Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta

Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta
Bab 29. Rencana Aiden untuk menikah


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Ivana dan Theo sama-sama terkejut saat Aiden mengatakan bahwa dia akan menikah. Menikah dengan siapa? Apakah cintanya pada Natasha sudah pudar?


Ivana menggiring kakaknya untuk duduk terlebih dahulu di sofa, dia ingin mendengarkan penjelasan Aiden tentang pernikahan. Saat Theo berjalan mendekat ke arah Ivana dan Aiden, Ivana langsung melotot padanya.


"Hukumanmu belum berakhir kak! Jangan harap kau bisa pergi dari sana," ujar Ivana tegas, dengan tatapan tajamnya.


"Tapi baby..." Theo memelas dan ingin bergabung dengan istri juga kakak iparnya.


"Tetap pada posisimu semula. Kalau aku melihat kau bergeser sedikit saja, hukumanmu aku tambah!" tukas Ivana mengancam.


"Pfutt..." Aiden menahan tawa melihat sahabatnya dihukum seperti ini oleh istrinya. Rupanya Theo sekarang benar-benar takut dengan kemarahan istrinya.


Theo tidak bergeming, ia kembali ke dalam posisi semula. Berdiri didepan tembok dekat pintu sambil memegang kedua telinga dan mengangkat satu kakinya ke atas. Ia tidak berani membantah ucapan istrinya, daripada tambah masalah lebih baik menurut bukan.


"Baby, aku juga ingin ikut bicara dengan kalian!" seru Theo merengek seperti bayi.


"Kau dengarkan saja dari situ, aku tidak mau dekat-dekat denganmu! Paham?" suara Ivana meninggi dan wajah wanita itu terlihat galak. Melihat Ivana saat ini, mengingatkan Aiden akan sosok mamanya yang sudah meninggal dunia. Zeevana adalah sosok wanita lembut, penuh kasih sayang, akan tetapi kalau sudah marah, wanita itu berubah bagaikan singa betina. Ya, sama seperti Ivana.


"Sudah, terima kasih saja. Daripada kau tidak dapat jatah? Lagipula salahmu sendiri bermain dengan wanita jalangg itu," cetus Aiden yang terlihat sangat bahagia dengan keadaan Theo saat ini. Seorang jaksa yang tunduk dibawah kaki istrinya, ya itu semua salahnya sendiri kan.


"Kau akan merasakan hal yang sama kalau kau punya istri nanti!" seru Theo kesal dengan kakak iparnya yang mengejek itu.


"Aku ragu Natasha akan seperti itu, dia kan orangnya kan penyabar. Seperti yang kau tau," jawab Aiden seraya tersenyum. Ivana dan Theo menatap Aiden dengan lekat saat pria itu menyebutkan nama Natasha.


"Kak Natasha? Kak, jelaskan apa maksudnya? Kak Natasha masih hidup dan kau bertemu dengannya? Apa benar?" tanya Ivana yang juga mewakili rasa penasaran Theo yang ingin bertanya pada Aiden.


Dan Aiden pun menceritakan apa yang terjadi kemarin. Pertemuannya dengan little girl Axelia, lalu bertemu dengan Natasha di rumah sakit dan ia juga bertemu dengan Dylan, salah satu anak kembarnya juga. Ivana dan Theo tidak menyangka bahwa kabar baik tentang Natasha telah tiba. Selama ini Aiden sudah seperti orang gila saat mencari keberadaan wanita itu. Pastilah sekarang Aiden sangat bahagia karena kembali bertemu dengan Natasha. Apalagi ada plusnya, Aiden juga bertemu dengan kedua anak kembar yang tidak pernah pria itu ketahui sebelumnya.


"Jadi kak Nath masih hidup dan aku punya dua keponakan kembar? Ya Tuhan, syukurlah... akhirnya kakakku tidak akan menggila lagi," tutur Ivana sambil tersenyum bahagia, ia melihat Starla yang ada di bok bayi. "Star, ternyata kau punya kakak. Kau punya dua kakak, mari kita bertemu dengannya!" seru Ivana pada putrinya.


"Kakak...kakak...temu kakak." oceh Starla sambil tersenyum, dia memang cerdas dan langsung paham ketika orang dewasa bicara. Ya, walaupun bicaranya belum fasih. Starla sangat menggemaskan, tapi wajahnya lebih mirip Theo versi wanita.


"Iya, Natasha dan kedua anakku sudah ditemukan tapi ada masalah..."


"Masalah?" tanya Ivana dan Theo bersamaan.


"Kalian sangat kompak sekali, apa kalian yakin bahwa kalian sedang bertengkar?" tanya Aiden seraya menggoda pasangan suami-istri yang sedang bertengkar itu.


