
...🍁🍁🍁...
Setelah Aiden menggendong Natasha yang tidak sadarkan diri ke dalam rumah. Barulah Amy mengobrol dengan Aiden selagi Natasha belum siuman di dalam kamarnya. Di dalam kamar itu ada Dylan dan Axelia yang menjaga mommy mereka.
"Siapa anda? Kenapa anda mengganggu Kimberley?" tanya Amy dengan kedua alis yang terangkat ke atas. Ia menatap pria itu dengan lekat, ya takutnya Aiden adalah orang jahat.
Aiden pun mengulurkan tangannya seraya berjabatan tangan dengan wanita paruh baya itu. Dia memperkenalkan dirinya secara formal dan sopan. "Saya Aiden Dacosta."
Mendengar nama Dacosta membuat kedua mata Amy melebar dalam sekejap. Dia tau nama Dacosta, perusahaan tempat Albert bekerja dan termasuk perusahaan yang memiliki cabang dimana-mana. Perusahaan besar di benua itu juga mungkin di beberapa bagian negara lainnya.
"Saya Amy Foster, ibu Kimberly dan nenek dari kedua anak kembar yang kau lihat itu," balas Amy yang juga memperkenalkan dirinya pada Aiden. Tidak begitu ramah, tapi tidak judes juga. Bisa dikatakan bahwa Amy waspada pada Natasha.
"Senang berkenalan dengan anda Mrs. Foster." kata Aiden seraya tersenyum tipis pada Amy.
"Sekarang saya ingin tau. Kenapa anda mengganggu Kimberly, anak saya?" tanya Amy tajam.
"Dia bukan anak nyonya, tapi dia adalah Natasha. Ibu dari anak-anak saya, wanita yang saya cintai," ungkap Aiden tanpa basa-basi. Dia mengakui bahwa ia memang mencintai Natasha dan kedua anak kembar itu, dia yakin mereka buah cintanya dengan Natasha.
Amy tercengang mendengarnya. Ia pun menanyakan lebih lanjut tentang Natasha pada Aiden. Amy juga meminta Aiden menunjukkan bukti bahwa dia mengenal Natasha.
"Ini...foto Natasha saat masih bekerja di London, bersama saya. Dan juga ini adalah foto waktu kami kuliah." Aiden menunjukkan foto-foto Natasha yang ia dapatkan dari Theo. Padahal sebelumnya pria itu tidak pernah menyimpan foto apapun tentang Natasha kecuali foto saat Natasha waktu TK yang selalu tersimpan di dompetnya.
Setelah melihat foto-foto Natasha yang ditunjukkan oleh Aiden, barulah Amy percaya bahwa pria itu memang mengenali Natasha.
"Kalau nyonya tidak percaya, saya bisa memanggil seseorang kemari untuk membuktikan perkataan saya," jelas Aiden pada Amy lagi.
Wanita paruh baya itu tersenyum, lalu menyimpan foto-fotonya ke atas meja. "Saya percaya pada anda tuan Dacosta. Sekarang, giliran saya untuk menceritakan apa yang terjadi pada Natasha 6 tahun lalu."
Pria itu siap mendengarkan semua cerita dari Amy, tentang apa yang terjadi 6 tahun lalu. Amy mulai menceritakan semuanya secara singkat, saat pertama kali putranya Albert menemukan Natasha di pinggir pantai dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Hingga akhirnya Natasha mengalami koma selama 3 bulan lamanya, karena kondisinya yang kurang baik. Namun beruntung Natasha dan kedua anak yang ada di dalam kandungannya selamat, meski sang ibu mengalami koma.
"Dan saat Natasha siuman, saya memeriksa kondisinya bahwa dia mengalami amnesia. Akibat benturan hebat di kepalanya."
"Amnesia? Apa nyonya yakin dia tidak berpura-pura?"
"Jadi kau meragukan diagnosaku sebagai seorang dokter? Dan kau juga meragukan Natasha? Kau bilang bahwa Natasha mencintaimu, orang yang mencintaimu tidak mungkin berbohong padamu. Lalu, apakah dia terlihat seperti orang yang berpura-pura?" tanya Amy dengan tatapan mata yang begitu sarkas pada Aiden. Jujur saja dia tidak senang dengan ucapan Aiden yang bertanya tentang kepura-puraan Natasha.
