Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta

Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta
Bab 30. Mencari Natasha


__ADS_3

...****...


Raut wajah Aiden yang sudah datar dan dingin itu berubah menjadi semakin menyeramkan manakala sorot matanya menajam dan tangannya terkepal kuat seperti menahan sesuatu yang akan meledak dalam dirinya.


Ya, itu terjadi saat ia mendengar bahwa Natasha pergi bersama bosnya. Sebenarnya mungkin tidak masalah jika bosnya itu wanita, tapi bosnya adalah seorang pria dan Aiden tak suka itu. Apalagi ia mendengar Axelia mengatakan bahwa banyak pria yang ingin menikahi Natasha dan menjadi daddynya, tapi Axelia dan Dylan selalu menolak pria-pria yang dekat dengan Mommynya di masa lalu. Natasha juga selalu menolak mereka dengan alasan ia fokus menjadi single parent, mengurus kedua anaknya. Banyak yang dekat dengan Natasha, tapi wanita itu tidak membuka hatinya untuk semua pria yang berusaha mengambil hatinya. Entah, walaupun hilang ingatan ia merasa ada sesuatu yang mengisi hatinya.


"Padahal dulu banyak yang mendekati mommy, bahkan ada satu pria yang tampan dan Axe suka padanya. Dia adalah seorang nahkoda, tapi mommy tak suka!" celetuk Axelia teringat seorang nahkoda yang mengatakan cinta pada Mommynya.


"Apa dia lebih tampan dari Daddymu ini?"


"Lebih tampan Daddy, of course!" jawab Axelia sambil menatap wajah daddynya.


"Apa dia lebih kaya dari Daddymu ini?"


"Hem...aku tidak tahu kalau coal itu dad. Tapi, paman nahkoda bisa membawaku dan Dy naik ke kapal laut dan jalan-jalan keliling dunia. Hanya saja saat itu mommy tidak bisa pelgi lama bersama paman nahkoda untuk keliling dunia karena mommy ingin pulang!"


"Hah? Jadi mommymu dan kalian pernah pergi bepergian dengan dia?"


"Ya, 2 kali." kali ini Dylan yang bicara.


"2 kali? Siapa nama nahkoda itu? Katakan pada Daddy!" tanya Aiden dengan menggebu-gebu.


"Aku lupa dad," jawab Dylan sambil memutar bola matanya tidak karuan.


"Bohong! Dylan itu pintar dad, dia pasti ingat ciapa nama paman nakhoda itu!" seru Axelia seraya menunjuk pada adiknya. Dylan hanya menatap dingin pada Axelia.


Dasar Axelia bodoh! Daddy bisa saja membunuhnya bola dia tau namanya. Batin Dylan tidak habis pikir dengan otak Axelia yang menurutnya terlalu polos.


"Dylan, kau adalah putra Daddy! Kau harusnya ada di pihak Daddy, come on...beritahu Daddy siapa nama nahkoda itu? Dan soal berlayar, Daddy juga bisa mengajak kalian berlayar walaupun Daddy bukan seorang nahkoda. Keliling dunia, atau membeli kapalnya, Daddy bisa melakukan semua itu!" seru Aiden pada kedua anaknya. Dia membanggakan kekayaannya pada Dylan dan Axelia. Ia juga akan mengajak kedua anaknya dan juga Natasha kembali ke London, agar menunjukkan kekayaannya yang sesungguhnya. Pasti mereka akan terkagum-kagum dengannya. Awalnya Dylan tidak tertarik dengan obrolan tentang kekayaan, namun saat Aiden membahas soal teknologi. Dylan sangat tertarik dan ingin pergi kesana.


"Baiklah, nanti kita akan pergi ke London. Tapi ada beberapa hal yang harus Daddy katakan pada kalian, tentu saja tanpa sepengetahuan mommy kalian. Intinya kita harus bekerja sama." Aiden menatap kedua anaknya yang terlihat bingung itu. Kerja sama apa yang dimaksud oleh Aiden?


Ah--sambil bicara tentang kerja sama, mereka pergi makan siang terlebih dahulu di sebuah restoran fried chicken. Dan setelahnya Aiden akan menyusul Natasha ke perusahaan Everton. Tentu, Aiden harus memastikan kedua anaknya makan siang dan kenyang terlebih dahulu, sebelum membereskan masalah Natasha. Saat mereka sedang makan bersama, Aiden mengecek ponselnya beberapa kali dan tidak ada satupun pesan masuk dari Natasha.


"Dia menganggap aku apa? Kenapa dia tidak mengirimkan pesan padaku? Mau kemana dia dan apa yang dia lakukan?" gumam Aiden yang terkadang lupa, bahwa mereka belum ada hubungan apapun selain ibu dan ayah dari Dylan dan Axelia.


