Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta

Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta
Bab 33. Memberi pelajaran!


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


~Apartemen tempat tinggal Ivana, Starla dan Theo saat ini~


Theo memapah Ivana yang terlihat lemas setelah memuntahkan makanan yang belum lama ia makan. Ivana benar-benar lemas, beberapa kali ia akan terjatuh bila Theo tak menangkap tubuhnya.


Apa Ivana seperti ini karena stress memikirkan aku dan Bella?


Pria itu merasa bersalah dengan kondisi istrinya saat ini. Dia berpikir sakitnya Ivana karena dirinya. "Sayang, aku akan buatkan kau teh hangat agar perutmu merasa lebih baik."


"Tidak usah, aku tidak apa-apa. Antar saja aku ke kamar, kasihan Starla sendirian di kamar." Ivana memegang keningnya yang terasa sakit dan perutnya terasa bergejolak.


"Sayang..."


"Aku baik-baik saja, mungkin hanya masuk angin karena perjalanan dari London kemari. Dengan istirahat aku pasti lebih baik,"


"Aku tidak bisa tenang, kau memuntahkan semua makananmu! Aku akan panggil dokter kemari ya?" tawar Theo seraya membujuk istrinya untuk memanggil dokter.


"Aku baik-baik saja, sudahlah! Jangan berlebihan!" seru Ivana kesal, lalu ia pun menepis tangan suaminya dan ia pun melangkah pergi ke dalam kamar. Theo mendengus kesal, sekaligus mencemaskan istrinya. Baiklah ia akan berinsiatif membuatkan teh, lalu esoknya ia akan membawa Ivana ke rumah sakit untuk di periksa.


*****


Di dalam mobil yang menepi dipinggir jalan sepi. Mobil bergoyang itu masih menjadi pemandangan live streaming bagi Branz dan bodyguard yang mengawal mereka disana.


Mereka tersipu malu melihat mobil bergoyang itu, membayangkan apa yang terjadi didalam sana. Pasti panas, bergairah dan membuat bulu kuduk meremang hebat. Tak bisa dibayangkan, fantastik!


"Tuan Branz apa yang sedang dilakukan pak presdir?"tanya seorang bodyguard berkepala botak.


"Ayolah dude, jangan pura-pura bodoh! Kau tau apa yang dilakukan oleh dua manusia berbeda jenis kelamin didalam sana sampai mobilnya bergoyang," cetus seorang bodyguard sambil menyesap rokoknya dengan santai.


"Aku tidak tahu, aku jomblo...aku masih suci. Tapi sekarang mataku ternodai!" cetus bodyguard berkepala botak itu yang dengan lebaynya menutup mata seolah melihat pemandangan erotis, padahal hanya mobil bergoyang saja yang di lihat.


Branz hanya senyum-senyum saja mendengar ucapan para bodyguard tentang Natasha dan Aiden yang berada didalam mobil. Apa yang mereka lakukan sudah bisa ditebak dalam sekali lihat.


Sementara di dalam sana, Aiden masih sibuk meredakan obat perangsang yang menguasai tubuh Natasha. Wanita itu menggelinjang berkali-kali oleh sentuhan Aiden di bagian terlarangnya. "Ahh...Aiden...do it...please...**** me!"


"No, Natasha...ini sudah selesai," ucap Aiden sambil mengusap cairan disudut bibirnya. Dia menengadah dan memposisikan dirinya didepan Natasha, padahal posisinya tadi berada di bawah tubuh Natasha dan mengobrak-abrik miliknya.


"Aiden...masih panas...kumohon...masih panas...sakit..." rintih Natasha kesakitan, wajahnya masih memerah.


Aiden mulai panik karena panas dan rasa sakit pada diri Natasha belum reda juga, setelah apa yang dia lakukan barusan. "Sialan! Aku akan membunuhnya, dia sepertinya memberimu banyak obat laknat itu!" seru Aiden kesal. Ia bersumpah akan membuat si Everton itu menyesal sudah dilahirkan ke dunia ini. Beraninya dia membuat Natasha kesakitan seperti ini. Aiden tidak dapat membayangkan bila dia terlambat sedikit saja dan Natasha bersikap binal seperti itu didepan Andreas.


"Aiden...kumohon...ahhh...."

__ADS_1


"Tahan! Aku akan mencari cara lain, sementara itu mari kita lakukan seperti ini sebentar lagi," ucap Aiden lalu ia kembali menyambar bibir Natasha dengan tangan yang aktif menjelajahi tubuh Natasha.


15 menit berlalu dengan kegiatan itu, akhirnya panas ditubuh Natasha sudah sedikit mereda. Wanita itu sudah berada di pelukan Aiden saat ini. Peluh keringat membasahi wajah mereka berdua. "Aiden..."


