
****
Ivana tidak senang dengan keberadaan suaminya disana. Ia sengaja ikut perjalanan bisnis Kakaknya ke pulau Chanel untuk memenangkan diri dari Theo. Tapi sekarang pria itu malah berada disana.
"Baby, izinkan aku bicara untuk menjelaskan semuanya!" seru Theo yang masih menahan pintu kamar hotel yang ditinggali oleh Ivana dan putrinya saat ini.
"Jelaskan saja pada asistenmu itu!" tukas Ivana kesal pada suaminya. Ia berusaha menutup pintu kamar hotel itu, namun Theo menahannya.
Ivana terlalu sakit hati dan kecewa pada Theo karena pria itu lebih percaya pada asistennya dan tidak percaya padanya. Bahkan Theo memilih makan siang bersama asistennya daripada bersamanya dan putri mereka Starla. Bukan hanya itu saja, yang paling membuat Ivana sakit hati adalah saat ia melihat asisten Theo yang bernama Bella itu tidur dengan suaminya di sofa.
Padahal Ivana tau bahwa wanita itu memiliki niat untuk menggoda Theo.
"Baby, please dengarkan aku dulu." pinta Theo seraya memegang tangan Ivana yang masih berusaha menutup pintu kamar hotel itu.
"Pergi! Atau akan ku panggil petugas keamanan untuk mengusirmu dari sini!" seru Ivana mengusir suaminya dari sana.
'Kalau tau kak Theo akan menemukanku secepat ini. Harusnya aku tidak usah ikut dengan kakak saja, harusnya aku ke Chicago atau ke Australia saja' batin Ivana kesal. Dia sudah menduga bahwa pasti Aiden yang sudah memberitahukan keberadaannya dan Starla disini.
Theo pun tidak sabar lagi, ia mendorong tubuh Ivana dan memaksa masuk ke dalam kamar itu. Lalu Theo bergegas mengunci pintunya dari dalam, begitu dia berhasil masuk ke dalam kamarnya.
"Kak Theo, sudah aku bilang untuk pergi dari sini. Apa kau tuli?" tanya Ivana dengan suara yang meninggi pada suaminya.
Theo menatap istrinya dengan perasaan bersalah, ia tidak tahu bahwa Ivana akan terluka sedalam ini karena sikapnya kemarin. Sampai pergi pun tanpa pamit. Selama 3 tahun pernikahan dan masa pacaran 3 tahun, mereka tidak pernah bertengkar sampai Ivana melarikan diri seperti ini.
Betapa kecewa dan sakitnya kau kepadaku Ivana, hingga kau pergi meninggalkan rumah dan membawa putri kita. Batin Theo merasa bersalah karena sudah melukai perusahaan istrinya.
"Pergilah! Kau tau kan pintu keluarnya ada dimana?" Ivana kembali mengusir suaminya, rasanya ia gusar sekali melihat wajah suaminya saat ini. Pria yang membentaknya demi membela asistennya di kantor kejaksaan. "Kembalilah, bukankah banyak kasus yang harus kau tangani?"
Theo terdiam beberapa saat, ia mengingat kejadian kemarin yang membuat Ivana semarah ini kepadanya.
#Flashback
Selama beberapa hari ini Theo sibuk di kantornya, terkadang ia begadang untuk menyelesaikan dan meneliti berkas-berkas kasusnya. Dia jadi jarang pulang ke rumah tepat waktu, atau bisa jadi tidak pulang ke rumahnya.
Sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga yang baik, Ivana selalu memperhatikan suaminya sekecil apapun itu. Sebelumnya Ivana bekerja di butik sebagai desainer artis, atau model ternama, namun sejak Ivana dinyatakan hamil. Theo melarangnya bekerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga saja di rumah. Ivana menuruti suaminya dan sampai sekarang ia fokus mengurus putri kecil mereka Starla.
Pada suatu pagi Ivana membuatkan sarapan sekaligus makan siang untuk suaminya, ia menitipkan Starla pada asisten rumah tangganya sebentar. Sebab ia akan pergi ke kantor Theo untuk mengantarkan makanan.
__ADS_1
"Honey, aku bawakan-" ucapan Ivana terhenti dan senyumannya terhenti saat melihat suaminya tidur di sofa dalam keadaan telanjang dada sambil memeluk seorang wanita yang tak lain adalah asisten barunya di kantor kejaksaan. Wanita itu bahkan memakai rok diatas paha yang menunjukkan kemolekan tubuhnya.
