Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta

Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta
Bab 25. Seperti orang asing


__ADS_3

🍁🍁🍁


Tamparan Natasha memang tak seberapa keras di pipinya, tapi membuat hati Aiden yang tertampar keras oleh sikap Natasha. Tatapan wanita kepadanya seperti melihat orang asing saja.


'Siapa pria ini? Beraninya dia memelukku!" kesal Natasha dalam hatinya. Dadanya bergemuruh melihat pria yang baru saja memeluknya itu. Natasha geram pada pria kurang ajar ini. Anehnya dia juga merasakan kebencian pada pria didepannya ini, entah kenapa.


Tiba-tiba saja Aiden mencengkram kedua tangan Natasha dengan cukup keras. Hingga kedua manik mata cantik Natasha kembali met bola. "Apa yang anda lakukan? Lepaskan saya tuan!" sergah Natasha berang. Baginya Aiden hanyalah orang asing yang


Tatapan mata Aiden begitu tajam pada Natasha, dia mengunci atensinya dan membuat wanita itu mau tak mau harus menatapnya.


Kenapa hatiku terasa aneh saat melihat mata orang asing ini? Kenapa dia mirip dengan seseorang yang ku kenal?


"Aku tau kau marah dan kecewa kepadaku, aku tau. Tapi bersikap dan menghindar seperti ini, bukanlah solusi!" sentak Aiden.


"Apa yang anda lakukan? Lepaskan saya, atau akan saya laporkan anda ke pihak berwajib! Beraninya anda berteriak dan memegang tangan saya!" sentak Natasha yang berusaha melepaskan dirinya dari Aiden. Ia tidak mengenal Aiden dan pria itu berani memegang tubuhnya.


"Natasha, kau jangan begini!" teriak Aiden tidak tenang, ia benar-benar kehilangan kendali saat melihat wanita yang membuatnya menggila selama beberapa tahun itu.


Bahkan Branz bisa melihat jelas ada ketidaknyamanan pada diri Natasha saat bertemu dengan Aiden. Malah seperti orang asing yang baru pertama kali bertemu. Bukankah mereka adalah pasangan kekasih sebelumnya? Itulah yang Branz tau, bahwa Natasha adalah kekasih Aiden yang kabur saat sedang hamil.


"Pak, saya mohon tenang. Anda menakutinya, bicara pelan-pelan." Branz berusaha menenangkan bosnya itu dan memperingatkannya untuk bicara baik-baik.


"Diam kau Branz!" bentak Aiden pada sekretarisnya itu. Melihat sikap Aiden yang kasar, Natasha semakin ilfeel padanya.


Tatapan Aiden kembali beralih pada Natasha, dia menatap dalam wanita itu. "Kemana saja kau pergi selama ini? Apa kau memang sengaja bersembunyi dariku?" tanya Aiden sedih.


"Anda ini bicara apa?" Natasha semakin mengerutkan keningnya, ia bingung. Kenapa pria ini seperti mengenalnya saja? Bahkan bicaranya tidak formal.


Akhirnya Natasha kembali mendorong Aiden kuat, bahkan pria itu sampai terhempas menubruk Branz. "Rupanya anda tidak cukup ditampar saja. Apa anda mau saya laporkan ke pihak berwajib karena tindakan pelecehan?" tegur Natasha geram sambil mengambil tas gendong milik Axelia dari tangan Branz.


"Pak? Apa anda baik-baik saja?" Branz membantu presdirnya untuk menegakkan badannya. Aiden masih tampak syok, ia juga dapat merasakan bahwa Natasha seperti menganggapnya orang asing.


Apa Natasha bersikap pura-pura tidak kenal denganku karena dia sangat kecewa padaku? Kenapa dia memperlakukanku seperti orang asing? Batin Aiden bingung.


Tak lama kemudian pintu ruang UGD pun terbuka lebar, atensi Natasha, Aiden dan Branz langsung tercuri pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Dokter? Apa dokter yang menangani anak saya? Bagaimana keadaan anak saya, dok?" wanita itu memberondong sang dokter dengan banyak pertanyaan.


Dokter pria itu tersenyum. "Benar, saya dokter yang memeriksa putri ibu Axelia. Putri ibu sudah baik-baik saja, walaupun tadi sempat sesak nafas. Untung saja putri ibu tidak terlambat dibawa ke rumah sakit, sebab terlambat sedikit saja...maka nyawa putri ibu mungkin tidak selamat. Lain kali tolong dijaga makanan nya Bu, jangan biarkan dia kelelahan karena tidak baik untuk kondisi jantungnya. Tidak boleh terlambat minum obat ya? Oh ya--putri ibu juga sudah boleh pulang, tidak perlu di rawat." jelas dokter itu panjang lebar. Natasha, Aiden dan Branz merasa lega karena Axelia baik-baik saja.


