
...****...
Wanita itu adalah Lunamaria George Hayley. Seorang model dan penyanyi yang hampir menjadi istri dari Aiden Addison Dacosta. Namun akhirnya dia menikah dengan George Hayley yang saat ini memiliki perusahaan bengkel dan otomotif di London. George berhasil sukses setelah bertahun-tahun membangun bisnisnya dari nol. Dan selama bertahun-tahun pula, Luna vakum dari dunia entertainment karena sibuk mengurus putrinya dan George yang bernama Jeniffer. Kini Jeniffer sudah berusia 5 tahun lebih dan Luna kembali ke dunianya sebagai model dan penyanyi.
Awalnya Luna hampir bercerai dengan George karena tidak tahan dengan kemiskinan pria itu. Namun George berhasil mengambil hati Luna dengan kebaikannya, hingga gadis itu pun luluh dan menerima takdirnya sebagai istri George.
Sesampainya di hotel bersama asistennya, Luna langsung menemui fotografer dan juga seseorang yang akan menjadi sponsornya nanti.
"Kenapa dia lama sekali? Sudah setengah jam kita menunggu disini Nancy! Apa kau yakin ini tempatnya?" tanya Luna dengan suara yang sedikit menyentak. Ia kesal menunggu sponsornya yang belum datang.
"Mohon bersabar nona, mungkin sebentar lagi." kata seorang fotografer pria itu guna menenangkan Luna.
"Dari tadi kau terus bilang sebentar lagi, lalu apa? Dia belum datang--"
"Maaf saya terlambat," pungkas seorang pria yang sontak menghentikan kemarahan Natasha.
Seorang pria dengan sedikit janggut di dagunya dan berdiri tegak dibelakang Luna, sontak saja membuat semua orang yang duduk di kursi, lantas langsung memberikan hormat kepadanya. Sementara Luna tidak, wanita itu mendengus marah. Ia tidak suka kalau harus menunggu seperti ini.
"Maaf? Bisa-bisanya anda--" Saat Luna menoleh ke belakang, dia terkejut melihat pria itu. Pria yang tidak asing baginya, dia sudah mengenalnya sebelumnya.
"Dixon?" panggil Luna pada pria itu, ya dia adalah Dixon.
"Luna? Kau..." Dixon tak kalah kagetnya saat melihat Luna. Sahabat dari Natasha, yang dulu selalu dimintai pertolongan untuk mendekatkannya dan Natasha sewaktu zaman kuliah dulu.
Sementara ketiga orang disana, yakni asisten Luna, seorang fotografer dan sektretaris Dixon, hanya terdiam melihat itu semua. Dixon dan Luna duduk berdua di meja yang lain, mereka bicara secara pribadi. Sebelum mereka membicarakan masalah bisnis.
"Sudah lama tidak bertemu," sapa Luna pada pria yang sempat menaruh hati pada Natasha.
"Ya, tapi aku yakin kau sering mendengar kabar tentangku dari Agatha." kata Dixon yang lalu menyesap kopi di dalam cangkir. Ya, Dixon sudah menikah dengan Agatha, salah satu teman Luna di dunia permodelan 3 tahun yang lalu. Agatha selalu curhat pada Luna tentang masalah rumah tangganya.
"Benar, istrimu selalu mengeluh dan mencurahkan perasaannya padaku. Katanya kau masih belum bisa mencintainya. Kenapa kau tidak melupakan perasaanmu padanya? Dia sudah tiada, Dixon!" terang Luna pada pria yang saat ini berada dihadapannya. Ia tau bahwa Dixon masih mencintai Natasha sampai saat ini, meski ia telah menikah dengan Agatha karena perjodohan kedua orangtuanya.
"Entahlah, rasa ini masih sama. Walaupun sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencintai Agatha, namun hatiku tetap belum bisa menerimanya. Masih ada orang lain di dalam hatiku," tutur pria itu dengan mata yang sendu. Di dalam hatinya masih ada Natasha. Terkadang ia menyalahkan dirinya sendiri, mengapa dulu dia membawa Natasha pergi naik pesawat? Jika saja Natasha tidak pergi naik pesawat, mungkin wanita itu masih hidup saat ini. Tapi itu bukanlah salahnya, Natasha lah yang meminta untuk diantarkan ke luar negeri dan menjauh dari Aiden.
