
RACHEL terbangun dari pingsannya kemudian memandang ke sekeliling. Dia tidak mengetahui dimana dirinya berada sekarang. Mencoba mengerjap berharap ini hanyalah sebuah mimpi. Tidak, ini adalah kenyataan dan gadis itu menebak bahwa sekarang dia berada di tempat Bara. Walaupun tak mengingat tentang bagaimana caranya bisa berada di tempat suaminya itu. Dan, dimana bibinya?
"Bibi..."
Teringat akan Minah membuat Rachel segera turun dari ranjang dan berlari menuju pintu.
Ceklek! Ceklek!
Rachel mencoba memutar gagang pintu, namun terkunci. Dia pun menggedor-gedor pintu kamar itu dengan keras.
"Siapapun tolong buka pintunya!"
Buukkk!
"Keluar kan aku dari sini!"
Bukkkkkkk!
"Hiks ... aku mau bertemu Bibi ... hiks ...." Isak Rachel dengan tubuh yang bergetar menahan tangis. "Tolong buka pintunya, aku ingin bertemu Bibi..." lirih Rachel pelan.
Lalu berjalan mengelilingi kamar mencari sesuatu yang mungkin bisa digunakan untuk membuka pintu. Rachel terus mencari sesuatu sambil bergumam memanggil bibinya hingga kakinya tersandung dan jatuh di samping ranjang.
"Argh ... Sakit ... hiks," jerit Rachel saat kakinya menyentuh lantai keramik yang keras. Lalu dia menggeleng kuat. Ingatan terakhirnya adalah saat seseorang mengatakan bahwa bibinya telah meninggal dan setelah itu dia pingsan dan terbangun di tempat ini.
Rachel meringkuk memeluk tubuhnya lalu menangis sekuat tenaga. Sungguh gadis itu tidak mengerti apa yang terjadi.
Sementara itu Bara menghentikan langkahnya tepat di halaman vila. Setelah beberapa menit menyeberang dengan kapal fery miliknya.
Vila yang cukup luas dan mewah itu terlihat sedikit menyeramkan mengingat letaknya yang berada di tengah-tengah pulau serta di dalam hutan.
Bara lalu melangkah menuju pintu.
"Nyonya sudah ada di kamar Tuan," kata pelayan yang membukakan pintu.
Bara mengangguk lalu berlari menuju kamar di lantai atas. Setelah sampai, dia langsung membuka pintu kemudian mengintip ke dalam. Mendapati tubuh Rachel yang meringkuk di samping ranjang.
__ADS_1
Bara tersenyum tipis lalu menutup pintu sedikit keras, sengaja agar Rachel bisa mendengarnya. Dan itu berhasil, karena Rachel kini tengah menatap ke arahnya.
"Om Bara ... hiks."
Bara mengangguk lalu melangkah menuju Rachel. Dia langsung menggendong Rachel kemudian menurunkannya di atas ranjang.
"Om hiks Bi-Bibi meninggal ... Hiks," adu Rachel sesenggukan.
Bara mengusap wajah Rachel yang dipenuhi dengan air mata. Bara hanya terdiam, membiarkan istrinya itu kembali menangis.
"Bibi ... hiks," tangis Rachel di pelukan Bara.
"Sudah lah. Berhenti menangis Hel, kamu akan membuat anak kita menangis juga," kata Bara lembut membuat Rachel mengurai pelukannya.
"Om, di mana Bibi? Hiks," tanya Rachel membuat Bara menggeleng cepat.
"Hel, mana aku tau," jawab Bara. Rachel malah memukul dada pria besar itu berkali-kali.
"Jangan bohong Om. Pasti Om kan yang tabrak Bi Minah ... hiks ... dan bawa aku ke sini?" Teriak Rachel, namun Bara hanya diam membiarkan aksi istrinya yang memukul tubuhnya. "Hiks Bibiiii!" Tangis Rachel semakin kencang hingga membuat Bara tidak tahan. Pria besar itu tahu kalau ibu hamil tidak boleh terlalu stres.
Rachel menggeleng lalu berusaha berontak. "Lepaskan aku! Aku mau cari Bibi."
"DIAM! Aku bilang diam sekarang!" bentak Bara dengan sangat keras membuat Rachel terdiam kemudian menarik tubuhnya menjauh dari Bara.