"Terimakasih dokter!" setelah mengucapkannya, Natasha masuk ke dalam ruang UGD dengan terburu-buru. Aiden juga menyusulnya ke dalam sana, namun ia tidak mengizinkan Branz untuk masuk sebab Branz diperintahkan sesuatu olehnya.


"Minta tes DNA rambutku dan rambut ini. Aku ingin hasil secepatnya! Dan--siapkan apartemen untuk aku tinggali selama beberapa hari ini!" perintah Aiden seraya menyerahkan dua helai rambut didalam dua plastik putih yang berbeda kepada Branz. Aiden ingin bergerak cepat, bukannya ia tidak percaya bahwa Axelia adalah putrinya. Namun ia hanya ingin bukti yang bisa mengukuhkan bahwa ia adalah ayah kandung gadis kecil itu dan menunjukkannya pada Natasha, bila nanti ada drama lain. Misalkan, Natasha yang tidak jujur soal anak mereka.


Branz segera pergi dari sana untuk melaksanakan tugas dari presdirnya. Pertama untuk tes DNA dan yang kedua, menyiapkan apartemen untuk ditinggali bosnya. Apa itu artinya Aiden akan tinggal di kepulauan Channel lebih lama?




Aiden masuk ke dalam ruangan, ia melihat Natasha tengah memeluk Axelia sambil menangis. Gadis kecil itu tersenyum dan mengusap air mata Natasha dengan tangan kecilnya.



"Sudah kuduga, mommy pasti menangis. Aku tidak apa-apa mommy, hehe." gadis itu malah terkekeh saat melihat mommynya menangis.



"Mommy tidak menangis! Dasar kau ini...apa kau tau betapa mommy sangat mencemaskanmu? Dan kau malah tertawa seperti ini, dasar anak nakal!" wanita itu mengusap air matanya sendiri, dia mencubit gemas pipi Axelia dengan gemas. Natasha tidak bisa marah kalau melihat putrinya yang menggemaskan ini. Baginya yang terpenting Axelia sudah baik-baiknya saja.



"Hehe...maafkan aku mom, aku membuat mommy cemas." tangan kecil Axelia memeluk ibunya.


__ADS_1


"Kenapa kau pergi ke perusahaan Dacosta sayang? Ah...tidak, mari kita bicara dirumah ya?" Natasha menggendong Axelia didepan. Saat ia membalikkan badannya, Natasha terkejut karena ada Aiden disana. Tatapan Natasha begitu tajam pada Aiden. Entah kenapa dia seperti sakit hati melihat wajah Aiden. Bawaannya kesal.



"Halo little girl? Bagaimana kabarmu? Kau sudah baik-baik saja?" tanya Aiden cemas pada Axelia. Gadis kecil itu mengangguk dan tersenyum.



"Aku baik-baik saja paman. Oh ya, Mom...aku pelgi ke pelusahaan itu kalena aku ingin bertemu paman. Aku ingin melihat paman. Bukankah paman milip dengan Dy?" tunjuk Axelia pada pria yang saat ini berada di hadapannya itu.



Natasha tidak menjawab, tapi didalam hati ia akui pria didepannya ini memiliki sedikit kemiripan dengan Dylan putranya. Natasha bingung, benar-benar aneh rasanya.



"Ayo kita pulang sayang!" seru Natasha pada putrinya tanpa mempedulikan Aiden ada disana dan memasang wajah yang ingin bicara pada mereka berdua.



Natasha membawa putrinya keluar dari ruang UGD dan akan membawanya pulang. Tentu saja itu tak lepas dari pengawasan Aiden, pria itu mengikutinya. Begitu banyak pertanyaan didalam pikirannya saat ini, mengapa Natasha tidak seperti dulu lagi. Harusnya dia marah saat bertemu dengannya lagi, akan tetapi wanita itu malah memperlakukan dirinya seperti orang asing.



"Tuan, kenapa anda mengikuti kami?" tanya Natasha saat ia membawa Axelia masuk terlebih dahulu ke dalam mobil. Natasha geram karena Aiden terus mengikutinya.



"Natasha, kenapa kau begini? Kenapa kau berpura-pura tidak mengenalku? Jika kau marah padaku, pukul aku sepuas hatimu, tapi setelah itu mari kita bicara." ucap Aiden lembut, seraya menatap Natasha dengan rindu.



"Saya sudah bilang, kalau saya tidak mengenal anda. Dan nama saya bukan Natasha, tapi Kimberly." jelas Natasha ketus.




"Terserah! Yang jelas jangan ganggu saya dan anak saya lagi. Oh ya, terimakasih karena sudah membawa anak saya ke rumah sakit." kata Natasha, lalu ia masuk begitu saja ke dalam mobilnya. Meninggalkan Aiden yang masih ingin bicara dengannya.



