Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta

Belenggu Cinta Dan Dendam Mr. Dacosta
Bab 38. Janji suci


__ADS_3

🍁🍁🍁


Alangkah kagetnya Dixon, saat ia melihat Natasha, wanita yang ia rindukan selama ini, wanita yang ia pikir sudah meninggal 6 tahun yang lalu. Tengah masuk ke dalam mobil bersama dua orang anak.


Dixon berusaha untuk mengejar Natasha, namun sayangnya mobil itu sudah pergi jauh dan dia tidak bisa mengejarnya. Namun ia yakin, wanita itu adalah Natasha.


"Natasha masih hidup...dia masih hidup...ya Tuhan..." gumam Dixon dengan mata yang mulai mengembun karena tidak percaya. Ia pun meminta sekretaris yang datang bersamanya untuk mencari tau plat nomor mobil yang di kendarai oleh Natasha.


****


Natasha dan kedua anaknya pulang ke rumah Foster, mereka terlihat bahagia dan tidak sabar untuk hari esok. Hari bahagia Natasha, Aiden juga keluarga kecil mereka.


Malam itu...


Tak hentinya Natasha memandangi gaun pengantin yang akan dikenakannya besok, sambil senyum-senyum sendiri bak ABG yang sedang kasmaran dan baru pertama kali jatuh cinta.


"Kak, tenang saja! Tidak akan ada yang mencuri gaun itu. Aku akan menjaganya." Kata Albert yang tiba-tiba sudah ada dibelakang Natasha. Wanita itu membalikkan badannya lalu menatap ke arah Albert.


"Albert?"


Albert tersenyum lalu mengenggam tangan kakak angkatnya itu. Dia menatap kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca. "Albert, kenapa kau menangis, nak?" tanya Natasha cemas, melihat air mata yang mengembun di bawah mata pria itu.


"Kak, kau akan menikah...aku sangat bahagia. Tapi aku juga sedih, setelah ini mungkin kau dan juga twins akan pergi dari sini." Albert mulai meneteskan air matanya, mengingat Natasha akan menikah dengan Aiden dan pria itu akan membawanya ke London.


"Albert, aku dan Aiden memang berencana untuk pindah ke London setelah kami menikah. Tapi tidak untuk selamanya dan untuk sekarang, aku masih ingin menghabiskan waktu disini bersama dengan kalian. Kenapa kau bicara seolah aku akan pergi selamanya?" tanya Natasha seraya mengusap air mata Albert yang sudah jatuh membasahi pipi dengan satu tangannya. Dia menyayangi Albert seperti adiknya sendiri, walaupun mereka tidak ada ikatan darah. Begitu pula dengan kasih sayang Natasha pada Amy, layaknya pada ibu sendiri.


"Tapi...nanti kau akan jauh dariku dan juga ibu. Haahh...maafkan aku kak, aku malah menangis dan merengek seperti anak kecil." kata Albert yang berusaha untuk tidak menangis.


GREP!


Natasha menarik tubuh Albert ke dalam pelukannya, dia mengusap-usap lembut punggung pria itu dengan penuh kasih sayang.


"Albert, meskipun aku sudah menikah nanti. Aku tidak akan pernah melupakan kalian, aku akan sering mengunjungi kalian disini. Kita juga bisa saling menelpon, video call dan kau, juga ibu, bisa pergi mengunjungiku di London kelak. Albert, kakak sayang menyayangimu... terimakasih karena selama ini kau menganggapku sebagai keluarga," tutur Natasha panjang lebar. Ia mengutarakan semua yang ada didalam hatinya, perasaan untuk Albert dan Amy.


"Aku juga sayang kakak...aku sayang Dylan dan Axelia juga!" Albert balas memeluk Natasha dengan erat.


"Kak, kalau misalkan Mr. Dacosta menyakitimu, kau harus bilang padaku dan ibu ya? Jangan dipendam sendiri, kau masih punya kami kak."


"Tentu saja, aku akan cerita pada kalian. Tapi aku pastikan, Aiden tidak akan menyakitiku. Meski ia baru berjanji, namun aku mencoba percaya padanya!" ujar Natasha yakin.


"Baiklah kak, jika kakak percaya padanya. Maka aku juga akan percaya," ucap Albert lalu mengurai pelukannya dari Natasha. Mereka saling melempar senyuman.


"Ibu juga percaya pada Aiden, dia pria baik dan pasti akan membahagiakanmu juga Dylan dan Axe."


