
...🍀🍀🍀...
Hati Aiden sakit melihat Natasha dan Dixon berpelukan, meskipun ia tau tidak ada niatan didalam hati istrinya dengan berpelukan seperti itu dengan Dixon. Ia yakin Natasha hanya menganggapnya teman, but bagaimana dengan Dixon? Apa dia menganggap Natasha teman? Dari tatapan dan sikapnya pada Natasha, sepertinya bukan.
"Sudah cukup pelukannya!" Aiden tidak tahan lagi, akhirnya ia memisahkan Dixon dan Natasha yang sedang berpelukan barusan. Dia sebisa mungkin menahan emosinya. Apa yang dilakukan Natasha saat ini, tidak sebanding dengan luka Natasha di masa lalu, luka yang ditorehkan oleh Aiden kepadanya.
"Maaf, aku lupa kalau kalian sudah menikah." Kata Dixon tanpa dosa.
"Kami tidak benar-benar menikah, kami menikah demi anak," ucap Natasha yang menyakiti Aiden dan membuat pria itu menoleh ke arahnya.
"Natasha!" seru Aiden.
Dixon tersenyum mendengar jawaban itu, dia tampak senang. Rupanya itu anggapan Natasha terhadap Aiden dan pernikahannya. Jadi, kesempatan Dixon masih ada untuk mendapatkan Natasha.
"Kenapa? Itu memang benar kan? Kau menikahiku bukan karena mencintaiku, bukankah kau melakukan semua ini demi anak-anak kita?" ucap Natasha dengan wajah datar dan dinginnya.
"Itu tidak benar...dan tidak seharusnya kau mengatakan semua ini didepan orang asing seperti dia!" teriak Aiden marah, dia merasa harga dirinya diremehkan sebab Natasha bicara masalah mereka didepan Dixon.
"Dia bukan orang asing, dia teman baikku." tukas Natasha pada suaminya.
"Natasha..." lirih Aiden yang tak suka dengan apa yang diucapkan oleh Natasha.
"Dixon, apa kabarmu selama ini? Kau baik-baik saja?" tanya Natasha ramah pada Dixon, tapi padanya Aiden sangat dingin. Kedua orang yang sudah lama tidak bertemu itu mengobrol cukup lama, bahkan Aiden yang ada disana hanya dianggap sebagai nyamuk.
__ADS_1
Setelah 1 jam Dixon berada disana dan bicara dengan istrinya. Akhirnya Aiden mengusir Dixon, sebab Natasha juga harus beristirahat. Dixon dapat melihat rasa takut di mata Aiden, namun bukannya menghindar. Dia malah semakin tertantang ingin mendapatkan Natasha.
"Kau harus ingat, statusmu! Kau sudah menikah!" tegas Aiden saat berada di luar ruangan Natasha. Dia memperingati Dixon untuk tidak berbuat macam-macam, pada rumah tangganya.
"Kenapa? Kau takut aku akan merebutnya?" tanya Dixon disertai kekehan yang terdengar menyebalkan.
"Aku tidak pernah takut padamu! Aku hanya cemburu padamu, itu saja."
"Benarkah? Bukannya kau takut kalau hati Natasha sudah bukan milikmu lagi?" tanya Dixon, untuk menggoyahkan hati Aiden yang sekarang sudah mulai gelisah.
"Tidak, kau salah tuan Dixon. Hati Natasha, masih untukku! Dari dulu sampai sekarang, dia masih mencintaiku, hanya saja perasaan itu tertutupi oleh perasaan marah!" ujar Aiden yakin. Hati Natasha tidak berubah, meski sikapnya yang berubah. Buktinya, saat Natasha hilang ingatan saja. Dia masih menerima Aiden, dia masih mencintai pria itu dan tidak menikah lagi. Dia bukannya menutup hati, melainkan di hatinya ada Aiden dan pria itu meyakininya.
"Kau sangat percaya diri. Baiklah, kalau begitu kau harus bersiap-siap! Karena kau akan takut mulai dari sekarang!" kata Dixon dengan nada penuh ancaman. Aiden tidak takut sama sekali, ia malah menatap pria itu dengan sengit.
****
Hari ini mereka akan berangkat ke London, dengan pesawat pribadi milik Aiden. Bukan bermaksud untuk pamer kekayaan, namun dia hanya ingin cepat sampai ke London dan tidak membuat keluarganya kelelahan.
"Woah! Ini beneran pesawat Daddy?" tanya Axelia dengan mata yang penuh kekaguman melihat isi pesawat mewah itu.
"Iya sayang." Aiden menganggukan kepalanya, seraya tersenyum pada putri kecilnya itu.
"Keren sekali! Daddy ternyata benar-benar lebih kaya dari paman nahkoda dan pria yang mendekati mommy dulu," celetuk gadis kecil itu yang mendapatkan usapan kepala dari padanya.
__ADS_1
"Tentu saja."
Disisi lain, Dylan juga masih terkagum-kagum, namun anak itu tidak banyak bicara. Ini pertama kalinya ia dan Axelia naik pesawat keluar negeri. Dan sebentar lagi ia akan bertemu dengan keluarganya di London.
"Dad, mom!" panggil Dylan.
"Ya?" jawab Natasha dan Aiden bersamaan.
"Tadi Daddy bilang, bahwa kita akan bertemu dengan opa dan Oma dari pihak mommy. Tapi kenapa Daddy tidak menyebutkan bahwa kita akan bertemu opa dan Oma dari pihak Daddy?" tanya Dylan heran karena tidak ada yang membahas soal keluarga dari pihak daddynya.
Wajah Natasha memucat saat mendengar pertanyaan putranya. Bibirnya kelu dan tidak bisa menjawab. Rasa bersalah kembali menjalar didalam hatinya, tentang kematian Zeevana dan Xander. Pembahasan ini membuat Natasha sedih.
"Mom, dad? Kenapa kalian diam saja?" tanya Dylan heran.
"Ya benar! Kita pasti punya opa dan Oma dari Daddy juga kan?" Axelia ikut bertanya dan penasaran.
"Tidak ada, Daddy dan Mommynya Daddy sudah lama meninggal. Tapi kalian punya uncle dan saudara lainnya disana. Keluarga Daddy, adalah keluarga yang besar." kata Aiden menjelaskan.
"Oh begitu ya." Axelia hanya manggut-manggut saja.
"Aku ke toilet dulu," ucap Natasha, lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke bagian belakang pesawat.
Dylan memerhatikan raut wajah mamanya yang tampak tidak baik. Ditambah lagi Aiden yang selalu gelisah dan murung. Ada apa dengan kedua orang tua mereka?
__ADS_1
Aiden juga berpamitan pada kedua anaknya, dia akan menyusul Natasha. Dia perlu bicara dengan wanita itu. Entah kenapa Aiden merasa Natasha masih merasa bersalah padanya. Tidak! Ini harus diluruskan, dia tidak mau Natasha salah paham dan terbelenggu dalam bersalah.
...****...