"Ma-maaf, saya salah bertanya. Saya hanya terkejut karena saya tidak menyangka bahwa Natasha akan..." Aiden meminta maaf atas kesalahannya dalam bertanya. Faktanya pria itu masih belum bisa menerima bahwa Natasha mengalami hilang ingatan.
__ADS_1
Natasha kehilangan ingatannya, semuanya...tentangku tentang masa lalu. Tapi bukankah ini ada baiknya juga? Aku bisa membuat kenangan yang baik untuk Natasha dan anak-anakku. Citra yang baik didepan mereka. Pikir Aiden dalam hatinya. Ya, di satu sisi ia merasa bahwa dirinya seperti ayahnya Xander di masa lalu saat mencoba mendapatkan kembali anak dan istrinya. Akan tetapi disisi lain, Aiden merasa ini hal baik karena Natasha melupakan semua kenangan buruknya.
Setelah mengobrol panjang lebar bersama dengan Amy, terakhir Aiden meminta bantuan kepada wanita paruh baya itu untuk membantunya dekat dengan Natasha dan anak-anaknya lagi. Tentu saja Amy merasa senang, dia juga ingin ingatan Natasha kembali dan Natasha bisa berkumpul dengan orang yang ia cintai. Apalagi di kembar yang selalu menanyakan ayah mereka.
"Oma! Mommy cudah sadal!" seru Axelia seraya menghampiri omanya yang sedang mengobrol dengan Aiden. Hingga tanpa sengaja ia menginterupsi percakapan mereka. Aiden tersenyum lembut para Axelia, dia ingin memeluk putrinya itu.
"Mari kita temui mommymu," sahut Amy lalu ia pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pergi ke kamar Natasha. Diikuti oleh Aiden dan Axelia dibelakang. Aiden memegang tangan mungil gadis kecil itu, sambil berjalan. Axelia sama sekali tidak menolaknya dan malah senang dipegang oleh Aiden.
Mereka pun masuk ke dalam kamar Natasha, disana ada Dylan yang duduk ditepi ranjang menemani Mommynya.
"Kim, kau sudah siuman? Bagaimana perasaanmu nak?" Amy mengambil tempat duduk di samping Natasha, ia tampak mencemaskan putri angkatnya itu.
"Hanya sedikit pusing. Bu," jawab Natasha sambil tersenyum. Kemudian atensinya tertuju pada Aiden yang masih berpegangan tangan dengan Axelia.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Natasha dengan sinis pada pria itu. Dia bahkan berdiri di hadapan Aiden.
"Mom, jangan galak-galak pada Daddy..." Axelia memegang tangan Aiden, yang membuat Natasha terkejut bukan main. Bagaimana bisa anaknya membela pria asing dan mengakui pria itu sebagai daddynya?
"Dia bukan Daddymu Axe, dia hanya orang asing kurang ajar!" Natasha ingat benar sebelum dia pingsan, pria itu menciumnya. Dan wanita itu masih marah sampai sekarang.
Jadi, aku harus memulai semuanya dari awal? Baiklah tidak apa, karena aku yakin walaupun kau hilang ingatan--perasaanmu masih tetap padaku. Aku hanya khawatir kalau ada kebencian disana. Aiden memandang Natasha cukup dalam, hingga akhirnya ia buka mulut..
Natasha langsung menutup mulut Aiden dengan satu tangannya. Matanya menatap tajam pada Aiden. "Tutup mulutmu! Dasar pria kurang ajar!" seru Natasha marah.
Si kembar menatap Aiden dan Natasha dengan heran apalagi Dylan. Anak laki-laki itu seperti memiliki banyak pertanyaan di dalam kepalanya. Terutama tentang kemiripan wajahnya dengan pria itu.
Setelah melihatnya langsung, aku dan pria ini memang mirip. Apa benar dia adalah Daddyku dan Axelia? Batin Dylan bertanya-tanya.
Amy pun mengajak si kembar untuk keluar dari kamar itu terlebih dahulu dan membiarkan Aiden Natasha untuk berbicara berdua saja. Amy akan membiarkan Aiden untuk menjelaskan semuanya perlahan-lahan.
"Jadi kau adalah ayah dari Axelia dan Dylan?" tanya Natasha bingung setelah ia mendengar cerita Aiden. Memang ada cerita yang dilewatkan oleh Aiden, yaitu tentang Luna dan kematian ibunya. Aiden tidak mau membahasnya, ia hanya membahas hal yang baik-baik saja.
