
...🍀🍀🍀...
#Flashback ingatan Natasha
"Jangan samakan aku dengan ibuku." Natasha menatap pria itu dengan tatapan berkaca-kaca.
Aiden hentikan, kumohon...aku tidak sanggup melihat tatapanmu yang begitu penuh kebencian terhadapku. Natasha membatin perih, melihat tatapan Aiden kepadanya saat ini
"Oh ya? Apakah kau berbeda dari ibumu?" tangan Aiden dengan berani meraba-raba tengkuk Natasha, hingga akhirnya gadis itu tidak tahan dan melayangkan tamparan pada Aiden.
Plakk!
"Sshh..." Aiden meringis, merasakan tamparan Natasha di pipi kirinya. Kemudian dia menatap sinis kepada wanita yang ada dihadapannya ini.
Natasha terlihat marah, ia segera mengancingkan kembali kemejanya yang dilepas oleh Aiden. "Kau sangat keterlaluan Aiden!" serka gadis itu marah karena Aiden berani melecehkannya seperti ini. Aiden memang selalu berlaku kasar dan dingin kepadanya, tapi dia tidak pernah sampai melecehkannya seperti ini.
Daripada bertengkar dengan Aiden yang selalu tidak ada ujungnya, Natasha memilih pergi dari sini. Itupun setelah ia menyiapkan pakaian kerja Aiden di atas ranjangnya.
Natasha berjalan menuruni tangga dengan buru-buru, matanya merah dan wajahnya murung. Ivana yang berada di bawah tangga melihat Natasha.
"Kak, kau mau kemana?" tanya Ivana dengan wajah cemas.
"Ivana, tolong bilang pada kakakmu bahwa aku pergi ke kantor duluan. Bilang juga untuk cepat datang karena ada rapat penting dengan klien pagi ini!" pesannya pada Ivana, lalu gadis itu berlari pergi keluar rumah dengan buru-buru.
"Kak! Kak Nath tunggu!" teriak Ivana memanggil Natasha, namun gadis itu sudah menaiki taksi lebih dulu.
"Lagi-lagi kak Aiden membuatnya menangis. Kenapa kak Aiden tidak gentleman seperti itu?" Ivana menggerutu, ia heran kenapa Aiden bersikap seperti itu pada Natasha yang selalu bisa menghadapi sikap buruk kakaknya itu.
Tak lama kemudian, Aiden turun dari tangga dengan setelan kerjanya yang rapi dan dia terlihat semakin gagah nan tampan mengenakan jas itu. Mirip seperti mendiang ayahnya, Xander Dacosta. Aiden tersenyum dari kejauhan saat melihat adiknya berdiri dibawah tangga, namun senyumnya menghilang tatkala ia melihat tatapan Ivana kepadanya.
"Kenapa kau melihat kakak seperti itu Ivana?" tanya Aiden pada adiknya.
"Kenapa kakak selalu seperti itu pada kak Natasha? Kakak baik pada kak Luna, tapi tidak kepadanya. Padahal aku lebih suka kak Natasha daripada kak Luna. Aku heran, bukankah kalian bersahabat?"
"Berbeda bagaimana? Kurasa sama saja." tukas Aiden cuek.
"Kak, kalau kakak mencintai kak Natasha...jangan begini. Jangan bersikap buruk pada gadis yang kakak cintai." jelas Ivana.
"Cinta? Kau ini bicara apa? Aku? Mencintainya?" Aiden melotot pada Ivana, dia tidak terima dibilang mencintai Natasha. Sumpah demi apapun dia tidak suka dibilang begitu oleh adiknya. Mana mungkin dia mencintai wanita yang ibunya sudah menjadikannya yatim piatu.
"Ya, Kakak mencintainya. Kalau kakak tidak mencintainya, tidak mungkin kakak men--" Ivana menggantung ucapannya disana, seolah ragu melanjutkannya.
"Men apa, Ivana?" tanya Aiden.
"Sudahlah! Dasar kakak bodoh!" tukas gadis berusia 20 tahun itu kesal. Dia pun pergi meninggalkan Aiden seorang diri. Aiden bingung dengan apa yang dikatakan oleh Ivana, dia penasaran.