"Ibu?" Albert dan Natasha sontak melihat ke arah Amy yang sudah ada di ambang pintu kamar Natasha. Wanita paruh baya itu berjalan masuk lalu memeluk Natasha.


"Kau harus bahagia Natasha, harus! Karena ibu akan selalu mendoakan kebahagiaanmu," ucap Amy tulus.


Natasha dan kedua anggota keluarga Foster pun berpelukan dengan perasaan haru. Menyambut hari bahagia besok.


****


Di apartemen tempat Aiden menginap, yang berlokasi tepat disebelah apartemen Ivana dan Theo. Malam itu, Aiden juga gelisah dan gugup untuk menyambut hari esok. Beda sekali saat dulu ia akan menikah dengan Luna, semuanya terasa datar. Kali ini sepertinya ia merasakan berdebar dan tubuhnya seperti tersengat listrik. Ia tidak percaya bahwa besok adalah hari pernikahannya dan Natasha. Mereka akan menikah secara sederhana dan dihadiri orang-orang terdekat di sebuah gereja yang tak jauh dari pantai tempat Natasha tinggal.


"Besok aku akan menikahimu Nath, kita akan bersama setelah itu." Kata Aiden seraya melihat tuxedo putih yang akan ia pakai di hari pernikahannya besok. Yang mungkin hanya tinggal beberapa jam lagi.


Dia sama sekali tidak memikirkan konsekuensi bila sewaktu-waktu ingatan Natasha kembali. Aiden merasa bahwa ingatan Natasha tidak akan kembali semudah itu.


🎢🎢🎢


Dering ponsel Aiden berbunyi, dengan cepat pria itu mengangkat telpon tanpa melihat siapa yang menghubunginya lebih dulu. Sebab semua atensinya tertuju pada tuxedo putih yang menggantung di lemari baju kamar itu.


"Halo."


"Halo pak, maaf saya menganggu bapak malam-malam begini!" seru Branz bernada suara panik.


"Ada apa dengan suaramu Branz?" tanya Aiden, ia menyadari ada yang salah dengan suara Branz yang terdengar panik.


"Pak, saya ingin mengatakan bahwa saat ini tuan Dixon berada di pulau ini dan beliau sedang mencari keberadaan nona Natasha," terang Branz yang membuat Aiden terkejut, ia merasa terancam dengan mendengar kata Dixon. Bisa-bisa pria itu mengacaukan pernikahannya.


"Lalu bagaimana? Kau tidak membiarkan dia tau keberadaan calon istriku bukan?" tanya Aiden dengan raut wajah tegang. Aiden tegang bukan tanpa alasan, dia tau Dixon masih ada rasa pada Natasha bahkan sampai saat ini. Meskipun Aiden tau, Dixon sudah menikah 3 tahun yang lalu. Namun pria itu tak mencintai istrinya.


"Tidak pak! Saya sudah berhasil mencegahnya! Bapak tenang saja."


"Branz, aku tidak mau ada gangguan dalam pernikahanku besok. Kau harus bertanggungjawab atas keamanan itu!" ujar Aiden pada orang kepercayaannya itu.


"Baik pak, saya akan pastikan tuan Dixon tidak akan menemukan nona Natasha apalagi bisa mengacaukannya."


"Kalau itu sampai terjadi, maka kau akan mati di tanganku!" ancam Aiden pada Branz.


Setelah itu ia pun menutup telponnya, Aiden geram dan kegelisahannya berubah menjadi ketakutan. "Tidak bisa! Dixon tidak boleh sampai bertemu dengan Natasha...tidak!"

__ADS_1


Hampir semalaman Aiden tidak tidur karena memikirkan Dixon. Meski Branz sudah mengatakan pada Aiden untuk tenang. Tetap saja pria itu tidak tenang.


Pagi itu, Aiden sudah berganti baju dengan tuxedo putih. Dia terlihat tampan dengan setelan itu, Ivana, Theo dan Starla juga sudah bersiap mengantar kakaknya yang akan menikah.


"Cie...calon pengantin baru." Goda Ivana pada sang kakak yang sudah tampan.


"Kau tampan sekali, kakak ipar!" puji Theo pada kakak iparnya. "Lihatlah pamanmu, Star...dia sangat tampan dan hari ini dia akan menikah," Theo bicara pada putrinya.


"Kenapa kau malah melamun kak?" tanya Ivana terheran-heran melihat kakaknya malah melamun dan terlihat banyak pikiran. Padahal, sebelumnya Aiden terlihat sangat bahagia menyambut hari pernikahannya.


