Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta

Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta
Bab 35. Ivana hamil.


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Wanita itu masih berada di kamar mandi, melamun sambil rebahan di bathtub berisi air hangat. Dia mengusap-usap dan menggosok tubuhnya dengan sabun cair sampai berbusa. Busa itu memenuhi bathtub nya. Natasha mencoba mengingat kejadian tadi malam, sebab hatinya masih bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Benarkah ia dan Aiden tidak melakukan hal itu.


"Tidak! Aku ingat tua Bangka itu yang akan memperkosaku, tapi Aiden keburu menolongku. Dan setelah itu...aku tidak ingat lagi! Aihhh... bagaimana ini? Kenapa bisa aku tidak mengingatnya?" gumam wanita itu dengan tangan yang tidak mau diam hingga terdengar suara kecipak air disana.


Aiden yang sudah berpakaian lengkap, ala casual, mendengar suara kecipak air didalam kamar mandi. Pria itu mendekati pintu kamar mandi dan mengetuknya. "Nath...apa kau baik-baik saja?"


"A-aku...aku tidak apa-apa!" teriak Natasha dengan suara gugup.


"Perlu aku bantu untuk memandikanmu?" tanya Aiden seraya menggoda wanita itu. Di dalam sana, Natasha terbelalak dan tidak percaya bahwa Aiden berani bicara begitu.


"Jangan kurang ajar!" ujar Natasha geram.


"Baiklah, kalau butuh bantuan kau berteriak saja!" seru Aiden sambil tersenyum didepan pintu kamar mandi itu.


"Hey! Kau!" teriak Natasha kesal karena Aiden menggodanya. Sementara Aiden tertawa-tawa didepan sana. Ia menunggu Natasha keluar dari kamar mandi. Natasha sendiri menghabiskan waktu setengah jam didalam sana, ia lupa tidak memakai pakaian lain selain Bathrobe. Pintu kamar mandi, Natasha buka sedikit dan memperlihatkan kepalanya saja.


"A-aiden..." cicit Natasha pelan.


"Ya sayang?" sahut Aiden, lalu beranjak dari tempat duduknya. Dia menghampiri Natasha yang hanya terlihat kepalanya saja.


"Kau tidak usah mendekat!" ujar Natasha dengan hati yang melayang karena Aiden memanggilnya sayang tanpa aba-aba.


"Kau bicara pelan, mana bisa aku mendengarmu? Katakan ada apa?" goda Aiden dengan senyuman tipis dibibirnya. Jantung Natasha berdegup kencang saat melihat senyuman Aiden saat ini.


"I-itu...bajuku...a-apa ada bajuku?" tanya Natasha gugup sambil menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.


"Oh, ada. Tapi kau harus keluar dulu, ambil bajunya sendiri disana!" tunjuk Aiden pada sebuah kantong yang ada di atas ranjang.


"Tolong ambilkan, kumohon..." pinta Natasha memelas.


"Baiklah, karena aku orangnya baik hati dan tidak sombong. Aku akan mengambilkannya untukmu," jawab Aiden langsung setuju.


"Terimakasih, aku tau kau memang baik!" ujar Natasha sambil tersenyum lebar.


Aiden berjalan menuju ke ranjang, ia mengambilkan kantong berisi pakaian untuk Natasha yang diberikan oleh Carol tadi pagi. Aiden menyodorkan kantong berisi baju tersebut, namun ketika Natasha akan mengambilnya, pria itu malah menjauhkan kantong itu ke belakang.


Natasha kembali berusaha mengambilnya, namun Aiden kembali mengerjainya dan tidak menyerahkan kantong itu begitu saja. Wanita itu pun menjadi geram. "Jangan main-main dan serahkan baju itu! Cepat!"


"Ya, ini." cetus Aiden sambil tersenyum mempermainkan Natasha. Tangan Natasha masih berusaha mengambil kantong itu dan satu tangan lainnya menahan gagang pintu kamar mandi. Kepalanya yang masih celingukan di luar, badannya masih didalam kamar mandi.


"KYAAKKK!!" Natasha kehilangan keseimbangan, akhirnya pintu kamar mandi itu terbuka lebar dan membuat tubuh Natasha terekspos hanya menggunakan bathrobe saja. Tubuh Natasha berakhir dengan menindih tubuh Aiden. Keduanya sama-sama terjatuh.


"Kenapa kau sangat jahil? Kau ini benar-benar..." ucapan Natasha terhenti saat menyadari bahwa sepasang obsidian berwarna biru tengah menatapnya dengan dalam dibawah sana. Jarak diantara mereka sangat dekat, hingga hembusan nafas keduanya terasa satu sama lain.