****
Disebuah gedung kantor mewah berlantaikan 20, Natasha berada disalah satu ruangan di lantai paling atas. Gadis itu terlihat sedang mengetik sesuatu di komputernya. Tak lama kemudian seorang wanita dengan pakaian kurang bahan mengganggu pekerjaannya. Sedangkan Presdirnya sedang berada di dalam ruangan, rapat bersama beberapa staf kerjanya.
"Hey! Dimana sayangku, Aiden?" tanya wanita itu sambil menggebrak meja kerja Natasha.
"Maaf, pak CEO sedang ada rapat." jawab Natasha formal. Dia menatap tajam wanita dihadapannya ini, ia tau mungkin wanita ini adalah salah satu wanita yang di kencani oleh Aiden. Natasha sudah terbiasa dengan semua ini, termasuk menghadapi para wanita yang mendekati Aiden.
Wanita itu tidak mendengarkan Natasha, dia berjalan untuk menerobos masuk ke dalam ruangan Aiden, ruang Presdir Dacosta grup. Natasha dengan cepat menghadang jalannya.
"Maaf nona! Presdir sedang rapat, kau tidak boleh masuk ke dalam ruangannya!" ujar Natasha pada wanita itu dengan tegas.
"Minggir kau sekretaris rendahan!" wanita itu mendorong Natasha, sampai gadis itu terjatuh dan keningnya terantuk ujung meja kerjanya sendiri. Natasha kembali bangkit dan berusaha menghentikan wanita itu agar tidak masuk ke ruang rapat, tanpa mempedulikan keningnya yang berdarah.
"Nona, anda tidak boleh masuk!"
"Kau sangat tidak tahu diri ya, padahal kau hanya seorang sektretaris. Aku kekasih Aiden, kau tau?"
__ADS_1
"Saya tau, tapi anda tidak bisa masuk untuk menemui pak presdir sekarang. Tunggu saja di luar." Natasha menarik tangan wanita keras kepala itu. Wanita itu tak tinggal diam dan melawan Natasha, bahkan sampai menamparnya.
Tak lama setelah Natasha ditampar oleh wanita yang tidak diketahui namanya itu, pintu ruang Presdir terbuka lebar. Aiden dan 3 staff dari kantornya keluar dari sana. Aiden dan tiga orang itu melihat keadaan Natasha yang terluka.
"Sektretaris Natasha? Apa kau terluka?" tanya seorang pria di bagian staff bagian pemasaran pada Natasha.
"Saya tidak apa-apa." jawab Natasha seraya menundukkan kepalanya. Namun darah di keningnya masih bisa terlihat oleh Aiden dan ketiga pria itu.
Aiden mengisyaratkan pada ketiga pria itu untuk pergi dari sana. Mereka pun menurut dan melangkah pergi meninggalkan kantor presdir. Tinggallah Natasha, Aiden dan wanita berambut merah itu di sana. Dengan genit si wanita berambut merah menggamit tangan Aiden, membusungkan dada pada pria itu.
Hati Natasha tersayat sayat saat melihatnya, walau dia sudah pernah melihat ini sebelumnya. "Kenapa Aiden...kau tau perasaanku padamu tapi kau sengaja menyiksaku begini? Aku tau kau dendam pada ibuku, tapi aku tidak sama dengannya."
"Sayang, lihatlah sektretarismu melarangku masuk. Kurang ajar sekali dia!" wanita itu melirik sinis Natasha dan merengek pada Aiden.
"Sepertinya dia memang harus diajari sopan santun. Ya sudah sayang, ayo kita masuk." ucap Aiden lembut pada wanita berambut merah itu. "Dan kau Natasha! Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam ruanganku untuk satu jam ke depan!" ujar Aiden pada Natasha, tanpa peduli luka di kening dan di pipi gadis itu.
"Baik pak." sahut Natasha tanpa mengatakan apapun lagi.