"Jika kau masih belum bisa melupakan Natasha karena rasa bersalahmu. Jangan salahkan dirimu, kau tidak bersalah. Kecelakaan itu adalah takdir dari Tuhan dan jika ada yang bisa disalahkan disini, aku yakin aku adalah orangnya."
Dixon melihat senyum getir dan mata penuh penyesalan di dalam diri seorang Lunamaria. Ya, wanita itu merasa dirinya turut andil atas keputusan dan kepergian Natasha kala itu. Jika saja dia tidak menipu Aiden dan Natasha, jika saja dia tidak membuat hubungan keduanya menjadi rumit. Maka semuanya tidak akan seperti ini, Natasha tidak akan tiada.
"Jika aku tidak memanipulasi kejadian malam itu, jika aku berkata dengan jujur bahwa Natasha yang bercinta dengan Aiden. Kita tidak akan kehilangan Natasha. Ini semua salahku, Dixon. Natasha menganggapku sahabat, tapi aku sangat jahat padanya. Dia bahkan sedang mengandung anak Aiden saat itu. Bayangkan betapa terlukanya dia saat itu karena diriku. Bahkan sampai dia tiada, dia tidak mendengarkan permintaan maaf dariku atau penjelasan dari semuanya. Padahal...kami berteman lama, tapi aku begitu licik mengkhianati persahabatan kami. Aku...hiks..."
Dixon menyodorkan tisu kering yang ada diatas meja, kepada Luna. Saat wanita itu menangis, mengingat dosa-dosanya pada Natasha.
"Jika seandainya, ada kesempatan kedua dan dia masih hidup. Akankah kau meminta maaf padanya?"
"Pasti! Kalau perlu, aku akan berlutut di hadapannya sampai dia memaafkanku! Aku akan menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi diantara kita dan berharap kita bisa menjadi sahabat lagi," ucap Luna seraya mengusap air matanya dengan tisu. Mereka jadi berandai-andai bila Natasha masih hidup. Luna yang ingin dimaafkan dan berteman lagi dengannya. Sedangkan Dixon, sudah punya pikiran akan menceraikan Agatha bila Natasha masih hidup.
****
3 hari kemudian, hari ini tepat hari sabtu. Aiden akan melamar Natasha di pantai yang lumayan jauh dari tempat tinggal Natasha. Pastinya pantai ini jauh lebih indah dari pantai tersebut. Dia sudah menyiapkan segala sesuatunya, Branz, kedua anak kembarnya, Theo dan juga keluarga Foster juga turut membantu persiapan lamaran itu.
Mereka menghiasi pantai itu dengan balon-balon, bunga-bunga, karpet merah juga digelar disana. Tak lupa kursi, meja dan dekorasi romantis lainnya. Aiden berencana untuk melamar Natasha dihari senja, di mana matahari terbenam,di pesisir pantai yang mana ditemani semilir angin yang sejuk dan ombak yang berembus.
Aiden tau dari buku diary Natasha, gadis itu memiliki impian lamaran pernikahan. Disana dikatakan bahwa Natasha ingin dilamar di pantai, pada saat langit jingganya senja, atau juga bisa disebut dengan sunset.
"Akhirnya sudah selesai! Aku yakin pasti mommy menyukainya," ucap Axelia bangga melihat hasil dekorasi lamaran pernikahan ini dan ayahnya. Dia lebih tidak sabar melihat kedua orang tuanya bersatu, maka ia dan Dylan akan memiliki keluarga yang lengkap.
"Anak Daddy memang cerdas! Terima kasih sudah membantu Daddy, sayang." Aiden mengusap lembut rambut putrinya yang di kepang 2 itu, Axelia terlihat sangat imut.
"Daddy tidak ucah bertelimakasih. Aku melakukan ini semua untuk aku dan Dy, juga. Aku dan Dy ingin punya orang tua yang lengkap. Kalau Daddy dan mommy menikah, maka aku juga akan punya...." Axelia tidak melanjutkan kata-katanya, gadis kecil itu sekarang malah menundukkan kepalanya dengan gaya yang malu-malu.
Aiden berjongkok didepan princess kecilnya ini. "Punya apa? Kenapa tidak dilanjutkan?" tanya Aiden.
"Punya adik, putrimu...ingin punya adik!" teriak Theo pada Aiden yang sontak saja membuat wajah Axelia bersemu merah karena malu.