"Iya, saat kau meninggalkan London. Kau sedang hamil buah cinta kita dan pesawatmu mengalami kecelakaan," jelas Aiden seraya menatap lembut Natasha yang sekarang sudah tampak tenang dan tidak segalak tadi.
"Jadi kita sudah menikah?" tanya Natasha yang membuat Aiden tersentak kaget dengan pertanyaannya.
"Itu...kita baru bertunangan," Aiden berdusta.
__ADS_1
"Jadi, kau menghamiliku sebelum menikah?" tanya Natasha blak-blakan yang membuat Aiden kembali tercengang. Natasha yang sekarang polos, tapi dia senang karena Natasha tidak membencinya untuk sekarang. Walau wanita itu bersikap seperti orang asing kepadanya.
"Eum...iya begitulah." kata Aiden sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
"Bagaimana aku bisa hamil sebelum menikah? Sedangkan aku yakin, bahwa aku telah menanamkan di dalam hatiku... bahwa aku tidak akan melakukan hubungan intim sebelum menikah." gumam Natasha bingung. Meskipun dia tidak mengingat apa-apa soal masa lalunya, tapi dia yakin prinsipnya begitu.
"Ya, kau memang memiliki prinsip seperti itu. Tapi aku yang memaksamu dan menggodamu malam itu. Jadi kita melakukannya." terang Aiden lagi sambil tersenyum.
Jujur saja, aku bahkan tidak mengingat dengan jelas malam pertama kita saat itu Natasha. Batinnya.
"Apa kau memperk*saku?" tanya Natasha terang-terangan.
Aiden langsung menyanggahnya dengan cepat. "Tidak! Kita melakukannya atas dasar suka sama suka!"
"Hem... begitu ya? Tapi setelah aku mendengar ceritamu tentang masa lalu kita. Maaf, aku masih belum bisa mengingatmu," ujar Natasha dengan berat hati. Aiden hanya tersenyum lembut menanggapinya.
"Ya, tidak apa-apa. Aku akan menunggumu sampai kau mengingatku kembali. Dan kau juga anak-anak kita, tidak boleh pergi jauh-jauh dariku." lirih Aiden penuh perasaan.
"Hem... bolehkah aku memelukmu?" pinta Aiden yang sudah ingin memeluk Natasha dari tadi untuk melepaskan semua gelora rindu yang ada di dalam dirinya. Rindu yang begitu menggebu dan dia tahan selama bertahun-tahun kepada wanita itu.
"Kau bahkan sudah menciumku." tukas Natasha dengan wajah dinginnya. Sedetik kemudian, wanita itu sudah berada di dalam dekapan tubuh Aiden.
Jantung keduanya sama-sama berdebar tidak karuan, ketika kedua tubuh itu saling menempel satu sama lain. Menyalurkan rasa rindu di dada yang sempat tertahan. Bukan hanya Aiden yang merasakan kerinduan yang tersalurkan itu, Natasha juga merasakannya.
Merasa nyaman, rindu dan sedih bersamaan saat Aiden memeluknya. Refleks, dengan nalurinya wanita itu membawa pelukan Aiden.
Tidak apa-apa Natasha, mari kita mulai semuanya dari awal. Batin Aiden yang tangannya masih memeluk erat Natasha.
****
Di tempat lain, Theo masih berusaha menghubungi Aiden sedari tadi untuk mengabarkan tentang pertemuannya dengan seseorang yang mirip dengan Natasha. Akan tetapi, Aiden sama sekali tidak mengangkat panggilan darinya. Ya, itu karena Aiden sedang sibuk reunian bersama dengan Natasha dan anak-anak mereka.
Akhirnya Theo memutuskan untuk menemui istri dan anaknya yang kebetulan ada di sebuah hotel disana. "Kenapa kau ada disini?" tanya Ivana sinis saat melihat pria yang berdiri di hadapannya itu.
"Ivana, kita perlu bicara."
"Apa lagi yang perlu dibicarakan? Bukankah kau seharusnya bicara dengan asistenmu itu?" sindir Ivana kesal. Sebenarnya, Ivana dan Theo sedang ada masalah dalam rumah tangga mereka. Mereka sudah menikah 3 tahun lamanya.
__ADS_1
...****...