"Aku baik-baik saja, ayo kita berangkat!" ajak Aiden sambil memaksakan senyumannya. Ia berdoa kepada tuhan, agar rencana pernikahannya berjalan lancar.


Tidak akan terjadi apapun, semuanya akan baik-baik saja.


Ada apa dengan kakak, kenapa dia begitu? Apa dia gugup karena mau menikah? Batin Ivana.


****


Disebuah ruang rias yang tak jauh dar gereja, Natasha baru saja selesai dirias. Wanita itu tampak cantik dengan menggunakan gaun berwarna putih dan mahkota berlian diatas kepalanya. Si kembar juga sudah memakai pakaian mereka, Axelia tampak cantik dan Dylan juga tampan.


Albert dan Amy juga sudah memakai pakaian formal untuk pesta pernikahan itu. Mereka menemani Natasha di ruang rias sebelum pernikahan dimulai.


"Mom! Mommy sangat cantik, mommy seperti peri!" Axelia memuji Mommynya, ia tersenyum lebar.


"Terima kasih sayang. Jika mommy seperti peri, maka putri mommy adalah bidadari!" Natasha tak kalah memuji Axelia yang juga sangat cantik.


"Aku tak secantik mommy," gumam Axelia pelan.


"Benar, Axe tidak secantik mommy. Cantiknya beda JAUH." kata Dylan yang selalu membuat adiknya skak mat. Ia selalu saja menggodanya.


"Dy...kau sangat menyebalkan!" seru Axelia kesal lalu mencubit lengan kakaknya.


"Axe, sakit!" pekik Dylan sebal.


"Panggil aku kakak! Aku ini kakakmu!"


"Perbaiki dulu bicaramu, lalu aku akan memanggilmu Kakak." cetus Dylan sebal.


"Hey! Anak-anak ini, kalian malah bertengkar! Sudahlah, ayo kita akur dan damai dalam satu hari ini," ucap Albert pada kedua anak itu sambil tersenyum.


Setelah menunggu 15 menit, akhirnya rombongan pengantin pria datang. Bukan rombongan, melainkan hanya Branz, Ivana, Theo dan Starla saja. Mereka tiba di gereja, pukul 09.00 pagi.


Aiden sudah menunggu Natasha dengan gugup di depan sana, ia berusaha menepis perasaan gelisah di hatinya karena Dixon.


Ini hari bahagiaku, tak akan terjadi apapun. Pasti semua akan baik-baik saja.


Terlihatlah pintu gereja terbuka lebar, seorang wanita bergaun putih dan seorang pria yang tak lain adalah Albert menggandeng tangannya. Dia yang mengantarkan Natasha ke depan sana.


Wanita itu terlihat sangat cantik, ia tersenyum manis seolah tidak terjadi apapun. Seolah ia adalah pengantin wanita paling bahagia di dunia ini. Atensi Aiden tercuri pada wanita cantik itu, dia terpana dan tidak bisa mengalihkan pandangan darinya.


"Kak Nath, sangat cantik." puji Ivana pada wanita yang kini berjalan menuju ke altar pernikahan.


"Kau dan Starla lebih cantik, sweetie." Theo memuji istri dan putrinya.


"Kau bisa saja," balas Ivana sambil tersenyum. Namun di hatinya ada keresahan.


Akhirnya Natasha sampai didepan sana, ia berdiri tepat disamping Aiden. Pria itu tersenyum menyambut pengantin wanitanya, dia bahkan melontarkan kata pujian yang tulus dari hatinya. "Kau sangat cantik di hari-hari biasa ,tapi kau lebih-lebih cantik hari ini."


"Aiden..." lirih Natasha malu-malu.


"Bisa kita mulai acaranya?" tanya pendeta itu pada Aiden dan Natasha.


Pendeta pun memulai acaranya dengan sedikit bicara tentang pernikahan. perkawinan adalah hubungan permanen antara dua orang yang diakui sah oleh masyarakat yang bersangkutan yang berdasarkan atas peraturan perkawinan yang berlaku. bentuk perkawinan tergantung budaya setempat bisa berbeda-beda dan tujuannya bisa berbeda-beda juga. Pernikahan adalah dimana dua orang dengan pemikiran yang berbeda, disatukan jadi satu dalam sebuah ikatan.


Setelah berkhotbah sedikit, pendeta memulai pertanyaannya pada calon pengantin wanita dan pengantin pria untuk memulai sumpah.