Pria itu menelan salivanya, ini ulahnya sendiri yang jahil pada Natasha. Tapi malah dia yang terjebak dengan perasaannya sendiri. Rasa rindu yang membuncah dan nafsu penuh gelora. Dia yang menggoda, malah dia yang tergoda. Wanita itu berada diatas tubuhnya dengan posisi yang bisa terbilang intim dan sangat cantik dengan bathrobe juga rambut panjangnya yang basah.


"A-ada yang..." Natasha bergerak-gerak saat ia menyadari bahwa ada benda keras yang menusuk miliknya.


"Jangan bergerak, atau kau akan terima akibatnya maka kau harus bertanggungjawab!" ujar Aiden dengan wajah yang memerah bak kepiting rebus.


"Aiden, wajahmu memerah? Kau kenapa?" tanya Natasha dengan polosnya ia mengusap pipi Aiden.


Pria itu pun beranjak duduk dan Natasha masih berada di atas pangkuannya. Dia tidak tahan lagi, akhirnya Aiden memilih untuk mengecup bibir ranum Natasha sekilas. Karena ia tidak mau berbuat lebih dari itu. Natasha terdiam dengan wajah bingung saat Aiden mengecup bibirnya, ada gelanyar aneh ditubuhnya.


"Berdirilah! Jangan menggodaku lagi...Karena aku sedang menahan diri," ujar Aiden sambil membantu Natasha berdiri dari pangkuannya.


"Siapa yang menggodamu? Kau duluan yang jahil padaku!" geram Natasha dengan tatapan sengit pada pria itu. Ia pun menyambar kantong berisi baju dan masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju.


Setelah selesai berganti baju, Natasha dan Aiden pergi ke restoran yang ada di hotel itu untuk makan siang. Mereka tidak sempat sarapan pagi karena tidur sampai siang. Disanalah Natasha bisa melihat bahwa Aiden memang sudah lama mengenalnya dan mereka dekat. Aiden tau makanan kesukaan Natasha.

__ADS_1


"Sepertinya kau tidak berbohong, dulu kita pernah memiliki hubungan." cetus Natasha saat menyantap makanannya secara perlahan.


"Tentu saja kita punya hubungan. Kau lihat saja, kedua anak kita. Mereka adalah bukti bahwa kita pernah melewati malam panas bersama," ucap Aiden santai.


"Mr. Dacosta! Kau sangat vulgar! Astaga... ckckck." wanita itu berdecak tidak percaya bahwa Aiden bicara begitu vulgar. "Tapi, apakah semalam kita sudah...ataukah si bandot tua itu...." Natasha ingin membahas masalah semalam, meski ragu-ragu.


"Sstt...tidak terjadi apa-apa padamu dan si brengsek itu. Tolong jangan pikirkan itu lagi, anggap saja dia sudah mati dan menghilang dari muka bumi ini, apa kau paham?"


Wanita itu menganggukkan kepalanya dengan perasaan lega, sebab ingatannya benar. Aiden datang tepat waktu dan pria itu tidak sempat menodainya. Dan sekarang Natasha kembali bertanya tentang dirinya dan Aiden semalam.


"Lalu kita? Untuk menghilangkan efek obat perangsang itu, apa kau melakukannya?"


"Aku memang menyentuhmu, tapi aku tidak memasukimu. Aku hanya memuaskanmu, dengan ini." Aiden menunjukkan jari-jari tangan kanannya. Natasha langsung memerah saat membayangkannya. Dia malu.


"Kenapa kau tidak mengguyurku dengan air dingin? Atau melakukan cara lain, tanpa harus dengan jari?" tanya Natasha sebal.


"Oh, jadi kau menyalahkanku? Perlukah kita mengecek black bok mobilku? Dan kau akan melihat seberapa keras kau menggodaku. Bahkan Branz saja tau betapa ganasnya kau malam itu. Tak cukupkah tanda-tanda di tubuhku menjadi bukti?" oceh Aiden panjang lebar dengan suara keras hingga membuat beberapa orang di restoran itu menoleh ke arah Natasha dan Aiden dengan tajam.


"Mr. Dacosta! Itu tidak perlu!" sentak Natasha yang malu dengan tatapan semua orang padanya karena ucapan Aiden.


"Habisnya kau tidak percaya padaku, jadi sepertinya aku harus tunjukkan bukti."


"Aku percaya, apalagi kau sudah menyelamatkanku. Terimakasih karena sudah menyelamatkanku," ucap Natasha berterimakasih.


