Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta

Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta
Bab 37. Dia masih hidup


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Dibawah langit senja, diiringi semilir angin yang berhembus sejuk ke arah dua insan itu. Si wanita terdiam cukup lama saat pria itu melamarnya. Bukan dengan puisi yang romantis, bukan pula dengan syair yang indah, karena pada dasarnya pria itu bukan tipe pria romantis. Aiden mencoba menjadi romantis pada Natasha karena ia sangat mencintai wanita itu.


Tanpa Aiden dan Natasha sadari, si kembar, keluarga Foster, Ivana, Theo dan Starla melihat adegan itu sembunyi-sembunyi dari kejauhan. Ivana sampai tidak sabar karena Natasha cukup lama memberikan jawaban untuk lamaran Aiden.


"Bagaimana ini? Bagaimana bila kakakku ditolak!" seru Ivana tidak sabar dengan jawaban Natasha. Ia lebih ke takut lamaran kakaknya ditolak. Faktanya mereka baru kembali bertemu setelah 6 tahun lamanya berpisah dan ingatan Natasha juga menghilang. Apakah cinta itu bisa tumbuh begitu cepat? Tidak ada yang bisa menebak hati Natasha.


"Itu tidak mungkin nona Ivana, aku yakin Natasha akan menerima lamaran tuan Aiden. Natasha mencintainya," ucap Amy.


"Ya, aku juga yakin itu! Tidak mungkin kak Natasha menolaknya." Albert ikut bicara dan meyakinkan Ivana.


"Semoga saja begitu," Ivana menundukkan kepalanya, sementara suaminya ada disampingnya menggendong Starla. Dia juga melihat semua itu.


Tentang pernikahan, adalah hubungan dua antar manusia. Dimana dua pemikiran, dua hati, berada dalam satu atap, berada dalam satu kubu, namun kadang berbeda pemahaman. Jujur saja, Natasha sama sekali belum memikirkan soal pernikahan. Namun, dia akui memiliki rasa pada Aiden. Pria yang mengaku sebagai ayah dari kedua anaknya dan juga kekasihnya di masa lalu.


Disisi lain, Aiden gemetar dan berdebar saat menanti jawaban dari Natasha. Ia bukannya tidak percaya diri, dia yakin bawa Natasha juga memiliki rasa yang sama dengannya. Akan tetapi dia hanya takut Natasha merasa bahwa ini terlalu cepat, sedangkan pertumbuhan mereka bahkan belum terhitung satu Minggu dan dia sudah mengajaknya menikah.


"Aiden, apa kau benar-benar melamarku? Apa kau serius menjadikan aku sebagai istrimu?"tanya Natasha seraya menatap pria yang masih berjongkok di hadapannya itu.


"Iyah aku yakin dan perasaan ini sudah sejak lama."


"Kau melamarku, bukan hanya karena aku adalah ibu dari anak-anak kita?"


"Ya, memang itu adalah salah satu alasannya. Namun alasannya yang terbesar adalah karena aku sangat mencintaimu," lirih Aiden dengan penuh kesungguhan dia menatap wanita itu. Dia benar-benar tidak mampu hidup tanpa Natasha lagi. Sudah cukup waktu enam tahun ia habiskan dengan penderitaan karena tidak ada Natasha dan kedua anak mereka. Aiden tidak mau lagi hidup berada di dalam neraka yang bernama kesepian.


"Sebelum aku menjawab lamaranmu. Bolehkah aku bertanya satu hal lagi? Ah tidak, bukan bertanya... lebih tepatnya Aku ingin kau berjanji." tukas Natasha dengan raut wajah serius.Dia meminta pria itu untuk berjanji sebelum menjawab lamarannya.


Aiden masih dengan posisinya, dia menganggukan kepala dengan mantap. Dia siap jika harus disuruh berjanji apa saja.


"Kau ingin aku berjanji apa?"


"Aku mau kau berjanji untuk selalu setia kepadaku seumur hidupmu, berjanji untuk selalu mengutamakan anak-anak kita terlebih dahulu dibandingkan diriku. Aku juga ingin kita membangun sebuah komitmen di atas tiga janji. Kepercayaan, kesetiaan dan juga kejujuran. Bisakah kau memenuhi semua permintaanku? Apa kau bisa menjamin dirimu untuk menepati semua itu?" tanya Natasha, ia mengutarakan semua hal yang terpendam di dalam hatinya mengenai suatu hubungan.


Baginya, suatu hubungan tidak akan berjalan dengan lancar tanpa adanya kepercayaan, kejujuran dan juga kesetiaan. Ya, mungkin ada beberapa orang yang memiliki prinsip sama seperti Natasha. Namun mereka mungkin tidak bisa menjalaninya. Tapi wanita itu bersungguh-sungguh ingin membangun sebuah keluarga dengan komitmen dan pondasi yang kuat. Dengan inti kata cinta.


