Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta

Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta
Bab 44. Pergi bekerja


__ADS_3

Setelah memutuskan untuk memulai dari awal, hubungan Natasha dan Aiden semakin dekat. Dimulai dari hubungan kerjasama sebagai pasangan orang tua untuk Axelia dan Dylan, kini mereka mencoba menjadi pasangan suami-istri.Meski mereka belum berhubungan intim layaknya pasangan menikah. Tidak apa-apa, Aiden paham kenapa Natasha belum siap. Dia juga tidak berhak untuk menuntut Natasha agar mau berhubungan dengannya.


Sekarang Natasha dan Aiden tinggal di London, di rumah yang Aiden tinggali seorang diri sejak Ivana menikah dengan Theo. Axelia dan Dylan juga bersekolah di salah satu TK di negara itu. Disana, Natasha kembali berinteraksi dengan keluarga Satigo. Ayahnya, ibu sambungnya, juga kakaknya Raphael yang ternyata sudah menikah, memiliki anak. Sungguh, Natasha telah melewatkan 6 tahun itu dan banyak yang berubah.


~Rumah Aiden, kediaman Dacosta, malam itu~


"Nath...aku ingin bicara sebentar, bisa?" tanya Aiden sambil melonggarkan dasi yang mengikat di kemejanya. Tampak wajah tampan pria itu lelah dan lesu. Dia baru saja pulang dari kantor, setelah meninggalkan banyak pekerjaan di kantornya.


"Ada apa?" tanya Natasha sambil mengambil tas kerja milik suaminya. Dia memerankan sosok istri dengan baik.


"Mari bicara di kamar," ajak Aiden pada istrinya. Meski lelah, Aiden tetap tersenyum pada Natasha. Meski kadang wanita itu berekspresi datar saat bersamanya. Aiden tak apa, asalkan Natasha masih mencintainya dan menjadi miliknya.


Aiden terlihat lelah...apa dia baik-baik saja? Batin Natasha bertanya-tanya, ia cemas melihat wajah Aiden yang lelah.


Mereka pun pergi ke kamar yang biasa mereka tempati. Di kamar yang sama tapi tak pernah seranjang. Aiden selalu tidur di sofa dan Natasha diatas ranjang. Meski 1 bulan telah berlalu sejak pernikahan mereka.


"Kau mau mandi dulu, atau mau makan dulu?" tawar Natasha seraya menatap wajah Aiden yang lelah itu.


"Tidak keduanya. Aku mau bicara dulu denganmu," ucap Aiden seraya duduk diatas sofa. "Duduklah, aku ingin bicara!"


Natasha menurut dan duduk disamping Aiden, dia bertanya-tanya dalam hati apa yang akan dibicarakan oleh Aiden. Natasha melihat pria itu mengambil sebuah map coklat dari dalam tasnya. Map coklat itu tertutup rapi oleh tapi berwarna merah.


"Kau tidak perlu melamar kerja ke perusahaan penerbit. Mulai sekarang kau akan bekerja disana," ucap Aiden sambil menyerahkan amplop coklat tersebut kepada istrinya. Natasha mengerutkan kening dan bertanya-tanya, apa maksud Aiden.


"Bukalah, maka kau akan tahu jawabannya!" ujar Aiden pada wanita itu.


"Ya." Natasha membuka amplop coklat itu dan melihat dokumen yang ada di dalamnya. Dia membaca dengan seksama setiap tulisan yang tertulis di dokumen tersebut. Detik berikutnya, kedua matanya melebar dan tak percaya saat melihat dokumen tersebut sudah atas namanya, hanya tinggal ditandatangani saja.


Dokumen pengalihan dan kepemilikan perusahaan yang bernama AD published. Sebuah perusahaan penerbit dan dituliskan di sana, bahwa perusahaan tersebut akan dipimpin oleh Natasha.


"Aiden, apa maksudnya semua ini?" tanya wanita itu seraya menatap suaminya dengan intens.


"Perusahaan itu adalah milikmu, sejak lama aku ingin mewujudkan impianmu."

__ADS_1


"A-apa?"


"Bekerjalah disana, anggap kepemilikan perusahaan itu sebagai hadiah pernikahan kita!" seru Aiden seraya tersenyum.


"Kau setuju aku pergi bekerja? Dan mana mungkin kau memberikan sebanyak ini untukku, ini sebuah perusahaan--Aiden." cetus Natasha yang merasa keberatan dengan pemberian Aiden.