****


Sementara Natasha dan Wendy masih berada didalam perjalanan menuju ke kantor Everton corpooration. Jaraknya lumayan jauh dari sana, di ibaratkan dari ujung ke ujung. Mereka sampai kesana setelah melalui 2 jam perjalanan, sampai melewatkan jam makan siang hanya untuk bertemu dengan bos Everton ini.


"Kim, kita makan siang dulu saja ya?" tawar Wendy pada anak buahnya itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa bos, kita temui CEO Everton terlebih dahulu. Bukankah bos bilang dia bisa pergi kapan saja? Ayo!" ajak Natasha pada Wendy, bosnya yang agak kemayu ini. Mungkin dia rainbow flag.


"Hem baiklah, kalau begitu kita temui dulu tuan Andreas dulu. Tapi jika kau lapar, beritahu aku!" seru Wendy dengan senang hati. Selama Natasha berada di pulau ini dan kekurangan sesuatu, pasti Wendy menjadi salah satu orang yang akan membantunya.


Natasha dan Wendy sama-sama turun dari mobil, mereka pun berjalan masuk ke dalam sebuah gedung perkantoran yang bernama Everton corporation. Ketika memasuki gedung perkantoran itu, tak lupa Mereka bertanya terlebih dahulu kepada salah seorang petugas yang ada di sana tentang keberadaan pimpinan perusahaan dari Everton corporation.


"Maaf, tuan Andreas baru saja pergi," ungkap seseorang yang bekerja di bagian informasi kepada Natasha dan juga Wendy.


Wendy dan Natasha saling berpandangan dengan bingung. Jujur saja, mereka sedikit kecewa karena tidak bisa langsung menemui pria yang bernama Andreas ini. Padahal mereka sudah jauh-jauh datang kemari, mana mungkin hasilnya nihil.


"Lalu kemana pak Andreas?" tanya Wendy lagi.


"Pak Andreas sedang ada pertemuan bisnis di salah satu hotel yang ada di pusat kota!" ujar wanita itu yang membuat Wendy dan Natasha geram.


Jika tau Andreas akan pergi ke kota, mereka tak mungkin jauh-jauh datang kemari hanya untuk menemuinya. Dan dari pihak Andreas sendiri tidak ada konfirmasi sama sekali.


"Sial!" umpat Wendy saking kesalnya.


"Sabar pak, lebih baik sekarang kita kembali ke kota dan kita temui tuan Andreas!" seru Natasha yang masih bisa sabar, walaupun dalam hati ia juga kesal. Tapi ya mau bagaimana lagi, ini demi buku yang akan diterbitkan dan demi perusahaan tempatnya bekerja.


Wendy berusaha mengatur nafasnya yang memburu karena emosi, akhirnya dia pun kembali bertanya kepada wanita tersebut untuk mengatakan di mana alamat hotelnya. Setelah mendapatkan informasi di mana alamat hotel tersebut, akhirnya Wendy dan juga Natasha on the way menuju kesana. Didalam perjalanan, mereka membeli 2 bungkus roti agar mereka tidak tidak terlalu lapar. Wendy meminta maaf pada Natasha, jika ia tau bahwa tuan Andreas akan merepotkan, ia tidak akan meminta CEO dari Everton corporation itu untuk membuat buku dengan perusahaannya.


"Tidak apa-apa pak, lagipula kita sudah tandatangan kontrak. Hanya perlu revisi sedikit dan semuanya selesai." Natasha tersenyum dan dia sangat penyabar.


Wendy kagum dengan sifat Natasha yang penyabar. Bahkan tidak sedikit pria yang ingin menjadikan Natasha sebagai kekasih atau pasangan hidupnya. Meski usia Natasha sudah tergolong tidak muda lagi, yaitu hampir 33 tahun dan punya dua orang anak. Namun pesonanya masih seperti wanita berusia 20 Han.


"Kau sangat penyabar dan baik hati, semoga saja suamimu kelak adalah pria yang penyabar sama sepertimu. Dan pastinya dia sangat mencintaimu juga anak-anakmu." Wendy berdoa untuk Natasha agar wanita itu mendapatkan jodoh yang baik.


"Hem...iya, terimakasih bos."


"Oh ya, sebenarnya saya bertemu dengan seseorang dari masa lalu saya bos!" seru Natasha yang membuat Wendy terperangah. Wendy tertarik untuk mendengarkan cerita Natasha, dari yang ia tau selama ini Natasha kesulitan untuk memulihkan ingatannya.


"Benarkah? Kau bertemu siapa? Ibumu? Saudaramu atau--"


"Saya bertemu ayah dari anak-anak saya bos. Dan saya rasa dia adalah pria yang baik, dia pasti bisa membantu memulihkan kondisi ingatan saya juga."


