
SAAT tengah malam, Bara membuka matanya lalu menoleh ke arah Rachel untuk memastikan apakah istrinya tersebut sudah tidur atau belum. Melihat mata Rachel terpejam serta napasnya eratur membuat Bara lega.
Dengan gerakan pelan, Bara turun dari ranjang lalu mengambil ponsel miliknya yang ada di atas meja. Melangkah kecil keluar dari kamar.
Bara langsung saja menghubungi Rio begitu ia tiba di luar.
"Halo Bara."
"Iya. Rio ...."
"Ada apa? Tumben menelpon tengah malam begini."
"Minta Monica agar tidak datang ke Indonesia."
"Kenapa begitu?"
"Karena saya akan menemuinya langsung. Katakan padanya kalau saya akan ke sana."
"Benarkah? Kau tidak bohong kan?"
"Saya serius. Saya akan ke sana minggu ini."
"Baiklah. Akan aku sampaikan pada Monica."
"Bagus."
TUT! TUT!
Bara mematikan telponnya lalu berjalan menuju dapur. Dia harus menyelesaikan masalah Monica secepatnya atau semua akan tambah runyam. Terlebih jika Monica sampai datang ke rumahnya.
"Mas."
Bara langsung menoleh dan segera beranjak membantu istrinya berjalan lalu menuntunnya duduk di kursi.
"Ada apa?" Tanya Bara lembut.
Rachel menggeleng. "Mas kenapa bangun tengah malam begini?" Tanya Rachel serak.
"Tiba-tiba mas lapar. Jadi mas mau cari makan di dapur," ucap Bara lalu berjalan membuka kulkas dan mengeluarkan semangkuk buah apel yang telah terpotong dadu.
"Mas lagi tidak bohong kan?" Tanya Rachel membuat Bara yang baru saja ingin menyuap dirinya terhenti.
Bara menatap Rachel. "Bohong apa? Mas tidak bohong," jawab Bara cepat membuat Rachel mengangguk.
"Mas, aku mau lanjut kuliah, boleh?" Tanya Rachel tiba-tiba membuat Bara terdiam.
"Mas," panggil Rachel lagi
"Iya Sayang?"
"Tidak apa-apa kan kalau aku lanjut kuliah?" Tanya Rachel membuat Bara mengangguk.
"Kamu yakin mau lanjut kuliah? kan lagi hamil nanti malah capek," kata Bara lalu membawa dua gelas jus jambu ke arah meja.
Rachel mengangguk. "Kan bisa kuliah dari rumah," balas Rachel membuat Bara tersenyum manis.
"Baiklah Sayang, biar nanti mas yang urus," sahut Bara. Perkataan itu langsung disambut gembira oleh Rachel. "Oh ya Sayang," lanjut Bara membuat Rachel mendongak.
"Iya mas?"
"Minggu ini mas mau ke luar negeri, ada yang harus mas urus," kata Bara membuat Rachel tiba-tiba cemberut.
__ADS_1
"Ya sudah, mas pergi saja," kata Rachel cuek.
"Benar, kamu membiarkan aku pergi?"
Rachel mengangguk singkat. "Iya."
"Kamu tidak marah?" tanya Bara lagi.
"Iya mas, aku tidak marah kok."
"Kamu benar-benar memberi mas izin kan?"
Rachel mengernyit. "Mas pergi karena urusan pekerjaan kan?" tanya Rachel membuat Bara mengangguk ragu. "Nah, ya sudah mas pergi saja. Kecuali mas pergi karena urusan wanita, baru aku marah," kata Rachel datar. Bara langsung menelan ludah dan tersenyum tipis.
"Ini bukan urusan wanita Sayang," ucap Bara meyakinkan membuat Rachel tertawa.
"Tentu saja. Soalnya mas tidak mungkin berbohong padaku," kata Rachel lalu berdiri. "Aku mau ke kamar," pamit Rachel membuat Bara segera mengikuti langkah istrinya.
"Mau mas gendong?" tawar Bara membuat Rachel menggeleng
"Tidak usah. Lagian aku kan harus terbiasa kalau tidak ada mas nanti," kata Rachel. Bara lantas terdiam.
"Apa maksudnya?" batin Bara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini adalah hari keberangkatan Bara ke luar negeri, tapi istrinya malah terlihat murung.
"Ada apa Sayang, hm?" tanya Bara sembari memeluk tubuh Rachel dari belakang.
Rachel menggeleng lalu melepas pelukan Bara. "Mas akan kembali kan?" Tanya Rachel tiba-tiba membuat Bara terdiam. "Mas, harus berjanji akan kembali," Paksa Rachel. Bara langsung mengangguk.
"Iya. Mas janji akan kembali kok," kata Bara serius.
Bara mengambil jemari Rachel yang mengusap wajahnya kemudian mengecupnya dengan lembut.
