Benih Titipan Om Bara

Benih Titipan Om Bara
TIGA PULUH DUA


__ADS_3

"SILAHKAN duduk, Honey," pinta Monica membuat Bara mengangguk lalu melangkah duduk.


Monica tersenyum. "Apa aku terlihat berbeda?" Tanya Monica. Bara langsung terdiam memperhatikan wanita itu.


"Hmmm..."


"Katakan Honey! Apa aku terlihat berbeda?" Tanya Monica lagi.


Bara mengangguk. "Kau ... terlihat lebih gemuk," ucap Bara jujur. Monica tertawa keras mendengar hal itu.


"Ini karena mu," kata Monica manja membuat Bara mengernyit.


"Apa?"


"Lebih tepatnya karena ...." Monica berdiri dan Bara melotot kaget. Wanita itu hanya tersenyum melihat ekspresi sang kekasih. "Bayi kita," ucap Monica sambil mengelus perut besarnya.


Bara menatap Monica kemudian menghela napas.


"Honey, why? kamu tidak senang?" Tanya Monica dengan raut wajah sedih.


"Apa kamu yakin itu anakku?" Balas Bara dengan pertanyaan menusuk membuat Monica terdiam dan merasa terpukul.


"Bara ...."


"Kamu tidur dengan pria lain, kan? Lalu melimpahkan semua kesalahannya padaku?" Tanya Bara dingin membuat Monica melotot tak percaya.


"Aku tidak pernah membiarkan tubuhku disentuh oleh pria lain selain dirimu Bara, kamu tahu aku mencintaimu," balas Monica lalu menghapus air mata yang menetes di pipinya. "Aku pikir kamu akan senang tapi ternyata ..."


"Sebelum denganku kamu sudah tidur dengan puluhan pria Monica, ingat itu! Jadi untuk mengatakan kalau kamu setia itu sangat mustahil," potong Bara lalu mengusap wajahnya kasar. "Apa yang kamu inginkan? Katakan saja! Uang?" Tanya Bara membuat Monica terisak.


"Aku tidak perlu uangmu Bara ... aku hanya ingin kamu bertanggung jawab atas anak ini," Ucap Monica lemah membuat Bara mendengus kesal. Lagipula dia sangat tahu bagaimana karakter Monica, wanita itu sangat liar dan nakal seperti kupu-kupu malam. Jadi peluang wanita itu mengandung anaknya tidak lebih dari satu persen atau sangat mustahil.


"Berhenti berpura-pura Monica, kamu tahu aku tidak akan percaya," ucap Bara lalu berdiri.


"Honey, kamu mau kemana? Urusan ini belum selesai," kata Monica yang ikut berdiri dan berusaha mencegah pria besar itu pergi.


Bara menatap Monica terutama perut besar wanita itu. "Sebagai orang yang pernah dekat denganmu, aku sarankan agar kamu pergi menemui ayah yang sebenarnya dari anak itu dan minta dia bertanggung jawab," ucap Bara membuat Monica terkekeh.


"Lelucon apa itu? Aku sedang melakukannya Bara. Kamu ... kamu adalah ayah dari anak yang ku kandung," teriak Monica. Bara lantas menatap tajam wanita itu. "Kenapa?" tantang Monica membuat Bara berdecak. "Kamu pikir aku takut? Aku akan keluar dan mengatakan pada semua orang kalau kamu adalah pria pengecut yang ingin lari dari tanggung jawab," ancam Monica membuat Bara memejamkan matanya kemudian membukanya kembali.

__ADS_1


"Baiklah, katakan! Katakan apa yang kamu inginkan?" Ucap Bara dengan wajah penuh amarah, sementara Monica tersenyum licik.


Monica berjalan mendekati Bara. "Aku ingin kamu menikahiku dan ...." Monica mengambil tangan Bara kemudian meletakkannya di atas perut Besarnya. "Bertanggung jawablah untuk anak kita," lanjut Monica.


Bara segera menarik tangannya. "Mimpi," ejek Bara membuat Monica kesal.


"Bagaimana jika kita lakukan tes DNA," tawar Monica. Sementara Bara mendengus. "Aku serius Bara. Dokter bilang satu minggu lagi aku akan melahirkan dan pada saat itu juga kita bisa melakukan tes DNA. Jika memang terbukti bukan anakmu maka kamu boleh pergi, tapi jika anak ini adalah anakmu maka kau harus bertanggung jawab dengan menikahi ku," jelas Monica membuat Bara mengusap rambutnya kasar. Itu artinya dia harus berada di tempat ini satu minggu lebih dan melanggar janjinya pada Rachel.