"Hiks Bibiiii ... Rachel mau ketemu sama Bibi," lirih Rachel sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan membuat Bara perlahan mendekat.
"Dengar Sayang, aku juga baru tahu tadi sore. Kamu tahu, ada seseorang yang menelpon dan meminta uang tebusan. Mereka bilang jika tidak kuberikan uang tujuh ratus juta maka kamu akan di jual ke tempat hiburan malam. Sungguh, aku tidak tahu apapun. Masalah Bibi kamu dan apa yang kalian alami. Aku hanya menerima telpon dan lang—"
"Hiks Om."
Perkataan Bara terhenti karena tubuh Rachel yang tiba-tiba memeluknya.
"Maaf, karena sudah berpikir buruk tentang Om," ucap Rachel di pelukannya membuat Bara membalas pelukan istrinya itu.
"Tidak masalah, Sayang," balas Bara lalu mengelus kepala Rachel hingga gadis itu tertidur.
__ADS_1
Bara kemudian merebahkan tubuh Rachel dan menyelimutinya. Dia harus memikirkan rencana agar istrinya itu tidak berpikir untuk keluar dari tempat ini. Tapi bagaimana? Akan lebih mudah jika Rachel bersedia tinggal tanpa paksaan.
Bara menunduk lalu mengecup kening Rachel kemudian beralih ke perut gadis itu. Dia lalu segera keluar kamar, melangkah menuju teras rumah. Udara dingin serta suara hewan malam menjadi hal pertama yang Bara rasakan dan dengar. Tempat ini memang sangat cocok untuk bersembunyi.
Bara duduk di kursi kayu di teras rumah kemudian mendongak menatap bulan yang hanya separuh. Rachel memang bukan simpanannya, tapi mulai sekarang gadis itu akan seperti seorang simpanan. Bara tidak mungkin menceraikan Agne selama ada ibunya. Dan untuk saat ini dia hanya bisa berakting agar tidak menimbulkan kecurigaan dari semua orang.
Pria besar itu meraba saku celananya kemudian mengeluarkan rokok dan pemantik api. Bara menyilipkan benda kecil itu diantara kedua bibirnya kemudian menyalakannya. Dia lantas melamunkan semua yang telah terjadi, niat awalnya untuk menghentikan adopsi dan mempertahankan warisan yang diberikan orang tuanya dengan menghamili Rachel sudah jelas tidak membuahkan hasil. Dan sekarang semuanya malah kacau. Dia mengetahui bahwa Agne adalah selingkuhan ayahnya dan berakhir menikahi Rachel.
Entah drama seperti apa yang akan terjadi nanti tapi yang jelas dia akan melindungi Rachel dan anak mereka dari siapapun termasuk bibinya sekalipun. Ya, meski jika mengingat tentang Minah membuat rasa penyesalan Bara semakin besar.
Bara tidak ingin mengingatnya, dia melempar sisa rokok yang belum habis terbakar ke tanah kemudian berdiri. Berjalan memasuki kamar lalu ikut berbaring di samping tubuh Rachel.
Entah sejak kapan, tapi Bara tahu ia sudah jatuh hati dengan Rachel. Pria besar itu tersenyum lalu bergerak memeluk tubuh Rachel.
"Maafkan aku Hel, tapi kamu sudah ditakdirkan hanya untuk bersamaku," bisik Bara lalu ikut memejamkan mata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi harinya, Bara membuka mata lebih dulu kemudian memandang wajah lelap Rachel.
"Cantik," gumam Bara lalu bergerak mengecup kening istrinya itu.
"Enghh—" Bara memasang senyum saat melihat mata Rachel yang mulai terbuka.
"Om," panggil Rachel serak.
Bara tertawa melihat wajah bingung istrinya lalu bergerak mengecup bibir Rachel. Kecupan itu perlahan berubah menjadi *******-******* menuntut.
"Jangan Om," lirih Rachel menahan kedua tangan Bara yang mulai aktif di tubuhnya.
Bara tidak bisa menahan lagi gairah yang telah berkecamuk dalam dirinya. Dia langsung berdiri dan melepas pakaian bawahnya.
"Om, Rachel tidak mau."
Tidak peduli. Bara menarik tubuh Rachel ke pinggir ranjang dan mulai memanjakan istrinya itu.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...