"Satu minggu Sayang. Hanya satu minggu," kata Bara membuat Rachel mengangguk.
"Kalau lebih dari satu minggu, bagaimana?" Tanya Rachel.
Bara mengernyit. "Mas janji hanya satu minggu," balas Bara meyakinkan Rachel.
"Ya sudah. Kalau begitu aku akan menunggu selama satu minggu. Awas saja kalau lebih dari itu, berarti Mas sudah melanggar janjinya," kata Rachel membuat Bara menggeleng
"Sayang, ada apa? Apa kau_"
"Tidak ada. Mas berjanji hanya pergi satu minggu. Jadi aku harus menunggu selama satu minggu kan?" tanya Rachel membuat Bara mengangguk.
Bara menatap wajah istrinya."Ada apa hm? Apa ada sesuatu yang kamu takutkan?" tanya Bara yang merasa ada yang aneh dari perkataan istrinya.
Rachel mengangguk. "Aku ingin bertanya sesuatu," kata Rachel membuat Bara mengangguk seolah siap mendengarkan dan menjawab pertanyaan istrinya.
Rachel menatap sang suami lalu menghela napas.
"Siapa Monica? Kenapa mas mau pergi menemui wanita itu?" Batin Rachel, merasa ragu untuk mengatakannya.
"Katakan saja Sayangku!" Titah Bara gemas.
Rachel tersenyum. "Tidak. Aku hanya berharap Mas cepat pulang," ucap Rachel yang akhirnya membuat Bara terkekeh.
"Apa kamu sudah merindukan suamimu ini yah? Belum juga pergi," tanya Bara sembari menjepit hidung Rachel pelan.
__ADS_1
Rachel mengangguk. "Iya Mas," Sahut Rachel pelan.
Bara mengusap rambut sang istri pelan. "Mas juga akan merindukanmu dan ..." Bara menunduk lalu mengusap perut besar Rachel. "Anak kita," sambung Bara lalu mencium perut Rachel.
"Jaga dirimu dan anak kita," kata Bara lagi. Rachel pun mengangguk. Bara kemudian mengambil kopernya lalu menatap Rachel. "Tidak perlu mengantar," ucap Bara membuat Rachel kembali mengangguk.
Rachel mengusap perutnya pelan begitu tubuh Bara menghilang dari pintu.
"Entah kenapa, tapi mama rasa, papamu tidak akan kembali lagi pada kita," gumam Rachel pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bara menyeret kopernya keluar dari bandara kemudian memasuki sebuah taksi. Ia akan menginap dulu di hotel baru menemui Monica besok.
Bara memasuki kamar hotel kemudian melangkah memasuki kamar mandi. Setelah membersihkan diri, Bara bergegas mengambil ponselnya untuk menghubungi Rachel. Namun sebelum menekan tombol panggil, ponselnya malah berdering.
"Rupanya Rio," gumam Bara lalu segera menggeser tombol jawab.
"Halo, ada apa Rio?"
***
"Iya. Aku sudah tiba satu jam yang lalu."
***
"Tidak. Aku akan menemui Monica besok."
***
"Apa maksudmu? Kejutan apa?"
"Baiklah. Sampai bertemu besok."
TUT! TUT!
Bara mematikan telponnya lalu menghela napas. Kejutan apa yang dimaksud oleh Rio? Karena terlalu lelah, Bara melupakan niatnya menelpon Rachel. Dia kemudian langsung melempar ponselnya ke atas sofa dan berjalan menuju ranjang. Dia perlu istirahat setelah perjalanan panjang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Esoknya, Bara merapikan penampilannya lalu keluar dari mobil.
"Apa? Kenapa Rio memilih tempat ini untuk bertemu?" Decak Bara lalu melangkah memasuki hotel mewah tempat Bara melakukan one night stand bersama Monica dulu.
"Bara!"
Bara menoleh lalu tersenyum setelah melihat Rio yang melambai ke arahnya.
"Kenapa memilih tempat ini?" tanya Bara setelah dia tiba di hadapan Rio.
"Karena kau akan mendapat hadiah hari ini," sahut Rio sambil memukul pundak Bara.
"Hadiah?"
Rio mengangguk. "Masuklah dan lihat hadiahmu!" ucap Rio sambil mempersilahkan Bara memasuki sebuah ruangan.
Bara menggeleng pelan. Bagaimana mungkin bertemu Monica bisa menjadi hadiah. Lagipula ia datang ke sini hanya ingin mengakhiri hubungannya dengan Monica secara langsung.
Bara membuka pintu ruangan itu pelan lalu melangkah masuk. Bisa Bara lihat kalau Monica sedang duduk menghadap ke arahnya.
"Welcome, Honey!." sapa Monica membuat Bara menghela napas.
__ADS_1
"Monica, aku ..."
...BERSAMBUNG...