"Syukurlah, sudah mereda." Aiden tersenyum seraya membelai pipi Natasha dengan lembut. Dan pada akhirnya ia tidak melakukan itu dengan Natasha. Meski melakukan ini juga tak bisa dibilang benar.


Nafas Natasha memburu, tapi setidaknya wanita itu tidak merintih meminta hal itu lagi. Walau panas itu tak sepenuhnya hilang, tapi mereda. Itu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Bahkan Aiden tadi sulit menahan hasratnya, ini membuktikan bahwa cintanya lebih besar dari nafsu. Tak berselang lama kemudian, Aiden meminta agar Branz masuk kembali ke dalam mobil dan mereka melanjutkan perjalanan. Aiden memutuskan untuk membawa Natasha ke hotel. Bukan bermaksud apa-apa, dia hanya tidak mau kedua anak mereka melihat ibu mereka dalam keadaan seperti ini.


"Branz, carikan kelapa mud! Lalu bawakan ke kamarku!" ujar Aiden setelah sampai didepan hotel itu. Aiden menggendong Natasha ala bridal style. "Jangan lupa piyama tidur juga!" timpalnya lagi.


"Baik pak. Lalu bagaimana dengan Mr. Everton?"


"Aku akan mengurusnya nanti. Beritahu mereka, jangan sampai si Everton brengsek itu melarikan diri!" titah Aiden dengan wajah yang kesal, saat memikirkan tentang Andreas Everton.


Branz paham akan kemarahan bosnya, siapapun pasti akan emosi bila wanitanya diperlakukan seperti ini. Hampir dinodai dan bisa saja mati kalau terlambat sedikit saja.


Akhirnya Aiden membawa Natasha ke salah satu kamar hotel disana. Ia merebahkan tubuh Natasha di atas ranjang. "Bagaimana perasaanmu?"


"Sudah lebih baik, tidak terlalu sakit. Tapi, aku ingat semuanya." Lirih Natasha pelan dengan mata yang sayu, terbuka dan tertutup berulang kali.


Deg!


Aiden terkejut setelah mendengar ucapan Natasha, bahwa dia ingat semuanya. Ingat apa? Mungkinkah ingatannya sudah kembali? Raut wajah Aiden berubah menjadi takut.


Tak berselang lama setelah itu, Branz datang, membawakan 2 kepala muda dan juga pakaian tidur untuk Natasha. Aiden meminta Natasha meminumnya agar efek itu mereda, dan kalau bisa menghilang secepatnya. Usai meminum air kepala tersebut, Natasha tertidur pulas sekolah tak terjadi apa-apa. Aiden memakaikan piyama tidur untuk Natasha, lalu ia menyelimuti tubuh wanita itu.


"Tunggulah disini, jangan bangun dulu sampai aku datang ya?" bisik Aiden, lalu ia menatap sendu pada wanita itu. Dikecupnya kening wanita itu dengan lembut penuh kasih.


Pria itu pun pergi meninggalkan Natasha didalam kamar, namun tenang saja. Natasha tidak sendiri. Ada dua orang bodyguard yang berjaga disana, satunya adalah seorang wanita. Bodyguard yang disewa oleh Aiden di pulau itu untuk sementara waktu. Kalau-kalau Natasha terbangun dan membutuhkan sesuatu, bodyguard wanita itu bisa membantunya. Tentu saja ini ia lakukan karena ia tidak mau memberikan kesempatan untuk pria lain menyentuh Natasha.


"Kalian jaga dia! Dan kau Carol, kau jaga di dalam! Jaga-jaga kalau dia membutuhkan sesuatu," ujar Aiden pada semua anak buahnya.


"Baik bos!" sahut ketiga bodyguard yang terdiri dari 2 orang pria dan seorang perempuan itu.


Kini saatnya Aiden memberikan pelajaran pada Andreas yang sudah mengusik ketenangannya. Melukai wanita yang ia cintai. Branz dan Aiden pergi ke sebuah gudang yang mana disana ada Andreas yang ditelanjangi dan diikat diatas tiang.


Wajah pria itu lebam-lebam akibat perbuatan Aiden di penginapan itu. Samar-samar Andreas menatap Aiden dengan sendu dan lemah. "Tolong...ampuni saya tuan...saya tidak tahu apa salah saya, tapi...saya mohon ampuni saya..." pinta Andreas dengan posisi yang sangat memalukan.


"Kau bilang apa barusan? Tidak tahu apa salahmu?" pria itu tersenyum sinis, lalu ia pun melempar air berwarna hitam didalam ember tepat ke wajah Andreas dengan perasaan marah.


Byur!!


Air itu memiliki aroma yang menjijikkan dan membasahi seluruh tubuh telan-jang Andreas. Ditambah lagi dingin karena waktu itu pada dini hari.