"Saya mengambil engkau Natasha Kimberly Satigo menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita dan inilah janji setiaku yang tulus." Aiden mengucapkan janji suci pernikahannya dengan lantang dan juga tegas, tanpa ada keraguan sedikitpun. Karena memang tekadnya sudah kuat untuk menikahi wanita itu.


Kini, giliran Natasha untuk mengatakan janji sucinya di hadapan pendeta dan semua orang yang ada di sana.


"Saya mengambil engkau Aiden Addison Dacosta menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita dan inilah janji setiaku yang tulus!"


Setelah janji suci sama-sama diucapkan oleh Natasha dan Aiden, mereka pun mendapatkan pemberkatan dari pendeta dan disahkan sebagai pasangan suami istri. Pernikahan mereka berjalan lancar dan diakhiri dengan ciuman singkat dibibir penuh kasih.


Prok, prok, prok!


Semua orang yang ada di ruangan itu contoh saja bertepuk tangan, mereka terharu, memberikan selamat, dan juga bahagia karena telah menyaksikan janji suci pernikahan yang khidmat ini.


Pasangan pengantin itu bergandengan tangan, mereka tersenyum bahagia. Akhirnya pernikahan mereka berjalan lancar. Namun senyuman itu menghilang kala seorang tamu tak diundang datang ke pesta pernikahan itu.


Sontak, semua orang melihat ke arahnya. Ivana dan Theo sangat terkejut melihatnya. Mengapa orang itu ada disini?

__ADS_1


"Kak, kak Luna...kenapa dia bisa ada disini?" tanya Ivana pada suaminya dengan wajah panik. Theo tidak menjawab, dia masih menatap Luna dan entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


Luna? Kenapa dia bisa? Batin Aiden panik.


"Aiden, apa kau mengenalnya?" tanya Natasha pada pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu. Dia melirik ke arah Luna.


Luna masih berdiri mematung disana dengan mata berkaca-kaca, dia tidak menyangka bahwa Natasha masih hidup. Padahal niatnya hanya menemui Aiden, tapi dia malah bertemu dengan Natasha juga.


"Ya Tuhan, Nath...dia masih hidup..." gumam Luna tidak percaya, dia bahkan sampai menangis dan menutup mulutnya karena terkejut.


Perlahan kaki wanita bergaun putih itu berjalan mendekati Luna. Aiden mengikutinya dari belakang. Natasha merasa tidak asing saat melihat wajah wanita itu.


"Nath..." Aiden memegang tangan Natasha, memintanya untuk tidak pergi kesana.


"Aiden, aku sepertinya tidak asing saat melihat wajahnya!"


Deg!


Aiden tercengang dan jantungnya seakan berhenti saat itu juga. Dia tidak percaya bahwa Natasha tidak asing dengan Luna. Tidak! Ini sinyal bahaya!


Luna juga berjalan' mendekat ke arah Natasha, hingga mereka pun bertemu ditengah-tengah. Semua orang yang tidak mengenal Luna, sempat bertanya-tanya siapa wanita alias tamu tak diundang itu.


"Hai Nath, lama tidak bertemu... ternyata kau masih hidup. Syukurlah dan selamat untuk pernikahanmu dan Aiden," Luna menangis, lalu meraih tangan Natasha.


Natasha masih bingung, ia berusaha menerka siapa wanita yang ada dihadapannya ini. Hingga kepalanya berdenyut tiba-tiba. Terdengar suara wanita itu dan ada bayang-bayang di kepalanya yang masih acak.


#Flashback


"Aiden, kau sudah datang? Aku dan Theo sudah lama menunggumu!" Luna mencium pipi Aiden dan memeluknya dengan manja.


Natasha...kau tidak berhak untuk cemburu, kau tidak boleh merasa seperti ini. Lagipula Luna hanya sahabat, sahabatku, Theo dan Aiden. Batin Natasha sakit hati melihat sikap Luna pada Aiden, pria itu juga membiarkan Luna bersikap semaunya pada dirinya. Dan bagi mayoritas masyarakat di barat, cium pipi, pelukan, bisa dianggap sebagai salah satu bentuk salam dengan orang yang akrab.


"Eh...Nath, kau datang bersama Aiden juga? Ayo, mari kita duduk bersama." ajak Luna seraya memegang tangan Natasha dengan akrab.