Terakhir Natasha melihat pintu ruang Presdir tertutup rapat, Aiden dan wanita itu masuk ke dalam sana. Mereka menciptakan suara-suara dessahan didalam sana, desahann yang menyakiti hati Natasha. Ini adalah siksaan untuk gadis itu yang sudah mencintai Aiden sejak lama.
Hal itu adalah hal-hal yang ada didalam ingatan Natasha.
#End flashback
Ingatan demi ingatan yang kebanyakan adalah ingatan yang buruk, terus saja membuat kepala Natasha berdenyut seakan-akan meledak. Wanita itu tidak tahan lagi. Potongan masa lalunya telah terkuak saat ia melihat sosok Luna.
Semua orang yang berada di ruangan itu begitu terkejut saat melihat Natasha berteriak histeris dan kesakitan. Tak lama setelah itu, Natasha jatuh pingsan dan dengan sigap Aiden menahan tubuhnya.
"Natasha! Sayang!" seru Aiden seraya menepuk-nepuk pipi istrinya dengan cemas. Tidak hanya Aiden, si kembar dan semua orang sama cemasnya.
"Mommy! Mommy kenapa? Mommy bangun!" teriak Axelia seraya memegang tangan Natasha dan menangis.
Sementara Luna terlihat bingung, perasaannya saat ini campur aduk. Apalagi saat melihat si kembar dan mereka berdua memanggil Natasha dengan sebutan mommy. Dia juga bingung kenapa Natasha terlihat seperti tidak mengenal dirinya, apa ada hal yang ia lewatkan?
Lalu pesta pernikahan? Banyak yang membuat Luna bingung. Namun dia mengesampingkan semua rasa itu dan memilih untuk mencemaskan Natasha, sahabatnya.
"Iya!" sahut Aiden cepat, dengan sigap ia menggendong istrinya yang masih memakai gaun pengantin itu ala bridal style.
Mereka semua tampak panik dan pergi keluar dari gereja itu, menuju ke rumah sakit. Sementara Luna dan Nancy masih berada disana, mereka juga akan menyusul Natasha dan yang lainnya ke rumah sakit.
Tanpa mereka sadari, Dixon juga ada di sana dan mengikuti Aiden ke rumah sakit dari belakang. Ia yang meminta Luna untuk datang menemui Aiden dan menggagalkan pernikahan Natasha Aiden. Akan tetapi Luna terlambat datang. Tadinya dia ingin meminjam Luna dan memanfaatkan Luna untuk mengacaukan pernikahan Aiden dan Natasha. Tanpa terlihat jelek oleh siapapun juga, tapi malah begini.
"SIAL! Aiden sudah menikah dengan Natasha! Sial! Aku terlambat!" di dalam mobil, Dixon mengamuk. Sampai sekretarisnya yang ada disana hanya bisa mengelus dada dengan kemarahan Dixon.
"Lagi-lagi aku terlambat! SIALAN!"
~10 menit kemudian, Aiden dan semua keluarganya sampai di rumah sakit. Natasha langsung dilarikan ke ruang UGD untuk pemeriksaan, sedangkan bagian administrasi diatur oleh Ivana.
"Dokter, tolong katakan sesuatu! Apa yang terjadi pada istri saya?!" sentak Aiden tak sabar dengan dokter yang masih memeriksa istrinya.
"Mohon bersabar pak, pemeriksaannya baru dimulai." sahut sang dokter sambil memegang stetoskopnya dan mulai memeriksa Natasha.
"Kak, tenanglah!" ujar Ivana pada kakaknya, sambil mengusap-usap pelan tangannya.
"Aku tidak bisa tenang...tidak... bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya." Aiden gelisah, ia masih belum bisa tenang sampai Natasha sadarkan diri dan baik-baik saja.
Hingga beberapa saat kemudian, dokter mengatakan bahwa Natasha perlu penanganan medis lebih lanjut dan kepalanya akan diperiksa lebih dulu. Hal ini tentu berkaitan dengan cedera yang dialaminya dulu dan juga ingatannya.
Ketika Natasha sudah dipindahkan ke ruang rawat, Aiden tanpa sengaja berhadapan dengan Luna. Dia belum bicara sepatah katapun dengan wanita itu karena tadi ia terlalu panik melihat Natasha tidak sadarkan diri.