__ADS_1
"Kenapa uncle bilang-bilang pada Daddy? Katanya uncle mau jaga rahasia! Ish dasar uncle," cetus Axelia dengan bibir yang mengerucut.
"Haha...Axe sayang, kau tenang saja. Daddy dan mommy akan buat adik untukmu. Kau ingin adik berapa? Daddy dan mommy mu masih kuat!" seloroh Aiden pada putrinya. Sampai Axelia dibuat tersenyum lebar karena ucapannya.
"Haih...dasar, kau begitu vulgar ya!" ujar Theo dengan decakannya itu. "Ya sudah, kalian lanjutkan saja ngobrolnya. Aku mau pulang, my sweetie ini makan gurita dan aku harus segera membelikannya," sambung Theo seraya berpamitan pada kakak ipar sekaligus sahabat baiknya itu.
"Baiklah, berhati-hatilah. Jaga adikku dan calon keponakan keduaku dengan baik," pesan Aiden pada Theo.
"Siap kakak ipar! Saat matahari terbenam, dibawah sunset, aku dan Ivana akan datang menyaksikan acara lamaranmu." Setelah mengatakan itu, Theo pun lantas bergegas pergi dari sana dan pulang ke apartemen tempatnya dan keluarga kecilnya menginap saat ini. Dia juga mendapatkan pesan makanan dari istrinya. Ivana menginginkan makan gurita hitam, mungkin ini yang namanya ngidam.
Agak aneh untuk Theo, sebab dulu saat Ivana hamil Starla. Dia tidak ada gejala seperti ini. Mual, muntah, atau bahkan pusing. Dulu saat hamil Starla, Ivana hanya lemas dan mood swing saja. Sedangkan pada kehamilan keduanya kali ini, berpengaruh pada fisiknya. Hingga Theo harus ekstra berhati-hati untuk mengurus Ivana.
Axelia dan Dylan senang kedua orang tuanya akan segera bersatu. Sebenarnya Aiden memiliki keinginan menikahi Natasha tanpa acara lamaran dulu. Akan tetapi, ia tidak mau moment diantara mereka menjadi tidak berkesan karena terlalu cepat. Ia berusaha mewujudkan semua keinginan Natasha dimasa lalu, sebaik mungkin walaupun Natasha sendiri tidak ingat tentang hal itu. Dia benar-benar melupakan semuanya, seolah memulainya hidup yang baru.
Setelah itu Aiden, kedua anaknya dan juga Albert pergi dari pantai tersebut. Nanti sebelum matahari terbenam, si kembar akan mengajak Natasha pergi ke sana.
Tanpa mereka sadari, Luna yang sedang pemotretan tak jauh dari sana. Tak sengaja melihat Aiden, bersama seorang pria dan juga dua anak kecil disana.
"Aiden? Apa aku tidak salah lihat? Dia Aiden?" Luna pun berlari tanpa pikir panjang untuk menyusul orang yang ia pikir sebagai Aiden. Aiden masuk ke dalam mobilnya dan Luna kehilangan jejaknya.
"Aiden! AIDEN!" teriak Luna memanggil nama pria itu. Ia memanggil Aiden bukan karena masih mencintainya, melainkan dia ingin bicara dengannya. Mengatakan maaf yang belum sempat terucap, mengatakan bahwa ia menyesal.
"Nona Luna! Kenapa nona ada disini? Ayo kita pergi nona! Anda harus melanjutkan pemotretan," ujar Nancy yang tadi menyusul Luna.
"Itu... benar-benar dia, dia bersama dua orang anak dan seorang pria muda. Dia ada di pulau ini." gumam Luna sedih, dia sangat ingin bertemu dengan Aiden. Berharap hubungan mereka seperti dulu.
Sejak Natasha dinyatakan tiada, Aiden benar-benar membuat Luna menderita dan tidak membiarkan Luna hidup bahagia. Namun berkat George, Luna bisa kembali bangkit dan mendapatkan karirnya lagi sebagai model.
Luna pun kembali ke tempat pemotretan bersama dengan Nancy, dia kembali melanjutkan pemotretannya.
****
Sore itu, Natasha sedang membuat kue cemilan untuk kedua anaknya di dapur. Pikirannya melayang kemana-mana saat memikirkan Aiden.
Sudah 3 hari ia tidak bertemu dengan Aiden karena pria itu mengatakan bahwa dirinya sibuk, padahal tanpa sepengetahuannya. Kedua anaknya bertemu dengan Daddynya setiap hari.