"Ini sudah tugasku untuk menjaga ibu dari anak-anak dan wanita yang aku cintai. Tidak usah berterimakasih. Tapi jika kau mau membalas rasa terima kasihku, jangan buat aku cemas. Cepat angkat teleponku kalau aku menelponmu, balas pesanku kalau aku mengirim pesan, jangan membuatku gelisah," tutur Aiden dengan tatapan intens dan ada kecemasan disana untuk Natasha. Membayangkan kejadian semalam yang hampir membuat Natasha celaka, membuat dia sangat ketakutan.


"Iya, akan aku lakukan. Maaf sudah membuatmu cemas, Aiden." wanita itu menundukkan kepalanya seraya memohon maaf.


****


Di rumah Foster, pukul 12.15.


Semua orang baru saja selesai makan siang, termasuk Ivana, Starla dan Theo yang berkunjung ke tempat itu sambil menunggu Aiden dan Natasha. Mereka menikmati waktu bersama disana, apalagi ada Dylan dan Axelia yang ceria.


"Uwekk...uwekk..."


Theo dengan sigap memapah istrinya begitu Ivana selesai memuntahkan makanannya. Theo tidak tahan lagi, ia akan memanggil dokter. Ia takut terjadi sesuatu pada Ivana.


"Jangan bilang tidak! Aku akan memanggil dokter, atau kita pergi ke rumah sakit. Kau hanya punya dua pilihan itu, jangan membantah!" ujar Theo tegas. Ivana mendesahh pasrah, ia tidak bisa membantah ucapan suaminya kali ini. Sebab ia juga ingin tau apa yang terjadi pada tubuhnya, setiap makan selalu saja dia muntahkan, ia lemas.


"Tidak perlu pergi ke lumah cakit aunty, uncle...diperiksa Oma caja." kata Axelia yang tak sengaja mendengar percakapan Ivana dan Theo.


"Kenapa diperiksa Oma?"


"Oma ceolang doktel, Oma selalu memeriksaku dan Dy kalau kami sakit," balas Axelia dengan mulut cadelnya yang menggemaskan. Dia masih berlatih huruf l dan r.


Akhirnya Amy memeriksa kondisi Ivana dengan stetoskop dan mengecek detak jantung, tekanan darahnya juga. Ivana berbaring diatas ranjang dengan wajah pucatnya. "Apa kau sering mual-mual seperti ini? Lemas atau pusing tiba-tiba?" tanya Amy layaknya seorang dokter.


"Kalau mual-mual dimulai dari beberapa hari yang lalu," jawab Ivana.


"Sweetie, kau mual-mual dari beberapa hari yang lalu? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Theo dengan mata membulat menatap istrinya.


"Kau kan terlalu sibuk dengan si Bella dan pekerjaanmu. Mana bisa kau tau keadaanku?" Ivana kembali sarkas dan bisa memicu pertengkaran. Disaat seperti ini Theo tidak membalas ucapan Ivana dan memilih mengalah.


"Tolong lanjutkan pemeriksaannya Mrs. Foster," ucap Theo pada wanita paruh baya itu. Amy tersenyum tipis, ia merasa Theo dan Ivana adalah pasangan yang cocok. Theo juga terlihat dewasa.


"Bagaimana dengan pusingnya?" tanya Amy sambil meraba-raba perut datar Ivana.


"Selalu datang tiba-tiba, kadang aku merasa lemas sampai sulit untuk bangun," sahut Ivana.


"Sudah berapa lama kau telat datang bulan, nak?" tanya Amy yang membuat Ivana sedikit berpikir. Mungkinkah dia punya penyakit dalam yang berkaitan dengan datang bulannya?

__ADS_1


"Aku... seingatku, bulan ini aku belum mendapat datang bulan." Amy manggut-manggut mendengarnya.


"Baik. Nak Theo, silahkan kau beli alat tes kehamilan ke apotik. Jangan hanya beli satu, belilah 2 untuk memastikannya!"


Theo dan Ivana terkejut, mereka saling berpandangan satu sama lain. Ivana dan Theo terlihat bingung. "Aku tidak mungkin hamil, Starla baru dua tahun dan kami selalu memakai pengaman!" seru Ivana setengah berteriak.


"Ya, tapi bisa saja terjadi kebocoran bukan? Untuk memastikannya, lebih baik membeli testpack." jelas Amy pada pasangan suami-istri itu.