"Aku berjanji akan menepati semua itu untukmu dan juga keluarga kita, aku tidak akan pernah mengecewakanmu." kata Aiden bersungguh-sungguh.


Lagi. Kata lagi ini hanya terucap dalam hatinya. Sebenarnya dia memiliki niat untuk jujur tentang masa lalunya dan juga Natasha. Bahwa mereka bukan sepasang kekasih, melainkan sebuah hubungan yang terikat dengan persahabatan yang juga dendam. Namun Aiden tidak mampu untuk berkata jujur. Jujur di saat-saat seperti ini sangat sulit untuknya.


"Baiklah, jika kau memang bersungguh-sungguh mencintaiku dan juga anak-anak kita. Aku tidak bisa mengatakan tidak padamu, ayo menikah Aiden. Mari kita membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia." wanita itu tersenyum manis, ia memutuskan untuk percaya kepada ayah dari anak-anaknya ini. Dengan harapan memiliki keluarga bahagia.


"Natasha, apakah kau serius?" tanya Aiden tidak percaya. Natasha mengganggukan kepalanya, lalu dia berkata. "Yes, i will..."


Air mata bahagia tak terbendung lagi, mereka sama-sama menangis. Apalagi ketika Aiden memasangkan cincin berlian di jari manis Natasha.


"Aku mencintaimu, alu berjanji akan selalu membahagiakanmu dan juga anak-anak kita."


"Aku percaya padamu, Aiden."


Entah siapa yang memulai, kini keduanya berpelukan di tengah-tengah suasana matahari yang terbenam. Dan tak lama itu, terdengar suara riuh dari berapa orang yang ada di pasar malam tersebut, mereka mengucapkan selamat karena lamaran Aiden telah diterima.


Ivana, Theo, Starla, si kembar, Amy dan juga putranya Albert juga turut memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua. Malam itu adalah malam yang paling membahagiakan bagi Natasha dan juga Aiden, mereka bermain-main di pantai sambil menikmati pasar malam buatan yang disewa oleh Aiden untuk melamar Natasha.


"Aiden, ayo kita ikut bermain dengan mereka!" seru Natasha mengajak Aiden yang masih anteng duduk di kursi. Natasha melihat semua orang tampak menikmati langit yang sudah berganti menjadi gelap dan juga menikmati wahana di pasar malam itu.


Bukannya ikut dengan ajakan Natasha, Aiden malah menarik tangan Natasha dan membuat wanita itu kembali duduk di sampingnya. "Kita berduaan dulu saja disini, aku masih ingin bersamamu. Aku masih merasa mimpi," lirih pria itu.


"Hem...baiklah. Kalau begitu, apa aku boleh bertanya satu hal padamu?" tanya Natasha pada Aiden.


"Bertanya ratusan hal pun, boleh." goda Aiden.


"Kau kan orang kaya, terkaya nomor 1 di London.Tapi kenapa kau memilih untuk membuat pasar malam buatan dan melamarku, daripada kau memilih menyewa kapal pesiar?"


"Oh--jadi kau ingin aku melamarmu di kapal pesiar? Ah ya--baiklah, kalau kau ingin begitu. Mari kita ulang acara lamarannya di kapal pesiar."

__ADS_1


"Ti-tidak bukan begitu, aku hanya heran kenapa kau memilih pasar malam." Natasha buru-buru menggelengkan kepalanya, dia tidak mau Aiden salah paham kepadanya.


"Karena kau yang mau. Kau yang pernah mengatakan padaku, bahwa kau ingin seseorang melamarmu di pasar malam. Sambil menyaksikan pasar malam itu. Mungkin kau tidak ingat, tapi aku ingat dan aku tau."


"Oh begitu," bibir Natasha membulat saat mendengarnya.


"Ngomong-ngomong soal kapal pesiar. Apa kau ingin dilamar disana karena kau ingat dengan kekasihmu yang seorang nahkoda itu?" tanya Aiden dengan kedua alis terangkat ke atas dan sorot matanya tajam pada Natasha.


Natasha mengerutkan keningnya. 'Darimana dia tau soal nahkoda? Dan lagipula dia bukan kekasihku' batinnya.


"Kenapa? Apa kau kaget karena aku tau tentang kekasihmu itu? Kau bahkan mengajak anak-anak kita naik ke kapal pesiar itu dan pergi jalan-jalan. Sedangkan aku, selama 6 tahun aku--hmphhh--"


Cup!


Tanpa disangka-sangka, Natasha membungkam Aiden dengan ciuman singkat dibibirnya. Pria yang tadi mengoceh itu pun jadi terdiam karenanya.