Mereka pun duduk berempat di salah satu tempat yang sudah dipesan oleh Luna untuk bertemu dengan ketiga sahabatnya. Dia baru saja bertemu dengan ketiga sahabatnya setelah tour modelnya ke luar negeri selama 2 bulan. Luna juga seorang penyanyi dan memiliki suara yang indah. Luna cantik, tubuhnya juga molek, banyak pria yang tergila-gila padanya.


"Apa kabarmu Luna?" tanya Aiden sambil meneguk minuman didalam gelas kecil dengan perlahan.


"Aku baik Aiden, kenapa kau bertanya? Apa kau sudah merindukanku? Padahal aku hanya pergi dua bulan saja." Luna menatap Aiden dengan tatapan genitnya. Dia bahkan duduk berhadapan dengan pria itu.


"Rindu? Tentu saja, aku merindukan sahabatku." tukas Aiden sambil tersenyum.


"Lalu pernahkah kau merindukan Natasha?" lirik Luna pada Natasha yang saat ini duduk disampingnya. Dia kembali menatap Aiden, menantikan jawaban apa yang akan diberikan oleh pria itu kepadanya.


"Rindu? Tentu saja tidak." jawab Aiden dengan wajah datar yang sama. Luna tersenyum simpul saat mendengarnya. Sedangkan Natasha menampakkan wajah terluka saat mendengar ucapan dingin Aiden.


"Haha...iya benar, bagaimana mungkin rindu kan? Sedangkan kalian bertemu setiap hari." celetuk gadis itu dengan kekehan garingnya. Namun ada sedikit senyum sinis yang terlihat di bibirnya. Natasha diam saja, dia tidak membuka bibirnya dan hanya menatap Aiden.


~~


"Untung saja aku tidak tidur dengan wanita jalangg dan licik sepertimu! Kau memang benar-benar sama seperti ibumu!" geram Aiden, lalu ia pun mendorong Natasha dengan kasar setelah mencekiknya.


"Aiden, video itu tidak benar...orang itu berkata bohong. Aku tidak pernah menaruh obat perangsang itu untuk menjebakmu! Percayalah padaku Aiden, aku tidak..."


"HENTIKAN! Aku sudah muak melihatmu, aku sudah tidak tahan dengan sikap jalangg yang pura-pura baik dan tidak berdaya di depanku. Lebih baik kau pergi dari sini, pergi dari hidupku!" ujar Aiden mengusir Natasha. Gadis itu terluka dengan sikap Aiden kepadanya, sangat terluka. Ini lebih parah daripada dihina, dia tidak bersalah dan dia tidak terima disalahkan.


Gadis itu berdiri, dia menatap Aiden dengan mata berkaca-kaca. Tangannya memegang lehernya yang masih terasa kebas dan sakit karena ulah Aiden.


"Jika aku bisa memilih, aku juga tidak mau terlahir dari rahimnya. Tapi tanpanya, aku tidak akan terlahir ke dunia ini. Aku tidak akan bertemu denganmu dan mencintaimu...namun aku dan dia berbeda Aiden." tanpa bertanya apa alasan Aiden membencinya, Natasha sudah tau. Dan sekaligus dia mengakui perasaannya pada Aiden. Dia mencintai pria itu, meski pria itu membencinya.


Natasha mencintaiku? Tidak, tidak mungkin. Kenapa aku merasa aneh saat dia mengatakan cinta? Batin Aiden.


"Apapun yang kau katakan, tidak akan mengubah fakta bahwa ibumu sudah membunuh ibu dan ayahku. Bahkan kau juga sudah ketularan jalangg olehnya." ucapan Aiden lagi-lagi menyakiti hati Natasha. Gadis itu sungguh kecewa, amat kecewa. Setelah kejadian semalam, dia malah diperlakukan seperti ini.


Plakk!


Natasha yang selama ini selalu diam saja ketika Aiden bersikap dingin dan melontarkan kata-kata kejam padanya. Kini berani memukul Aiden. Melampiaskan semua rasa kesalnya.


"Jika kau ingin aku pergi, baik--aku akan pergi. Aku juga tidak bisa bertahan dengan neraka mu lagi. Yang penting, aku sudah mengatakan perasaanku padamu...hiks..."


#End Flashback


Ingatan random dan ucapan seorang pria yang menyakitinya terus terngiang di kepalanya. "Ahhhh!!! Hentikan! Aku...tidak sama seperti ibuku....aku tidak!!!" teriak Natasha histeris, sambil memegangi kepalanya.


BRUGH!


Semua orang panik saat melihat Natasha jatuh tak sadarkan diri. "NATASHA!"


"MOMMY!"


...****...

__ADS_1


__ADS_2