Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta

Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta
Bab 34. Bertemu dengan keponakan


__ADS_3

****


Begitu mendengar kabar dari Carol bahwa Natasha mengalami sakit kepala dan mengamuk. Aiden langsung kembali ke hotel, ia bahkan melupakan dirinya yang belum tidur semalaman dan belum makan dari kemarin. Dirinya sudah dipenuhi oleh Natasha dan sangat mencemaskannya.


Sesampainya di kamar hotel itu, Aiden melihat seorang dokter laki-laki mencoba memeriksa keadaan Natasha. Namun wanita itu terus memintanya menjauh, sambil meremass rambutnya sendiri seakan melampiaskan rasa sakit di kepalanya.


"Nyonya, tenanglah! Saya akan memeriksa anda!" seru dokter itu sambil berjalan mendekati Natasha.


"Pergi! Hentikan! Sakit.... aarghh...pergi...." wanita itu berteriak meringis kesakitan. Di dalam kepalanya saat ini, terbayang-bayang ingatan seperti kaset yang di putar secara acak. Sangat menyakitkan kepalanya, dimana ada seorang pria yang mencekiknya dan mengatakan padanya bahwa ia adalah wanita jalangg. Mengingat semua itu Natasha sangat marah dan kesakitan.


"Nath!" Aiden berlari menghampiri Natasha yang berada di sudut kamar itu dengan nafas agak terengah-engah. Kondisi Natasha terlihat tidak baik, lebih ke histeris.


"Pak, saya hanya mencoba memeriksanya," jelas dokter itu agar Aiden tidak salah paham padanya. Aiden langsung paham, ia mengatakan pada dokter itu untuk menunggu sebentar. Sebab ia akan mencoba menenangkan Natasha terlebih dahulu.


"Pergi...aku bukan wanita jalangg...bukan...aku tidak bersalah..."


Pria itu tercekat mendengar ucapan Natasha, hatinya berdebar dan takut kalau Natasha benar-benar ingat semuanya.


"Nath, tenanglah! Ini aku, kau baik-baik saja sekarang...ini aku..." lirih Aiden lembut.


Natasha menatap Aiden dengan mata berkaca-kaca, lalu ia pun memeluk Aiden dengan erat seakan takutnya bisa mereda dengan pelukan itu. "Aiden...tolong... orang itu, di terus muncul didalam kepalaku...aku tidak tahu siapa, tapi itu sangat menyakitkan! Hiks...hiks.."


"Tidak apa-apa, tidak ada yang bisa menyakitimu. Tenanglah, aku disini, tenanglah." pria itu mengelus lembut punggung Natasha.


Apa kau mengingat tentangku Natasha? Tidak, kumohon jangan ingat dulu. Jangan! Batin Aiden berharap.


Setelah sakit kepala Natasha mereda dan wanita itu mulai tenang, Aiden membaringkan Natasha di atas ranjang. Dokter pun segera melakukan tugasnya untuk memeriksa kondisi Natasha. Dia memberikan suntikan pereda rasa sakit untuk Natasha, hingga wanita itu kembali terlelap dalam tidurnya.


"Kenapa dia bisa seperti ini dok?" tanya Aiden sembari duduk di atas ranjang dan memandangi Natasha.


"Keadaan pasien yang seperti ini dipicu oleh ingatan masa lalu yang coba dia ingat. Atau ada sesuatu yang membuat ingatan masa lalunya kembali secara tidak sengaja. Pak, saya sarankan agar tidak memaksakan ingatan itu. Biarkan ingatannya kembali perlahan dan jangan biarkan nyonya stress," jelas dokter itu mengenai keadaan Natasha.


"Begitu ya? Ya, aku tau."


"Saya sudah meresepkan obat untuk nyonya Natasha, silahkan tebus di apotik." Dokter itu menyerahkan secarik kertas kecil kepada Aiden. Pria itu mengambilnya dan melihatnya sejenak.