"Jadi kau masih marah padaku? Baiklah, aku akan membuatmu memaafkanku!" gumam Aiden, lalu ia pun masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti Natasha yang belum pergi jauh dari sana. Aiden pikir masalahnya hanya tentang kemarahan Natasha, tapi dia belum tau saja kalau Natasha mengalami hilang ingatan.



\*\*\*\*



Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, akhirnya Natasha dan Axelia sampai di rumah mereka yang letaknya berada tak jauh dari kawasan pantai. Sebuah rumah berlantai satu yang nyaman dan memiliki pemandangan yang indah.



Begitu turun dari mobil, Natasha lantas langsung membawa Axelia masuk ke dalam rumah dengan menggendongnya. Ia masih mencemaskan keadaan Natasha. Aiden juga turun dari mobil, begitu mobil Natasha berhenti di dekat rumah tersebut.



"Jadi selama ini kau tinggal disini? Kenapa bisa aku tidak tau padahal kau tidak cukup jauh dariku?" gumam Aiden miris, ia berusaha mencari Natasha kesana kemari. Namun ternyata Natasha tak jauh darinya. "Dasar Aiden bodoh!" pekik pria itu seraya menoyor kepalanya sendiri.



"Kali ini aku tidak melepaskanmu lagi, Nath. Kau dan anak-anak kita, mari hidup bahagia." gumam Aiden pilu. Ia bertekad untuk memperbaiki semua kesalahannya, hubungannya dengan Natasha dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik, juga mendapatkan pengampunan dari Natasha. Dia sudah berjanji pada Tuhan, tidak akan mabuk-mabukan lagi bila Natasha dan anaknya sudah ditemukan.


__ADS_1


Belum lama Natasha membawa Axelia masuk ke dalam rumah, Natasha kembali keluar untuk mengambil tasnya yang ada di mobil. Namun alangkah kagetnya ia saat melihat Aiden ada disana.



"Ternyata anda benar-benar mengikuti saya? Apa mau anda?" tanya Natasha sarkas dengan tatapan tajam pada pria itu.



"Kita perlu bicara, terutama tentang anak kita. Nath, aku minta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu dimasa lalu, aku tau maaf saja tidak cukup--tapi aku benar-benar menyesal!" lirih Aiden dengan mata yang mengembun. Dia menyesal sudah melampiaskan dendam pada Natasha dan membuat wanita itu menderita berada disisinya selama ini. Ketika Aiden sedang meminta maaf, Natasha malah terdiam, ia sendiri malah bingung. Sebenarnya apa yang dibicarakan pria asing ini kepadanya?



"Maaf tuan, sepertinya kau salah mengenali orang. Kau bicara pada orang yang salah. Aku tidak paham apa yang kau bicarakan." jelas Natasha sambil menghela nafas berat. Dia benar-benar tak kenal pria itu.



Aiden geram, ia tidak sabar untuk bicara dengan Natasha dan memilih cara yang terkesan memaksa. Aiden menarik Natasha ke dalam pelukannya, mencengkram tangannya dengan kasar dan mode galaknya kembali saat ini.



"Ini sudah ke sekian kalinya anda memegang tangan saya! Lepaskan saya atau saya teriak!!" sentak Natasha kesal.



"Mau sampai kapan kau berpura-pura tidak mengenalku? Kita harus bicara!" seru Aiden yang tidak mau melepaskan tangan Natasha dari cengkramannya. "Aku merindukanmu Nath, apa kau tau?"



"Kau! dasar pria gila! Apa kau--hmphh--"



Ucapan Natasha terhenti tatkala Aiden menyambar bibir wanita itu tanpa permisi. Aiden juga mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Natasha. Dia memaksakan diri merangsakkan lidahnya masuk ke dalam mulut Natasha, namun sayang wanita itu tidak memberikannya akses.



Bulir air mata mengalir dari keduanya saat mereka berciuman. Tiba-tiba saja Natasha terdiam membeku saat kepalanya terasa berdenyut-denyut. Aiden melepaskan ciumannya. Ia melihat raut wajah Natasha yang bingung.



"Kenapa kau memperlakukan ku seperti orang asing? Lebih baik marah saja padaku daripada kau seperti ini! Natasha...aku--"



Kata-kata Aiden terhenti saat ia melihat wanita itu memegang kepalanya dan jatuh tak sadarkan diri. Dengan sigap kedua tangan Aiden menopang tubuh mungil itu.



"Natasha! Nath!!"



Amy dan kedua anak kembar yang tadinya ada didalam rumah, lantas pergi keluar rumah saat mendengar suara teriakan diluar sana.



"Mommy!" panggil Dylan dan Axelia panik melihat Mommy mereka tidak sadarkan diri.



"Kim!" teriak Amy panik seraya menghampiri mereka Natasha yang ada di dalam pelukan Aiden saat ini.



...\*\*\*\*...

__ADS_1


__ADS_2