Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta

Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta
Bab 48. Suami istri sesungguhnya


__ADS_3

Sikap Dixon pada istrinya sangatlah berbeda dengan sikap Dixon pada Natasha. Pria yang tampak lembut itu, ternyata bersikap kasar pada wanita yang berstatus sebagai istrinya.


Kedatangan Agatha membuat Dixon kesal, padahal wanita itu hanya mencemaskannya dan ingin bersama Dixon. Tapi pria itu malah mengusirnya. Dia meminta Agatha pergi ke rumah ibunya saja yang ada di luar negeri.


"Pergilah, jangan datang kemari!" usir Dixon.


"Apa maksudmu Dixon? Aku ini istrimu, tentu saja aku harus ikut kemanapun kau pergi!" seru Agatha tegas.


"Kalau kau tetap keras kepala, baiklah...kita bisa tinggal di kota ini bersama. Tapi aku ingin kau mengikuti aturanku!" ujar Dixon tegas.


"Apapun akan aku lakukan, agar aku bisa diet denganmu Dixon." kata Agatha tulus. Dixon menghela nafas, dia merasa Agatha sangat keras kepala. Tapi dia juga masih butuh Agatha, terutama kedua orangtuanya yang membantu bisnisnya. Dixon pun mengajukan syarat dan beberapa aturan untuk Agatha, bila wanita itu mau tinggal dengannya. Selama ini Agatha selalu menurut pada Dixon, karena dia sangat mencintai suaminya itu.


****


Matahari sudah mulai meninggi, cahayanya mulai merasuk ke jendela kamar yang ditempati oleh sepasang suami-isteri yang baru saja melalui malam penyatuan, setelah 1 bulan lebih menikah. Malam dimana mereka telah menyatu dalam perasaan mendalam, setelah sekian lama hubungan mereka berada dalam dendam dan kebencian. Kini semua surut, menjadi rasa cinta dan kasih sayang.


Sang wanita masih bergelut didalam selimut, dia tak peduli dengan cahaya matahari yang mulai menyinarinya. Dia malah tersenyum-senyum, seolah mengalami mimpi indah. Indah memang, semalam ia dan Aiden sudah berdamai dengan masa lalu. Memutuskan untuk menjadi pasangan dan orang tua yang baik bagi anak-anak mereka.


Natasha masih terpejam, ketika suaminya sudah memakai pakaian rapi dan berada disampingnya. Aiden meletakkan nampan yang ada sandwich dan juga segelas susu ke atas nakas.

__ADS_1


"Apa kau sangat lelah sayang? Kenapa kau belum bangun?" gumam Aiden seraya menatap wanita yang semalam memberikan kenikmatan dan juga menyalurkan banyak cinta padanya.


Masih terngiang di telinga Aiden, bagaimana merdunya suara surgawi Natasha yang membangkitkan gairahnya. Dia amat bahagia dan ingin mengulanginya lagi, namun mengingat dini hari tadi Natasha kelelahan. Aiden jadi tidak tega melakukannya lagi, meski hasratnya masih menggebu kala itu. Bahkan Natasha tidak menyadari bahwa pagi tadi, Aiden yang memandikan dan menggantikan pakaiannya.


"Sayang, ayo bangun...ini sudah siang. Kau belum makan." bisik Aiden tepat ke telinga istrinya. Kemudian dia mengecup kening Natasha dengan lembut.


"Eungh--" Natasha malah tersenyum dan keluar lenguhan dari bibir mungilnya itu.


"Sayang, jangan menggodaku lagi. Suaramu bagaikan nikotin untukku! Cepatlah bangun, atau aku akan melahapmu sekarang juga." ancam Aiden sambil terkekeh. Dia tidak bohong, suara Natasha membuatnya candu.


Wanita itu mulai membuka matanya perlahan, tepat setelah ia mendengar ancaman Aiden. Teringat semalam, pria itu menyetubuhinya tanpa istirahat.


"Baiklah aku bangun," jawab Natasha sambil melihat tubuhnya yang sudah memakai pakaian lengkap. Padahal seingatnya, dia belum berpakaian setelah olahraga tadi malam.


"Mimpi apa aku semalam! Kau sangat--"


"Mimpi indah tentunya." pungkas Aiden lalu mengecup bibir Natasha pelan.


"Aiden, kau..." seketika kedua mata Natasha melebar saat Aiden mendaratkan ciuman dipipinya. Masalahnya dia belum gosok gigi.

__ADS_1


"Sarapan dulu sayang, aku suapi ya?" tawar Aiden seraya tersenyum fresh. Beda dengan dirinya yang merasakan pegal, terutama di bagian pinggang dan punggung.


"Aku bisa sendiri, aku akan sarapan bersama anak-anak juga di luar." kata Natasha lalu beranjak dari ranjangnya. "Aduh!" pekik Natasha saat dia berusaha berdiri, namun kakinya lemas.


"Sayang...kau duduk saja disini. Kau pasti masih sakit bukan?" Aiden menarik pelan wanita itu hingga duduk ke pangkuannya.


"Tapi anak-anak--auww." Natasha meringis sambil merasakan punggungnya yang sakit.


"Anak-anak pergi ke rumah Ivana, mereka sedang bermain bersama Starla disana. Dan ini hari minggu sayang," ucap Aiden lembut.


"Ah ya, aku hampir lupa. Ini hari minggu."


"Ya sudah, ayo sarapan dulu. Aku suapi ya?" tawar Aiden begitu lembut pada istrinya. Sikapnya pada Natasha benar-benar berbeda dengan yang dulu.


Kini mereka telah menjadi pasangan suami-istri yang sesungguhnya. Saat sedang menyuapi Natasha, tiba-tiba saja suara ponsel Natasha menginterupsi kegiatan mereka yang sedang mesra-mesraan itu.


"Dixon?" gumam Natasha saat melihat nama di ponselnya. Wanita itu melirik suaminya dengan tatapan bertanya.


"Angkat saja, aku disini." jawab Aiden sambil tersenyum. Dia berusaha menjadi suami yang pengertian untuk Natasha.

__ADS_1


"Terimakasih sayang," ucap Natasha lalu mengecup pelan bibir Aiden. Ia pun mengangkat telpon dari Dixon didepan suaminya tanpa ada yang ditutupi.


...****...


__ADS_2