"Terimakasih dok,"


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi." pamit dokter itu seraya menundukkan kepalanya, lalu ia pun pergi dari hotel tersebut dan diantar oleh salah satu bodyguard Aiden.


Di dalam kamar, Aiden menatap sendu Natasha. Dia takut Natasha ingat semuanya, takut bahwa ingatan Natasha tentang dirinya adalah hal buruk. Memang mungkin tidak ada hal baik yang terjadi diantara mereka selama ini.


"Maaf Nath, aku egois...tapi aku harus segera membuatmu menjadi milikku secepatnya! Tapi aku janji, akan ada masa-masa indah mulai saat ini dan selamanya." Aiden mengecup bibir Natasha sekilas dengan lembut. Aiden pun berbaring disamping Natasha, matanya tampak sayu karena semalaman ia tidur. Ia menemani Natasha ke alam mimpi, tak peduli kalau hari sudah pagi.


*****


Huwekk...Huwekk...


Lagi-lagi Ivana memuntahkan makanan yang ia makan. Baru saja Ivana memakan sarapan pagi, roti dan daging. Dia sudah muntah lagi, hingga pengasuhan Starla pun beralih pada Theo. Sebenarnya Theo banyak pekerjaan di London, namun dia mengesampingkan semua itu sementara waktu demi membujuk istrinya agar mau memaafkannya.

__ADS_1


"Kau muntah lagi sayang? Sudahlah, jangan keras kepala! Mari kita pergi ke rumah sakit ya?" bujuk Theo pada istrinya, ia sedang menyuapi Starla makan bubur.


"Apa kakak bilang? Aku keras kepala?" tanya Ivana tidak senang dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Theo.


"Sayang, aku tidak bermaksud berkata begitu! I just worry about you!" seru Theo menjelaskan. "Please, kita ke rumah sakit ya?"


"Sudah kubilang aku baik-baik saja. Oh ya, dini hari tadi kak Aiden menghubungiku. Sesuatu terjadi pada kak Nath dan dia memberikan alamat rumah kak Nath juga kedua keponakanku. Ayo kita pergi kesana setelah Starla selesai makan!" cetus Ivana yang tak sabar untuk melihat kedua keponakannya.


"Tapi kau masih sakit, baby!" serka Theo cemas.


"Aku baik-baik saja, apalagi setelah bertemu dengan dua keponakanku!" Ivana tersenyum, lalu duduk disamping Starla begitu keadaannya sudah lebih baik.


"Baiklah, tapi kalau kau sampai mual-mual lagi disana. Aku akan membawamu ke dokter saat itu juga!" ujar Theo tegas.


"Iya-iya baiklah," sahut Ivana sambil tersenyum.


Benar saja, setelah selesai menyuapi Starla makan bubur. Ivana dan keluarga kecilnya itu pergi menuju ke rumah keluarga Foster, dimana Natasha dan kedua anaknya tinggal. 20 menit kemudian, Ivana, Theo dan Starla sampai di rumah yang letaknya tak jauh dari pantai. Pemandangannya begitu indah dan jauh dari keramaian.


Ivana merasa tak heran kenapa Natasha sulit ditemukan, selain hilang ingatan. Natasha ditemukan ditempat terpencil seperti ini tanpa identitas. Saat Ivana, Theo dan Starla akan melangkah memasuki gerbang rumah tersebut. Mereka melihat seorang anak laki-laki tengah duduk sambil membaca buku di ayunan.


"Kak, apa kau lihat anak itu? Dia mirip dengan kakak!" Ivana terkejut saat melihat wajah Dylan yang mirip dengan kakaknya waktu kecil.


"Astaga...kau benar." Theo tersenyum dan tidak menyangka bahwa Aiden tidak membual soal anak. "Dia benar-benar tidak membual," ucap Theo pelan.


Ketenangan Dylan dan konsentrasi membacanya terganggu saat ia menyadari bahwa ada orang didepan gerbang rumah. Dylan, dengan kaki kecilnya berjalan menuju ke gerbang rumah, melihat ada 3 orang disana.