"Huh! Jangan mengikutiku," cetus Ivana dengan tatapan tajamnya pada Theo dan membuat pria itu mencuit.


"Bukankah itu tandanya kita sehati, baby?" gumam Theo dengan bibir yang memonyong.


"Diamlah! Dan tetap pada posisimu!" ujar Ivana dengan tatapan mata tajam, kedua jarinya menunjuk mata kemudian diarahkan pada Theo dengan ancaman.


"Hahahaha." Sontak Aiden tertawa dengan tingkah pasangan suami-istri itu.


Setelah mendengar cerita dari Aiden tentang kecelakaan yang dialami Natasha, bagaimana hidupnya selama 6 tahun ini bersama dengan kedua anak mereka dan tentang gadis itu yang hilang ingatan. Ivana dan Theo merasa kasihan pada Natasha.


"Jadi, kakak membohongi kak Natasha bahwa kalian memiliki hubungan kekasih? Astaga!" pekik Ivana terkejut dengan pengakuan kakaknya barusan, bahwa ia berbohong soal hubungannya dengan Natasha.


"Memangnya kenapa? Itu hanya kebohongan kecil saja, lagipula Natasha hilang ingatan," cetus Theo ikut bicara. Ivana melotot lagi dan membuat Theo memalingkan wajahnya karena takut.


Sayangku sangat menyeramkan. Batin Theo.


"Benar kata Theo, itu hanya kebohongan kecil dan Natasha tak akan tau," ucap Aiden yang membenarkan ucapan Theo.

__ADS_1


"Kak, yang namanya kebohongan. Mau besar ataupun kecil, tetaplah kebohongan. Jika kak Nath sampai tau kau membohonginya, mungkin dia akan semakin membencimu. Ingatlah kak, saat dia pergi 6 tahun yang lalu...kak Nath pasti menyimpan kebencian untuk kakak, karena sikap kakak padanya." Tutur Ivana yang mengingatkan kakaknya pada sikapnya dulu pada Natasha.


Aiden tertegun dan lagi-lagi bayangan masa lalu terlintas di kepalanya. Bagaimana kejamnya dia dulu pada Natasha? Jika waktu bisa diulang, dia akan memberikan kasih sayangnya pada Natasha. Tapi dia baru menyadari semuanya saat Natasha hilang. Pria itu menghinanya sebagai wanita jalangg, menyiksanya dengan rasa cemburu, saat Aiden sering menyewa wanita bayaran ke kantornya. Bukan hanya itu saja, Aiden juga kerap kali membuat Natasha sakit fisiknya.


"Ivana! Aku tau apa yang aku lakukan pada Nath di masa lalu. Tapi dia sudah melupakannya, biarlah dia lupa. Aku akan menikahinya secepatnya dan kalian jangan pernah memberitahu tentang kelakuanku padanya dimasa lalu," tutur Aiden kepada adik dan adik iparnya itu.


"Kak, ini salah! Hubungan yang dilandasi oleh kebohongan, tidak akan berjalan lancar," ucap Ivana tidak setuju.


"Ivana adikku, hubunganku dan Natasha sekarang baik-baik saja. Jadi, aku tidak mau merusaknya dengan masa lalu. Mungkin memang lebih baik kalau Natasha hilang ingatan. Kami akan menikah, secepatnya di pulau ini!" seru Aiden tegas.


Ivana dan Theo juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka merasa apa yang dilakukan Aiden ini salah.


****


Setelah memberitahukan niatnya untuk menikahi Natasha kepada Ivana dan Theo. Aiden langsung memesan cincin khusus untuk melamar Natasha. Walaupun pernikahan mereka mungkin akan diadakan dadakan, tapi Aiden tidak mau kehilangan momen untuk melamar Natasha. Sementara dia berada di kepulauan Channel, ia akan meminta Chris, sepupunya yang tak lain adalah anak Rachel dan Robby untuk menghandle bisnisnya di London. Kantor pusat Dacosta grup.


"Natasha pasti akan suka dengan desain ini, warna ungu dan bunga mawar," gumam Aiden saat melihat di tabletnya, desain cincin dikirimkan oleh salah satu desainer ternama. Kenalannya di Paris. Dia yang akan merancang cincin Natasha, cincin itu akan selesai dalam satu minggu. Ya, itupun karena Aiden yang memaksa agar pengerjaannya paling cepat, walau sebenarnya pengerjaannya seharusnya paling cepat satu bulan.


"Branz! Kita ke kantor penerbit Eisha!" ujar Aiden pada Branz yang menyetir mobil didepan. Siang itu Aiden berencana mengajak Natasha untuk makan siang bersama.