"Aiden?" Luna menatap Aiden yang saat ini terlihat marah padanya. Luna tidak paham kenapa Aiden marah? Tapi dari tatapannya, seolah ia telah melakukan kesalahan besar.
"Nyonya Foster, Albert, aku titip Natasha dan anak-anakku sebentar ya!" pinta Aiden pada Amy dan Albert.
__ADS_1
"Tuan Aiden tenang saja, saya akan menjaga mereka." Sahut Albert diiringi dengan senyum tulus. Ia sedang duduk bersama dengan si kembar didepan ruang tunggu.
"Luna, kau ikut aku!" Aiden bicara dengan Luna dengan dinginnya. Ia mengajak Luna bicara ditempat lain. Luna menganggukkan kepalanya, ia juga banyak yang ingin dikatakan pada Aiden. Terutama tentang kesalahan yang ia lakukan di masa lalu.
Di balik tembok, lorong rumah sakit yang tak jauh dari ruang rawat Natasha. Kini Aiden dan Luna berada disana dalam jarak yang cukup jauh untuk bicara. Aiden menganggap Luna dan menatap Luna seperti seorang serangga yang harus dibasmi. Amat menjijikkan! Sejak wanita itu menipunya, Aiden sudah merasa ilang perasaan pada wanita itu, mau itu sekedar kenal, teman ataupun sahabat dekat. Baginya, orang yang sudah memisahkan dia dan Natasha tidak berhak untuk mendapatkan maaf dengan mudah! Aiden masih membencinya.
Sepertinya Aiden, masih belum bisa berhenti untuk membenciku sampai sekarang. Dia masih menatapku dengan tatapan penuh kebencian seperti ini. Batin Natasha.
"Kenapa kau bisa ada di pesta pernikahanku? Apa maumu Luna? Kau ingin mencoba memisahkanku lagi dan Natasha? Setelah sebelumnya kau gagal menipuku?!" tuduh Aiden dengan sarkasnya pada Luna.
"Aiden...kenapa kau selalu berpikiran buruk kepadaku? Setidaknya dengarkan aku dulu bicara, dengar penjelasanku!" seru Luna pada pria itu tegas. Jujur saja Luna kecewa dan sakit hati, karena Aiden masih membencinya dan selalu menuduhnya yang bukan bukan.
Dia bahkan kehilangan karirnya sebagai model dan tidak diterima di manapun, karena Aiden yang melakukannya dan menutup semua koneksinya. Namun bagi Luna, Semua yang dia rasakan dan dia dapatkan dari pria itu. Tidak sebanding dengan kehilangan yang dirasakan oleh Aiden, saat ia kehilangan Natasha bertahun-tahun yang lalu.
"Aiden, aku datang bertemu denganmu untuk meminta maaf! Aku bahkan tidak tahu kalau Natasha ternyata masih hidup, aku kesini hanya untuk bertemu denganmu. Sungguh, aku tidak pernah berniat jahat. Aku tidak pernah ada niatan untuk memisahkan kalian lagi, sebab aku pun sudah memiliki keluargaku sendiri dan aku sudah bahagia. Aku malah senang kalau kau ternyata bahagia bersama dengan Natasha. Aku jujur Aiden, percayalah padaku!"
Luna memegang dadanya beberapa kali, berharap pria itu akan percaya padanya. Ia memang tidak bohong, ia datang untuk meminta maaf dan dia sudah memiliki keluarga bahagia. Dan dia sangat bersyukur saat tau Natasha masih hidup, melihat wanita itu dengan mata kepalanya sendiri.
Aiden menatap intens pada wanita itu, begitu retoris, tajam dan menyelidik. Aiden tidak melihat adanya kebohongan didalam mata itu. Luna terlihat tulus, ia bisa merasakannya bahwa Luna tidak berpura-pura seperti dulu.
"Aku akan mencoba percaya, tapi dari siapa kau tau aku berada di pulau ini? Apa kau sengaja datang kemari, hanya untuk menemuiku saja?" tanya Aiden masih dengan tatapan curiganya.
