Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta

Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta
Bab 27. Hari yang panjang


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Ivana melepaskan pagutan bibirnya dengan cara mendorong suaminya, hingga tubuh mereka pun menjauh. Ivana masih merasakan kekecewaan itu, terlihat jelas di wajahnya. Theo bahkan melihat Ivana mengusap bekas ciuman mereka dibibirnya dengan punggung tangan, menandakan bahwa Ivana masih sangat marah dan kecewa padanya.


"Baby," ucap pria itu seraya memegang tangan Ivana, namun ibu dari anaknya itu menepisnya lagi dan lagi.


"Pergilah, aku ingin sendiri. Kumohon jangan paksa aku bicara untuk sekarang, aku muak melihat wajahmu. Sumpah!" tukas Ivana dengan mata yang memerah, penuh rasa kecewa.


"Sayang maafkan aku! Jangan begini, kumohon kita harus bicara," bujuk Theo lembut.


"Kita bisa bicara, tapi nanti." Ivana melenggang berjalan melewati Theo dan menuju ke pintu kamar hotel. Ivana membukakan pintu kamar itu dengan selebar-lebarnya, maksudnya jelas. Ia mengusir Theo dari sana.


"Ivana..."


"Pintunya sudah ku bukakan untukmu! Silahkan keluar Mr. Galaxy," ujar Ivana dengan dingin yang menusuk ke dalam relung hati yang terdalam.


Theo menolak seraya menggelengkan kepalanya."Ivana, aku tidak bisa pergi tanpamu dan Starla."


Mana mungkin ia pergi tanpa istri dan anaknya. Mana mungkin ia membiarkan istrinya dalam keadaan marah dan sedih seperti ini. Hati Theo tidak akan tenang, dia menyesal sangat menyesal sudah membentak istrinya dan memilih membela Bella asisten barunya.


"Kak, kumohon...pergilah. Aku butuh waktu sendiri," ucap Ivana sambil memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut.


"Kau kenapa baby? Apa kau sakit?" tanya Theo yang ingin menyentuh wajah Ivana, namun wanita itu menghindar.


"Kau yang membuatku sakit kak Theo!" serka Ivana dengan suara yang meninggi. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan kencang disana.


Ivana segara pergi dari sana dan berjalan menuju ke ranjang, disana terlihat bayi perempuan 2 tahun terduduk di atas ranjang dan menangis. Ivana menghampiri bayinya dan Theo juga mengikuti Ivana. Theo cemas karena melihat putrinya menangis.


"Kenapa sayang? Mau mimi susu ya?" Ivana menyambut hangat putrinya.


"Cucu... Mama huhu.." oceh Starla terisak seraya merentangkan tangan pada mamanya. Ivana menggendong Starla dan mendudukkan gadis kecil itu di pangkuannya. Ia pun membuka penyangga sumber kehidupan Starla dan memberikannya ASI ekslusif secara langsung pada putrinya.


"Kenapa kau masih ada disini kak? Pergilah!" seru Ivana sambil menyusuii putrinya. Tanpa menoleh ke arah Theo yang duduk dihadapannya.


"Aku tidak bisa pergi, aku rindu padamu dan Starla," cetus Theo dengan tatapan sendu pada Ivana dan Starla. Baru satu malam tidak bertemu dengan istri dan anaknya, ia sudah merasakan rindu luar biasa.


"Kami tidak rindu padamu."


"Sayang," panggil Theo sedih.


"Papa...gendong...papa..." celetuk Starla yang baru saja melepas asi dari ibunya. Dia menatap papanya dan minta digendong.


"Sini sayang, sama papa ya?" tawar Theo dengan raut wajah berbinar, namun Ivana melarang Starla digendong oleh Theo.


"Starla digendong mama saja ya?"

__ADS_1


"Papa...papa...huhu..."


"Star..." lirih Ivana seraya menggelengkan kepalanya melihat anaknya menangis dan merengek ingin digendong Theo.


"Sini, biar aku gendong!" Theo merentangkan kedua tangannya, bersiap menggendong putrinya. Ivana tidak punya pilihan lain karena ia tidak mau Starla terus merengek, ini juga sudah malam dan harusnya dia tidur lagi. Pasti Starla terbangun karena mendengar perdebatannya dengan Theo.


Theo mengambil alih Starla, ia menggendong putri kecilnya dengan hati-hati dan menimang-nimangnya. "Jangan menangis sayang, bobo lagi ya princess papa." ditatapnya gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang.


Beberapa menit di dalam gendongan papanya, akhirnya Starla tertidur. Setelah itu Ivana meminta Theo menidurkan Starla diatas ranjang dan langsung mengusirnya.