Theo lantas pergi dari rumah itu dan membeli testpack di apotik. Tak butuh waktu lama untuk membeli testpackk itu, dalam 5 menit Theo sudah kembali ke rumah. Dia membeli 5 alat tes kehamilan dan juga beberapa makanan ringan untuk semua orang.Terutama untuk anak-anak disana. Ivana langsung mengecek keadaannya dengan alat tes kehamilan, 1, 2, 3, 4, hingga 5 kali mencobanya hasilnya tetap sama yaitu garis dua.


"Sayang? Bagaimana?"


Ivana tidak bicara apapun, ia hanya menunjukkan 5 alat tes kehamilan itu dengan hasil yang sama kepada Theo. Pria itu tersenyum lalu memeluk dan mencium kening istrinya penuh kasih sayang.


"Selamat sayang, kau hamil lagi...Starla akan punya adik. Terimakasih, sayang." Theo memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. Sementara Ivana malah menangis sesenggukan.


"Sayang...kau menangis?"


"Kau tidak suka hamil lagi?" tanya Theo curiga dengan kesedihan istrinya.


"Tidak, bukan tidak suka...hanya saja aku tidak menyangka akan secepat ini. Tentu saja aku bahagia, tapi Starla masih kecil!" seru Ivana sambil mengusap air matanya.


"Memangnya kenapa? Kau tenang saja sayang, aku akan membantumu menjaga anak-anak kita. Aku akan menjadi suami dan ayah siaga, aku janji tidak akan membuatku bersedih lagi..I love you..." bisik Theo sambil memeluk istrinya lembut. Dia benar-benar bahagia karena istrinya mengandung lagi.


Axelia, Dylan, Amy dan Albert mengucapkan selamat kepada Theo dan Ivana karena mereka akan dikaruniai buah hati yang kedua. Artinya Starla akan memiliki seorang adik.


"Aku juga mau adik! Aku mau adik perempuan dari mommy," celetuk Axelia.


"Kau bisa minta pada mommy dan Daddymu, manis!" seru Theo pada gadis kecil itu. Tak lama kemudian, terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah tersebut. Mereka semua yang semula berada di dekat kamar mandi, kini kompak berjalan menuju ke ruang tamu. Disana terlihat Natasha dan Aiden berjalan bersama masuk ke dalam rumah.


Axelia berlari menghampiri kedua orang tuanya dan menyapa mereka dengan hangat seperti biasa. Sedangkan Dylan, anak itu hanya tersenyum tipis melihat keberadaan kedua orang tuanya.


Sementara Ivana dan Theo masih tertegun ditempat mereka, mereka tidak percaya melihat sosok Natasha yang hilang 6 tahun yang lalu dan sekarang ada di hadapan mereka dalam keadaan baik-baik saja.


"Halo, kalian siapa?" tanya Natasha pada Ivana dan Theo. Wanita itu bingung.


Benar, apa yang dikatakan oleh kakak.. Kak Nath kehilangan ingatannya.


Ivana dan Theo berlari lalu menghampiri Natasha dengan kompak, mereka memeluk Natasha dengan penuh kerinduan. "Syukurlah kau masih hidup, Nath."


"Kak Nath, aku senang kau baik-baik saja...ini aku Ivana, adik iparmu." ucap Ivana sambil tersenyum haru. Ia begitu bahagia bertemu dengan Natasha.


Wanita itu tidak mengingat mereka, dia dapat merasakan bahwa mereka dekat. Terbukti , saat Natasha berpelukan dengan mereka berdua.


****


Di bandara kepulauan Channel, di waktu yang sama. Seorang wanita berambut pendek berwarna merah dengan setelan baju berwarna merah dan sepatu boots, tampak sedang berjalan dengan mendorong kopernya.


"Astaga, disini panas sekali! Apakah aku harus melakukan pemotretan disini? George juga tidak bisa menemaniku, ini sangat menyebalkan!" cetus wanita itu sambil melepaskan kacamatanya dan melihat ke langit yang cerah dan terik.


"Nona, kenapa kau tidak menungguku?" tanya seorang wanita dengan rambut diikat dua sambil berlari menghampiri wanita berambut merah itu.


"Kau lama sekali, bahkan siput pun lebih cepat darimu! Ayo, kita pergi ke hotel...aku tidak sabar ingin beristirahat." wanita itu kembali mengenakan kacamata hitamnya. Lalu mereka berdua pun berjalan menaiki mobil taksi yang ada di depan bandara.


...****...


Wah wah...siapakah wanita itu 🤭🤭


Bonus spoiler bab berikutnya...


"Apa kau mau menikah denganku, Natasha?"

__ADS_1


"Kau pembohong! Pembohong besar, Aiden Addison Dacosta, aku membencimu!" wanita itu menatap Aiden penuh kemarahan.


__ADS_2