
...🍀🍀🍀...
Alangkah bahagianya hati Aiden karena ia bisa bertemu kembali dengan Natasha dan kedua anaknya. Apalagi kabar pagi ini dari Branz, tentang hasil tes DNA yang mengatakan bahwa Axelia 99,9 % adalah putri kandungnya. Artinya Dylan pun sama dan tidak perlu diragukan lagi, semua sudah jelas.
Kini Aiden berniat membawa Natasha kembali ke London dan mempertemukan Natasha dengan keluarganya yang sekarang tinggal di London. Raphael, Dave, Joana, mereka semua sekarang tinggal di sana. Mereka pun sama-sama mencari Natasha dan berharap Natasha selamat. Mereka pasti akan senang bila kembali bertemu dengan Natasha.
"Uncle Dave dan aunty Joana pasti akan senang bila mereka bertemu dengan Natasha...tapi..."
Aiden tiba-tiba terpikirkan kejadian setelah Natasha kecelakaan pesawat. Keluarga Satigo menyalahkan Aiden habis-habisan. Bahkan Joana sampai bersumpah, bila Natasha ditemukan, ia tidak akan membiarkan Aiden dan Natasha bersama. Lebih baik Natasha sama pria lain daripada bersama dengan Aiden. Pria yang tidak peka, meninggikan dendam diatas segalanya kepada orang yang tidak bersalah. Joana lebih merestui Natasha bersama dengan Dixon.
Mengingat hal itu, Aiden jadi takut. Niatnya untuk membawa Natasha ke London atau memberitahukan tentang Natasha pada keluarganya, menjadi urung.
"Lebih baik aku rahasiakan dulu untuk sementara waktu. Setidaknya sampai ingatan Natasha kembali. Aku tidak mau Natasha jadi salah paham, bila mendengar perkataan mereka yang buruk tentang diriku," gumam Aiden sambil menatap ke arah jendela yang menampilkan pemandangan pantai. Pantai yang jaraknya tidak jauh dari sana. Terlihat Dylan dan Axelia sedang bermain-main dengan pasir, Dylan membuatkan istana pasir untuk Axelia.
"Anak-anakku..." lirih Aiden.
"Aiden, ternyata kau ada disini." Natasha berdiri tepat disamping Aiden. Pria itu menoleh ke arahnya.
"Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu? Atau kepalamu sakit lagi?" tanya Aiden khawatir, Natasha sakit kepala seperti semalam.
Natasha menggelengkan kepalanya, bibirnya mengulas senyum tipis. "Aku baik-baik saja. Aku datang karena ibu memintaku memanggilmu untuk sarapan bersama-sama," ucap Natasha.
"Hmm, baiklah."
"Tapi, apa anak-anak tidak bersekolah? Mereka belum memakai seragam?" tanya Aiden heran karena melihat kedua anaknya masih memakai pakaian biasa. Bukannya memakai seragam.
"Hari Jumat, Sabtu dan Minggu anak-anak libur sekolah. Kebetulan ini hari Jum'at," jawab Natasha sambil tersenyum.
"Oh-aku hampir lupa," ucap Aiden sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Ya sudah ayo sarapan bersama, bukankah kau harus ke kantor juga? Mari!"
"Aku akan mengajak anak-anak dulu sebentar, sekalian melihat mereka." Putus Aiden yang ingin menemui anak-anaknya sekalian mengajak mereka sarapan bersama. Natasha pun berjalan mengikutinya, untuk melihat kedua anak kembarnya.
Didepan sana, Natasha dan Aiden melihat kedua anak kembar itu sedang asyik bermain. Axelia meminta Dylan untuk menebak permen yang ada ditangannya, ada permen coklat dan permen meledak disana. Dylan lagi-lagi mendapatkan permen meledak. Aiden terkekeh mendengar percakapan kedua anaknya, Natasha juga tersenyum.
"Maaf Dy, kau dapat permen yang meledak lagi. Bagaimana bisa jadi begini? Aneh sekali...kau selalu dapat pelmen yang meledak dalipada coklat. Memang dasal nasibmu sial ya," celetuk Axelia yang membuat Dylan kesal bukan main, sampai ia menoyor kepala Axelia.
"Hey! Sopanlah padaku, aku ini kakakmu tahu! Huh!" gerutu Axelia kesal. Begitulah Axelia kalau kesal, dia selalu membawa-bawa hubungan adik dan kakak diantara mereka berdua.
"Kita lahir di hari yang sama, tanggal yang sama, bulan yang sama, tahun yang sama, jam yang sama. Hanya beda menit saja, apa bedanya? Nyatanya aku lebih dewasa darimu, Axe!" cetus Dylan tak mau kalah dengan saudara perempuan itu.
"Kau sangat mirip dengan Axelia," ucap Aiden seraya menatap ke arah Natasha dengan intens.
"Benarkah? Mirip darimana?" tanya Natasha.
__ADS_1
"Wajah, sifat, bahkan dialog kalian juga sama." tukas Aiden lalu tersenyum mengingat masa lalu beberapa tahun yang lalu. Ketika mereka masih kecil.
