Benih Titipan Om Bara

Benih Titipan Om Bara
SEPULUH


__ADS_3

BARA sadar dengan semua tatapan aneh di ruangan itu. Tapi dia tidak peduli dengan pemikiran mereka.


"Saya pamit ke kamar," kata Bara kemudian bangkit dari sofa.


"Tuan, bolehkah saya minta untuk diantar ke kamar mandi Anda? Maaf saya sudah tidak tahan," tanya Kira dengan sopan. Agne langsung mengangguk tersenyum ketika Bara menatapnya. Lalu tanpa mengatakan apa-apa, Bara langsung pergi meninggalkan ruang tamu.


Agne memberi isyarat kepada Kira untuk ikut dengan suaminya.


"Sementara suami saya mengantar Ibu Kira ke kamar mandi, mungkin Bu Ariani bisa melanjutkan pembicaraan tadi," kata Agne setelah Bara dan Kira benar-benar lenyap dari ruangan itu.


Bara dan Kira berjalan melewati tangga menuju kamar mandi yang terletak di ujung rumah.


"Wah, mewah sekali rumah Tuan," puji Kira dengan penuh takjub melihat di sekelilingnya.


Bara hanya menggumam singkat. Tiba-tiba matanya menangkap Rachel berjalan menuju kolam renang.


"Tuan, Anda sedang melihat apa?" tanya Kira ketika melihat Bara memandang sesuatu dengan wajah panik. Namun Bara tetap membalas wanita paruh baya itu dengan berdehem singkat.


"Tunggu di sini, saya akan segera kembali," pinta Bara segera berjalan meninggalkan Kira. Dia ingin tahu sedang apa Rachel ke kolam renang di saat malam begini.


Awalnya Bara berjalan dengan santai, tapi segera berlari ketika melihat Rachel ingin melompat ke dalam kolam.


"Jangan Rachel!" teriak Bara sambil berlari menangkap tubuh kecil ponakannya itu. "Apa yang ada di pikiranmu? Air kolam itu sangat dingin, bisa-bisa kamu masuk angin nanti." Bara membentak Rachel, berusaha menghentikannya. Namun gadis itu malah menggeleng.


"Tidak. Om, saya tidak tahu kenapa, tapi saya ingin berenang di kolam ini. Tidak peduli sudah malam atau airnya dingin." Rachel memasang wajah memelasnya. Sementara Bara terkejut, dia berpikir mungkin ponakannya itu sedang ngidam.


"Apa yang membuatmu ingin berenang malam-malam begini Hel? Kenapa kamu sangat ingin?" Bara bertanya-tanya, tapi berharap pemikirannya benar.


"Tidak tau Om. Tapi saya sangat ingin berenang sekarang," jawab Rachel membuat Bara beralih memandang kolam renang di depan.


"Ok. Tapi kita akan berenang bersama." Butuh waktu beberapa detik untuk Bara berpikir sebelum memutuskan hal itu. Rachel terkejut ingin menolak, tapi Bara sudah menggendongnya dan membawanya turun ke kolam renang.


Rachel refleks memeluk leher Bara ketika menyentuh air kolam yang sangat dingin.


"Ah, dingin sekali," kata Rachel saat Bara menurunkan tubuhnya sepenuhnya ke dalam air. Bara tersenyum dan menarik tangan Rachel menuju ke tengah kolam.

__ADS_1


"Aaakkkhh Om." Rachel merasakan gairahnya muncul ketika Bara mengusap wajahnya dengan lembut.


"Kamu diam dan nikmati saja yah," kata Bara kemudian langsung menarik wajah Rachel mendekat dan menautkan bibirnya.


Lalu Bara bergerak pelan ke belakang. Tangan pria itu seketika meremas bagian tubuh Rachel yang berada di tengah. Sementara lidah mereka masih bermain.


"Ahhhh," desah Rachel tak bisa menahan kenikmatan yang diberi oleh omnya.


Bara mencumbu leher hingga punggung Rachel dengan penuh gairah.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuju ke kolam renang. Bara terkejut dan berhenti mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat itu.


"Tuan Bara?"


"Fu*ck!" Batin Bara dengan sangat kesal, bisa-bisanya dia lupa tentang wanita paruh baya itu.


"Om," panggil Rachel takut ketahuan.


"Sembunyi di dalam air yah Hel," pinta Bara bergerak cepat untuk keluar dari kolam renang dan berlari mencari tempat persembunyian.


