
Sebelum naik ke atas ranjang tempat tidur Aiden, Luna yang tanpa sehelai benang itu pun menyingkirkan gaun merah milik Natasha yang ada di bawah lantai. Dia tidak mau meninggalkan jejak apapun yang bisa membuat Aiden curiga. Ia sudah gagal menjebak Aiden tidur dengannya, tapi setidaknya dia harus berhasil untuk yang satu ini. Luna tidak rela membiarkan Aiden dan Natasha bersama. Dari kecil Luna selalu cemburu ketika Aiden lebih dekat dengan Natasha daripada dirinya, meski sekarang Aiden terlihat membenci Natasha. Tapi Luna tau ada rasa tersembunyi didalam hati Aiden untuk Natasha.
"Maafkan aku Aiden, Natasha...tapi aku tidak bisa membiarkan kalian bersama. Aku harus bersama dengan Aiden." gumam gadis itu licik. Lalu dia menelpon seseorang dan mengatakan padanya untuk menghapus kamera CCTV yang ada di apartemen itu pada hari ini. Entah siapa yang ia telpon itu, sesudahnya Luna tersenyum menyeringai. Kemudian ia berbaring tanpa sehelai benang, di samping Aiden. Tangannya memeluk tubuh dan meraba perut kotak-kotak Aiden yang amat menggoda.
"Aku mencintaimu, Aiden." Luna beringsut ke atas sedikit lalu mengecup bibir Aiden sekilas. Ditatapnya wajah tampan itu dengan penuh kasih bercampur obsesi.
****
Sementara itu disebuah apartemen sederhana tak terlalu mewah, Natasha masuk ke dalam kamarnya lalu menuju kamar mandinya. Dia berjalan gontai dengan pangkal pahanya yang terasa nyeri akibat perbuatan Aiden. Bahkan jejak merah keunguan masih terlihat jelas di tubuhnya terutama bagian dadaa. Masih terasa juga cumbuan brutal Aiden kepadanya, tubuhnya masih terasa panas.
Natasha yang masih memakai pakaian Aiden, memutar keran shower, ia membiarkan dirinya terkena guyuran air shower itu. Gadis itu menangis, mengingat percintaan panasnya dengan Aiden.
"Aku harus bagaimana? Haruskah aku meminta tanggung jawabmu? Apakah kau akan bertanggung jawab padaku, padahal kau sendiri membenciku?" gumam Natasha sembari terisak dan memegang dadanya yang sesak. Natasha sudah berjanji pada dirinya, ia memiliki prinsip tentang pria yang menyentuhnya pertama kali, maka pria itu harus menjadi suaminya dan bertanggungjawab.
__ADS_1
Natasha dan ibunya berbeda, mungkin bisa disebut malaikat dan iblis. Natasha malaikat dan ibunya iblis. Sayangnya Aiden selalu menganggap Natasha sama seperti ibunya, yang selalu membuat Zeevana (Ibu Aiden) menderita selama hidupnya. Sayangnya, dendam telah menutup hatinya akan kebaikan Natasha.
"Tidak...lebih baik aku tidak bicara, lebih baik aku jangan bicara dulu." gumam Natasha sambil melihat pangkal pahanya yang ternyata masih berdarah. Bagian intinya pun terasa perih.
****
Tepat pukul 4 pagi, Aiden mulai membuka matanya. Kepalanya masih terasa pening, ia terbangun karena mendengar suara tangisan seorang wanita yang berada didekatnya. Aiden melihat seorang wanita berambut acak-acakan sambil memeluk selimut menutup tubuhnya. Di lehernya terlihat beberapa tanda merah. Tak hanya itu, Aiden melihat pakaian dalamm dan gaun biru yang dipakai oleh Luna semalam berserakan di lantai.
"Hiks...hiks...Aiden kenapa kau melakukan ini kepadaku?" gadis itu menangis terisak, sambil memeluk lututnya.
Sial! Kepalaku sakit, tapi apakah aku dan Luna sudah... seingatku aku memang bercinta dengan seseorang. Tapi, itu adalah dia bukan Luna.
"Jangan bilang kau tidak ingat kejadian semalam? Kau memaksaku...kau yang...hiks..." Luna semakin terisak, dia berusaha meyakinkan Aiden, bahwa dirinya yang sudah bercinta dengan Aiden.
__ADS_1
"Luna, maaf aku tidak ingat. Aku..." pria itu benar-benar bingung. Rasanya tidak mungkin juga dia melakukan hal ini pertama kali dengan Luna, gadis yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
"Ya sudah, kalau kau tidak ingat. Aku tidak akan meminta pertanggungjawabanmu." Luna berdiri dari ranjang, langkahnya gontai sambil memakai selimut. Hingga Aiden melihat di atas seprai tempat tidurnya ada bercak darah disana.
"Luna...maafkan aku, apakah ini lalu pertamamu? Apa aku pria yang sudah mencuri virginmu?" Aiden memberanikan diri untuk bertanya.
"Kalau iya, kenapa? Kau tidak usah cemas, aku akan menganggap hal ini tidak terjadi. Aku...baik-baik saja." kata Luna dengan wajah memelas dan mata merah sembab sehabis menangis. Sungguh Aiden tidak tega melihatnya, lalu dia pun menarik tangan Luna sampai mereka berdua duduk diatas ranjang.
"Luna, maafkan aku. Kau tenang saja, aku akan bertanggungjawab padamu." Aiden memegang tangan Luna dan menatap gadis itu dengan intens. Jujur Aiden merasa bersalah, dia juga tidak tahu kenapa dirinya bisa berbuat nista pada Luna, sahabatnya sendiri. Tapi ia merasa aneh, semalam ia merasa Natasha yang bercinta dengannya. Nyatanya bukan!
"Aiden tidak perlu, aku tidak mau membebanimu." ucap Luna memelas.
"Tidak Luna! Ini tanggung jawabku! Semalam kita tidak memakai pengaman, ada kemungkinan besar kau hamil. Aku akan bertanggungjawab Luna, aku akan menikahiku." cetus Aiden bersungguh-sungguh. Luna masih tampak memelas, namun didalam hati ia bersorak gembira. Meskipun ini tidak sesuai skenarionya semalam, tapi Aiden mau bertanggungjawab menikahinya.
__ADS_1
Yes, akhirnya aku mendapatkan Aiden!
...****...