"Apa kau sedang memikirkan Aiden?" tanya Amy yang tiba-tiba saja datang dan mengagetkan Natasha.
"Astaga! Ibu, kau bisa mengagetkanku!"
"Jawab ibu, apa kau sedang memikirkan Aiden?" goda Amy seraya memegang bahu Natasha. Wanita itu malah menundukkan wajahnya dan fokus pada kue yang sedang dihias nya dengan selai coklat diatasnya.
"Nath..."
"Tidak! Aku tidak memikirkannya sama sekali."
"Tapi barusan, ibu mendengar kau menyebut-nyebut nama Aiden. Perlukah ibu menghubunginya untukmu?" tanya Amy pada Natasha. Dari raut wajah wanita itu, Amy sudah tau bahwa Natasha memang ada rasa pada Aiden walaupun ia belum mengingat Aiden sepenuhnya.
"Tidak usah Bu! Terserah dia mau menghubungiku atau tidak, tapi setidaknya dia hubungi anak-anak," ucap Natasha kesal.
Dia pun berjalan sambil membawa nampan yang diatasnya ada kue dan dua gelas susu untuk anak-anaknya, ke ruang tengah. Axelia dan Dylan terlihat sedang video call dengan seseorang di tablet. Terdengar tawa dari kedua anaknya itu.
Natasha melihat gambar Aiden disana, ia langsung buru-buru menghampiri kedua anaknya. Namun saat Natasha akan melihat Aiden dari dekat, Axelia mematikan video call itu. Natasha tampak kecewa.
Kenapa dimatikan panggilan video callnya? Kenapa Aiden hanya menghubungi anak-anak, tapi ia tidak menghubungiku? Batin Natasha kesal.
Axelia dan Dylan menyembunyikan tawa mereka saat melihat Natasha yang terdiam dengan wajah marahnya.
"Dy, mommy pasti marah." bisik Axelia pada adiknya.
"Itu berarti rencana kita untuk menjahili mommy itu berhasil," ucap Dylan berbisik juga.
"Ini kue dan susu untuk kalian," ucap Natasha dengan wajah cemberutnya, ia meletakkan nampan yang ada kue dan dua gelas susu ke atas meja.
__ADS_1
"Terimakasih mommy!" Axelia langsung menyambar kue yang paling sedikit selai coklatnya lebih dulu. Dia selalu menyisakan bagian paling enak, dibagian akhir.
"Oh ya, kalian barusan bicara dengan siapa?" tanya Natasha yang lalu mengambil tempat duduk disamping Dylan.
Dylan dan Axelia saling pandang, mereka gemas melihat Natasha yang kesal dan pura-pura tidak tahu dengan siapa mereka video call.
"Daddy, mom." jawab Dylan yang lalu mengikuti adiknya mengambil satu kue coklat di atas piring tersebut, dan memakannya.
"Oh begitu. Dia bilang apa? Apa dia ada menanyakan mommy?" tanya Natasha dengan suara pelan pada kedua anaknya.
"Apa mom? Aku tidak dengal! Mommy bicara pelan sekali!" seru Axelia pura-pura
"Apa Daddy kalian ada menanyakan mommy?" tanya Natasha dengan suara yang agak meninggi.
"Tidak ada!" jawab si kembar kompak dan membuat Natasha mendengus kesal. Tapi dia berusaha untuk tetap tersenyum didepan kedua anaknya.
"Ya sudah," jawab Natasha lalu beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke dapur.
Ish...dia mengabari anak-anak tapi dia tidak mengabariku! kesal Natasha dalam hatinya.
"Oh ya, Daddy kalian bilang...dia pergi kemana?" tanya Natasha seraya membalikkan badannya kembali.
"Tadi Daddy bilang kalau Daddy ada pekerjaan di London dan tidak akan pulang, mungkin berminggu-minggu," ujar Axelia pada Mommynya.
Natasha tidak bicara, lalu benar-benar pergi dari sana. Kedua anak itu terkekeh melihat raut wajah mommy mereka. Lalu mereka pun akan menjalankan misi kedua.
****
Hari sudah hampir senja, namun Natasha tidak melihat kedua anaknya yang tadi sedang bermain di pasir. Natasha mencari-cari keberadaan kedua anaknya.