__ADS_1


"Tu...tuan..." suara Andreas terdengar gemetar, ia benar-benar kedinginan saat ini. Bahkan bau air comberan itu menguar ditubuhnya sangat menjijikan.


"Sudah berani menipu, memberikan orang perangsang dan menyentuh wanita orang lain, kau bilang tidak bersalah? HAH! KAU MAU MATI!"


Pria itu benar-benar murka, ia kembali menyiksa Andreas. Kali ini menggunakan alat kejut listrik. Andreas melihat alat kejut listrik ditangan Aiden dan mulai ketakutan. "Tuan tolong jangan...jangan bunuh saya...tuan...saya mohon maaf! Saya tidak tahu jika..."


Aiden dengan cepat memotong ucapannya. "Ssttt! DIAM! Aku tidak akan membunuhmu, tenang saja. Aku hanya ingin bermain-main dengan tubuhmu yang sudah Pentium 1 ini!" ejek Aiden saat melihat body perut gembrot Andreas didepannya ini. Berani sekali pria itu, sudah tua masih suka main wanita. Apalagi wanita Mr. Dacosta, dia tidak tahu bermain dengan wanitanya.


Satu detik kemudian, Aiden menekan alat kejut listrik itu pada tangan Andreas. Tubuh pria gembrot itu pun bergetar hebat, sementara Aiden sumbang melihatnya seperti ini. "Sial! Aku belum puas!"


"Tuan...saya mo...hon..." Andreas bergetar, efek kejut listrik itu masih ada walaupun Aiden sudah menghentikannya.


"Branz bawakan si Lucy!" seru Aiden pada Branz yang masih berdiri dibelakangnya dengan setia.


Branz menganggukan kepalanya, ia berjalan ke belakang menghampiri salah satu bodyguard yang membawa keranjang di tangannya. Keranjang berisi ular piton berwarna hitam didalam sana. Branz membawakan keranjang berisi ular itu pada bosnya.


"Are you ready? Untuk berkenalan dengan Lucifer? Yeah, dia namanya Lucifer dan dia ingin berkenalan denganmu. Aku rasakan akan cocok dengannya! Kebetulan dia lapar, mungkin saja kau bisa memuaskan rasa laparnya," cetus Aiden seraya tersenyum menyeringai pada Andreas yang sangat ketakutan padanya saat ini.


"Saya mohon...maaf...maafkan saya..."


"Tidak! Jangan meminta maaf... ayolah. Tidak ada maaf untuk manusia penjahat kelamin seperti dirimu, hah!" pria itu tertawa jahat, lalu membayangkan bagaimana keadaan tadi Natasha jika ia terlambat.


Andreas sangat ketakutan, apalagi begitu ular bernama Lucifer itu di keluarkan dari keranjang dan merayap ke arahnya. "Tidak! Jangan! Ahhh!!"


"Siapa suruh kau berurusan denganku?" gumam Aiden geram. Tanpa kedua tangannya, pria yang hampir menyetubuhi Natasha itu terlihat sangat menderita.


Penyiksaan demi penyiksaan dilakukan oleh Aiden kepada Andreas, hingga pria itu jatuh tidak sadarkan diri. Aiden bisa saja membunuhnya, tapi membunuh pria itu terlalu mudah untuknya. Dia tidak akan membunuh pria itu dan menjadi seorang pembunuh. Yang ada Natasha dan kedua anaknya akan kecewa pada dirinya.


"Tuan, selanjutnya mau diapakan pria ini?" tanya Branz.


"Nanti pagi, dia harus hancur. Seluruh dunia, bahkan keluarganya harus tau betapa bejatnya dia. Kau paham maksudku bukan?" pria itu mengapa sekretarisnya. Branz paham dan hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Saat Aiden akan pergi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba saja ponsel Branz berdering. Branz mengangkat panggilan itu. "Ada apa Carol?" tanya Branz begitu ia mengangkat panggilan telpon dari Carol. Branz terdiam sejenak seperti sedang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Carol di seberang sana.


"APA? Nyonya kenapa?" Branz panik.


Aiden yang mendengarnya lantas merebut ponsel itu dari Branz dan langsung mendengarkan Carol. "Katakan ada apa?"


"Bos, nyonya...dia mengamuk dan terus memegang kepalanya. Sepertinya dia kesakitan," jawab Carol.


"Kau jaga dia, lalu panggil dokter! Aku akan segera kesana sekarang!" ujar Aiden lalu menutup telponnya begitu saja. Ia pun pergi buru-buru dari tempat itu dan bergegas kembali ke hotel dengan seorang bodyguard, sementara Branz mengurus Andreas.


...*****...

__ADS_1


Apakah ingatan Natasha kembali ya? Btw... author up segini dulu ya, hari ini banyak ngantuk 🥰😆 jangan lupa vote bunganya sekeboh dong 🤧🤧


__ADS_2