"Benar! Kau harus mengenalkan dia padaku, harus Kim!" seru Wendy yang turut bahagia dengan Natasha bertemu dengan orang masa lalunya. Berharap ingatan Natasha akan kembali seperti sedia kala, ya walaupun dia tidak tahu seperti apa ingatan Natasha yang dulu.


"Baik bos. Ah ya-dan namaku adalah Natasha!" seru wanita itu seraya tersenyum pada bosnya.


"Natasha, oh...bagus." Pria itu mengangguk-anggukan kepalanya.

__ADS_1


****


Hari pun berganti sore hari, Aiden dan Branz masih berusaha untuk mencari Natasha. Mereka juga sudah pergi ke kantor Everton corpooration untuk menyusul, namun saat mereka sampai disana. Natasha tidak ada dan mereka lalu menyusul Natasha kembali ke kota karena mendapatkan informasi dari salah satu pegawai disana.


"Kenapa ponselmu tidak aktif? Aahh! Sial! Seharusnya aku pasang GPS pada tubuhnya. Ya, nanti setelah ini aku akan memasang GPS-nya," gerutu Aiden yang sangat mencemaskan keadaan Natasha


Shitt! Kenapa perasaanku tidak enak begini? Batin Aiden gelisah.


"Branz! Lebih cepat lagi! Kenapa kau banyak berhenti terus dari tadi?" tanya Aiden pada Branz yang menyetir, dia baru menyadari bahwa dari tadi mobil banyak berhenti.


"Maaf pak! Jalanan macet karena ada kecelakaan," jelas Branz pada Aiden.


"Sial! Aku harus segera menemui Natasha!" geram Aiden kesal, entah ia harus marah pada siapa. Dan entah kenapa perasaannya sangat tidak enak saat ini.


*****


Malam itu, pukul 19.00.


Disebuah ruangan tertutup di hotel, terlihat Wendy tak sadarkan diri diatas sofa. Sementara Natasha masih bertahan dengan membuka matanya yang perlahan ingin menutup. Terlihat ada 3 orang pria disana yang melihat Natasha sambil tertawa-tawa. Salah seorang diantara mereka adalah Andreas Everton.


"Apa yang anda lakukan tuan...anda...kenapa anda..." Natasha berusaha menahan rasa sakit dan kantuk di kepalanya saat ini. Ia melihat Wendy yang sudah tidak sadarkan diri disana. "Apa yang kau campurkan pada minuman kami?" lirih Natasha lemah.


"Tenang saja nona, aku hanya ingin bersenang-senang denganmu malam ini. Sudah dari dulu, aku mendambakan tubuhmu! Jadi aku memancingmu untuk datang kemari," ucap Andreas sambil mengangkat dagu Natasha, ia menatap nanar penuh nafsu pada wanita itu. Andreas sendiri, adalah pria tua yang sudah memiliki anak istri, namun masih suka bermain wanita.


"Kau... brengsek! Kau sangat...kurang ajar..." tubuh Natasha tidak memilik tenaga, tapi terasa panas dan bergejolak.


Andreas mulai menaikan rok Natasha dan meraba-raba paha mulus wanita itu. "Untuk ukuran ibu dengan dua anak, kau masih terlihat seperti gadis. Sudah kuduga, tubuhmu sangat bagus!" pria itu menatap lapar ke arah Natasha dan tak sabar ingin mencicipi wanita itu. Saat tangan Andreas meraba-raba tubuhnya, sontak saja Natasha menegang tidak karuan.


Dan Andreas yang sudah tidak sabar, menggendong Natasha bak karung beras. Wanita itu berusaha meronta dengan tenaga yang tersisa. "Lepas! Lepaskan aku BRENGSEK! Lepas!!" teriak Natasha dengan suara yang tertahan.


"Ayo kita ke kamar dan bermain sayang!" ujar Andreas tidak sabar. "Dan kalian, bawa pria jadi jadian ini ke kamar yang lain," titah Andreas kepada kedua anak buahnya yang ada disana.


"Baik bos!"


Andreas membawa Natasha masuk ke dalam salah satu kamar hotel, seluruh kamar di lantai itu sudah disewa oleh Andreas. Jadi tidak ada satupun orang yang ada disana, ataupun mendengarkan suara Natasha yang berteriak.


"Tolong! Lepaskan aku! JANGAN! AIDEN!" tanpa sadar Natasha meneriakkan nama Aiden, berharap pria itu akan datang menyelamatkannya.


"Aku suka teriakanmu sayang, pastinya suara desahanmu juga indah bukan?" tanya Andreas dengan genit, lalu ia pun membawa Natasha ke salah satu kamar hotel dan tak lupa ia mengunci pintunya. Entah apa yang akan terjadi pada Natasha selanjutnya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2