"Dengarkan dulu penjelasanku," kedua tangan Natasha menangkup pipi Aiden, dia menatap intens kedua mata biru pria itu.


Sedangkan Aiden, pria itu masih tidak percaya dengan ciuman barusan. Natasha berani menciumnya dan rasanya sangat luar biasa.


"Aku dan nahkoda yang entah siapa namanya itu, tidak ada hubungan apapun. Memang benar dia mencoba mendekatiku, tapi aku tidak menyukainya. Buktinya selama ini aku sendirian, itu artinya aku tidak pernah ada rasa apapun pada siapapun juga. Oke, paham?"


Aiden menganggukkan kepalanya seperti orang linglung, lalu dia balas mengecup bibir Natasha. Aiden menyesal, kenapa tidak dari dulu ia menyingkirkan rasa dendamnya dan menyadari cintanya Natasha. Hingga kisah mereka tidak akan sampai berputar-putar sampai 6 tahun kemudian. Kenapa dia tertipu dengan Luna kala itu?


"Dan sekarang, ayo kita bermain dengan anak-anak. Aku ingin naik salah satu wahana juga!" seru Natasha seraya tersenyum pada Aiden.


Ya Tuhan, aku harap kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir.


Natasha, Aiden dan kedua anak mereka menikmati waktu bersama dengan bahagianya. Mereka bahkan mengambil gambar bersama, layaknya keluarga bahagia. Ivana, Theo dan Starla senang karena pada akhirnya Aiden dan Natasha akan segera bersatu.


Dan lusanya mereka akan segera melangsungkan pernikahan, secara sederhana terlebih dahulu. Aiden juga tidak berencana mengundang keluarganya maupun keluarga Satigo. Dia sengaja ingin menyembunyikan ingatan Natasha, setidaknya sampai wanita itu berada dalam genggamannya. Egois memang, tapi pria itu tak mau kehilangan Natasha.


Sepulang dari pasar malam dan sesampainya di apartemen. Ivana kembali muntah-muntah, Theo merasa khawatir karena kehamilan istrinya saat ini lumayan sulit. Lihatlah, bahkan pria itu kini menangis dihadapannya.


"Aku menangis karena mencemaskanmu sweetie. Kenapa bukan aku saja yang hamil dan mengalami semua ini? Hiks...hiks..."


"Itu tidak bisa karena sudah takdir Tuhan. Lebih baik kakak bersikap baik padaku dan jangan pernah selingkuh dariku, bila kau sayang padaku!" peringat Ivana dengan tatapan sengit pada suaminya.


"Aku tidak pernah berselingkuh," Theo mengusap air matanya dan menatap sang istri dengan kasihan.


"Lalu si Bella itu apa?" Ivana menatap suaminya tajam, dia yang membahas soal Bella, dia pula yang kesal.


"Aku tidak ada apapun dengannya sayang! Kenapa kau membahasnya lagi?" Theo tidak mau membahas soal Bella lagi, sebab dia dan istrinya selalu bertengkar karena membahas masalah ini.


"Baiklah, kalau begitu mari kita bahas soal kak Aiden dan kak Nath."


"Mereka? Kenapa?"


"Kak, entah kenapa aku merasa tidak enak hati. Seolah akan ada badai yang datang, tapi semoga saja tidak. Seharusnya kakak jujur pada kak Nath," jelas Ivana cemas dengan apa yang akan terjadi nantinya.


"Kau tau kan, kita sudah mengingatkannya. Maka kita hanya bisa berdoa bahwa pilihannya benar dan tidak membuatnya kecewa. Dia harus siap untuk menerima konsekuensi dari pilihannya itu, Ivana." Theo memegang tangan Ivana dan menggenggamnya. Ia dan istrinya sudah mengingatkan Aiden untuk tidak berbohong dan jujur tentang masa lalu, tapi pria itu tetap bebal susah diingatkan. Dan entah apa yang akan terjadi ke depannya.


*****


Malam itu malam yang sangat indah untuk Aiden, Natasha dan kedua anaknya. Aiden sudah mempersiapkan segalanya untuk pernikahan. Tinggal melihat Natasha memakai gaunnya saja, semuanya sudah beres. Branz lah yang membantu segalanya.


Disaat Aiden dan Natasha akan segera menuju pelaminan. Terlihat seorang pria yang sedang menenggak minuman didalam gelas kecil, sambil melihat ke arah luar jendela kamarnya yang berada di lantai atas. Dia hanya memakai bathrobe saja dan menunjukkan keseksian tubuhnya.


Pria itu adalah Dixon Mac Clayton, pria yang mencintai Natasha dari dulu sampai sekarang. Dixon memandangi selembar foto ditangannya. Bukan foto istrinya melainkan foto dari cinta pertamanya, Natasha.


