diantara kita. Juga aku yang salah, karena sudah membiarkan dia membuat kita salah paham. But, aku bersungguh-sungguh bahwa aku tidak ada hubungan apapun dengannya!"


Tiba-tiba saja Ivana menutup mulutnya dengan tangan. "Huwekk...huwekk!!" Wanita itu pergi ke kamar mandi dan menumpahkan isi perutnya barusan. Theo bergegas menyusulnya dengan cemas.


****


Kamar Hotel, pukul 20.15.


Natasha masih berusaha menolong dirinya sendiri di kamar yang terkunci itu dengan tenaga yang tersisa. Nafasnya semakin memburu, tubuhnya memanas terutama pada bagian intinya.


"Ayolah sayang, menyerah saja! Aku tau kau sudah tidak tahan. Kau sudah berjuang cukup lama, jadi hentikan semua ini! Dan nikmatilah!" Andreas sudah bertelanjang dada, ia menatap nanar pada Natasha yang sudah berjuang hampir setengah jam untuk menjaga dirinya. Beruntungnya Andreas masih sabar dan ingin melihat bagaimana Natasha akan bertahan dan berapa lama dia akan melawan obat perangsang yang hampir menguasai semua tubuhnya itu.


"Kumohon....tuan...lepaskan aku. Kau punya istri, kau bisa melakukan ini bersama istrimu. Kumohon..." lirih Natasha sambil memegang pecahan vas bunga untuk mengancam Andreas.


"Hanya satu malam saja sayang, come on! Setelah ini kita tidak ada hubungan apa-apa lagi," ucap pria brengsek itu lalu dia memegang tangan Natasha. Dengan cepat Natasha menyabet tangan Andreas dengan pecahan kaca itu untuk melindungi diri.


"SIALAN! Sudah cukup! Kesabaranku sudah habis!" Andreas murka, saat melihat tangannya berdarah karena ulah Natasha. Andreas pun menggendong paksa Natasha, walau ia tidak muda lagi tapi Andreas masih bisa menguasai Natasha.


"Lepaskan! Lepaskan aku! Aiden! Tolong aku!!" teriak Natasha sambil memukul-mukul tubuh Andreas.


Entah kenapa Natasha mengucapkan nama Aiden tanpa sadar, dia meminta pertolongan pada ayah dari anak-anaknya itu.


BRUGH!


Tubuh mungil Natasha dihempaskan kasar ke atas ranjang, kemudian dengan cepat Andreas menindihnya. Dia membuka blazer yang dipakai oleh Natasha dengan paksa, hingga semua kancingnya berjatuhan ke ranjang dan lantai itu.


"Jangan--akhhh!!" pekik Natasha berusaha melepaskan dirinya. Namun Andreas terlalu kuat, dia mengikat kedua tangan Natasha dengan dasinya.


Kemudian Andreas menarik dan mengoyak paksa kemeja putih yang dikenakan Natasha. Kancingnya kembali berceceran di ranjang dan lantai itu. Hingga sekarang tubuh bagian atas Natasha sudah tampak terekspose nyata. Mempertontonkan sesuatu dibalik penyangga berwarna merah terang itu.


"Wow...warna merah, sangat menggoda. Sayang sekali, jika kau memang seorang janda. Kau tidak boleh dilewatkan. Bagaimana kalau jadi istri keduaku saja hah?" tanya Andreas, kemudian menaikkan rok span Natasha. Sial! Natasha sangat ketakutan, tapi dia tidak bisa melawan.


"Jangan...kumohon...hiks..." Natasha menghiba, menangis tersedu-sedu, berharap Andreas akan menghentikan semua pelecehannya.


"Tenanglah sayang, kau akan kenikmatan kok. Pertama-tama mati kita ciuman dulu," ucap Andreas lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Natasha.


"AIDEN!" teriak Natasha.


BRAK!


Saat jarak diantara mereka hanya tinggal satu senti lagi untuk bersentuhan. Pintu kamar itu terbuka lebar dengan sangat kencang. Tuhan seakan mendengar doa Natasha, wanita itu dengan penglihatannya yang mulai kabur, melihat Aiden berjalan ke arahnya.


Dia datang...apa aku bermimpi? Dia benar-benar datang. Batin Natasha lega.


"Kau siapa? Beraninya kau masuk ke dalam--Aaakhh!!"


Aiden menarik tubuh Andreas, lantas langsung melayangkan bogem mentah tepat diwajahnya dengan emosi. Hingga pria agak gemuk itu terhempas ke lantai dengan keras.


"Siapa kau ini? Kenapa datang-datang langsung memukulku? Apa kau sudah gila?" Andreas tidak mengenal Aiden, dia juga bingung kenapa 3 orang bodyguard yang ditempatkannya menjaga kamar ini tidak bisa menghentikan kesenangannya.

__ADS_1


"Beraninya kau! Beraninya kau menyentuhnya!!" teriak Aiden murka, lalu dia kembali menarik tubuh pria itu dan mencekiknya. "MATI KAU!"


...****...


__ADS_2