Tak lama kemudian, Axelia keluar sambil berlari-lari membawa boneka beruang pinknya. Ia menghampiri adiknya dan tiga orang yang menurutnya asing itu. Theo dan Ivana tersenyum melihat Dylan dan Axelia.


"Dy, mereka siapa? Paman dan bibi, kalian siapa? Ah--salah, kalian mencari siapa?" tanya Axelia kepada Theo dan Ivana.


Theo membungkukkan badannya didepan Axelia dna Dylan. Kedua anak imut itu telah mengalihkan perhatiannya. "Hai, aku uncle kalian anak manis..." Theo tersenyum pada Axelia dan Dylan.


"Dan aku aunty kalian. Aku adik dari Daddy kalian." Ivana tersenyum dan memperkenalkan dirinya pada Dylan dan juga Axelia.


Kedua anak kembar itu terlihat bingung, namun akhirnya mereka sadar bahwa kedua orang ini memang keluarga mereka. Saat Ivana dan Theo masuk ke dalam rumah dan menjelaskan kepada Amy Foster, siapa mereka sebenarnya.


"Jadi kalian adalah bibi dan paman dari Dylan dan Axelia. Senang sekali bertemu dengan kalian," ucap Amy pada Theo dan Ivana.


"Kami juga senang bisa bertemu dengan anda nyonya Foster. Dan kami sangat berterima kasih karena nyonya Foster dan tuan Albert sudah menjaga kakak ipar juga dua keponakan kami!" Ivana tersenyum lebar, manakala ia mengucapkan rasa terimakasihnya pada Amy dan Albert yang sudah menjaga Natasha dan anak kembarnya selama ini.


"Tidak usah berterimakasih, Natasha dan kedua anaknya sudah kami anggap sebagai bagian dari anggota keluarga kami." kata Amy seraya menatap si kembar yang sedang bermain dengan Starla. Starla sendiri berada di bok bayi yang dulu dipakai oleh Axelia sewaktu kecil.


"Rasanya... terimakasih saja tidak cukup, kami senang karena kak Natasha, Dylan dan Axelia bertemu dengan orang-orang yang baik seperti kalian. Kami berpikir tidak akan pernah bertemu lagi dengan mereka, tapi--hiks..." Ivana menangis tersedu-sedu, ia terharu dengan pertemuan ini. Theo menyodorkan tisu pada istrinya.


"Sweetie, don't cry okay? Ini moment bahagia," lirih Theo.


"Seharusnya aku tidak menangis, maafkan aku nyonya Foster, tuan Albert...hiks." Ivana mengusap air matanya dengan tisu, dia tidak bisa menahan rasa harunya. Apalagi putrimu ternyata punya dua kakak sepupu yang lucu-lucu.


"Halo Starla, acu kakak sepupumu. Namaku Axelia, kau bisa memanggilku kakak Axe!" sapa Axelia pada Starla.

__ADS_1


"Axe...Axe..." oceh Starla gemas dengan tangan mungilnya yang mencubit pipi Axelia dengan keras.


"Aduh...sakit Star! Kakak Axe tau kakak sangat lucu, tapi jangan mencubit kakak Axe seperti itu ya? Tidak boleh!" Axelia memeringati Starla untuk tidak mencubitnya. Sementara Dylan tidak banyak bicara, alih-alih bicara. Dylan lebih suka bertindak. Dan sekarang ia memberikan mainan pada si kecil Starla. Anak laki-laki itu bahkan tersenyum saat melihat Starla.


Ketiga anak itu bermain bersama, Axelia dan Dylan mengasuh Starla di ruangan khusus bermain di dalam rumah itu. Sementara para orang dewasa tengah mengobrol di ruang tengah rumah itu.