#Flashback
Beberapa tahun yang lalu, saat Zeevana (Ibu Aiden) berada di rumah sakit dan Natasha kecil menjenguknya. Gadis kecil itu berusaha untuk menghibur Aiden.
"Ayo, pilihlah!" ujar Natasha pada Savana dan Aiden. Savana lalu tersenyum dan memilih tangan kanan Natasha.
"Oma pilih kanan!" entah kenapa Savana seperti melihat Zeevana kecil didalam diri Natasha. Gadis kecil yang ceria dan cerewet.
"Kalau begitu Aiden yang kiri ya." cetus Natasha, lalu ia pun membuka kedua tangannya. Terlihat ada permen disebelah kiri dan coklat disebelah kanan.
Natasha memberikan permen dan coklat itu pada Aiden dan Savana. Diam-diam Aiden menahan senyum, dia senang Natasha datang kesana untuk menemuinya dan memberikan permen yang selalu meledak di mulut itu. Jujur, Aiden merindukan Natasha. Sudah beberapa bulan dia tidak bertemu dengan Natasha.
"Maaf Aiden, kau dapat permen yang meledak lagi. Bagaimana bisa jadi begini? Aneh sekali...kau selalu dapat permen yang meledak daripada coklat." gerutu gadis kecil itu sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
"Kau sangat menggemaskan sekali little girl." ucap Savana yang lalu mencubit gemas pipi Natasha yang tembem itu. "Kau tidak usah cemas, Aiden sangat menyukai apapun yang kau berikan. Lihat, dia bahkan tersenyum." goda Savana pada cucunya.
"Aku tidak tersenyum, Oma." sangkal Aiden sambil memalingkan wajahnya.
"Benarkah? Kau senang kan?" tanya Natasha polos. Dia mengikuti arah kepala Aiden, hingga akhirnya netra mereka pun bertemu.
"Tidak! Aku tidak senang!" sangkal Aiden dengan bibir mengerucut.
"Padahal aku sudah jauh-jauh kesini untuk bertemu denganmu. Huh...tapi aku kesini bukan untukmu saja, aku kesini untuk mendoakan aunty Zee agar cepat siuman karena masih banyak orang yang mencintainya dan aku tidak mau kau sedih. Aku ingin kau bahagia Aiden." kata gadis kecil itu yang berhasil membuat Aiden terenyuh, dia berhasil membuat Aiden memusatkan atensinya pada Natasha.
Sementara Savana senyum-senyum melihat itu, dia senang karena cucunya berteman dengan orang baik dan orang itu bisa membuat cucunya merasa nyaman.
"Terima--ka--kasih." kata Aiden terbata dan pelan.
"APA? Aku tidak dengar?" tanya Natasha polos, dia memasang Indra pendengarannya baik-baik.
"Aku bilang... te-terimakasih...karena kau sudah datang kesini. Terima kasih sudah menghiburku!" Aiden bukan anak yang mudah mengungkapkan isi hati dan saat ini dia sedang mengungkapkan isi hatinya.
"Sama-sama, kita kan sahabat. Tapi di dalam persahabatan, tidak ada kata terima kasih ataupun maaf. Jadi--kau tidak usah berterima kasih padaku Aiden, kita kan bersahabat." jelas Natasha dengan senyum lebar yang memperlihatkan dua lesung pipinya. Persis seperti Tessa, ibunya yang juga cantik memiliki dua lesung pipi.
"O-oma...ayo kita pergi, bukankah kita harus cepat pulang. Aku harus berganti baju dulu!" ajak Aiden tiba-tiba pada Savana, dia bahkan memalingkan wajahnya setelah diberikan permen oleh Natasha.
"Oh baiklah... Natasha cantik, kami pergi dulu ya. Kau kembalilah bersama dengan kedua orang tuamu ke ruang rawat aunty Zeevana." ucap Savana lembut.
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya, lalu berjalan pergi dari sana. Savana dan Aiden pun masuk ke dalam lift. Aiden memasukkan permen berwarna biru dan selalu meledak-ledak didalam mulut itu kalau di makan.
"Sepertinya...ada yang malu..." Savana menggoda cucunya itu. Aiden tidak menanggapi dan hanya memalingkan wajahnya. "Ehem....Natasha cantik ya, dia juga baik, Oma harap dia bisa tetap menjadi sahabatmu. Sama seperti Oma yang bersahabat dengan aunty Alexa dan juga aunty Elena."
Aiden hanya tersenyum, tanpa bicara apa-apa. Namun di dalam hati Aiden juga berharap persahabatannya dengan Luna, Theo dan Natasha tetap langgeng walaupun mereka berbeda negera. Siapa tau nanti mereka akan kembali dipertemukan dan kembali dekat.