Hati Ivana seakan disayat pisau dan ia terluka dalam sekejap. Air matanya mengembun, tangannya mengepal geram, ia marah dan tidak terima dengan apa yang dilihatnya ini.
"KAK THEO!" teriak Ivana yang membuat Theo dan wanita itu terbangun.
Theo langsung duduk, wanita itu pun sama. Mereka berdua terlihat sama-sama panik. "Jadi ini alasan kau jarang pulang ke rumah? Kau menikmati waktu bekerja yang indah di kantormu, di ruangan pribadimu!" seru Ivana menyuarakan rasa cemburunya.
"Ivana, kau-kau salah paham baby." Theo memakai pakaiannya yang tergeletak di sofa itu dengan buru-buru. Dia bisa menebak dari raut wajah Ivana, istrinya pasti salah paham.
"Nyonya, saya mohon jangan marah! Ini salah saya, saya tidak sengaja ketiduran di sofa. Kami tidak melakukan apa-apa...nyonya..." kata Bella dengan tatapan memelasnya pada Ivana, seolah ia tidak bersalah.
Ivana berjalan mendekati Bella, ia berusaha menahan tangis agar tidak terlihat lemah didepan Bella maupun suaminya. "Bukan sekali dua kali, aku memergoki ulat bulu mencoba menggoda suamiku! Tapi apapun yang terjadi, aku percaya padanya...namun aku tidak percaya padamu! Dasar jalangg!" Ivana yang emosi langsung menjambak rambut Bella dengan kasar, bahkan menarik tubuhnya. Tapi Bella tidak melawan sama sekali.
"Ahh...pak Theo tolong saya pak...ini sakit... adududuh." Bella meringis kesakitan dengan jambakan dan cakaran yang di berikan Ivana padanya.
"Aku tidak akan tinggal diam! Kesabaranku sudah habis untukmu!" teriak Ivana emosi sambil menjambak rambut Bella. "Kenapa kau diam saja hah? Kenapa tidak melawan? Ayo lawan aku! Apa karena ada suamiku disini kau tidak berani melawan? Mau meraup simpatinya?" tebak Ivana dengan sinisnya pada wanita itu.
"Tidak nyonya...saya tidak pernah bermaksud seperti itu!" seru Bella sambil menahan rasa sakitnya. Wajah Bella bahkan sudah terluka karena cakaran Ivana, rambutnya acak-acakan.
"Jangan menyangkal! Dasar pel*cur murahan!" serka Ivana emosi, hingga tanpa sadar wanita yang biasanya lemah lembut itu jadi mengumpat.
Beberapa orang yang baru datang untuk bekerja ke kantor kejaksaan, pagi itu langsung pergi ke ruangan jaksa Theo Evans Galaxy karena mendengar keributan dari sana.
"IVANA! HENTIKAN!" Theo akhirnya bicara dengan maksud melerai Bella dan Ivana. Meski ia tau Ivana lah yang memulainya dengan menyerang Bella.
Mendengar suaminya membentaknya, Ivana malah semakin marah pada Bella. Ya, karena wanita itulah Ivana sampai dibentak oleh suaminya. Dia tidak akan tinggal diam begitu saja.
"IVANA! STOP! JANGAN MEMBUAT MASALAH DI KANTORKU!" bentak Theo yang akhirnya membuat Ivana berhenti. Ivana menatap Theo dengan mata yang berkaca-kaca, sementara itu Bella terlihat memegangi pipinya yang sakit. Tapi dia senang karena Theo memarahi Ivana demi dirinya.
Ivana tersenyum getir, ia menatap suaminya. "Aku membuat masalah? Aku cuma mau mengantarkan pakaian dan makanan untuk suamiku yang sudah tidak pulang dua hari. Lalu aku melihat pemandangan barusan, jadilah aku marah. Ternyata kecemburuan dan marahku ini adalah masalah bagimu, Theo Evans Galaxy."
"Ivana, baby..." lirih Theo yang menyadari kesalahannya dalam bicara. Semua orang disana mendengar dan melihat keributan antara suami-istri disana.
"Woah... seharusnya aku membawa baju lebih banyak lagi. Kalau aku tau kau lebih betah disini, atau kau bisa memesan hotel agar lebih leluasa," sindir wanita itu dengan tatapan sarkas pada Theo dan Bella.