"Tidak. Bertemu denganmu adalah hadiah tidak terduga. Karena alasan sebenarnya aku datang kembali adalah untuk pemotretan bersama dengan perusahaan Dixon!" jelas Luna.
"Perusahaan Dixon?"
Tak heran, Dixon ada disini.
"Dan dia yang memberitahuku di mana keberadaanmu," ucap Luna lagi.
Aiden tampak berpikir dan keningnya berkerut. Mungkinkah Dixon sudah tau bahwa ia dan Natasha akan menikah sebelumnya? Ah ya--jangan lupakan bahwa selama Branz mengatakan kalau Dixon sedang menyelidiki dirinya dan juga Natasha.
"Sekarang giliranku bertanya. Kenapa Natasha seperti tidak mengenaliku?" tanya Luna pada pria itu.
Aiden menghela nafas, ia memutuskan untuk percaya pada Luna, tapi ia tetap menjaga jarak dengannya. Dia menceritakan tentang Natasha yang kehilangan ingatannya dan tentangnya yang menipu Natasha sebagai kekasihnya.
Luna terkejut, ia tak percaya bahwa Aiden akan berbohong seperti ini pada Natasha. Terlalu cintakah atau ada hal yang lain?
"Kalau seandainya ingatan Natasha kembali, kau harus jelaskan semuanya dan meminta maaf padanya," ujar Luna menyarankan.
"Tentu saja, aku pasti akan melakukan itu. Aku dan Natasha tidak boleh berpisah lagi, kami bahkan sudah memiliki dua orang anak. Aku tidak mau kehilangannya lagi!" seru Aiden dengan raut wajah yang sendu.
"Betapa kau sangat mencintainya Aiden, bahkan kau sampai berbohong seperti ini karena takut kehilangannya. Aku mohon maafkan aku Aiden," sesal Luna atas semua yang ia lakukan pada Natasha dan Aiden.
"Ini bukan sepenuhnya salahmu, aku saja bodoh karena terlalu membuat Natasha terbelenggu dengan dendam yang aku miliki. Padahal Natasha tidak bersalah dan aku melampiaskan semuanya padanya," ucap Aiden yang juga mengaku kalah, menyesal dan sedih akan masa lalu itu.
Akhirnya Aiden dan Luna memutuskan untuk rekonsiliasi berdamai dengan masa lalu mereka. Memilih memaafkan atas apa yang sudah terjadi, karena kesalahan itu masih bisa diperbaiki.
"Jadi kita berdamai ya?" tanya Luna seraya mengulurkan tangannya pada Aiden. Pria itu balas menjabat tangannya.
"Dad! Mommy sudah siuman!" kata Dylan yang datang menghampiri papanya dan Luna disana.
"Apa?" Aiden terkejut dan buru-buru pergi dari sana untuk melihat istrinya yang katanya sudah siuman. Luna juga mengikutinya dari belakang, namun sebelum sampai disana. Ia melihat Dixon yang sedang berjalan ke ruang rawat Natasha.
"Hentikan Dixon! Kita perlu bicara!" ujar Luna pada pria itu dan menghentikannya untuk masuk ke dalam ruang rawat Natasha.
~ Kini semua orang sudah berada di ruang rawat Natasha, wanita itu sudah siuman. Aiden dapat melihat wajah Natasha yang sekarang tampak dingin padanya.
"Mom, dad, sudah datang!" kata Axelia yang berdiri disamping ibunya. Posisi Natasha saat ini tengah duduk diatas ranjangnya.
"Nath, kau sudah siuman? Syukurlah!" ketika Aiden akan memeluk Natasha, wanita itu lebih dulu mendorongnya pelan.
"Mr. Dacosta, aku sudah ingat semuanya...," ucap Natasha dengan sorot mata tajam pada Aiden. Inilah yang Aiden takutkan kalau Natasha ingat semuanya.
__ADS_1
Natasha berbisik pada Aiden, ia tak mau kedua anaknya dan semua orang mendengarnya bicara. "Kau benar-benar pembohong besar, Aiden Addison Dacosta. Aku membencimu,"
...*****...