"Pergilah, Starla sudah tidur."


"Ivana, kita bicara sebentar! Aku mohon Ivana, kita bicara ya?" pinta Theo yang tidak mau menyerah untuk bicara dengan istrinya.


"Baiklah, sebentar saja," jawab Ivana pada akhirnya. Theo pun tersenyum dan akan memanfaatkan situasi dengan baik.


****


Malam itu di kediaman Foster.


Aiden begitu bahagia karena bisa dipertemukan kembali dengan Natasha dan kedua anaknya. Walau belum ada bukti konkret bahwa Dylan dan Axelia adalah anaknya. Tapi dengan melihat Dylan, dia sudah yakin bahwa Dylan adalah benihnya. Lihat saja wajahnya, Dylan adalah Aiden versi junior. Tidak akan ada yang bisa membantah fakta mutlak didepan mata dan semua orang pasti meyakini hal itu bahkan tanpa tes DNA. Dylan dan Aiden adalah ayah dan anak.


"Pulanglah, ini sudah malam Mr. Dacosta," ucap Natasha pada Aiden yang baru saja menidurkan Axelia. "Dan maaf karena Axelia sudah merengek memintamu menemaninya tidur," katanya lagi meminta maaf.


"Baiklah, maaf aku belum ingat padamu, pada masa lalu kita. Aku berharap semoga aku cepat ingat," ungkap Natasha yang ingin mencoba mengingat masa lalunya dan Aiden.


"Tidak usah dipaksakan, biarkan mengalir saja. Aku akan menunggumu." Kata Aiden seraya menatap cemas Natasha.


Ya Tuhan, salahkah aku berharap bila ingatan Natasha tidak kembali lagi? Jika ingatannya kembali, pasti hubungan kita tidak akan sebaik ini. Pikir Aiden dalam hatinya, ia benar-benar takut Natasha akan membencinya setelah ingat hal terakhir yang menyakitkan diantara mereka sebelum Natasha hilang ingatan.


"Terimakasih Mr. Dacosta, kalau begitu lebih baik kau pulang karena hari sudah larut. Kata Albert besok kau harus kembali ke London, bukan?"


"Aku tidak akan pergi kesana, aku akan tinggal disini lebih dulu," jawab Aiden.


"Kenapa?" tanya Natasha dengan wajah polosnya. Kemudian Aiden perlahan mendekati wajahnya dan tersenyum. "Demi dirimu dan anak-anak kita," balas Aiden yang membuat Natasha berdebar karenanya. Jarak mereka begitu dekat dan netra mereka saling bertatapan satu sama lain.


Maafkan aku Nath,tapi aku senang kau hilang ingatan.


"Aku pergi," pamit pria itu dengan wajah yang enggan pergi. Natasha hanya tersenyum melihat kepergiannya, dia sendiri masih belum yakin tentang apa yang terjadi di masa lalu. Benarkah Aiden adalah kekasihnya seperti apa yang dikatakan olehnya?


Saat Aiden akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja Axelia muncul dan berlari ke arahnya. Natasha terkejut melihat keberadaan Axelia, padahal tadi gadis kecil itu sudah tidur pulas setelah dibacakan dongeng oleh Aiden.


Dylan juga ikut keluar rumah menyusul Axelia bersama dengan Albert. Mereka melihat Axelia begitu akrab dengan Aiden walau baru pertama kali bertemu.


"Daddy! Jangan pelgi, aku mohon daddy! Temani aku tidul." Axelia merengek sambil memegang tangan Aiden, bola matanya berkaca-kaca penuh harapan pada pria yang ternyata adalah daddynya. "Aku balu saja pulang dali lumah cakit, tapi Daddy sudah mau pelgi. Apa Daddy tidak cayang padaku?" Axelia menundukkan kepalanya. Gadis kecil itu sangat mengharapkan kasih sayang seorang ayah dan belum pernah mendapatkannya. Kini ayahnya sudah datang dan jelas ia tak mau ditinggal. Ia mau keluarganya lengkap dan selalu bersama-sama.

__ADS_1


"Axe, besok uncle akan datang lagi. Kembalilah tidur!" ujar Dylan yang terlihat dewasa dibandingkan kakaknya, ia selalu tampak tenang. Namun dalam hati dia juga


menginginkan Aiden ada dirumahnya. Dylan masih canggung untuk memanggil Aiden dengan sebutan Daddy.


"Daddy, aku mohon...jangan pelgi...tinggal disini saja! Bukankah keluarga celalu belsama?" Axelia mulai meneteskan air mata dan memegang tangan Aiden semakin erat.