"Baik tuan,"


"Tunggu Branz! Kita ke rumah keluarga Foster dulu, aku ingin menjemput anak-anak juga." Aiden tersenyum saat mengingat dia akan menjemput Natasha.


***


Kantor penerbit Eisha, pukul 11.30. Semua pegawai masih berkutat dengan laptop dan ada sebagian dari mereka sedang berada di depan mesin print. Mereka tampak sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing. Sebagai seorang editor yang mengedit buku atau majalah sebelum terbit, Natasha memiliki peran penting dalam sebuah karya. Hari ini bosnya, Wendy mengalami kesulitan karena ada seorang pengusaha yang sulit dan banyak bicara ketika bukunya akan diterbitkan.


"Bagaimana pak? Apa masih belum ada jawaban dari tuan Everton?" tanya Natasha saat menemui Wendy, bos di perusahaan penerbit itu.


"Belum. Aku tidak tau kalau dia benar-benar sulit untuk dihubungi. Sekretarisnya bilang, lebih baik untuk menemuinya secara langsung daripada bicara di telpon. Natasha, aku bisa meminta tolong padamu?" Wendy, pria itu memijat keningnya dengan gusar. Sebab pria bernama Everton ini menghambat semua buku lain untuk dicetak karena sikapnya yang keras. Everton sendiri adalah seorang pengusaha perikanan terbesar di pulau itu dan memang sulit untuk ditemui.


"Terimakasih Kim. Ah ya-bawalah Emily bersamamu juga, biar dia menemanimu!" titah Wendy pada Natasha.


"Saya bisa sendiri pak. Emily kan ada tugas dibagian lain dan dia masih sibuk. Biar tugas ini saya yang kerjakan ,tidak apa-apa."


"Apa kau yakin tidak apa-apa? Bagaimana dengan anak-anakmu?" tanya Wendy tak enak hati dengan Natasha yang sudah mempunyai dua orang anak, bila dia harus pergi menemui Everton.


"Tidak apa-apa, ada neneknya yang menjaga!" sahut Natasha tidak keberatan.


Wendy terdiam, kemudian dia pun beranjak dari tempat duduknya. Ia mengambil keputusan untuk menemani Natasha. Wendy takut Natasha kenapa-napa dan dia juga kasihan kalau Natasha harus pergi seorang diri.


Tepat saat Natasha dan Wendy pergi menuju ke kantor Everton, mobil Aiden sampai didepan kantor penerbit Eisha. Aiden tidak datang sendiri, dia bersama kedua anak kembarnya. Aiden mengendong Axelia dan tangannya menggandeng tangan Dylan. Benar-benar terlihat seperti ayah yang penyayang.


"Branz, kau tunggu disini saja. Aku dan anak-anak akan menjemput Natasha, so tidak akan lama," ujarnya pada Branz, sekretaris sekaligus orang kepercayaannya itu.


"Baik pak presdir," jawab Branz patuh. Terlihat rona kebahagiaan di wajah Branz, ya itu karena dia senang melihat Aiden lebih banyak tersenyum. Ibaratkan gunung es yang mencair, Aiden telah menemukan seseorang yang bisa membuat hatinya sembuh dan dirinya jinak.


Branz setia menunggu di mobil, sementara Aiden dan kedua anaknya masuk ke dalam gedung kantor Eisha. Saat melihat gedung itu, Aiden jadi ingin membuatkan kantor untuk Natasha. Kantor khusus dirinya sendiri, bukan bekerja untuk orang lain. Aiden tau bahwa dari dulu Natasha ingin bekerja di kantor penerbitan buku dan bahkan menerbitkan buku sendiri, tapi karena ia fokus dengan Aiden menjadi sekretarisnya. Keinginan Natasha belum bisa terwujud.


Kali ini aku akan mewujudkan semua keinginanmu Natasha. Semuanya, waktu-waktu yang kau lewati dengan sisa-sisa karena diriku. Aku akan menggantinya. Batin Aiden yang perih lagi saat mengingat masa lalu.


"Daddy, dali tadi mereka semua melihat Daddy, kenapa ya?" tanya Axelia terheran-heran melihat semua orang disana melihat ke arah papanya. Terutama kaum hawa.


"Benarkah mereka melihat Daddy? Bukankah mereka melihatmu? Kau sangat cantik, jadi tidak ada alasan kenapa mereka tidak bisa untuk tidak melihatmu," ucap Aiden yang lagi membuat Axelia melayang dengan pujiannya.


"Really?" Axelia tidak percaya, namun pujian kecil saja sudah membuat mata gadis kecil itu berbinar.