"Ivana! Jaga bicaramu itu! Kau tidak seharusnya melakukan kekerasan pada Bella. Kau salah paham, aku dan Bella tidak berbuat apapun. Aku dan dia hanya ketiduran disana, kami tidak--"
__ADS_1
"Ketiduran sampai telanjang dada? Kami?" pungkas Ivana kesal. "Ternyata kalian sedekat itu sampai menggunakan kata kami. Ya, siapa aku disini? Mungkin aku hanya orang yang menganggu kesenangan kalian berdua," cetus Ivana sakit hati. Ia tersenyum tapi hatinya menangis karena Theo membela Bella daripada dirinya. Apa yang lebih menyakitkan ketika orang yang kita cintai lebih membela orang lain dibandingkan istri sendiri?
Bukan sekali dua kali, Ivana mengingatkan kepada suaminya bahwa Bella berniat memecah belah dan menjadi orang ketiga diantara hubungan mereka. Tapi Theo tidak pernah percaya padanya. Sekarang Ivana sudah lelah dengan ketidaktegasan suaminya, selalu baik pada orang yang dianggap lemah. Dan baginya, Bella itu lemah, mesti dikasihani.
Ivana hendak melangkah pergi dari sana, namun ia kembali berbalik dan membawa kotak bekal yang ia bawa mendekat pada Bella.
"Nyonya..."
Ivana tersenyum sinis, lalu ia membuka kotak bekal berisi makanan yang ia masak. Ivana menumpahkan semua makanan itu ke atas kepala Bella.
"Ah! Panas panas!" pekik Bella kesakitan. Ivana tau sup yang ditumpahkan itu sudah tidak panas melainkan hangat, tapi Bella malah drama didepan semua orang.
"Selamat makan!" ujar Ivana puas, lalu dia pun pergi ke luar dari kantor suaminya dengan perasaan marah, kecewa, sakit hati. Theo ingin menyusulnya saat itu juga, tapi dia memiliki pekerjaan dengan kasusnya.
Di kantor, Theo mendapatkan nasehat dari beberapa rekan kerjanya bahwa sikap Theo salah dan membuat Ivana sakit hati. "Kalau kau tidak mau bersama istrimu lagi dan memilih si Bella. Lebih baik kau serahkan dia padaku. Istrimu terlalu cantik dan sempurna untuk kau sia-siakan jaksa Theo!" celetuk salah satu teman Theo.
Theo sadar ia salah, ia pun pulang lebih dulu dari kantornya untuk menemui Ivana. Theo membelikan bunga dan coklat lumer kesukaan Ivana untuk membujuk istrinya.
"Ivana, Starla sayang...Daddy pulang," ujar Theo sambil berjalan masuk ke dalam rumah dengan semangat membawa buket bunga dan sekantong besar makanan. Theo mencari-cari keberadaan istri dan putri kecilnya, ke setiap sudut rumah. Namun mereka tidak ada di rumah, hanya ada seorang asisten rumah tangga yang mengatakan bahwa Ivana dan Starla pergi.
#End Flashback
Theo memeluk Ivana dengan erat dari belakang. Tangan Ivana berusaha menyingkirkan pelukan Theo dengan menghindar.
"Lepaskan aku!" seru Ivana pada suaminya. Namun Theo semakin memeluk erat istrinya. Kepalanya bersandar di bahu Ivana yang polos, sebab kala itu Ivana memakai tank top dan hotpants saja.
"Aku minta maaf baby, aku benar-benar menyesal sudah berkata seperti itu. Aku emosi," lirih Theo menyesal.
"Aku tidak peduli, lepaskan saja aku!" seru Ivana kesal.
"Maafkan aku Ivana, kita bicara dulu ya sayang?" bujuk Theo dengan suara gemetar, ia benar-benar takut kehilangan Ivana. Theo membalikkan tubuh Ivana hingga mereka pun saling berhadapan.
"Kenapa kau kesini? Kenapa kita harus bicara? Bukankah kau lebih percaya dia daripada aku? Lebih baik kita pisa--hmphh--"
Theo tau apa yang akan diucapkan Ivana, kata-kata yang tidak ingin Theo dengar. Pria itu langsung membungkam bibir Ivana dengan rakus. Ia menekan tengkuk wanita itu guna memperdalam ciumannya.
...******...
__ADS_1