Bara menatap Monica yang memasang wajah penuh harap. "Tidak akan," jawab Bara lalu berjalan menuju pintu namun Monica segera menghalangi.


"Kamu akan menyesal jika meninggalkan tempat ini Bara!" teriak Monica sambil menahan lengan Bara.


Bara melirik lengannya lalu—


"Auuhhh!" Rintih Monica kaget saat Bara menarik tangannya kasar.


Bara menghela napas. Bagaimanapun Monica sedang hamil dan tidak baik jika dia bersikap kasar. "Aku sudah menikah Monica dan istriku juga sedang hamil. Jadi aku mohon, tolong hentikan apapun itu rencana mu dan ...."


"Apa? Istri? Kau sudah menikah?" Potong Monica membuat Bara mengangguk.


"Namanya Rachel dan dia sedang hamil anakku," ucap Bara membuat Monica tersenyum.


Bara pun berdecak. Ternyata tidak ada gunanya bersikap lunak. Karena tak ingin berdebat dengan Monica, Bara segera membuka pintu namun Monica dengan cepat menarik tangan kembali.


"Jangan pergi Bara!" Teriak Monica membuat Bara menepis lengan Monica yang menarik tangannya, hingga ....


"Akkkhhh!"


Mendengar rintihan Monica membuat Bara menoleh kebelakang. "Monica ...." Gumam Bara lalu segera berlari mendekati Monica yang terduduk di lantai.


"Auhhh .... sakit Bara," rintih Monica kesakitan.


Bara yang tidak tahu harus apa hanya diam sementara Rio yang sedang menunggu di luar segera berlari masuk saat mendengar teriakan Monica.


"Ya Tuhan, Monica!" Teriak Rio kaget lalu segera menghampiri tubuh Monica.


"Ada apa? Mana yang sakit?" Tanya Rio panik membuat Monica hanya bisa memeluk perutnya.


"Sakit auuhhh ...."

__ADS_1


Rio mengusap perut Monica lalu melirik ke arah kaki wanita itu. Darah? Rio melotot terkejut saat melihat banyak darah yang keluar dari bawah. Monica terus merintih kesakitan, membuat Rio segera mengambil inisiatif.


"Kita ke rumah sakit," ucap Rio panik lalu bersiap menggendong tubuh Monica.


"Minggir!" Bentak Rio pada Bara yang menghalangi gerakannya untuk menggendong tubuh Monica.


Bara segera mundur lalu berdiri saat melihat Rio berlari sambil menggendong tubuh Monica keluar dari ruangan itu. Mengapa respon Rio persis seperti seorang suami yang mengkhawatirkan istrinya? Bara mengusap lehernya kemudian mulai berpikir. Respon Rio sangat berlebihan untuk ukuran seorang teman. Apalagi setahunya Rio dan Monica tidak terlalu dekat.


Bara tersenyum tipis saat sebuah jawaban terlintas di kepalanya. Tapi sebelum mencari tahu kebenarannya, dia harus memastikan keadaan Monica terlebih dahulu. Karena walau bagaimanapun wanita itu jatuh karena dirinya.


Bara berlari keluar lalu menghentikan sebuah taksi. "Ke rumah sakit terdekat," kata Bara membuat mobil taksi itu melaju meninggalkan halaman restoran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiba di rumah sakit, Bara segera turun dan berlari masuk mencari keberadaan Monica.


DRRRTTTT! DRRRTTTT!


Bara mengambil ponselnya lalu merejeck panggilan itu tanpa tahu siapa yang menelpon. Bara terus berlari mendekati Rio yang terlihat menunggu di depan sebuah ruangan.


"Bagaimana kead ...."


PRAAAKK!


Bara mundur lalu melirik ke arah ponselnya yang terjatuh, tanpa diduga saat ingin kembali berbalik Rio langsung melayangkan tinju ke wajah Bara.


"Apa kau bukan manusia hah? Bagaimana bisa kau mendorong wanita hamil," bentak Rio membuat Bara malah terkekeh.


"Kenapa kau marah? Lagipula bayi itu bukan anakmu kan?" Tanya Bara. Rio langsung terdiam lalu berjalan menjauh.


Diamnya Rio membuat Bara semakin yakin. Bahwa Rio mengetahui sesuatu tentang kehamilan Monica.


Bara mengikuti langkah Rio. "Katakan yang sejujurnya Rio," kata Bara membuat Rio terhenti.


"Apa?"


Bara melangkah kehadapan Rio. "Bayi itu anakmu kan?" Tanya Bara dengan wajah serius, sedangkan Rio seketika melotot.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2