__ADS_1
#Endflashback
Air mata Aiden menetes saat menceritakan tentang sedikit masa lalunya dan Natasha. Sementara Natasha tersenyum bingung, dia tidak ingat semua itu. Aiden tenggelam dalam lamunannya, ia teringat dengan sosok neneknya Savana yang sangat menyayanginya. Savana telah tiada, tak lama setelah ibunya meninggal karena dibunuh oleh Tessa. Rasa dendamnya memang sudah hilang pada Natasha, karena ia sadar wanita itu tidak bersalah. Tapi kemarahannya pada Tessa masih ada sampai saat ini, ia tak pernah lupa.
"Aiden, kau kenapa? Kenapa menangis?" tanya Natasha dengan tatapan cemasnya pada Aiden.
"Aku tidak menangis, aku hanya bahagia karena kembali bertemu denganmu dan kedua anak kita," ujar Aiden lirih seraya menatap Natasha dengan rasa bersalah.
Natasha terdiam, lagi-lagi ia seperti orang linglung yang tidak tahu apa-apa. Dia hanya bisa merasakan dengan hatinya, menerka Aiden orang seperti apa. Soal rasa, Natasha merasa bahwa ia mencintai Aiden tapi disisi lain ada perasaan yang tak bisa dia jelaskan.
Setelah sarapan bersama Natasha, kedua anaknya dan keluarga Foster. Aiden dan Albert berangkat ke kantor bersama dijemput oleh Branz. Dan Natasha pergi ke kantornya sendiri. Tapi wanita itu tidak benar-benar sendirian, ia dikawal oleh salah satu orang suruhan Aiden tanpa sepengetahuan Natasha. Aiden takut Natasha akan pingsan lagi, atau ada yang menganggunya.
"Saya tidak menyangka bahwa pak presdir adalah kekasih kak Kimberly, maksud saya kak Natasha," ucap Albert membuka pembicaraan.
"Saya juga tidak menyangka, saya bisa menemukannya lagi. Apalagi tuhan tidak mengirimnya sendiri, ya dia bersama dengan anak-anak kami. Saya sangat bahagia dan saya sangat-sangat berterima kasih karena kau dan ibumu sudah menjaga Natasha selama ini," tutur Aiden tulus berterima kasih kepada Albert dan juga ibunya yang sudah menolong dan menjaga Natasha selama ini. Mereka juga menjaga kedua anak kembarnya.
"Tidak usah berterimakasih pak, saya dan ibu saya ikhlas melakukannya. Malah kami bahagia dengan kehadiran Kak Natasha di rumah kami. Saya sudah menganggapnya seperti kakak saya sendiri dan ibu saya juga sudah menganggap kak Natasha sebagai anak sendiri," kata Albert merasa tidak masalah.
Aiden tau orang-orang ini tulus, walaupun tidak mau diberi hadiah. Tapi Aiden akan tetap memberikan mereka hadiah, walaupun hadiah itu tidak sebanding dengan Natasha dan kedua anak kembarnya.
****
Setelah dari perusahaan, siang itu Aiden tidak langsung pergi ke rumah Foster. Melainkan pergi ke hotel tempat dimana Ivana dan keponakannya berada, untuk memberitahukan kabar tentang Natasha dan kedua anaknya.
Sesampainya disana, ia sedang melihat Theo berdiri sambil memegang kedua telinganya dan satu kaki terangkat ke atas. Disisi lain Ivana dan Starla sedang duduk di sofa dengan santainya.
"Hai, selamat siang kakak ipar!" sapa Theo dengan senyum yang dipaksakan.
"Berani juga kau datang kemari," ucap Aiden sinis pada Theo. "Melihat dari raut wajahmu, sepertinya Ivana masih marah. Ini tidak akan mudah bagimu," kata Aiden sambil tersenyum.
"Apa kau tersenyum? Kau tersenyum diatas penderitaanku? Tumben kau tersenyum, biasanya kau selalu cemberut dalam keadaan apapun." Theo heran melihat raut wajah Aiden yang terlihat bahagia. Padahal sejak Natasha menghilang, tidak ada senyuman sedikitpun dibibirnya. Tidak ada senyum bahagia.
"Tentu saja aku bahagia," cetus Aiden sambil tersenyum.
"Sialan kau!"seru Theo kesal. "Apa kau punya pacar baru?" tanya Theo lagi penasaran, apa yang membuat temannya ini begitu bahagia.
"Bukan pacar, tapi calon istri plus dua anak kembar!" seru Aiden yang masih dengan senyum lebarnya. Theo langsung melebarkan mata saat mendengarnya.
"Kakak? Kau ada disini?" tanya Ivana sambil menggendong Starla, ia baru menyadari kakaknya ada disana. Tiba-tiba saja Aiden memeluk adik dan keponakannya itu.
"Kak, ada apa?" tanya Ivana heran melihat kakaknya begitu bahagia.
"Ivana, kau harus bantu kakakmu ini. Kakakmu akan menikah!" ujar Aiden sambil menggendong Starla keponakannya.
"APA?!!" sentak Theo dan Ivana kompak terkejut.
__ADS_1
Ya, Aiden putuskan untuk langsung melamar Natasha dan menikah secepatnya dengan gadis itu.
...****...