Aiden tidak tega melihat kedua anaknya, apalagi Axelia yang menangis. Ia jadi ingat dulu saat pertama kali bertemu dengan ayah kandungnya Xander. Aiden sangat bahagia memiliki seorang ayah dan tidak mau jauh darinya. Kini ia berada didalam posisi Xander, sang ayah.


"Nanti Daddy akan datang lagi, besok." Aiden melirik ke arah Natasha yang masih tampak bingung. Mengizinkan Aiden tinggal disana malam ini, atau membiarkannya pergi? Pasalnya mereka belum menikah dan tak pantas tinggal bersama. Ya, walaupun di luar negeri itu membebaskan siapapun tinggal bersama tanpa ada ikatan sekalipun. Bahkan banyak diantara mereka yang menikah setelah memiliki seorang anak atau tiga orang anak. Sah-sah saja, tapi Natasha tidak seperti mereka pada umumnya.


"Tidak mau! Aku mau Daddy disini, Daddy harus tidul bercamaku!" sentak Axelia dengan buliran air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Satu tangan Aiden pun terulur mengusap air mata itu dengan lembutnya.


"Kau boleh tinggal malam ini, masuklah dan bawa Axe!" Natasha memberikan izin untuk Aiden kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Tuh kan! Mommy bilang boleh, ayo dad kita kembali ke dalam. Aku mau tidul ditemani Daddy!" Axelia menghapus air matanya sendiri, matanya berubah berbinar dalam sekejap mata memancarkan kebahagiaan.


"Baiklah, come on little girl! Kita tidur bersama." Aiden menggendong Axelia dengan sigap, lalu ia pun berjalan untuk membawa Axelia masuk ke dalam rumah. "Oh ya, apa Dylan mau digendong daddy juga?" tanya Aiden seraya melihat Dylan yang menatapnya dari tadi.


"Tidak usah, aku bukan anak kecil seperti Axe." Dylan tampak cuek. Aiden tau benar sikap seperti ini, persis seperti dirinya saat masih kecil.


Aiden langsung menggendong Dylan dengan satu tangannya yang lainnya dan Dylan tercengang karena tubuhnya sudah melayang. "Apa yang uncle lakukan? Aku tidak mau! Turunkan aku!" pinta Dylan.


Natasha dan Albert melihat Aiden dengan kagum, pria itu selain tampan, kuat dan mudah beradaptasi dengan anak-anak.


"Horey! Dy juga digendong daddy, hehe. Ayolah Dy, jangan jaim begitu. Aku tau kau mau digendong daddy sejak tadi,"


"Siapa yang bilang?" tatapan tajam mengarah dari Dylan pada Axelia.


"Kau juga mau tidul bercama Daddy," celetuk Axelia dengan senyuman jahilnya.


"Tidak!" sanggah Dylan dengan bibir yang mencebik sebal, rahasianya dibongkar didepan semua orang. Dia malu sekali, apalagi kalau diperlakukan sebagai anak kecil. Padahal dia sendiri masih kecil.


"Ayo, kita tidul bercama." kata Aiden sambil menirukan cadel little girlnya itu. Natasha tertawa mendengarnya.


Hari itu adalah hari yang panjang dan paling membahagiakan untuk Aiden karena ia bisa bertemu dengan Natasha juga kedua anaknya setelah 6 tahun lamanya.


Setelah kedua anaknya tidur disampingnya, Aiden menyelimuti kedua malaikat kecilnya dengan penuh perasaan. "Maafkan daddy, saat itu Daddy tidak tahu keberadaan kalian di dunia ini. Daddy bahkan tidak tahu bagaimana perjuangan mommy kalian hingga kalian sebesar ini, tapi Daddy janji akan membuat kalian bahagia mulai sekarang dan selamanya." Aiden menetap sendu kedua buah hatinya, lalu mengecup kening mereka segera bergantian. Setelahnya, Aiden pergi keluar dari kamar untuk melihat Natasha.


Tanpa Aiden sadari, Dylan masih terjaga dan dia mendengar semua yang diucapkan oleh Aiden. "Daddy..." lirih Dylan pelan.


Aiden berada di ruang tengah, ia melihat Natasha yang tertidur di sofa dengan posisi duduk. Pria itu mendekati Natasha dan duduk disampingnya. Ditatapnya wajah wanita itu dengan sendu.


"Aku berharap kau tidak membenciku, apabila kau mengingat semuanya. Karena aku mencintaimu, aku sudah berubah. Dendam itu sudah aku hapuskan, cintamu membuatku sadar akan semuanya," ucap Aiden lalu mengecup bibir Natasha sekilas. Dendamnya kalah oleh cinta yang diberikan Natasha selama ini kepadanya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2