Dixon memandangi foto itu, sambil sesekali tertawa dan menangis. Ia merindukannya, walupun sudah menikah, rasa cinta untuk Natasha masih ada. Sedangkan untuk istrinya, sama sekali tidak ada.


Drreett...Drerrt...


Suara dering ponsel membuat Dixon terpaksa harus berhenti memandangi foto Natasha sejenak dan beralih mengambil ponselnya yang ada diatas meja.

__ADS_1


"Luna? Ada apa dia menelponku malam-malam begini?" tanya Dixon, lalu ia pun memutuskan untuk mengangkat panggilan dari Luna.


"Halo."


"Halo Dixon, maaf aku mengganggumu malam-malam begini."


"Kau memang menggangguku. Ck!" Dixon berdecak.


"Sekali lagi aku mohon maaf dan jika boleh, aku ingin meminta tolong padamu," ucap Luna memohon.


"Bantuan apa?"


"Tolong pastikan, apakah benar Aiden ada di pulau ini atau tidak. Sebab aku melihatnya tadi pagi. Entah ini benar atau tidak, aku ingin memastikannya dan maka dari itu aku meminta bantuan darimu, Dixon. Tolong! Aku berhutang maaf padanya,"


Dixon terdiam cukup lama, sebenarnya dia malas untuk berurusan dengan Aiden lagi. Tapi jika benar Aiden ada di pulau ini, maka Dixon juga pasti akan bertemu dengannya cepat atau lambat.


"Baiklah, aku akan mencari tau." Dixon menghela nafas panjang.


"Benarkah Dixon? Terimakasih sebelumnya, aku berharap kabar baik darimu. Tapi--Dixon, jika benar apa yang kulihat tadi pagi adalah Aiden. Kenapa dia bersama dua orang anak?"


"Apa maksudmu?"


"Aku melihatnya bersama dua orang anak kecil dan seorang pria. Dia mengendong seorang anak perempuan. Aku juga tidak tahu siapa."


Tut...Tut...


Dixon menutup telponnya begitu saja, dadanya berdebar-debar dan dia mulai berpikir yang bukan-bukan. Akhirnya ia memutuskan untuk menelpon orang kepercayaannya. "Tolong cari tau tentang keberadaan Aiden Dacosta!"


*****


Keesokan harinya, sepulang bekerja. Natasha, Aiden dan juga kedua anaknya pergi ke sebuah butik mewah di kepulauan itu.Aiden sudah memesan baju untuk acara pernikahan yang diadakan keesokan harinya.


Terlihat si kembar memakai setelan ke acara pernikahan. Dylan memakai jas hitam dan Axelia memakai gaun berwarna putih.


"Daddy, mommy, apakah aku cantik? Gaun ini, cocok untukku kan?" tanya Axelia seraya berputar-putar didepan kedua orang tuanya.


"Kau sangat cantik sayang," puji Natasha dengan mata berbinar-binar menatap putrinya yang imut itu.


"Benar, kau adalah princess Daddy. Tentu saja kau paling cantik!" Aiden tak kalah memuji putrinya.


"Benarkah?"


"Benar, kau seperti badut." ucapan Dylan sontak saja membuat Axelia marah padanya. Mereka pun berdebat kecil. Memang dasar Dylan, dia selalu senang melihat Axelia marah dan menggodanya.


"Nyonya, biar saya bantu untuk memakai gaunnya." kata seorang pegawai butik pada Natasha.


"Pergilah, coba gaunmu. Biar kita tau apa kekurangannya. Aku juga akan mencoba bajuku," ucap Aiden pada calon istrinya.


"Baiklah,"


Acara sesi mencoba gaun pengantin itu berjalan dengan lancar, Natasha sudah menemukan gaun yang cocok dengannya. Aiden memuji kecantikan Natasha, walau wanita itu sudah lewat usia 30 tahunan. Wanita itu seolah menyihirnya, sangat cantik. Bahkan Aiden sampai menciumnya dulu di ruang ganti butik karena tak tahan dengan kecantikan Natasha.


"Aiden, hentikan! Anak-anak menunggu kita," desah Natasha seraya mendorong Aiden yang menekan tubuhnya ke tembok.


"Aku jadi tidak sabar untuk besok, Nath." bisik Aiden, lalu mencium kening Natasha pelan.


"Aku juga, Aiden..." lirih Natasha sambil tersenyum.


Setelah mencoba pakaian, Natasha dan kedua anaknya pulang lebih dulu bersama Branz, karena Aiden akan pergi ke kantor dulu. Tepat saat Natasha dan kedua anaknya masuk ke dalam mobil, disisi lain ada seseorang yang keluar dari mobil..


"KIM! KIM! NATASHA!" suara pria itu menggelegar memanggil nama Natasha. Sayangnya, Natasha sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Dia masih hidup..."


...****...

__ADS_1


__ADS_2