Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta

Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta
Bab 49. Natasha tau semuanya


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Didepan suaminya, Natasha mengangkat telpon dari Dixon tanpa ragu. Ya, dia jelas yakin karena tak ada hubungan apapun dengan pria itu. Selain rasa bersalah dan rasa terimakasih karena pria itu menolongnya tempo hari, sampai masuk rumah sakit. Tidak ada rasa yang lebih dari itu.


Natasha menyalakan loud speaker saat bicara dengan Dixon. Dixon mengatakan pada Natasha bahwa dia akan pulang dari rumah sakit.


"Oh...jadi kau akan keluar dari rumah sakit? Baiklah, aku akan--"


"Aku akan kesana tuan Dixon. Dan sekalian aku akan membawa seorang perawat untuk merawatmu." cetus Aiden memangkas ucapan Natasha yang ingin pergi ke rumah sakit. Tentu saja Aiden tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Tidak perlu, kau tidak perlu melakukannya Aiden. Aku baik-baik saja," ucap Dixon dari sebrang sana.


"Jangan menolaknya Dixon dan jangan membuat istriku merasa tidak nyaman. Aku tau kau sudah menyelamatkan ISTRIKU, jadi sudah seharusnya aku membalas budi. Ini bukan apa-apa." kata Aiden lalu memutus sambungan telpon itu begitu saja. Dia terlihat kesal karena Dixon secara terang-terangan menginginkan Natasha.


"Hubby," panggil Natasha.


"Honey, dia masih menginginkanmu." pria itu memeluk pinggang Natasha dengan erat. Seakan tak rela kehilangan istrinya.


"Mana mungkin? Itu sudah lama sekali sejak dia mengatakan cinta padaku. Dia juga sudah punya istri." gumam Natasha tidak yakin.


"Honey, percaya atau tidak. Feeling seorang suami tidak pernah salah dan aku yakin dia masih memiliki hati padamu. Masalah kemarin, tentang sup itu..."


Drett..


Drett..


Tak lama kemudian, ponsel Aiden yang ada diatas nakas berdering. Aiden segera mengambilnya, dia tidak langsung mengangkat telpon itu. Malah menatap namanya cukup lama.

__ADS_1


"Siapa? Dari wanita ya?" tanya Natasha curiga. Wanita itu masih berada di pangkuan Aiden.


"Ini dari Branz!" jawab Aiden sambil tersenyum seneng melihat Natasha cemburu. "Aku akan mengangkat telponnya didepanmu," timpalnya lagi lalu mengecup pipi Natasha sekilas. Dan dia pun mengangkat telpon dari Branz, ia menekan tombol loud speaker.


"Halo Branz, ada apa kau menelponku? Aku harap ini penting karena kau mengganggu me time ku bersama istriku!" cecar Aiden marah.


"Maafkan saya pak, saya rasa ini penting sebab bapak sendiri yang mengatakan harus segera melaporkan tentang insiden di restoran yang menimpa nyonya Natasha."


Natasha melirik Aiden, dia tak tau suaminya menyelidiki tentang kejadian kemarin di restoran. Bukankah itu hanya insiden biasa? Dimana si pelayan yang tak sengaja menubruknya dan menumpahkan sup panas.


"Ya, katakan!"


"Memang benar pelayan itu di suruh oleh sekretaris Tuan Dixon untuk menumpahkan sup pada nyonya Natasha dan dengan begitu, tuan Dixon akan menjadi pahlawan. Pelayan itu sudah mengaku, pak."


Natasha terperangah mendengarnya, dia tidak menyangka kalau Dixon akan berbuat seperti ini demi mendapatkan perhatiannya.


"Baik pak, saya kirimkan sekarang!" sahut Branz.


Tak lama kemudian setelah sambungan telepon terputus, Branz mengirimkan bukti video tentang pengakuan pelayan itu. Bahwa Dixon yang menyuruhnya menumpahkan sup. Natasha menggelengkan kepalanya, tak percaya.


"Hubby, ini..." lirih Natasha.


"Kau percaya padaku sekarang? Dia masih menginginkanmu, tak peduli dia punya istri atau tidak.Dan kau tau, dia selalu mengabaikan istrinya."


"Apa? Bukannya istrinya yang mengabaikannya?" tanya Natasha heran. Dia tidak menyangka ucapan Dixon sangat berkebalikan dengan faktanya.


Setelah bicara tentang Dixon dengan suaminya, Natasha memutuskan untuk menjauhi Dixon dan biarkan Aiden yang menyelesaikan masalahnya dengan Dixon.

__ADS_1


"Jadi sekarang kau sudah tau semuanya... bagaimana kalau kita lanjutkan di kamar mandi?" tanya Aiden dengan wajah mesumnya. Dia menatap nanar sang istri.


"Di kamar mandi? Apa?" tanya Natasha polos.


Tangan Aiden nakal meraba inti Natasha yang masih tertutupi celana tidurnya. Otomatis Natasha jadi paham, inti pembicaraan ini kemana.


"Eungh--Aiden...kita kan sudah melakukannya semalam."


"Tapi aku mau lagi, boleh ya?" bujuk Aiden dengan memasang puppy eyesnya. Natasha tidak bisa menolak ajakan suaminya.


"Baiklah, tapi jangan lama-la--mmphh.."


Ucapan Natasha terhenti manakala bibir Aiden sudah menyerangnya dengan rakus. Dia menggendong Natasha ala koala dan membawanya ke kamar mandi tanpa melepas kan pagutan bibir diantara mereka berdua. Ciuman itu bahkan semakin menuntut dan dalam, kala suhu tubuh mereka semakin memanas.


Dan di bawah guyuran shower itu terdengar suara-suara erotis dari dua insan yang tengah melakukan pergumulan penuh gairah. Setelah berdamai, mereka semakin intim.


****


Di sebuah apartemen, Agatha duduk di sofa dan dia terlihat sangat pucat. Dia baru saja dari kamar mandi dan memuntahkan cairan disana. Pembantu rumah tangganya meminta Agatha untuk mengecek keadaannya dengan testpack.


"Ini nyonya, saya sudah belikan alat tes kehamilannya. Saya menduga hasilnya positif, saya harap begitu. Tuan Dixon pasti akan senang mendengarnya," ucap asisten rumah tangga itu seraya memberikan alat tes kehamilan pada Agatha.


Terakhir kami melakukannya adalah 3 bulan yang lalu. Jika benar ada bayi didalam rahimku, mungkin usianya sekitar 2 bulan. Dixon, kau akan senang bila aku mengandung anak kita bukan? Gumam Agatha dalam hatinya.


Agatha mengeceknya ke kamar mandi dan ia terperangah dengan hasilnya. Garis dua!


...***...

__ADS_1


__ADS_2