"Mungkin saja, kau kan istriku. Aku bisa memberikan segalanya untukmu," ucap Aiden seraya tersenyum pada istrinya.


"Aiden..."


"Lakukan apa yang membuatmu bahagia, maaf karena aku terlambat!" ucap Aiden.


"Aiden terima kasih." sebenarnya Natasha sangat senang karena dia diperbolehkan untuk bekerja. Aiden juga tidak pernah melarang dia untuk melakukan apapun yang dia sukai.


"Hem... jangan lupa kewajibanmu sebagai seorang ibu. Untuk anak-anak kita," ucap Aiden pada Natasha.


"Tentu, aku juga tidak akan lupa kewajibanku sebagai seorang istri kepadamu!" ujar Natasha sambil tersenyum. Mendengar kata istri membuat Aiden mengerutkan keningnya.


Wanita itu mendekatkan wajahnya kepada wajah sang suami, lalu mengecup bibirnya. Aiden tercengang dengan sentuhan Natasha yang berinisiatif untuk pertama kalinya. Ia pun menekan tengkuk Natasha guna memperdalam kecupan itu menjadi ciuman.


"Kau sudah menerimaku?" tanya Aiden begitu ciuman itu terlepas. Dia menatap sepasang manik mata cantik milik Natasha.


"Sudah 85 persen."


"Benarkah? Syukurlah, aku menunggu moment dimana semua itu akan berubah menjadi 100 persen." Aiden tersenyum, lalu dia tersenyum senang karena perlahan hubungannya dan Natasha membaik. Meski belum seratus persen, tapi ia yakin perlahan semuanya akan membaik.


****


Setelah perusahaan AD published itu menjadi milik Natasha. Ia mulai menduduki posisi sebagai presdir disana. Tentu saja Natasha meminta bantuan orang-orang terdekatnya untuk bekerja di perusahaan itu.


Selain bekerja sebagai pimpinan, ia juga tidak melupakan kewajibannya untuk mengurus anak dan suaminya.


"Bu Presdir, hari ini akan ada pertemuan untuk wawancara dengan seseorang yang bukunya akan dipublikasikan oleh perusahaan kita!"

__ADS_1


"Baik, mari kita bertemu dengannya. Tapi Claire, jangan memanggilku dengan Bu Presdir saat kita sedang berdua. Kau kan temanku,"


"Mana bisa begitu, ini dilingkungan kerja." kata Claire, salah satu teman baik Natasha di kampus selain Luna.


"Haishh...kau ini..." Natasha tersenyum lalu ia pun dan Claire berjalan masuk ke dalam sebuah restoran, tempat pertemuannya dan seorang pengusaha yang ingin menerbitkan buku di perusahaan Natasha.


Begitu mereka sampai disana, mereka bertemu dengan Dixon yang sedang duduk bersama sekretarisnya.


"Dixon? Sedang apa kau disini?" sapa Natasha.


"Nath! Kau disini juga?" Dixon menyapa balik Natasha dengan ramah.


"Iya, aku mau bertemu dengan client. Kalau kau?"


"Ah...aku mau bertemu dengan pihak perusahaan yang akan menerbitkan buku ku!" seru Dixon dengan senyuman lebarnya. Matanya menatap Natasha dengan intens.


"Menerbitkan buku? Apa AD published?" tanya Natasha menebak.


"Benar, apa mungkin kau mengenal CEOnya?" tanya Dixon pura-pura tidak tau. Sebenarnya dia sudah tau bahwa Natasha adalah CEO dari perusahaan itu.


"Iya, aku Ceo-nya."


"Benarkah? ASTAGA...ini sangat kebetulan. Ternyata kau--"


Tiba-tiba ada seorang yang menabrak Natasha sambil membawa semangkuk sup. Dixon melihat sup itu tumpah, dengan cepat ia menahan tubuh Natasha dengan tubuhnya dan membalikkan keadaan.


"Natasha...Ahhh!!" pekik Dixon merasakan punggungnya perih karena terkena sup panas itu.


Sementara Natasha panik berada didalam pelukan Dixon, semua orang disana berteriak melihat Dixon tersiram sup panas itu.


"Dixon!" teriak Natasha yang langsung melepaskan pelukan Dixon dan melihat punggung Dixon.


...****...

__ADS_1


__ADS_2