****


Siang itu, pukul 11.00. Hotel tempat Natasha dan Aiden berada. Natasha baru saja terbangun dari tidurnya, ia merasakan kepalanya sakit. Karena potongan-potongan ingatan yang belum jelas, tapi ia tidak ingat dengan kejadian Andreas. Hingga berita di televisi yang menyala itu membuat Natasha teringat kejadian semalam.


"Seorang pengusaha minyak terbesar di kepulauan Channel yang bernama Andreas Matthew Everton, kepergok berselingkuh di sebuah kamar hotel bersama seorang wanita muda dibawah umur oleh istri dan anak perempuannya. Tubuhnya dalam keadaan terluka dan bagian inti tubuhnya dipotong habis oleh sang istri saat itu juga! Tak hanya itu, tuan Andreas Matthew Everton juga terlibat kasus pelecehan sek-sual terhadap beberapa wanita. Perusahaan Everton pun terkena imbasnya dan beberapa kasus mencuat ke publik, salah satunya adalah..."


Natasha mendengarkan berita itu, mengingat semalam ia sangat kesal pada Andreas yang sudah menipunya dan Wendy. "Pria mesum kurang ajar!"


Ceklet!


Terdengar suara pintu terbuka yang membuat Natasha menoleh ke arah pintu kamar mandi kamar itu. Terlihat Aiden memakai bathrobe dengan rambut basahnya, belajar keluar dari kamar mandi.


"Oh--kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?" tanya Aiden pada wanita yang kini menatapnya dengan bingung itu. Aiden melihat Natasha menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya.


Apa aku dan dia semalam....


"Bajuku...kenapa aku...apa kita?" Natasha tampak bingung dengan keadaan saat ini.


"Tidak ,kita tidak melakukan seperti apa yang kau pikirkan Dan maaf... memang aku yang mengganti pakaianmu, Tapi aku tidak melakukan apapun, aku bersumpah! Hanya saja di dalam mobil--" Aiden menggantung ucapannya disana, dia malu-malu menceritakannya.


"Di dalam mobil? A-apa?" tanya Natasha semakin bingung.


"Kalau kau tidak ingat ya sudah,tidak apa-apa." kata Aiden sambil tersenyum. Jujur ia lega karena Natasha tidak kesakitan seperti tadi, artinya memorinya belum pulih.


"A-aku..." wanita itu terbelalak kala melihat beberapa kiss mark di dada dan sekitaran leher Aiden.


Apa itu aku yang melakukannya? Tanya Natasha dalam hatinya.


Seakan tau isi pikiran Natasha, Aiden pun berkata. "Iya, ini adalah mahakaryamu semalam."


"Aku melakukan itu? Benarkah?" tanya Natasha tak percaya dan seketika wajahnya berubah menjadi panik.


"Haruskah kau bertanya padahal sudah ada buktinya. Ah...sudahlah, kita bahas ini nanti saja. Lebih baik kau pergilah mandi dan setelahnya kita makan bersama, lalu pulang. Kasihan anak-anak di rumah dan lagi, ada yang ingin aku kenalkan padamu." jelas Aiden begitu perhatian.


"Tapi... kita tidak melakukannya kan? Kita tidak benar-benar..."


"Tidak. Aku tidak mungkin melakukan itu sebelum kita menikah. Atau mungkin kau mau sekarang?" pria itu sengaja menggoda Natasha, ia mendekatkan wajahnya pada wanita itu.


"Tidak mau! Aku akan pergi mandi!" Natasha berlari lalu mengambil handuk yang ada di depan pintu. Aiden tersenyum melihatnya, sudah lama ia tidak menggoda Natasha seperti ini, membuat wanita itu malu-malu. Ya, itu semua karena dendam Aiden yang membuat keceriaan Natasha menghilang.


Namun, mulai sekarang Aiden tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Ia akan menciptakan kenangan-kenangan baru yang bisa membuat Natasha lupa akan kenangan lamanya. Tapi apa itu mungkin? Aiden hanya berharap Natasha tidak ingat masa lalunya lagi.


...****...

__ADS_1


__ADS_2