Belum beberapa lama di dalam air, Rachel sudah kehabisan napas. Ia sudah tak bisa bertahan lagi. Hingga.—


"Uhuk-uhuk...." Rachel memunculkan dirinya ke permukaan. Ia langsung terbatuk dan segera mengambil napas sebanyak-banyaknya.


"Siapa kau? Dan sedang apa kau di sini?"


Rachel terkejut karena tiba-tiba melihat seorang wanita paruh baya yang tidak dikenalnya berdiri di pinggir kolam.


"Aku ... aku ponakan Om Bara," jawab Rachel bergantian melihat Bara, yang sedang berbicara sesuatu dengan mulut komat-kamit tak jelas, dan Kira memasang raut wajah bingung.


"Apa yang kau lihat?" Bara segera bersembunyi ke dalam ruang ganti, ketika Kira mengedarkan pandangannya ke sekitar area kolam.


"Tidak ... aku...." Rachel benar-benar tidak tahu apa yang ingin dikatakannya.


Kira langsung memandang aneh ke arah Rachel kemudian pergi dari area kolam.

__ADS_1


Setelah Kira sudah dipastikan pergi. Bara muncul dan masuk kembali ke kolam. Memeluk tubuh Rachel lalu menggendongnya menuju ke ruang ganti yang terletak di samping kolam.


"Sudahlah Om," kata Rachel sudah ingin mengakhiri adegan malam ini.


Namun Bara tidak peduli. Dia langsung melepas pakaian Rachel, begitu pun dengan pakaiannya.


"Maafkan om, Nona Manis. Tapi malam ini masih panjang," ucap Bara kemudian memasuki tubuh Rachel dengan perlahan membuat gadis itu seketika mendesah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Om ... Om Bara bangun ... bangun Om."


Sebuah bisikan seorang wanita terus menganggu tidur pria besar itu. Bara pun membuka matanya pelan-pelan.


"Rachel." Bara terkejut dengan keberadaan ponakannya itu di dalam kamarnya. Dia menoleh ke samping, melihat Agne masih tertidur pulas. Kemudian segera bangun dari ranjang dengan gerakan hati-hati dan menarik tangan Rachel untuk keluar kamar. "Nona Manis, kenapa tiba-tiba masuk ke kamarku tengah malam begini?"


"Saya lapar Om," jawab Rachel membuat Bara semakin bingung dengan tingkah ponakannya tersebut.


"Kamu lapar?" Rachel mengangguk pelan membuat Bara menghela napas. "Kalau kamu lapar, kamu tinggal ambil saja di dapur. Di dalam kulkas banyak sekali makanan," kata Bara merasa sedikit jengkel.


Rachel menggeleng cepat. "Bukan itu maksudnya. Mau makan mangga muda, tapi maunya Om yang mengupasnya. Jangan lupa, saya juga mau disuap sama Om. Boleh kan?" Rachel memelas dengan mata berkaca-kaca. Bara memandang Rachel, percaya bahwa benih yang telah dititipkannya telah tumbuh dalam rahim gadis itu.


"Baiklah. Sini ikut sama om," ajak Bara menurunkan rasa egonya. Pokoknya dia harus terus mengalah pada kemauan Rachel saat ini. Dia tidak ingin sampai terjadi apa-apa pada ponakannya dan calon anaknya.


Setelah sampai di dapur, Rachel mengeluarkan beberapa mangga muda dan sejumlah bahan untuk membuat sambalnya dari dalam kulkas. Kemudian melangkah mundur untuk membiarkan Bara melakukan tahap selanjutnya.


Tanpa diduga Bara dengan lincah mengupas dan memotong mangga muda menjadi beberapa bagian lalu membuat sambalnya tanpa ada sedikitpun hambatan. Rachel yang melihatnya begitu takjub.


"Om ternyata jago juga yah," puji Rachel dengan penuh rasa kagum.


Bara tersenyum mendengar pujian dari ponakannya. Sebenarnya dalam hal memasak, apalagi hanya membuat rujak, pria itu sangat terampil karena mewarisi keahlian sang ibu yang seorang kepala koki. Sepertinya Rachel tidak tahu hal itu, mengingat gadis tersebut belum lama mengenal dirinya.


Bara juga lebih semangat kali ini, karena menyajikan makanan untuk Rachel dan calon anaknya.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2