"Kenapa ibu dan Albert juga tidak ada? Kemana mereka semua? Kenapa hanya ada aku seorang diri disini?" Natasha mulai kebingungan, ia tidak melihat siapapun disana. Hingga dia menemukan Nemo di kulkas, tulisan Albert dan Axelia yang mengatakan bahwa mereka pergi ke pantai sebelah selatan di kepulauan itu untuk melihat pasar malam.
"Pasar malam? Astaga! Lalu kenapa mereka tidak memberitahuku dan meninggalkanku seorang diri? Benar-benar...aih..." wanita itu mendengus, lalu mengganti pakaiannya dan memakai tas selempang berwarna merah. Natasha pun pergi ke pantai yang dimaksud oleh Albert dan Axelia.
10 menit kemudian, Natasha sampai di pantai itu. Terlihat ada banyak orang disana dan ada wahana permainan juga. Benar-benar terlihat seperti pasar malam. "Tumben sekali ada pasar malam di sekitar sini." Natasha berjalan mendekati area pasar malam itu.
Kemudian terlihat beberapa anak-anak disana, menyerahkan setangkai bunga primrose berwarna merah muda pada Natasha. Bunga primrose melambangkan cinta abadi. Dengan memberikan bunga ini, dapat mengungkapkan kepada pasangan bahwa seseorang tidak bisa hidup tanpa wanita yang ia cintai.
"Ini untukku?" tanya Natasha bingung.
Anak-anak itu pun pergi tanpa bicara apapun pada Natasha, setelah menyerahkan bunga primrose. Di dalam satu tangkai bunga itu ada tulisan yang menunjuk bahwa dia harus pergi ke kinciria.
"Ini tulisan Axe? Apa-apaan anak itu? Kenapa dia menyuruhku untuk pergi ke kinciria? Ada apa disana?" gumam Natasha sambil terkekeh melihat tulisan Axelia disana.
Natasha pun berjalan menuju ke kincir ria dan alangkah kagetnya ia saat melihat semua orang disana menghilang secara tiba-tiba. Dan hanya tinggal dia seorang di sana, ini sangat aneh.
"Kemana semua orang?"
Natasha terus berjalan, walaupun dia merasa aneh.Hingga akhirnya dia berjalan di atas karpet merah yang ditaburi oleh kelopak bunga mawar di atasnya. Wanita itu mengikuti karpet merah tersebut sesuai dengan arahan yang ditulis di note bunga primrose.
Deg!
Hati wanita itu berdebar kala dia melihat sesosok pria dengan setelan kemeja berwarna merah yang senada dengan bajunya saat ini, tengah berdiri di ujung karpet merah tersebut sambil membawakan buket bunga primrose berwarna merah muda.
Pria itu adalah pria yang sangat dirindukan oleh Natasha, pria yang sudah 3 hari tidak ada kabarnya. Siapa lagi kalau bukan Aiden Addison Dacosta.
"A-aiden kenapa kau ada disini?" tanya Natasha setengah tidak percaya dengan keberadaan pria itu di sana.
Aiden tersenyum, lalu ia berjalan menghampiri Natasha. Pria itu menyerahkan bunga primrose pada Natasha. "Nath, aku bukanlah pria yang pandai merangkai kata, ataupun menciptakan puisi maupun syair yang indah. Tapi, aku meyakini satu hal di dalam hati dan pikiranku. Natasha Kimberly Satigo, Aku mencintaimu."
Kata-kata cinta itu pun akhirnya terucap dari bibir Aiden, yang berhasil membuat hati Natasha melayang dan luluh seketika. Natasha dapat merasakan bahwa pria itu benar-benar tulus mencintainya dan bukan hanya sekedar dari kata-kata saja.
"Dibawah langit jingga ini, Aku mengutarakan perasaan kepadamu. Natasha, Aku mencintaimu dan aku ingin kau menjadi istri dan juga Ibu dari anak-anakku. Meski sekarang kau memang sudah menjadi Ibu dari anak-anakku...tapi kita masih belum menjadi orang tua untuk mereka berdua. Will you marry me?" pria itu berjongkok dan berlutut di hadapan Natasha. Dia membuka kotak cincin yang ada di tangannya, memperlihatkan sebuah cincin berlian dengan desain bunga sesuai dengan kesukaan Natasha.
__ADS_1
Natasha menatap Aiden dengan bingung, matanya berkaca-kaca melihat pria yang berlutut dihadapannya itu.
...****...