__ADS_1


"Cantik dari mananya? Bukankah mereka melihatmu seperti bayi yang digendong papanya? Dasar anak manja huh!" celetuk Dylan dengan mendelik sinis pada kakaknya itu.


"Apa kau bilang? Beraninya kau berkata tidak sopan pada kakakmu!" seru Axelia pada Dylan kesal.


"Jangan sebut dirimu kakak, kalau jalan saja harus digendong oleh orang lain," cetus Dylan yang terus mengoceh mengejek Axelia.


"Hey son! Aku bukan orang lain, aku Daddy kalian," sanggah Aiden cepat. Dia tidak mau Dylan menyebutnya orang lain.


"Ya baiklah Dad, sorry." Dylan meminta maaf dengan sopan pada ayahnya.


"Dad, cepat turunkan aku! Aku tidak mau berubah menjadi adik, dad." bisik Axelia pada daddynya, Aiden tersenyum tipis mendengarnya. Axelia sangat lucu.


"Kau akan tetap jadi Kakak, little girl." Tukas Aiden pada putrinya.


"Tidak dad! Kau halus tulunkan akuh, ayo dad!" punya Axelia pada daddynya.


"Fine, fine...aku akan menurunkanmu." Aiden menurunkan Axelia dari gendongnya dan kini kedua anak itu digandeng tangannya oleh Aiden.


Terlihat beberapa orang yang sedang makan di kantin perusahaan melihat sosok Aiden. Pria tampan, berwibawa dan penampilannya mampu membuat semua orang terlena dalam sekali lihat.


"Siapa dia? Mau bertemu siapa? Ah dia membawa dua anak kecil!" seru seorang karyawan wanita saat melihat Aiden dari kejauhan.


"Pria itu tampaknya tidak asing ya?"


"Ah ya! Aku pernah melihat pria itu di internet!" seru seorang karyawan yakin saat melihat wajah Aiden yang tidak asin


"Tunggu! Anak-anak itu, mereka kan..." Emily memicingkan mata saat melihat kedua anak yang sedang bersama dengan Aiden. Buru-buru wanita itu beranjak dari tempat duduknya untuk melihat kedua anak itu dari dekat.


Namun sebelum Emily mendekat, Axelia terlebih dahulu berjalan menghampirinya dengan berlari. Aiden dan Dylan mengikutinya dari belakang.


"Aunty Emily!" panggil Axelia pada Emily.


"Axe? Kenapa kau ada disini nak?" sambut Emily ramah pada Axelia. Di perusahaan ini, Emily adalah teman baik Natasha, bahkan kedua anaknya sangat akrab dengan Emily.


"Aunty, aku kesini ingin beltemu dengan mommy. Apa aunty lihat mommy? Daddy dan Dylan juga sedang mencarinya," ucap Axelia dengan mata polosnya menatap Emily.


"A-apa? DADDY?" sentak Emily saat melihat sosok pria berwajah datar nan tampan dihadapannya itu.


Dia benar-benar mirip dengan Dy. Batin Emily saat melihat wajah Aiden dan Dylan yang benar-benar mirip.


"Aunty, kenalkan...dia adalah Daddy kami. Daddy, ini aunty Emily, temannya mommy," ujar Dylan seraya memperkenalkan Aiden dan Emily. Dylan berinisiatif untuk memperkenalkan mereka berdua karena Aiden diam saja dari tadi.


"Saya Aiden," kata Aiden dingin lalu mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan lebih dulu.


"Saya Emily, saya teman--"


"Maaf, apa kau tau dimana Natasha?" pungkas Aiden tanpa mau berbasa-basi lebih banyak. Hingga Emily melepaskan uluran tangannya.


"Natasha? Dia pergi bersama bos Wendy,"


Hiiy! Natasha kau sangat beruntung, suamimu sangat tampan dan keren. Tapi menyeramkan. Emily memuji dan mengatai Aiden dalam hatinya.


"Bos Wendy? Dia perempuan atau laki-laki?" bukannya bertanya kemana lebih dulu, Aiden malah bertanya apakah Wendy wanita atau laki-laki. Raut wajahnya tampak menyeramkan.


"Laki-laki, tapi dia--"


Lagi-lagi Aiden memotong ucapan Emily. "Kemana mereka pergi?" tanya Aiden sambil mengepalkan tangannya dengan geram. Ada kilatan api didalam raut wajahnya. Lalu ia pun dan kedua anak-anaknya pergi meninggalkan kantor tanpa bertanya lebih lanjut setelah ilu mengatakan bahwa Natasha pergi ke Everton corpooration.

__ADS_1


...****...


__ADS_2